Indonesia Jadi Pasar Utama RedBus

Jakarta, TechnoBusiness TV ● Meski sudah masuk ke pasar Indonesia sejak 2016, redBus, platform pemesanan tiket bus dan suttle bus online terbesar di dunia asal India, baru diluncurkan di Jakarta pada Senin (3/12).

Selama dua tahun terakhir, rupanya redBus “diam-diam” mendekati perusahaan otobus (PO) di beberapa kota seperti Jabodetabek, Jogja, Solo, Semarang, Bali, dan lain sebagainya, untuk menggunakan layanannya.

Baca Juga: RedBus Permudah Pembelian Tiket Bus Sinar Jaya

Karena itu, saat diluncurkan kemarin, redBus menyatakan telah melayani pemesanan tiket bus dan suttle bus secara online di lebih dari 150 kota dan 1.400 rute di Indonesia.

“Setelah menyelesaikan berbagai permasalahan rumit yang dialami para pelanggan bus di berbagai negara, redBus diluncurkan di Indonesia,” ungkap CEO redBus Prakash Sangam.

“Setelah menyelesaikan berbagai permasalahan rumit yang dialami para pelanggan bus di berbagai negara, redBus diluncurkan di Indonesia.”

Visinya sederhana, yaitu mengubah ekosistem bus dan suttle bus, juga membuat hidup pelanggan bus menjadi lebih simpel.

Sebab, dengan platform yang mereka tawarkan, pelanggan tak perlu datang ke agen bus untuk memesan tiket.

Bagi perusahaan otobus, dapat dengan mudah memantau proses penjualan tiket dan manajemen keuangannya.

“Tidak menghilangkan agen, tapi lebih mengefisienkan prosesnya,” kata Danan Christadoss, Country Head redBus Indonesia.

redBus didirikan di India pada 2006. Seperti diketahui, dengan populasi yang amat besar, proses pemesanan tiket bus saat hendak bepergian cukup menjengahkan. Untuk itu, redBus hadir.

Sukses di negaranya sendiri, redBus lantas berekspansi ke Singapura dan Malaysia pada 2015. redBus juga masuk ke Peru pada 2016 dengan mengakuisisi plafform serupa, Busportal, yang kemudian diubah namanya menjadi redBus.pe.

TechnoBusiness TV: Tiga “Senjata” HP Pasarkan PC Premium

Langkah itu membuka jalan untuk masuk juga ke pasar Amerika Latin, Peru, dan Kolombia. Secara akumulasi, redBus sudah menjual 100 juta tiket bus dari 15 juta pengguna di seluruh dunia.

Kini, redBus menjadi bagian dari MakeMyTrip Milited (Nasdaq: MMYT), agregator perjalanan yang meliputi penerbangan, hotel, dan paket wisata terbesar di India.

Besarnya potensi yang ada, redBus mengakui bahwa Indonesia menjadi salah satu pasar terbesarnya. Di pasar ini, redBus menargetkan menggandeng 200 operator bus dengan 200.000 kursi terjual lewat aplikasinya hingga Desember 2019.●

—Purjono Agus Suhendro, TechnoBusiness TV ● Video: TechnoBusiness TV

Tonton konten-konten TechnoBusiness TV Indonesia menarik lainnya di sini

 

Hyundai dan Kia Investasi US$250 Juta di Grab

Singapura, TechnoBusiness ID ● Setelah bulan lalu mendapat kucuran investasi dari Microsoft Corporation (Nasdaq: MSFT) dan Booking Holdings (Nasdaq: BKNG), kini “darah segar” untuk Grab Holdings Inc. itu datang dari produsen otomotif asal Korea Selatan, Hyundai dan Kia.

Hyundai Motor Company dan Kia Motors Corporation secara bersama-sama mengucurkan investasi ke perusahaan platform mobile online to offline (O2O) yang berpusat di Singapura itu senilai US$250 juta.

Baca Juga: Alasan Booking Holdings Berinvestasi di Grab

Afiliasi otomotif Hyundai dan Kia melengkapi putaran pendanaan yang sedang dihimpun Grab. Saat ini, putaran terbaru itu sudah mengumpulkan dana sebesar US$2,7 miliar dari US$3 miliar yang ditargetkan sampai akhir tahun.

