Setelah Valuklik Diakuisisi Dentsu Aegis Network

Valuklik berubah namanya menjadi iProspect Valuklik setelah merger dengan anak perusahaan Dentsu Aegis Network, iProspect.

 

TechnoBusiness TV Valuklik, perusahaan performance digital marketing berbasis di Jakarta, belum lama ini mengumumkan telah diakuisisi oleh jaringan periklanan global Dentsu Aegis Network. Sebagai tindak lanjut dari akuisisi itu, Valuklik kemudian dimerger dengan iProspect, anak perusahaan Dentsu, menjadi iProspect Valuklik.

Simak Juga: 3 Langkah Mudah agar Website Berada di 10 Besar Mesin Pencarian Google

Cleosent Randing, founder Valuklik, menyatakan penggabungan itu memungkinkan perusahaan bertumbuh lima kali lipat lebih besar sebab diikuti dengan penyatuan kapabilitas jaringan kerja dan kekuatan teknologi di ranah performance digital marketing. “Kolaborasi ini membuat kami jauh lebih besar,” katanya.

TechnoBusiness TV berkesempatan mewawancarai secara khusus Cleosent yang juga founder PasarPolis.com di kantornya, Jakarta, Senin (29/1). Berikut ini video lengkapnya. Selamat menyaksikan.●

—Ivan Darmawan, TechnoBusiness TV   

 

Purjono Agus Suhendro berbincang dengan Chief Marketing & Sales MerahPutih.id Aning Wulandari

PURJONO AGUS SUHENDRO Editor in Chief TechnoBusiness Indonesia

Aning Wulandari, Chief Marketing & Sales PT IP Network Solusindo (IPNet Solusindo), perusahaan pengembang webmail merahputih.id, di Jakarta, Senin (11/9), menceritakan tentang latar belakang kehadiran webmail merahputih.id, kelebihannya dibanding layanan e-mail global, dan strateginya dalam menggaet pengguna.

 

Sebenarnya apa yang melatarbelakangi merahputih.id hadir?

Pada dasarnya, merahputih.id hadir untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia sudah maju di sektor digital dan kita sebagai anak Indonesia mampu membuat karya digital yang berkualitas dan tak kalah dengan karya masyarakat internasional.

 

Merahputih.id menawarkan layanan webmail. Apakah masih potensial? Bukankah e-mail sudah dikuasai Gmail dari Google dan Yahoo! Mail buatan Yahoo?

Kalau dari sisi potensi, saat ini layanan e-mail, termasuk di Indonesia, memang dikuasai oleh Gmail dan Yahoo. Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada 2016, dari total 132,7 juta pengguna internet, 81,8 jutanya menggunakan layanan Gmail dan 43,6 jutanya menggunakan Yahoo. Jadi, kami melihat potensi yang besar di sektor ini.

ANING WULANDARI, Chief Marketing & Sales PT IP Network Solusindo (MerahPutih.id)

Lalu, apa yang ditawarkan merahputih.id?

Sebagai penyedia layanan e-mail pertama milik Indonesia, merahputih.id tidak hadir untuk menantang keberadaan dua raksasa tersebut, tapi kami hadir atas kesadaran akan pentingnya memiliki identitas bangsa dalam dunia internet, khususnya layanan e-mail.

Jadi, ketika seseorang menggunakan akun, misalnya kartika@merahputih.id, maka komunitas internet akan tahu bahwa Kartika adalah orang Indonesia. Inilah yang kami sebut identitas diri yang mencerminkan identitas bangsa lewat dunia digital.

Prototyping webmail merahputih.id sudah dimulai sejak awal 2017. Berkat dukungan dari Telkomsel (PT Telekomunikasi Selular, anak perusahaan PT Telelomunikasi Indonesia Tbk.), webmail merahputih.id telah melakukan soft launch pada Mei 2017 di Batam.

 

Sejak pertama kali diperkenalkan, bagaimana pencapaiannya sampai saat ini?

