Oleh Andhika Irawan Saputra | Periset Spire Indonesia

Spire Insight ● Indonesia memiliki varian industri yang sangat beragam untuk menunjang pembangunan nasional. Salah satu industri yang cukup mendapat sorotan akhir-akhir ini adalah baja.

Digalakkannya semangat pembangunan nasional, terutama infrastruktur dan fasilitas publik, oleh Presiden Joko Widodo telah meningkatkan angka konsumsi baja nasional.

Spire Insight: Tren Bisnis “Managed Service” Industri Komunikasi

Hingga 2018, angka konsumsi baja nasional telah mencapai 14 juta ton atau sekitar 62,2 kilogram (kg) per kapita. Angka tersebut memang tergolong cukup rendah dibanding negara tetangga seperti Vietnam dan Malaysia yang masing-masing sebesar 164,5 dan 354,5 kg per kapita.

Terlebih lagi, produksi industri baja nasional saat ini baru mencapai 8 juta ton per tahun.

Angka yang tidak berbanding lurus tersebut memaksa Indonesia untuk mengimpor produk baja secara masif demi memenuhi kebutuhan nasional.

Saat ini, pemerintah sedang berupaya membangkitkan produksi baja dalam negeri untuk menekan besarnya angka impor. Upaya yang dilakukan pemerintah tampak berhasil karena angka impor pada 2017 menurun dibanding tahun sebelumnya.

Spire Insight: Kakao, Potensi yang Belum Dimaksimalkan

Di sisi lain, angka ekspor Indonesia terhadap produk baja juga semakin meningkat. Usaha yang sedang dilakukan pemerintah melalui Kementerian Perindustrian adalah dengan melakukan percepatan pembangunan demi menunjang produktivitas di wilayah dengan potensi tinggi.

Hingga 2018, angka konsumsi baja nasional telah mencapai 14 juta ton atau sekitar 62,2 kilogram (kg) per kapita.

Wilayah-wilayah dengan potensi tinggi itu antara lain Cilegon (Banten), Batulicin (Kalimantan Selatan), dan Morowali (Sulawesi Tengah).

Ketiga wilayah tersebut diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pasar dan konsumsi domestik, meningkatkan ekspor, serta mengurangi impor terhadap produk baja.

Namun, permasalahan pun tetap muncul. Permasalahan-permasalahan yang terjadi di industri baja antara lain:

  1. Kebutuhan Bahan Baku

Kemampuan Indonesia untuk mengolah bahan baku masih terbilang cukup minim. Aturan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) tampaknya belum diterapkan secara optimal oleh pemangku kebijakan atau para pelaku industri.

Kondisi ini yang menciptakan ketergantungan terhadap impor bahan baku. Cina merupakan salah satu negara pengekspor bahan baku baja terbesar ke Indonesia.

  1. Sumber Daya Manusia

Bonus demografi yang dimiliki Indonesia tampaknya belum bisa diserap ke dalam industri baja nasional karena minimnya kemampuan dan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang ada. Alhasil, mendatangkan tenaga kerja asing merupakan salah satu opsi wajib dilakukan.

Namun, saat ini pemerintah sedang berusaha untuk menyediakan sarana pendidikan yang berkualitas di salah satu daerah konsentrasi dengan harapan dapat menghasilkan SDM yang kompeten dan mampu bersaing dengan tenaga kerja asing.

  1. Utilisasi Produksi Baja dalam Negeri

Para pelaku industri baja nasional cenderung belum dapat memaksimalkan produktivitasnya sehingga angka utilisasi industri baja masih cukup rendah, yakni berkisar antara skala 20-40%.

Spire Insight: Strategi Menekan Harga Pangan

Pada dasarnya, industri baja nasional memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan. Secara perlahan tapi pasti, produktivitas terus meningkat dan pemerintah juga terus mengeluarkan kebijakan yang bersifat suportif terhadap para pelaku industri.

Diterapkannya kebijakan anti-dumping atas impor asal China juga memberi kesempatan untuk menstabilkan harga di skala nasional sehingga menjadikan pasar baja dalam negeri lebih stabil dan menarik bagi para pelaku industri.

Untuk saat ini, mungkin angka produksi nasional belum dapat memenuhi kebetuhan dalam negeri sehingga impor masih sangat diperlukan. Tetapi, melihat pada dinamika dan progresifnya industri baja nasional, tidak menutup kemungkinan apabila di masa depan Indonesia dapat memenuhi kebutuhannya sendiri.●

 

Spire Research and Consulting merupakan perusahaan riset pasar dan konsultasi bisnis global, terutama di negara-negara berkembang. Perusahaan yang didirikan pada 2000 di Singapura ini kini memiliki kantor perwakilan di semua negara Asia Pasifik dan berkantor pusat di Tokyo, Jepang.

PT Spire Indonesia | Wisma BNI Lt. 25 Unit 8-10, Jalan Jend. Sudirman Kav. 1, Jakarta 10220, Telp/Faks: (021) 57945800 | www.spireresearch.com