“Grab merupakan mitra terbaik yang akan membantu mempercepat adopsi kendaraan listrik di kawasan ini.”

Investor-investor yang andil dalam pendanaan, selain Microsoft dan Booking Holdings, antara lain Toyota, OppenheimerFunds, Goldman Sachs Investment Partners, dan Citi Ventures.

Dr. Youngcho Chi, Chief Innovation Officer dan Head of Strategy and Technology Division Hyundai Motor Group, menilai Grab memiliki rekam jejak yang tak tertandingi, termasuk basis pelanggan dan mitra merchant yang terus berkembang, di Asia Tenggara.

“Grab merupakan mitra terbaik yang akan membantu mempercepat adopsi kendaraan listrik di kawasan ini,” kata Chi di sela-sela konferensi New Economy Forum yang diselenggarakan oleh Bloomberg di Singapura, Rabu (7/11).

Baca Juga: Enam Kemajuan Grab Pasca Kolaborasi dengan Grab

Dalam penjelasan resmi Grab, bersama Hyundai dan Kia, perusahaan yang aplikasinya telah diunduh oleh lebih dari 125 juta orang dari 235 kota di 8 negara itu akan meluncurkan serangkaian proyek percontohan kendaraan listrik mulai dari Singapura tahun depan.

“Kami memiliki visi yang sama tentang elektrifikasi mobilitas sebagai salah satu fondasi kunci untuk membangun platform transportasi yang ramah lingkungan dan rendah biaya,” kata Ming Maa, Presiden Grab.

Untuk mengantisipasi proses pengisian daya listrik, Agustus lalu Grab telah menjalin kerja sama dengan penyedia energi utilitas Singapura, SP Group. Jadi, kendaraan-kendaraan listrik Grab bisa mengisi listrik di jaringan pengisian milik SP Group.●

—Michael A. Kheilton, TechnoBusiness ID ● Foto: Grab Holdings

 

Asa dari Industri Sepeda Motor Indonesia

Jakarta, TechnoBusiness ID ● Cuaca di luar gedung Jakarta Convention Center, Senayan, tampak cerah saat Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto membuka pameran sepeda motor Indonesia Motorcycle Show 2018 pada Rabu (31/10) pagi.

Sepertinya cuaca itu juga menjadi pertanda bahwa industri kendaraan bermotor roda dua di Tanah Air dalam kondisi “cerah”. Sebab, “Pertumbuhan sektor sepeda motor lebih tinggi daripada pertumbuhan ekonomi,” kata Menteri Airlangga.

Baca Juga: Alasan Booking Holdings Berinvestasi di Grab

Indonesia merupakan pasar sepeda motor terbesar ketiga di dunia di bawah China dan India. Sebagai pasar terbesar, Indonesia juga menjadi basis produksi yang tingkat pasokannya terus meningkat setiap tahun.

Di hadapan pengunjung pameran, Airlangga mengatakan, hingga September lalu ekspor sepeda motor Indonesia telah mencapai 438.530 unit. Kenaikan jumlah ekspor sebesar 10% sampai akhir tahun ditargetkan bisa tercapai.

Penjualan sepeda motor domestik akan mencapai angka 6,2-6,3 juta unit tahun ini.

Pada sembilan bulan pertama 2017, berdasarkan data Asosiasi Industri Sepedamotor Indonesia (AISI), ekspor sepeda motor Indonesia tercatat 309.325 unit.

Itu berarti terjadi kenaikan sebesar 42%. Bahkan, persentase pertumbuhan ekspor itu lebih besar dibanding pasar domestik yang mencatatkan kenaikan 8,8% menjadi 4,7 juta unit.

Johannes Loman, Ketua Umum AISI, penyelenggara pameran, menyatakan penjualan domestik akan mencapai angka 6,2-6,3 juta unit tahun ini.

Untuk mencapai target, salah satu caranya adalah dengan menggelar pameran bersama yang tahun ini diikuti oleh 60-an merek sepeda motor dan perangkat pendukung.

Simak Juga: Exclusive Interview with Setyo Harsoyo, CEO Sprint Asia Technology

Cerahnya kinerja industri sepeda motor nasional tentu menjadi asa di tengah gejolak ekonomi global. Asa itu diharapkan menyumbang pertumbuhan ekonomi negara melalui penciptaan lapangan kerja dan pajak.

