Mumbai dan Jakarta, TechnoBusinessMatrimony.com, situs perjodohan online pertama di India dengan kapitalisasi pasar sebesar Rs 2000 crore, menargetkan 1,5 miliar pengguna muslim di seluruh dunia.

Untuk mencapainya, Matrimony—yang mengelola BharatMatrimony, EliteMatrimony, dan CommunityMatrimony—membentuk induk perusahaan baru untuk pasar global yang dinamakan GlobalMuslimMatch.com.

Baca Juga: Pasar Ritel Online India Tumbuh 63% per Tahun

Menurut keterangan resmi yang diterima TechnoBusiness pada Senin (23/7), GlobalMuslimMatch akan berkantor pusat di Dubai, Uni Emirat Arab. Di bawah induk baru itu dikembangkan situs perjodohan yang juga baru dengan nama sesuai pasarnya.

IndonesiaMuslimMatch, salah satu situs perjodohan online di Indonesia yang dirilis GlobalMuslimMatch.com, anak perusahaan baru Matrimony.com asal India.

GlobalMuslimMatch mengusung ArabMuslimMatch.com untuk pasar Timur Tengah, AmericanMuslimMatch.com untuk pasar Amerika Serikat, EuropeanMuslimMatch.com untuk pasar Eropa, dan BangladeshMuslimMatch.com untuk pasar Bangladesh.

Lalu, MalaysiaMulismMatch.com untuk pasar Malaysia dan IndonesianMuslimMatch.com untuk pasar Indonesia. Melihat namanya secara jelas situs-situs tersebut ditujukan untuk para pencari jodoh kaum muslim.

Matrimony meyakini kombinasinya dengan GlobalMuslimMatch mampu melayani sepertiga populasi global dan memecahkan target jumlah pengguna yang telah ditetapkan. Sayangnya, target pengguna itu tidak disebutkan secara rinci target waktu pencapaiannya pula.

CEO Matrimony Limited Murugavel Janakiraman menyatakan berbekal pemahaman tentang domain perjodohan ditambah pengalaman 18 tahun dalam mengelola perusahaan publik yang menguntungkan membuat perusahaan optimistis atas upaya ekspansi global tersebut.

“Kami merasa pasar perjodohan muslim global yang terfragmentasi menawarkan peluang besar bagi pemain mapan seperti kami,” ungkap Janakiraman.

Karakter perkawinan online di Asia sangat mirip dengan wilayah yang disasar Matrimony selama ini. “Dan, kami yakin akan memberikan pilihan yang lebih luas dan pengalaman perjodohan yang lebih kaya bagi muslim di kawasan tersebut,” lanjutnya.

“Kami merasa pasar perjodohan muslim global yang terfragmentasi menawarkan peluang besar bagi pemain mapan seperti kami.”

—Murugavel Janakiraman, CEO Matrimony Limited

Di India, Matrimony telah menjelma menjadi pemimpin pasar industri jasa perkawinan yang bernilai US$55 miliar. Beberapa bisnis yang menyumbang pendapatan bagi Matrimony yaitu MatrimonyPhotography, MatrimonyBazaar, dan MatrimonyMandaps.

Matrimony, yang berpusat di Chennai, India, juga memiliki 140 gerai konvensional dan mempekerjakan sebanyak 4.000 karyawan. Pada kuartal 1/2018, seperti diberitakan The Economic Times, perusahaan membukukan pendapatan Rs 335,5 crore, naik 14,5% dari Rs 293 crore pada periode yang sama tahun lalu.

Pasar Indonesia

Bisnis perjodohan online memang menggiurkan. Metode yang dipakai adalah mempertemukan antaranggota secara sistematis berdasarkan tes psikologi atau kuesioner yang dikumpulkan melalui pencocokan algoritma.

Hampir di semua negara telah muncul situs perjodohan online semacam itu. Di Indonesia, salah satu yang telah ramai digunakan yaitu Setipe.com. Bedanya dengan IndonesiaMuslimMatch yang diluncurkan Matrimony, Setipe tidak menjodohkan hanya untuk kaum atau agama tertentu.

Secara keseluruhan, pasar perjodohan online di Tanah Air lumayan menarik. Periset pasar Statista menyebutkan bahwa pendapatan yang berhasil dikumpulkan oleh industri diperkirakan mencapai US$17 juta pada 2018. Pada 2022, nilai pasarnya sudah menjadi US$23 juta.

Artinya, rata-rata potensi pasarnya tumbuh 7,7% selama periode perkiraan. Oleh sebab itu, wajar jika “Raja Jodoh” India masuk ke pasar Indonesia, di samping melakukan ekspansi ke Eropa, Amerika Serikat, Timur Tengah, dan lainnya.

Yang perlu dipahami oleh Matrimony, kata Jeffrey Bahar, Group Deputy CEO Spire Research and Consulting, adalah karakter pasarnya. Sebab, kultur Indonesia dengan kultur India dan negara lain jauh berbeda.

“Di Indonesia, situs perjodohan atau kencan online banyak tapi masyarakatnya cenderung tertutup andaikan memanfaatkannya. Muncul anggapan mencari jodoh secara online itu karena gagal dalam menemukan jodoh sebagaimana umumnya,” ungkap Jeffrey.

Namun demikian, pasar perjodohan atau kencan online pasti bertumbuh karena menjadi pola baru seiring semakin banyaknya kaum milenial yang memang sarat teknologi. “Tapi, untuk bisa menjadi rujukan masih butuh waktu,” ujarnya.●

—Anil Taba (India) dan Ivan Darmawan (Indonesia) ● Foto-Foto: Matrimony.com