Ricky Handrian, Business Personal System Category Lead HP Indonesia

HP Indonesia berkomitmen meningkatkan kualitas pendidikan di Tanah Air melalui berbagai inovasi.

Jakarta, TechnoBusiness ID ● Sebanyak 97% orang tua di Indonesia setuju jika teknologi mesti memainkan peran besar dalam pendidikan anak agar tidak kalah bersaing dengan negara lain.

Hal itu terungkap dalam hasil riset HP National Education Technology Assessment Readiness (HP NETr) seperti diungkapkan oleh Hendry Widjaja, Chief Operating Officer HP Indonesia, di Jakarta, Kamis (28/2).

Baca Juga: Pavel Ilii, Imigran yang Sukses Membangun IPWebMedia dengan US$300

Di sisi lain, siswa juga optimistis akan masa depan mereka. Sebanyak 99% siswa menyatakan bahwa komputer dan teknologi mampu meningkatkan pengalaman belajar dan produktivitas mereka.

Lalu, 97% siswa percaya jika keterampilan dalam komputer dan teknologi dapat membantu mereka dalam mempersiapkan masa depan yang lebih baik.

Para guru (99%) pun tak menyangkal bahwa teknologi berdampak besar dalam pembelajaran siswa. Menurut mereka, bukan hanya pengalaman belajar, tapi teknologi juga meningkatkan keterampilan yang penting untuk masa depan siswa.

Baca Juga: Aileen Lee, Sosok Pengenal Istilah “Unicorn” dalam “Startup”

Karena itu, seperti ditegaskan dalam Konvensi Nasional ke-4 Perkumpulan Satuan Pendidikan Kerja Sama (SPK) di Jakarta belum lama ini, HP berkomitmen meningkatkan kualitas pendidikan di Tanah Air melalui berbagai inovasi.

Inovasi terbaru HP, kata Hendry, menggabungkan antara pengetahuan lokal, dampak sosial, dengan kemitraan. “Inovasi ini memberikan fasilitas pembelajaran secara inklusif melalui teknologi,” katanya.

Inovasi itu juga untuk mendukung Making Indonesia 4.0 yang dicanangkan oleh Kementerian Perindustrian tahun lalu. Seperti diketahui, kualitas SDM menjadi satu dari 10 prioritas dalam mewujudkan Making Indonesia 4.0 tersebut.

Jeffrey Bahar, Group Deputy CEO Spire Research and Consulting, menyatakan saat ini eranya teknologi tinggi, era siber. Jadi, sudah seharusnya para siswa diperkenalkan dengan teknologi-teknologi tersebut.

“Sebab, kalau tidak, maka antara yang dipelajari di seolah dengan yang akan diaplikasikan dalam dunia kerja tidak sesuai. Efeknya, lulusan sekolah, bahkan sarjana, tidak siap kerja,” kata Jeffrey.

Memang teknologi baru bakal menciptakan pekerjaan-pekerjaan baru, tapi tidak sedikit pula pekerjaan yang terdisrupsi oleh teknologi baru tersebut.

“Contoh yang paling gampang adalah pembayaran jalan tol. Seperti yang kita lihat, dulu petugas pembayaran tol begitu banyak. Sekarang ke mana mereka?” tanya Jeffrey.

Contoh lain, sekarang ini pabrik-pabrik mulai mengubah proses produksinya menggunakan sistem otomatisasi, robotik. “Berapa juta orang yang tergeser? Karena itu, teknologi terkini amat penting untuk dipelajari di sekolah,” katanya. ●

—Vino Darmawan, TechnoBusiness ID ● Foto: HP Indonesia