Sejak soft launch pada Mei 2017, pengguna merahputih.id terus meningkat. Respons masyarakat Indonesia sangat positif. Saat ini, rata-rata lebih dari 1.000 orang per hari membuat akun webmail merahputih.id. Tentu angka tersebut memacu kami untuk terus meningkatkan performa layanan agar kualitas pengalaman pengguna semakin baik, baik dari sisi kemudahan, keamanan, maupun kecepatannya.

Kalau pengguna sudah menikmati layanan e-mail merahputih.id, otomatis akan timbul rasa kecintaan dan kebanggaan, bahkan semangat nasionalisme untuk menggunakan karya digital anak bangsa.

 

Grafik: Demografi pengguna webmail merahputih.id saat ini

 

Layanan webmail merahputih.id sudah menjangkau seluruh kota di Indonesia, mulai dari Sabang sampai Merauke, dengan pengguna terbanyak berasal dari Jakarta (41,6%), Surabaya (15,8%, dan Medan (7%).

 

 

 

 

Mengubah orang dari yang sudah nyaman menggunakan Gmail untuk mau juga memakai webmail merahputih.id jelas tidak mudah. Bagaimana strateginya?

Inovasi produk digital terus berkembang seiring perkembangan teknologi, pembangunan infrastruktur yang meningkat, koneksi internet yang semakin cepat dan merata ke semua daerah di Indonesia. Ini menjadi peluang dan tidak menutup kemungkinan perusahaan-perusahaan lainnya akan membuat produk dan layanan sejenis karena pasarnya masih terbuka luas. Sebagai pelopor di Indonesia, tentunya ini menjadi keunggulan buat kami.

Pertama, strategi kami tentu saja mengedepankan keunggulan produk, antara lain fitur yang user friendly, reliable, dan gratis. Pengguna akan mendapatkan kapasitas inboks e-mail sebesar 50 GB atau lima kali lipat lebih besar daripada yang diberikan pemain asing. Juga, kapasitas ukuran lampiran e-mail sampai dengan 100 MB.

Kedua, dari segi pemasaran, kami melakukan kerja sama dengan banyak pihak untuk memperkenalkan merahputih.id dan menjaring pengguna baru. Misalnya, kerja sama kami dengan Telkomsel. Sebagai operator seluler terbesar dengan 157,4 juta pengguna dan akses jaringan hingga ke pelosok daerah, kerja sama ini berpotensi besar untuk menarik pengguna baru merahputih.id.

Ketiga, dari sisi teknis, dengan hadirnya merahputih.id, beban biaya bandwith penggunaan internet internasional akan berkurang karena layanan e-mail-nya ada di Indonesia. Jadi, lebih efektif dan efisien.

 

Seberapa besar peran Telkomsel terhadap merahputih.id?

Sebagaimana telah saya sampaikan sebelumnya bahwa kerja sama dengan Telkomsel memiliki peranan yang strategis. Dukungan jaringan mobile Telkomsel menjadi kepercayaan besar serta kebanggaan bagi kami sebagai perusahaan teknologi informasi (TI) lokal.

Selain itu, kerja sama ini juga memperkuat peranan teknologi digital dalam membangun model bisnis yang mengedepankan kepentingan pengguna dalam hal TI seperti kekuatan jaringan, aplikasi, pusat data, dan infrastruktur yang semuanya dikelola di Indonesia.

Di samping itu, ini juga memperkuat komitmen Telkomsel dalam menjaga kedaulatan digital Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan memberikan dukungan kepada perusahaan TI lokal untuk mengambil peran membuka akses komunikasi bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Setiap perusahaan mesti menghasilkan profit. Lantas, bagaimana model bisnis atau cara monetisasi merahputih.id untuk meraih profitnya?

Produk ini masih dalam pengembangan. Jadi, kami belum memonetisasi layanan ini. Ke depan, iklan digital akan menjadi salah satu revenue stream bagi produk kami.

 

Target merahputih.id ke depan seperti apa?

Kami berharap kehadiran webmail merahputih.id tak hanya memberikan pilihan akses dalam mengirimkan e-mail bagi masyarakat Indonesia, melainkan juga dipilih dan dipercaya menjadi pilihan utama untuk layanan e-mail di negeri sendiri.

