● Raksasa keuangan legendaris Amerika Serikat, Lehman Brothers, akhirnya runtuh juga terkena krisis pada 2008.

● Krisis itu amat menyakitkan dan sebagian besar investor masih merasakan lubang “kematian” yang menganga.

TechnoBusiness View ● Masih ingat dengan gonjang-ganjing krisis moneter Amerika Serikat satu dekade lalu? Masih ingat dengan Lehman Brothers?

Lehman Brothers Holdings Inc. (NYSE: LEH) didirikan oleh trio Lehman, yakni Henry Lehman, Emanuel Lehman, dan Mayer Lehman, pada 1850. Melihat lamanya berdiri, sudah terbayang kan seberapa besarnya?

Firma jasa keuangan itu berhasil tumbuh dengan pesat hingga menjadi yang keempat terbesar di Amerika Serikat. Keberadaannya hanya kalah dari Goldman Sachs, Morgan Stanley, dan Merrill Lynch.

Tatkala dunia sedang disibukkan dengan kesiapan menghadapi era Milenium, tiba-tiba kabar kurang mengenakkan itu datang. Lehman tak akan berumur panjang (lagi).

Perusahaan keuangan yang juga bank dan manajemen investasi, penjualan dan perdagangan saham serta obligasi legendaris itu benar-benar akan menjadi legenda. Pada 15 September 2008, firma itu mengajukan kepailitan Bab 11.

Pada 17 September 2008, New York Stock Exchange (NYSE) menyatakan perdagangan saham LEH ditangguhkan (suspended). NYSE menilai LEH harus dihentikan dari daftar perdagangan saham setelah mengajukan kepailitan.

“Peraturan NYSE mencatat ketidakpastian mengenai waktu dan hasil dari proses kebangkrutan serta efek akhir dari proses ini pada pemegang ekuitas perusahaan,” ungkap NYSE dalam pernyataan resminya saat itu, seperti dilansir kembali oleh Reuters.

Apa yang menyebabkan Lehman harus pergi ke Pengadilan Kepailitan dan di-suspend oleh NYSE? Ketika itu, terjadi eksodus nasabah besar-besaran sehingga nilai saham Lehman turun drastis. Lembaga pemeringkat kredit pun langsung menurunkan peringkat firma tersebut.

Tapi, kenapa nasabah mesti melakukan eksodus massal? Ada dua faktor, internal dan eksternal. Faktor internal, karena dualisme manajemen antara kelompok perbankan dan kelompok trading. Faktor eksternal, karena besarnya kredit perumahan yang berisiko tinggi (subprime mortgage) di Amerika.

Setahun sebelumnya, BNP Paribas menyatakan tidak mampu menggelontorkan dana sekuritas yang berhubungan dengan subprime mortgage kepada bank-bank di Amerika. Sekonyong-konyong itu menjadi “malapetaka” bagi dunia perbankan Negeri Digdaya.

Macetnya sekuritas itu tidak hanya memengaruhi kinerja Lehman, tapi juga perusahaan-perusahaan investasi dan finansial legendaris lainnya. Dari sederet nama beken itu ada Bear Stearns Companies Inc. yang telah berdiri sejak 1923—yang kemudian dijual ke JPMorgan Chase.

Kala itu, krisis keuangan di Amerika tak terbendung dan melebar menjadi krisis global. Negara-negara nun jauh dari Washington pun terkena imbasnya. Itulah yang kemudian dipercayai sebagai siklus moneter dunia 10 tahunan setelah krisis yang mengguncang Asia, terutama Indonesia, pada 1998.

Kini, sudah satu dekade Lehman tiada. Bagaimana kondisi dunia keuangan global dan Amerika? Jawabnya, seperti dipercayai para analis di atas, siklus moneter benar-benar terjadi. Tahun ini, 10 tahun setelah 2008, guncangan keuangan seantero jagat kembali dirasakan. Bedanya, pusat krisis terjadi di Turki, Argentina, dan Venezuela.

Sementara itu, perekonomian Amerika kembali pulih. Dolar yang semula piknik ke Asia telah berangsur mudik. Terlepas pengaruh kebijakan Presiden Donald Trump atau tidak, ekonomi mencatatkan kinerja terbaik dalam hampir empat tahun terakhir. Kapitalisasi pasar saham bergerak melebihi empat kali lipat.

Akan tetapi, krisis keuangan memang benar-benar menyakitkan, terutama bagi investor saham. Bagi jutaan orang di Amerika, luka itu masih menganga. Menurut Betterment Research, firma investasi online yang lahir di New York bersamaan kematian Lehman, 65% dari 2.000 responden menyatakan belum sepenuhnya pulih secara finansial.

Tidak hanya itu, dalam laporan “Betterment Consumer Financial Perspectives Report: 10 Years After the Crash,” meskipun kapitalisasi pasar saham meningkat pesat, mereka tetap tidak memercayai Wall Street. Bahkan, sampai sekarang 79% di antara mereka tidak mengerti apa yang menyebabkan terjadinya krisis saat itu.

Memang rata-rata kerugian hanya sekitar US$5.000, tapi efek negatifnya amat langgeng. Sedikitnya 1 dari 4 orang berhenti menabung untuk pensiun. Sebanyak 2 dari 3 orang berinvestasi lebih sedikit daripada yang dilakukan sebelum 2008.

Vice President of Behavioral Finance and Investment Betterment Research Dan Egan mengatakan data itu memperkuat banyak hal yang sudah kita rasakan dan lihat di Wall Street: orang-orang lamban memercayai bank-bank besar lagi, tentu karena mereka khawatir momok itu tiba-tiba muncul lagi.

Walau begitu, “Orang-orang yang berinvestasi pada 2008 merasakan kerugian, tapi juga menyaksikan pemulihan,” ungkap Egan. “Mereka tahu penurunan tidak dapat dihindari, tapi ketahuilah bahwa selama mereka tidak serakah hasilnya akan melebihi biayanya.”

Begitulah kondisi pasar keuangan Amerika satu dekade “pascakematian” Lehman Brothers Holding Inc. yang sudah berusia satu abad lebih. Bagai manusia, umur orang siapa yang tahu? Lantas, bagaimana dengan kondisi pasar keuangan global saat ini? Biar Anda sendiri yang menilai.