Utah, TechnoBusiness ● Mulai 23 Juli 2018, jutaan situs web di seluruh dunia bakal dinyatakan tidak aman (not secure) oleh browser Google Chrome keluaran Google.

Seperti disampaikan oleh DigiCert, Inc., penyedia sertifikat SSL/TLS global, di Lehi, Utah, Amerika Serikat, Selasa (3/7), peringatan itu sebagai dampak dari pembaruan browser Chrome 68.

Baca Juga: Inilah 10 Negara dengan Koneksi Internet Tercepat 2017

“Dengan perilisan browser Google Chrome 68, halaman web apa pun yang tidak menjalankan HTTPS dengan sertifikat TLS yang valid akan menampilkan peringatan ‘Tidak Aman’ di bilah alamat Chrome,” ungkap DigiCert.

Peringatan tidak aman itu menjadi penting karena browser Google Chrome mempunyai pangsa pasar 60% di seluruh dunia. Chrome merilis alat konversi HTTPS dan data awal tahun ini yang menunjukkan bahwa hingga 78% lalu lintas browser-nya dienkripsi.

Penelitian Internal DigiCert menemukan bahwa 43% dari 1 juta situs Alexa menggunakan HTTPS secara default, sedangkan survei W3Techs pada Juni 2018 melaporkan bahwa HTTPS merupakan protokol default untuk 35% dari 10 juta situs web teratas.

Ini mengarah pada kesimpulan bahwa banyak situs yang lebih kecil dan kurang diperdagangkan masih mengandalkan HTTP. “Pembaruan Chrome 68 diharapkan akan memacu jutaan situs yang masih menggunakan HTTP untuk mengadopsi HTTPS,” tutur Chief Product Officer DigiCert Jeremy Rowley.

Data menunjukkan bahwa di saat banyak web telah membuat langkah luar biasa demi keamanan pengguna yang lebih besar, ada pula web yang masih sibuk menghindari peringatan tersebut.

“Kami mendukung tindakan Google untuk mempromosikan penggunaan HTTPS secara default dan ingin memastikan administrator situs menyadari perubahan yang akan datang dan memiliki sumber daya untuk membuat perubahan yang diperlukan ke operasi server web mereka,” kata Rowley.

Dalam beberapa kasus, administrator mungkin percaya bahwa mereka tidak memerlukan sertifikat di semua laman, tetapi konfigurasi dan penerapan yang salah akan tetap menyebabkan peringatan di Chrome.

Menghindari peringatan itu penting. Menurut Internal Website Security Seal Study yang dirilis Ipsos Group S.A, 87% pengguna internet tidak akan menyelesaikan transaksi jika mereka melihat peringatan browser di halaman web.

Sementara 58% responden pergi ke situs web pesaing untuk menyelesaikan pembelian mereka. “Ada sejumlah opsi yang dapat digunakan administrator situs untuk dengan cepat mengaktifkan HTTPS di situs web mereka, menjelang tenggat waktu,” kata Rowley.

Selain enkripsi dan otentikasi lalu lintas situs web, lanjutnya, sertifikat digital dapat meningkatkan peringkat SEO, mengurangi tingkat bouncing, dan membantu meminimalkan keranjang belanja yang ditinggalkan.

Google Chrome merupakan browser pertama yang menerapkan sistem peringatan yang terlihat pada situs web non-HTTPS. Ke depan, sistem tersebut kemungkinan besar akan segera diikuti oleh yang lain seperti Microsoft, Apple, dan Mozilla.●

—Mark Edward, TechnoBusiness/PRN ● Foto-Foto: Google