Target lain, nantinya kami ingin setiap anak Indonesia yang menggunakan e-mail merahputih.id punya rasa memiliki dan bangga dengan akun mereka. Mereka tak hanya sebagai pengguna layanan e-mail buatan Indonesia, tapi juga ikut andil dalam memajukan industri digital di Tanah Air. Jadi, merahputih.id dapat menjadi identitas bangsa dan memajukan negeri untuk mencapai kedaulatan digital.

Layanan webmail ini juga merupakan tahapan awal dari produk yang kami luncurkan dan ke depan akan terintegrasi dengan beberapa produk lain seperti penyimpan data, group chatting, news portal, IPTV, marketplace, dan collaboration messenger.●

 

Purjono Agus Suhendro berbincang dengan Sahat M. Sihombing, Presiden Direktur PT Astragraphia Xprins Indonesia

[textmarker color=”75BFFF”]PURJONO AGUS SUHENDRO,[/textmarker] Editor in Chief TechnoBusiness Indonesia  

[textmarker color=”E6762C”]Sahat M. Sihombing[/textmarker] menceritakan tentang alasan mengapa Astragaphia masuk ke bisnis e-commerce dan mengembangkan Axiqoe.com, business to business online shop yang dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan pengadaan barang di lembaga-lembaga pemerintah yang terafiliasi E-Katalog Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.

 

Bagaimana Axiqoe.com bisa menjadi salah satu toko online yang mendukung pengadaan barang, terutama peralatan perkantoran, di lembaga-lembaga pemerintahan? Seberapa sulit proses verifikasinya?

Mereka (Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah) memverifikasi potensi layanannya bagaimana, pelayanannya bagaimana, dan sebagainya. Jadi, untuk bisa menjadi penyedia toko online di E-Katalog, baik dari sisi legal dokumen maupun kualitas barang, mereka verifikasi semua.

SAHAT M. SIHOMBING
Presiden Direktur PT Astragraphia Xprins Indonesia

Cukup panjang karena itu kan melalui pemeriksaan dokumen sampai ujungnya ada pemeriksaan produk dan penawaran harga.

 

Apakah Astragraphia sebelumnya sudah banyak bermain di pemerintahan?

Kami memang sudah beberapa kali masuk ke pemerintahan melalui proses sebelumnya. Maka dari itu, proses pengadaan barang ini bagi kami bukan sesuatu yang baru, melainkan hanya berubah menjadi sistem online.

 

Seberapa banyak produk yang ditawarkan di E-Katalog dan berapa yang ditawarkan oleh Axiqoe.com?

Sekarang tentu sudah lebih banyak. Sebab, dengan toko online, puluhan ribu barang bisa didorong ke sana. Sementara dari kami masih ribuan, belum sampai puluhan ribu item barang. Nanti kami dorong lebih banyak. Tapi, pemerintah memandang bahwa jangan sampai produk yang ditawarkan itu produk yang tidak diperlukan. Itu menjadi konsentrasi kami sama-sama.

 

Apa yang paling menarik dari e-commerce yang mendukung E-Katalog?

Sebenarnya saya tidak melihat ke pemerintahnya ya. Tapi, yang perlu kita nilai adalah ternyata pemerintah sudah merespons perubahan teknologi untuk pengadaan barang mereka sendiri. Saya pikir itu jauh lebih menarik. Walau sebenarnya, kalau tidak salah, mereka sudah lama masuk ke sistem elektronik. Untuk melibatkan toko online sudah sejak 2012, meski kala itu baru beberapa produk. Sekarang ada 73.000 produk.

Menariknya, online itu kan sama dengan keterbukaan, sama dengan transparansi. Kita semua bisa melihat harga-harga yang ada di sana. Walau kita tidak membeli di sana, kita bisa melihat e-Katalog LKPP karena sifatnya terbuka. Itu sesuatu yang menarik, yang perlu kita dukung. Dan, saya melihat, Pak Agus (Agus Prabowo) sebagai Kepala LKPP mewakili pemerintah mendorong satu proses pengadaan barang yang akuntabel, punya integritas, kualitas, dan transparansi. Semua orang bisa mengecek harga, harga yang ditawarkan normal atau tidak. Saya pikir itu yang lebih menarik daripada soal kita menjadi mitra atau tidak.

