London, TechnoBusiness ● EY, perusahaan jasa profesional global yang berpusat di London, Inggris, mengalokasikan investasi hingga US$1 miliar guna memperkuat solusi teknologi baru, layanan pelanggan, serta inovasi dan ekosistem dalam dua tahun ke depan sejak Juli 2018.

EY, yang sebelumnya dikenal dengan nama Ernst & Young, tampak betul-betul serius dalam memperkuat solusi teknologi tersebut. Sebab, selain investasi dana, mereka juga merekrut Nicola Morini Bianzino sebagai global chief client technology officer dan Steve George sebagai global chief information officer.

Baca Juga: Strategi Menghadapi Era Digital dengan 3C

Belum cukup, EY juga menunjuk Barbara O’Neill sebagai global chief information and security officer-nya. Dengan jabatannya itu, O’neill bertugas memberikan arahan strategis mengenai semua hal yang berkaitan dengan keamanan informasi.

Dalam penjelasan manajemen EY di London, Minggu (12/8), para eksekutif baru itu akan membawa keterampilan industri dan teknologi secara signifikan ke perusahaan, yang masuk dalam upaya transformasi digital dan agenda inovasi perusahaan.

Itu juga merupakan langkah melengkapi investasi EY di bidang inovasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan laboratoriun blockchain yang sudah ada.

Chairman dan CEO EY Global Mark Weinberger mengatakan, “Pada era transformatif ini, bisnis dan pemerintah berada di bawah tekanan yang cukup signifikan. Tidak hanya sekadar untuk mengejar, tapi lebih maju dari gangguan besar dan perubahan teknologi”.

EY memperkuat solusi teknologi karena melihat peluang besar dalam membantu pelanggan mengatasi hal tersebut. Sebelum bergabung dengan EY, Bianzino menjadi pemimpin dan strategi AI di Accenture (NYSE: ACN), perusahaan konsultasi manajemen global yang berbasis di Dublin, Irlandia.

Di EY, Bianzino akan fokus menghadirkan kemampuan digital kepada pelanggan sehingga teknologi menjadi jantung layanan perusahaan. “Selama setahun terakhir kami telah memelopori dan meluncurkan sejumlah layanan inovatif seperti penggunaan blockchain dalam asuransi kelautan serta otomatisasi dan lain-lain,” ungkap Weinberger.●

—Richard O. Kimberly, TechnoBusiness/PRN ● Foto: EY