Home Spire Insight Menanam Harapan di Utara Jakarta

Menanam Harapan di Utara Jakarta

1

Spire Insight · Hingga September 2017, persentase penduduk miskin di Jakarta menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) berkisar 3,78% (393.000 jiwa) dari total penduduk sekitar 10 juta jiwa. Jumlah ini tidak pernah mengalami penurunan selama 10 tahun terakhir, bahkan sesungguhnya menunjukkan kenaikan dibanding Maret 2017.

Baca Juga: Enam Strategi Penyedia Layanan TIK di Indonesia

Angka pengangguran di Ibu Kota juga cukup besar, mencapai 5,36% dari 5.461.000 jiwa angkatan kerja per Februari 2017. Dalam 1 dasawarsa ini pun Gini Rasio-nya melebihi 0,4, yang menurut BPS bisa mencapai 0,409 per September 2017. Ini menunjukkan ketimpangan pendapatan. Artinya, distribusi kekayaan yang tak merata di Jakarta harus “dibaca ulang” sebagai sebuah masalah serius.


Data dari BPS DKI Jakarta juga menunjukkan bahwa Kepulauan Seribu dan sebagian wilayah Jakarta Utara (Marunda dan Cilincing) masih menjadi daerah dengan tingkat kemiskinan tertinggi, yakni mencapai 13% pada September 2017.

Berkaca dari hal itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan berbagai pihak lainnya harus berupaya keras untuk memaksimalkan berbagai cara untuk menanggulangi kemiskinan di wilayahnya. Persoalan kemiskinan bukan sekadar jumlah dan persentase, melainkan ada dimensi lain yang harus diperhatikan, misalnya tingkat kedalaman dan karakter kemiskinan yang terjadi.

Baca Juga: Ramadhan, Bulan Gempita E-commerce Indonesia 

Menurut Spire Indonesia, kemiskinan yang terdeteksi setidaknya bisa diurai, salah satunya dengan memberikan ruang alternatif bagi masyarakat untuk bisa membaca ulang peluang di daerahnya dan menjadikannya sebagai strategi ketangguhan. Hal itu dimaksudkan untuk menyiasati keterbatasan dan degradasi lingkungan yang terus menyusut seiring dengan laju pertumbuhan populasi di kawasan urban. Setidaknya, dalam konteks kota Jakarta, kawasan pesisir utara termasuk dalam kawasan yang rentan secara sosial dan ekologi.

Marunda sebagai bagian dari kawasan urban Jakarta di Utara dapat memberikan contoh yang baik bagaimana usaha ketangguhan dan kelentingan masyarakat didefinisikan ulang sebagai sebuah usaha yang berkesinambungan dengan melibatkan banyak pihak secara strategis.

Pada 2015, sebuah inisiasi yang dilakukan secara kolaboratif di Marunda melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pihak swasta, non-government organization (NGO), hingga pemerintah. Inisiasi platform kerja sama tersebut dinamakan MURIA (Marunda Urban Resilience in Action).

 

Bercocok Tanam di Lingkungan yang Kritis

MURIA merupakan sebuah platform aksi kerja kolaboratif yang menitikberatkan pada proses inklusif dalam penyusunan strategi ketahanan wilayah Marunda, Jakarta Utara, guna mendapatkan perspektif dari berbagai pihak.

Proses inklusif di sini menunjukkan partisipasi dari semua pemangku kepentingan yang terdiri dari pemerintah, akademisi, komunitas dan organisasi, serta sektor swasta, dalam seluruh proses penerapan strategi ketahanan masyarakat yang rentan terhadap bencana alam dan kemiskinan urban.

Baca Juga: AADC, Strategi Memenangkan Pasar Online

Partisipasi dan kolaborasi antarpihak yang telah dilakukan untuk mencapai ketangguhan masyarakat kota hingga saat ini telah melibatkan beberapa pemangku kepentingan kunci yang strategis, termasuk pihak swasta.

MURIA menawarkan pendekatan multi-pihak yang melibatkan berbagai sektor dengan kapasitasnya masing-masing untuk berkolaborasi dengan pendekatan penguatan ketangguhan yang dikelola masyarakat sendiri (community managed).