 

Menawarkan barang ke konsumer perorangan dengan ke korporasi tentu berbeda. Bagaimana strategi Axiqoe.com dalam menetapkan harga (pricing strategy), apalagi di E-Katalog LKPP juga banyak kompetitornya?

Sebenarnya itu yang saya bilang sesuai mekanisme pasar. Harga ini adalah harga yang kami tayangkan di publik, kemudian diambil pemerintah. Artinya, harga yang kami tawarkan sudah terkoreksi dengan yang kami tawarkan di luar. Mereka hanya menarik harga kami dari belakang. Itu berarti kami tidak perlu strategi khusus. Ketika barang tidak laku, berarti harganya harus diturunkan. Kan begitu. Ketika barang ini tidak berputar cukup lama, itu berarti ada kendala. Apakah itu karena kualitas, harga, atau pengirimannya. Jadi, dikontrol oleh pasar. Jadi, tidak bisa kita ciptakan sendiri.

 

Tapi kan menetapkan harga B2C dan B2B berbeda?

Oh iya, ini kan menyangkut volume. Kita juga kalau belanja sedikit dan banyak berbeda. Kalau kita bicara B2B kan bicara volume. Beli satu barang dengan puluhan atau ratusan barang pasti ada perbedaan harga. Kalaupun harganya berbeda, tapi kualitasnya tetap sama.

 

Semua produk disediakan oleh Axiqoe.com sendiri atau hasil kerja sama dengan agen-agen dan distributornya?

Ada yang produk milik sendiri dalam artian produk prinsipal yang kami jadi distributornya, ada pula dari kerja sama dengan merchant atau vendor. Tapi semua itu kami lakukan verifikasi yang bagus. Kami yakinkan bahwa barang itu barang-barang  yang memang dari sisi kualitas dan purnajualnya bisa kami jamin.

 

Astragraphia mengembangkan Axiqoe.com, apakah karena bisnis percetakannya tengah lesu?

Tidak. Percetakan itu saya pikir akan terus menjadi satu kebutuhan, hanya bentuknya yang berbeda. Di percetakan sendiri kami juga bertransformasi. Bisnis percetakan itu akan berubah bentuk juga. Jadi, kami tidak mencoba meng-cover itu. Tapi, kami melihat ada satu fenomena bahwa semua bisnis harus masuk ke online karena cara belanja orang sudah berbeda. Kita sendiri sudah berbelanja online. Anak-anak kita sudah malas ke mal. Paling cuma untuk makan. Kenapa? Kan kita bisa membandingkan barang dengan mudah. Kalau di toko berapa jam kita butuh untuk membandingkan harga barang, sedangkan di internet sudah terpampang semua. Demikian juga di E-Katalog, akan melatih mereka untuk membandingkan satu sama lain.

 

Apakah produk yang ditawarkan di Axiqoe.com bisa ditawar?

Kekuatan menawar mereka tinggi lho. Mereka boleh menawar, mereka tidak asal beli. Bisa dibilang cukup menarik proses pembelian di pemerintahan itu.

 

Biasanya toko online B2B itu memang katalognya online tapi proses pembeliannya masih offline. Apakah ini terjadi juga di Axiqoe.com dan E-Katalog?

Saya pikir tidaklah. Kita akan mencegah itu dan Pak Agus akan selalu menekankan itu. Kita semua harus mendukung proses ini menjadi transparan, kredibel, dan akuntabel. Saya pikir proses pengadaan barangnya juga berubah. Kalau kita mau membeli barang ini, ada tipenya, kita tinggal browsing di situ. Perlu lelang lagi tidak? Lelang itu kan sebenarnya lebih ke compliance, lebih kepada dokumen bahwa ini kita bandingkan. Tapi, kalau misalnya tiket pesawat, perlu bidding tidak kalau kita besok mau ke Surabaya? Tidak. Cukup cek harga. Ini penting.

 

Berapa investasi untuk mengembangkan website ini?

