[textmarker color=”E6762C”]PURJONO AGUS SUHENDRO,[/textmarker]Editor in Chief TechnoBusiness Indonesia

[textmarker color=”75BFFF”]Kemas Antonius[/textmarker] menceritakan tentang konsep, strategi, dan arah ke depan [textmarker color=”75BFFF”]Jobplanet,[/textmarker] platform komunitas online untuk berbagi informasi seputar dunia kerja dan review perusahaan, yang dikelolanya, serta alasan mengapa lebih memilih berekspansi dari Korea Selatan ke Indonesia terlebih dahulu ketimbang negara lain.  

 

 

KEMAS ANTONIUS, Chief Product Officer Jobplanet Indonesia

Sepertinya Jobplanet masih menitikberatkan pada lebih banyak review perusahaan. Betul begitu?

Ya, betul.

Lantas, dari mana Anda menghasilkan uang?

Kami memang sudah berpikir untuk menghasilkan uang, tapi belum kami lakukan saat ini. Namun, seperti yang Anda lihat, kami akan fokus pada konten yang kami miliki dan berupaya dari konten tersebut bisa menghasilkan sesuatu.

Kenapa tidak memasukkan lowongan pekerjaan online?

Ada satu pemikiran ke sana nanti. Sekarang kami sedang mempersiapkan hal itu dan ke depan, selain menyediakan review perusahaan, informasi gaji, dan kisi-kisi interview kerja, kami juga akan menyediakan informasi lowongan kerja.

Setelah didirikan di Korea Selatan pada 2014, Jobplanet langsung masuk ke Indonesia, bukan negara lain terlebih dahulu seperti startup mancanegara pada umumnya, pada Agustus 2015. Apa pertimbangannya?

Karena mereka melihat pasar di Indonesia ini besar sekali. Usia kerja kita sekarang ini ada 125 juta orang. Yang bekerja ada 118 juta dan 7 juta yang menganggur. Kalau kita lihat, mereka (pencari kerja dan pekerja) membutuhkan informasi. Informasi seperti apa? Informasi yang transparans tentang perusahaan-perusahaan.

Tidak semua informasi tentang perusahaan itu kan tersedia secara terbuka. Kalau kita gali lewat outsourcing (alih daya), pengguna, karyawan, dan mantan karyawan perusahaan tersebut, mereka akan bisa berbagi. Dengan berbagi, mereka mengedukasi pasar. Dengan mengedukasi pasar, mereka memberi informasi kepada para pencari kerja. Sehingga para pencari kerja bisa memperoleh informasi pekerjaan di perusahaan yang mereka sukai, apakah cocok dengan saya, berapa gaji yang ditawarkan, apa sih yang membuat mereka lolos diterima? Nah, potensi ini yang mereka lihat.

Selain itu, pertumbuhan ekonomi. Lalu, semaraknya dunia teknologi informasi yang saat ini berkembang, di mana kita berupaya memenuhi suatu kebutuhan-kebutuhan yang tidak terpenuhi oleh offline services. Dari offline services ini, kami coba untuk masuk ke sana.

 

Baca Juga: Inilah Lima Startup Paling Menarik Perhatian Pencari Kerja

 

Seberapa besar Jobplanet di Korea?

Saat ini, kami memiliki 2 juta pengguna yang terdaftar; 1,5 juta konten review, informasi gaji, dan kisi-kisi interview. Juga, 80.000 perusahaan. Di Indonesia, ada 600.000 pengguna, 300.000 konten, 43.500 perusahaan.

Pendanaannya disokong dari mana saja?

Kami memiliki pendanaan dari beberapa investor, antara lain Bon Angels, Qualcomm Ventures, dan Altos Ventures. Terakhir dari seorang konglomerat di Korea. Ini sudah masuk seri B dan C, jadi sudah besar.

 

Baca Juga: Delapan Startup Berbudaya Perusahaan Terbaik 2016

 

Kalau sudah mendapatkan pendanaan dari banyak pemodal ventura, lalu bagaimana Anda mengeruk pendapatannya?

Seperti yang saya katakan tadi, kami belum fokus ke sana. Namun, kami akan memaksimalkan potensi-potensi dari data yang kami miliki untuk mendukung fitur yang menghasilkan uang.

Kapan itu?

Begitu kami siap, kami akan jalankan. Tapi, kami akan mempersiapkannya dengan lebih baik lagi. Hahaha…

 

TechnoBusiness Indonesia

Jakarta, 15 Desember 2016

Foto-Foto: Jobplanet