“Tentu kami tidak ingin berhenti di sini,” kata Johannes. “Setiap produsen terus berinovasi dan mengembangkan teknologi untuk menjawab kebutuhan mobilitas yang lebih baik pada masa depan.”

Itu sebabnya, IMOS yang berlangsung selama lima hari kali ini bertema “Indonesia Future Technology”.●

—Ivan Darmawan, TechnoBusiness ID ● Foto: Amara Group

 

Berkah Denso Berkat Pasar Otomotif Asia

Kariya, TechnoBusiness ● Gejolak ekonomi masih menghantui negara bagian mana pun di dunia ini. Perang dagang yang ditabuhkan Amerika Serikat terutama terhadap China menambah “ombak” yang kian mendekati tsunami. Beberapa perusahaan multinasional mengeluhkan kondisi itu. Perusahaan-perusahaan di Jepang pun ramai-ramai mengajukan kepailitan. Bahkan, sebagian di antaranya terpaksa menggunakan dana pensiun untuk menutupi biaya operasional. Baca Juga: Inilah 100 Universitas Paling Inovatif di Dunia 2018 Satu dari sekian perusahaan yang beruntung adalah Denso Corporation (TYO: 6902). Denso, produsen komponen otomotif yang 24,77% sahamnya dimiliki oleh Toyota dan 8,72% Toyota Industries, tetap menorehkan peningkatan pendapatan. Berbekal perusahaan yang bernilai US$48,1 miliar, Denso terus mengembangkan teknologi dan komponen canggih untuk hampir semua merek dan model kendaraan yang berlalu lalang di jalan saat ini.
Pabrik baru Denso Corporation di Tamura, Fukushima, Jepang.
Dari 220 fasilitas manufaktur di 35 negara, Denso memasok sistem thermal, powertrain, elektrifikasi, dan elektronik. Produsen-produsen yang dipasok, mulai dari Toyota, Honda, Fiat Chrysler Automobiles, General Motor, Ford, Volvo, hingga Mercedes-Benz di seluruh dunia.
Alhasil, merujuk pada laporan keuangannya, Denso mampu meraup kinerja keuangan yang positif pada paruh pertama tahun fiskal yang berakhir 30 September 2018. Perusahaan yang dulu sepenuhnya dimiliki oleh Toyota itu mencatatkan pendapatan konsolidasi ¥2.625,0 miliar (US$23,1 miliar). Pendapatan itu naik 11,1% dibanding periode yang sama tahun lalu. Baca Juga: Jumlah Pengunjung Lazada Anjlok Amat Dalam Tapi, laba operasional konsolidasinya turun 25,5% menjadi ¥152,4 miliar (US$1,3 miliar). Yang menjadikan laba konsolidasi juga turun 26% menjadi ¥114,1 miliar (1 miliar). Presiden dan CEO Denso Corporation Koji Arima menjelaskan bahwa pendapatan perusahaannya meningkat karena peningkatan produksi kendaraan global, meskipun terjadi bencana alam.

Berbekal perusahaan yang bernilai US$48,1 miliar, Denso terus mengembangkan teknologi dan komponen canggih untuk hampir semua merek dan model kendaraan.