Sebenarnya kami sudah masuk ke bisnis e-commerce tahun lalu. Ini kan cuma masuk ke sana. Jadi, enggak ada investasi yang khusus di sini. Orang e-commerce kami sudah ada kok. Toko kami sudah ada sebenarnya. Cuma buku kami dipinjam oleh mereka, lalu dikopi. Jadi, tidak ada sesuatu yang baru.

 

Kalau begitu, berapa alokasi dana Astragrapia untuk e-commerce?

Kami terus mengembangkan, karena e-commerce itu kan akan berkembang, teknologi berkembang. Yang perlu kami yakini adalah bahwa kami tetap perlu antisipasi terhadap perubahan-perubahan teknologi. Saya tekankan kepada tim kami bahwa dari sisi investasi dan belanja modal kami tetap scaling, tapi jadi jangan sampai terlambat pula.**  

 

[spacer color=”8BC234″ icon=”fa-plus” style=”3″]

Data TechnoBusiness

PT Astragraphia Xprins Indonesia merupakan anak perusahaan PT Astra Graphia Tbk., perusahaan di bawah naungan kelompok bisnis PT Astra International Tbk. Perusahaan tersebut kemudian melahirkan Axiqoe.com, toko online business to business yang menawarkan produk-produk perkantoran yang terverifikasi Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.

Purjono Agus Suhendro berbincang dengan Kemas Antonius, Chief Product Officer Jobplanet Indonesia

 

[textmarker color=”E6762C”]PURJONO AGUS SUHENDRO,[/textmarker]Editor in Chief TechnoBusiness Indonesia

[textmarker color=”75BFFF”]Kemas Antonius[/textmarker] menceritakan tentang konsep, strategi, dan arah ke depan [textmarker color=”75BFFF”]Jobplanet,[/textmarker] platform komunitas online untuk berbagi informasi seputar dunia kerja dan review perusahaan, yang dikelolanya, serta alasan mengapa lebih memilih berekspansi dari Korea Selatan ke Indonesia terlebih dahulu ketimbang negara lain.  

 

 

KEMAS ANTONIUS, Chief Product Officer Jobplanet Indonesia

Sepertinya Jobplanet masih menitikberatkan pada lebih banyak review perusahaan. Betul begitu?

Ya, betul.

Lantas, dari mana Anda menghasilkan uang?

Kami memang sudah berpikir untuk menghasilkan uang, tapi belum kami lakukan saat ini. Namun, seperti yang Anda lihat, kami akan fokus pada konten yang kami miliki dan berupaya dari konten tersebut bisa menghasilkan sesuatu.

Kenapa tidak memasukkan lowongan pekerjaan online?

Ada satu pemikiran ke sana nanti. Sekarang kami sedang mempersiapkan hal itu dan ke depan, selain menyediakan review perusahaan, informasi gaji, dan kisi-kisi interview kerja, kami juga akan menyediakan informasi lowongan kerja.

Setelah didirikan di Korea Selatan pada 2014, Jobplanet langsung masuk ke Indonesia, bukan negara lain terlebih dahulu seperti startup mancanegara pada umumnya, pada Agustus 2015. Apa pertimbangannya?

Karena mereka melihat pasar di Indonesia ini besar sekali. Usia kerja kita sekarang ini ada 125 juta orang. Yang bekerja ada 118 juta dan 7 juta yang menganggur. Kalau kita lihat, mereka (pencari kerja dan pekerja) membutuhkan informasi. Informasi seperti apa? Informasi yang transparans tentang perusahaan-perusahaan.

Tidak semua informasi tentang perusahaan itu kan tersedia secara terbuka. Kalau kita gali lewat outsourcing (alih daya), pengguna, karyawan, dan mantan karyawan perusahaan tersebut, mereka akan bisa berbagi. Dengan berbagi, mereka mengedukasi pasar. Dengan mengedukasi pasar, mereka memberi informasi kepada para pencari kerja. Sehingga para pencari kerja bisa memperoleh informasi pekerjaan di perusahaan yang mereka sukai, apakah cocok dengan saya, berapa gaji yang ditawarkan, apa sih yang membuat mereka lolos diterima? Nah, potensi ini yang mereka lihat.

