TechnoBusiness Insight ● Ekonomi global kembali berguncang, bahkan lebih parah dari biasanya. Risiko yang ditimbulkan pun meningkat sejak Mei lalu, terutama disebabkan oleh ketegangan antara Amerika Serikat, China, dan Uni Eropa dalam perdagangan antarnegara.

Risiko itu tidak boleh dianggap main-main karena sudah mengarah kepada krisis ekonomi baru. Menurut laporan periset pasar Euromonitor International yang baru saja dirilis, pemilihan pemerintah di Italia telah meningkatkan risiko guncangan Zona Euro.

Baca Juga: Telkom Merek Termahal Indonesia 2018

Euromonitor memperkirakan guncangan Zona Euro itu dapat membahayakan stabilitas keuangan kawasan. Inggris pasca-Brexit yang tak kunjung tenang menambah gejolak di Barat. Krisis Turki di Timur Tengah juga memicu kekhawatiran penularan ke negara-negara berkembang lainnya.

Untuk itu, Pendapatan Domestik Bruto (PDB) negara-negara maju sekalipun tahun depan diperkirakan turun. Dalam laporan yang dirilis pada Senin (17/9), PDB Amerika yang tahun ini tumbuh 2,7% dibanding tahun lalu, akan turun menjadi 2,6% pada tahun depan.

PDB Zona Euro yang pada 2018 tercatat tumbuh 2,1% akan turun 0,2% menjadi 1,8%. PDB Jepang, negara maju di belahan Asia, juga turun dari 1,1% pada tahun ini menjadi 1,0% pada tahun depan.

Yang meningkat sedikit justru PDB Inggris. Setelah ekonominya terseok akibat ketidakpastian pasca-Brexit, PDB Inggris justru naik dari 1,2% tahun ini menjadi 1,3% tahun depan. Negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, akan menghadapi tantangan yang tak kalah kuat—dan berisiko.●

Teks: TechnoBusiness Insight

Data: Euromonitor International

Grafis: TechnoBusiness Insight, Euromonitor International