Salah satu program yang diusung dalam platform kerja MURIA adalah Urban Farming. Program Urban Farming dilakukan di kawasan yang secara ekologis tidak memungkinkan untuk bercocok tanam (dikarenakan kualitas tanah dan air serta dilingkupi area perindustrian berat) di Marunda. Namun, penerapan pola cocok tanam yang diterapkan dalam program Urban Farming sudah disesuaikan dengan karakter perilaku masyarakat dan lingkungannya.

Tanaman yang ditanam merupakan jenis sayuran yang lebih mudah dalam perawatan dan relatif lebih cepat untuk dipanen serta secara komersial cepat terserap pasar lokal di Marunda. Sedangkan medium tanah dan demo plot yang digunakan juga disesuaikan dengan kondisi lingkungan yang banyak hama (tikus, ayam dan kambing) serta ancaman air rob dari laut. Sehingga demo plot tanaman yang digunakan menggunakan sistem rangka berlapis untuk menghidari hama dan rob.

Sebenarnya, pihak-pihak yang terlibat dalam platform MURIA menyediakan peran dan kapasitasnya masing-masing. Salah satu mitra strategis di MURIA adalah Spire Indonesia, yang ikut berkontribusi dalam program Urban Farming dengan menyediakan analisis mata rantai pasar sayuran dan memberikan lansekap potensial pasar sayuran di Marunda.

Studi yang dilakukan Spire Indonesia di Marunda memberikan pemahaman strategis mengenai pemanfaatan pasar sayuran di wilayah setempat hingga perhitungan komersial yang bisa didapatkan oleh masyarakat dalam melakukan Urban Farming.

Baca Juga: Mengatasi Kemiskinan Petani dengan Skema Value Chain Financing 

Pemetaan yang dilakukan Spire Indonesia juga meliputi pemetaan aktor dan pelaku pasar dalam bisnis sayuran di Marunda. Setidaknya dalam satu siklus masa tanam panen dapat diketahui siapa saja yang berperan penting dan strategis dalam siklus pertanian sayuran di Marunda. Sehingga melalui pemetaan tersebut, stakeholder dalam MURIA lainnya bisa menentukan strategi aksi yang relevan untuk mendukung pengembangan program Urban Farming ke depan.

Jika melihat data produksi sayuran di Jakarta hingga 2016, setidaknya program Urban Farming bisa menyajikan peluang pemberdayaan ekonomi kecil masyarakat bersamaan dengan upaya mendukung lingkungan yang lebih ramah. Produksi sayuran di Jakarta masih di bawah rata-rata jika dibandingkan dengan tingkat konsumsi sayuran warganya yang mencapai tiga kali lipat.

Pasokan kebutuhan sayuran di Ibu Kota masih banyak disuplai dari wilayah satelit sekitaran Jakarta (Bogor, Sukabumi, dan Cianjur). Maka setidaknya, program Urban Farming yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga lokal ternyata bisa juga menjadi peluang usaha mikro melalui penjualan hasil panen sayuran yang konsisten.

Harapan untuk memperbaiki kualitas kehidupan masyarakat Marunda dapat dilakukan melalui opsi sumber penghidupan baru dari program Urban Farming ini. Pelibatan secara aktif anggota keluarga dalam mengelola demo plot tanaman sayur dan model pengelolaan berbasis komunitas atau kelompok warga dapat memberikan satu ruang alternatif pengentasan kemiskinan baru dalam dimensi yang berbeda.

Kini, tanaman-tanaman yang telah dipupuk segera panen dan dapat menemui pasarnya secara langsung dengan pendampingan intens dari pegiat-pegiat MURIA. Dengan demikian, keberlangsungan dan kemandirian masyarakat pun bisa ditempa perlahan untuk nantinya bisa meluas tak hanya di kawasan Marunda saja, tapi juga di wilayah kritis dan kantung kemiskinan lainnya.·

Penulis: Kumbo Lasmono

Infografis: Prizzy Natacia

 

Spire Research and Consulting merupakan perusahaan riset pasar dan konsultasi bisnis global, terutama di negara-negara berkembang, yang didirikan di Singapura pada 2000. Kini, perusahaan ini memiliki kantor perwakilan di semua negara Asia Pasifik dengan kantor pusat di Tokyo, Jepang.