Selain itu, pertumbuhan ekonomi. Lalu, semaraknya dunia teknologi informasi yang saat ini berkembang, di mana kita berupaya memenuhi suatu kebutuhan-kebutuhan yang tidak terpenuhi oleh offline services. Dari offline services ini, kami coba untuk masuk ke sana.

 

Baca Juga: Inilah Lima Startup Paling Menarik Perhatian Pencari Kerja

 

Seberapa besar Jobplanet di Korea?

Saat ini, kami memiliki 2 juta pengguna yang terdaftar; 1,5 juta konten review, informasi gaji, dan kisi-kisi interview. Juga, 80.000 perusahaan. Di Indonesia, ada 600.000 pengguna, 300.000 konten, 43.500 perusahaan.

Pendanaannya disokong dari mana saja?

Kami memiliki pendanaan dari beberapa investor, antara lain Bon Angels, Qualcomm Ventures, dan Altos Ventures. Terakhir dari seorang konglomerat di Korea. Ini sudah masuk seri B dan C, jadi sudah besar.

 

Baca Juga: Delapan Startup Berbudaya Perusahaan Terbaik 2016

 

Kalau sudah mendapatkan pendanaan dari banyak pemodal ventura, lalu bagaimana Anda mengeruk pendapatannya?

Seperti yang saya katakan tadi, kami belum fokus ke sana. Namun, kami akan memaksimalkan potensi-potensi dari data yang kami miliki untuk mendukung fitur yang menghasilkan uang.

Kapan itu?

Begitu kami siap, kami akan jalankan. Tapi, kami akan mempersiapkannya dengan lebih baik lagi. Hahaha…

 

TechnoBusiness Indonesia

Jakarta, 15 Desember 2016

Foto-Foto: Jobplanet  

Purjono Agus Suhendro berbincang dengan Country General Manager ShopBack Indonesia, Indra Yonathan

purjono-agus-suhendro

PURJONO AGUS SUHENDRO, Editor in Chief TechnoBusiness Indonesia

Indra Yonathan menceritakan tentang model bisnis ShopBack, bagaimana strateginya masuk ke pasar Indonesia, dan posisi ShopBack Indonesia dibanding ShopBack Malaysia, Singapura, dan lainnya.

 

ShopBack didirikan pada pertengahan 2014 di Singapura. Bagaimana ceritanya sehingga bisa masuk ke lima negara lainnya seperti sekarang ini?

Ya, ShopBack didirikan di Singapura. Kemudian kami berekspansi ke Malaysia dan Filipina. Habis itu masuk ke Indonesia, Taiwan, dan India. Jadi, dalam 1,5 tahun ini kami sudah masuk ke enam negara.

 

ShopBack menawarkan cashback kepada setiap konsumen yang berbelanja di e-commerce-e-commerce mitra. Sebenarnya bagaimana model bisnisnya?

 

Jadi, model bisnis ShopBack itu sama dengan agen. Kami itu agen e-commerce di Indonesia. Tugas agen adalah agar mitranya mendapatkan order sebanyak-banyaknya. Di lain pihak, agen itu mendapatkan komisi. Nah, ShopBack sebagai agen juga mendapatkan komisi dari merchant-merchant e-commerce.

Bedanya agen dengan kami adalah komisi yang kami dapatkan kami bagikan kembali ke pelanggan. Jadi, kalau Anda ke travel agent, travel agent-nya akan mendapatkan komisi. Komisi itu dibagikan lagi kepada Anda. Itu yang kami lakukan setiap hari.

Setiap hari pekerjaan kami ya membantu konsumen untuk belanja lebih pintar. Makanya, slogan kami “Solusi Belanja Cermat dan Hemat, ShopBack-in Aja”. Karena setiap kali berbelanja lewat ShopBack, mereka akan mendapatkan cashback.

Misalnya, kami dapat komisi 5%. Kami berikan komisi itu 3-4% kepada konsumen. Kami hanya mengambil 1%. Jadi, model bisnisnya seperti itu.

