Jakarta, TechnoBusiness ID ● Mungkin
Anda belum tahu apa itu Realme. Realme
merupakan merek ponsel pintar (smartphone)
baru pisahan dari Oppo asal China. Kehadirannya
ke pasar mirip seperti Honor yang memisahkan diri dari merek induknya, Huawei.

Strategi yang diusung Realme, juga Honor, adalah dengan mencitrakan
sebagai merek global. Citra global itu ditancapkan dengan menghadirkan produk
yang secara kualitas bagus dan, yang tak kalah penting, diluncurkan di pasar
utama dunia.

Realme menyadari itu sehingga produk
pertamanya, Realme 1, pun diluncurkan pertama kali di India, pasar terbesar
kedua di dunia setelah China. Biasanya, merek kedua (second brand) semacam itu didalihkan sebagai merek untuk pasar e-commerce (e-brand) yang sedang berkembang pesat.

Baca Juga: Fintopia pun Terpikat Pasar Indonesia

Benar saja, Realme 1, lini produk pertama Realme,
dipasarkan di India melalui Amazon India. Menurut manajemen Realme, Realme 1
terjual habis hanya dalam dua menit pada Mei lalu. Amazon menyebut Realme 1
terjual sebanyak 400.000 unit dalam dua bulan, sebuah pencapaian yang baik bagi
merek baru.

Pendiri sekaligus CEO Global Realme Sky Li menyatakan, “Realme akan menjadi game changer di pasar smartphone
global.” Untuk mewujudkannya, Realme fokus menyediakan produk dengan inovasi
terbaru, kinerja yang kuat, dan desain yang penuh gaya.

Sebelum memproduksi, Realme mengadakan
riset pasar dan interaksi yang mendalam dengan konsumen. Hasilnya, pasar
menganggap ponsel pintar bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga
perangkat dasar untuk bersosialisasi, menikmati hiburan, bekerja, dan belajar.

Untuk itu, tampilan ponsel pintar menjadi
simbol kepribadian konsumen. Sayangnya, harga ponsel pintar yang layak menjadi
simbol kepribadian kebanyakan di atas rata-rata kemampuan mereka, sehingga Realme
hadir.

Menyusul kesuksesan Realme 1, Realme 2
tampil berlayar penuh dengan notch,
baterai berkapasitas besar, dual-camera,
dan lain-lain. Sudah jelas produk-produk itu disasarkan untuk anak-anak muda di
berbagai belahan dunia.

Baca Juga: Transaksi Ilegal Turis China Merebak di Vietnam

Chief Product Officer Realme Levi Lee mengatakan Realme 2 menjadi ponsel pintar pertama yang
dipasarkan secara internasional. Pasar utama di kancah internasional yang
dimaksud Lee kemungkinan besar adalah Asia. Pernyataan Lee itu diperkuat oleh Madhav Sheth, CEO Realme India.

Dalam satu waktu, Madhav mengungkapkan
bahwa tahun ini Realme akan memperkuat pasarnya di Asia, terutama Timur Tengah
dan Asia Tenggara. Jika benar, tentu sasaran utama Realme adalah Indonesia. Sebab,
Indonesia merupakan pasar ponsel pintar yang paling menarik di kawasan ini.

Berdasarkan data International Data Corporations (IDC), jumlah pengiriman ponsel
pintar ke Indonesia pada 2017 mencapai 30,4 juta unit. Jeffrey Bahar, Group Deputy CEO Spire Research and Consulting,
perusahaan riset dan konsultasi bisnis yang berkantor pusat di Tokyo, Jepang,
berpendapat bahwa Indonesia menjadi salah satu pasar yang paling menggiurkan
setelah China, India, dan Amerika Serikat.

Kemenarikan itu, kata Jeffrey, jelas
didorong oleh besarnya jumlah populasi penduduk Tanah Air yang mencapai 264
juta jiwa. “Selain itu, jumlah kaum milenial di negara ini semakin besar
sehingga menuntut penggunaan ponsel pintar yang sarat teknologi-teknologi
mutakhir namun dengan harga yang affordable,”
lanjutnya.

Baca Juga: Menilik Pabrik Ponsel Pintar Vivo di Cikupa, Tangerang

Namun demikian, sepertinya Realme tak bisa
begitu saja “datang” ke pasar berkembang ini. Pasalnya, menurut catatan TechnoBusiness Indonesia, pemerintah mewajibkan
setiap perangkat ponsel pintar global yang dipasarkan di Indonesia menggunakan
komponen dalam negeri minimal 30% mulai 1 Januari 2017.

Aturan itu tertuang dalam Peraturan
Menteri Perindustrian Nomor 65 Tahun 2016 Tentang Ketentuan dan Tata Cara
Penghitungan Nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri Produk Telepon Seluler,
Komputer Genggam, dan Komputer Tablet. Walau, bagi Realme, menjalankan aturan
itu tidaklah sulit.

Buktinya, Oppo, induk dari Realme, telah
membangun pabrik perakitan di Tangerang, Banten, sejak 2015. Bahkan, pabrik dengan
luas lahan 27.000 meter persegi yang menelan investasi sebesar US$30 juta itu
menjadi yang terbesar kedua setelah pabrik utamanya di Shenzhen, China.

Vivo, rival Oppo yang juga dari
Tirai Bambu, juga membuka pabrik perakitan di Cikupa, Tangerang, di atas tanah
seluas 8.000 meter persegi. Di Indonesia, pada 2017 Oppo telah berhasil
menggeser pemain-pemain lama dan merangsek ke posisi kedua di bawah Samsung,
sedangkan Vivo masih berada di bawah.

Bagaimana dengan Realme? Asia dan Indonesia memang pasar yang besar, antara peluang dan tantangannya juga besar, dan semua itu real, nyata. Karena itu, semua kembali kepada strategi Realme apakah bisa menaklukkannya atau tidak. Hukum pasar berlaku.●

—Intan Wulandari, TechnoBusiness ID ● Foto: Realme