Singapura, TechnoBusiness Insight ● Belanja menggunakan perangkat mobile di Asia Pasifik terus melonjak. Dalam laporan FutureBuy terbaru yang dirilis GfK, periset pasar yang berpusat di Nurnberg, Jerman, 63% konsumen e-commerce di kawasan ini mengakui perangkat seluler menjadi alat belanja paling penting bagi mereka.

Dari 11.000 responden di 11 pasar Asia Pasifik, termasuk Indonesia, yang diwawancarai secara online pada Juli 2018 menyatakan pakaian, mainan, dan perangkat yang dapat dikenakan tetap menjadi tiga kategori terpopuler yang mereka beli.

Baca Juga: Malaysia-Indonesia Berbagi Peluang Pasar Waralaba

Sebanyak 50% responden membeli tiga kategori tersebut dalam enam bulan terakhir. Kategori lain yang turut menunjukkan tren kenaikan yaitu produk kecantikan dan perawatan personal, mainan, dan perawatan bayi.

Meningkatnya jumlah konsumen e-commerce didorong oleh banyaknya keuntungan yang ditawarkan. Sebagian besar dipicu oleh tingkat penetrasi internet yang mendalam di berbagai negara.

Ternyata produk yang dibeli konsumen melalui perangkat seluler dan komputer personal cenderung berbeda.

Sebagian lain, kata Karthik Venkatakrishnan, Consumer Insight Lead GfK Asia Pasifik, “Disebabkan karena harga yang lebih rendah, kenyamanan yang meningkat, dan ketersediaan opsi yang lebih banyak.”

Di Indonesia, 39% konsumen e-commerce melakukan pembelian menggunakan perangkat seluler. Itu masih kalah dibanding 45% konsumen di China dan 42% konsumen India. Tapi, lebih banyak dibanding 33% konsumen Singapura.

Baca Juga: Tiga “Senjata” HP Pasarkan PC Premium

Namun, ternyata produk yang dibeli konsumen melalui perangkat seluler dan komputer personal cenderung berbeda. Produk-produk yang berukuran besar lebih banyak dibeli lewat komputer dan sebaliknya.

Meningkatnya pembelian melalui perangkat seluler diikuti juga dengan melonjaknya pembayaran hingga 30% via perangkat yang sama di seluruh kawasan. Generasi milenial cukup memengaruhi kenaikan pembayaran via ponsel tersebut.

Memang pembayaran online masih mendominasi, yakni menguasai 41%-nya, tapi sudah turun 5% dibanding tahun lalu. Penurunan pembayaran menggunakan uang tunai dipastikan akan terus terjadi.●

Teks: TechnoBusiness Insight

Data: GfK

Grafis: TechnoBusiness Media Network