 

Baca Juga: Promo Diskon Cukup Ampuh Gaet Konsumen E-commerce

 

 

 

Kalau begitu, negosiasi dengan merchant e-commerce menjadi kunci…

Iya. Biasanya merchant sangat suka bekerja sama dengan kami. Apalagi semua e-commerce di Indonesia sedang pusing memikirkan bagaimana caranya supaya bisa mengalokasikan marketing budget secara efektif dan efisien.

Kalau dengan ShopBack, sudah pasti efektif karena kami hanya menerima komisi jika kami mendapatkan order. Bukan hanya menerima order, kami juga menjamin ordernya itu dibayar.

 

Di Indonesia, transaksi e-commerce masih banyak yang menggunakan sistem transfer bank. Bagaimana strategi mengatasinya?

Kalau seumpamanya ada pelanggan yang dalam tiga hari setelah order tidak membayar, artinya tidak terjadi transaksi, kami tidak mengenakan komisi kepada merchant. Kami satu-satunya marketing platform di Indonesia yang bisa menjamin itu.

Biasanya yang ada menggunakan pola cost per click. Setiap klik ada biayanya. Kalau kami cost per order. Bahkan, bukan sekadar cost per order, melainkan cost per valid order. Harus divalidasi. Kalau sudah, mereka baru memberikan komisi yang komisi itu sebagian kami kembalikan kepada konsumen.

Oleh sebab itu, dalam waktu singkat, kami sudah memiliki 130 mitra e-commerce yang bergabung dengan ShopBack Indonesia.

 

Kalau di Asia Tenggara sudah memiliki 1.000 lebih mitra e-commerce. Yang terbanyak di mana?

Singapura karena mereka sudah lebih lama.

 

Bagaimana kinerja ShopBack Indonesia jika dibandingkan dengan ShopBack di lima negara lainnya?

Indonesia sekarang sudah yang paling besar, walaupun umurnya baru dari Maret 2016.

 

Paling besar dari sisi apa?

Dari sisi jumlah order. Memang jumlah merchant-nya lebih sedikit, tapi ordernya lebih banyak. Kami sudah dua kali lipatnya Malaysia. Dibanding Singapura, kami juga sudah 2-3 kali lipatnya.

 

INDRA JONATHAN Country General Manager ShopBack Indonesia

Bagaimana strategi Anda agar konsumen mau berbelanja lewat platform ShopBack?

Pekerjaan rumah utama kami adalah edukasi. Sebab, bisnis seperti ini sangat baru di Indonesia dan orang belum familiar. Jadi, strategi kami adalah mengedukasi bagaimana caranya agar masyarakat Indonesia tahu akan hal ini.

Maka dari itu, kami menggunakan istilah “ShopBack-in Aja”. Mungkin ada orang yang penasaran dengan istilah “ShopBack-in Aja” itu apa. Artinya, Anda beli barang di e-commerce yang bekerja sama dengan kami, secara bersamaan Anda akan mendapatkan cashback. Cashback itu kemudian bisa ditransfer ke rekening Anda.

Selama ini yang paling bagus di kami adalah referral program. Word of mouth, tapi ada komisinya. Jadi, ketika Anda memberitahukan kepada teman Anda tentang ShopBack, Anda akan mendapatkan cashback bonus. Seperti itu di Indonesia belum biasa.

 

Apa bedanya dengan member get member?

Bisa dibilang begitu, cuma bedanya kalau member get member harus berjualan dulu, sedangkan kami hanya memberitahukan kepada orang lain saja sudah mendapatkan komisi.

 

Sejak berdiri sampai sekarang, ShopBack telah mengumpulkan pendanaan senilai US$1,1 juta. Sudah ada perkembangan terbaru soal pendanaan?

Info terbarunya nanti pada 2017 akan ada lagi. Nanti Anda orang pertama yang akan saya kasih tahu. Hahahaha…

 

Awal tahun?

Tidak awal banget sih.

 

ShopBack didirikan oleh tim dari inkubator global Rocket Internet asal Jerman. Apakah tim secara individual atau mewakili Rocket?

 

Kebanyakan dari Zalora dan Lazada. Saya sendiri dari Lazada. Saya diajak untuk mengepalai ShopBack Indonesia. Jadi, kami tidak ada hubungannya dengan Rocket Internet.**

 

TechnoBusiness Indonesia