Anak perusahaan yang baru dikonsolidasikan, Denso Ten, juga berkontribusi terhadap pendapatan. “Laba operasional menurun karena laba sementara pada tahun fiskal terakhir dan meningkatnya investasi untuk pertumbuhan masa depan,” ungkap Arima.   Berkat Pasar Asia Meski kinerja penjualan Denso cukup baik di seluruh dunia, sumbangan dari pasar Asia cukup menonjol. Di negeri asalnya Jepang, permintaan kendaraan dengan tingkat keselamatan yang tinggi meningkat, dan itu turut mendongkrak pendapatan Denso. Denso Ten menyumbang peningkatan pendapatan menjadi ¥1.573,2 miliar (US$13,9 miliar), tumbuh 11,8% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, laba operasional dalam negeri turun 49,5% menjadi ¥53,3 miliar (US$469,1 juta) karena adanya peningkatan investasi. Simak Juga: Exclusive Interview with Setyo Harsoyo, CEO Sprint Asia Technology Di pasar Asia selain Jepang, meski diliputi gejolak ekonomi global, tren peningkatan produksi kendaraan tetap terjadi. Peningkatan itu juga mendongkrak pendapatan Denso sebesar 16% menjadi ¥718,1 miliar (US$6,3 miliar). Laba operasionalnya naik 8% menjadi ¥67,8 miliar (US$597,4 juta). Amerika Serikat, Amerika Utara, Amerika Selatan, dan Eropa juga turut menyumbangkan pendapatan, tapi tak sebesar Asia dan Jepang. Pendapatan yang dikemukakan oleh perusahaan dengan 170.000 karyawan secara global itu, kata Arima, telah merevisi hasil keuangannya dengan mempertimbangkan pergerakan pasar valuta asing.● —Akihiro Arata, TechnoBusiness/PRN ● Foto: Denso Corp  

Pasar Blockchain Otomotif Bernilai US$1,6 Miliar

California, TechnoBusiness ● Pasar blockchain otomotif global diprediksi bakal mencapai US$1,6 miliar selama 2018-2026. Artinya, pertumbuhan rata-rata tahunan selama masa penghitungan mencapai 65,80%.

Berdasarkan laporan Business Intelligence and Strategy Research (BIS Research), firma intelijen dan penasihat pasar B2B global yang fokus pada tren teknologi berbasis di Fremont, California, Amerika Serikat, semakin populernya teknologi blockchain karena banyaknya manfaat yang dihasilkan.

Teknologi blockchain itu juga dapat diaplikasikan dalam industri otomotif, mulai dari manufaktur, rantai pasokan, keselamatan, keamanan, pembiayaan, pembayaran, hingga asuransi dan lain sebagainya. Namun, yang terbanyak penggunaannya saat ini lebih mengarah ke keuangan, pembayaran, dan aplikasi asuransi.

Menurut analis senior BIS Research Haarish Ahmad, “Pembiayaan otomotif, penyewaan, dan layanan asuransi merupakan segmen aplikasi yang paling dominan untuk blockchain otomotif dan menyumbang mayoritas dari total pendapatan yang dihasilkan oleh teknologi blockchain di domain otomotif.”

Selain itu, manufaktur otomotif diharapkan untuk menyaksikan pertumbuhan tertinggi di pasar blockchain otomotif dengan CAGR 107,38%, karena penggabungan teknologi blockchain oleh OEM di lini perakitan dan operasi mereka.●

—Philips C. Rubin, TechnoBusiness/PRN ● Foto: Istimewa

Clova Auto Lengkapi Kendaraan Cerdas Toyota

Tokyo, TechnoBusiness ● Line Corporation (NYSE: LN/TSE:3938), penyedia aplikasi pesan global asal Jepang yang didirikan pada Juni 2011, mengumumkan bahwa Clova, asisten berbasis artificial intelligence (AI) buatannya, akan melengkapi jajaran kendaraan Smart Device Link Toyota Motor Corporation.

Baca Juga: Lima Perubahan Paling Terpengaruh Teknologi AI di Asia

Kendaraan Toyota yang didukung oleh Clova Auto, teknologi AI buatan Line Corporation.

Menurut rencana, pembenaman teknologi AI Clova ke kendaraan model terbaru Toyota itu akan dilakukan mulai musim dingin 2018. Berdasarkan catatan TechnoBusiness, kolaborasi tersebut bukan secara tiba-tiba. Kedua perusahaan sudah sama-sama mengumumkan kerja sama tersebut.

Line telah mengabarkan rencana penggunaan teknologi AI-nya oleh Toyota itu di hadapan hadirin Line Conference pada 2017. Ketika pagelaran pameran otomotif Tokyo Motor Show yang juga tahun lalu, mereka secara bersama-sama mendemonstrasikan manfaat teknologi tersebut.

Dalam demo saat itu dan penjelasan Line terbaru, Clova Auto memungkinkan pengguna kendaraan memantau kondisi rumahnya dari kejauhan. Misalnya, menghidupkan atau mematikan listrik di rumah, mengetahui cuaca di sekitar atau tempat tujuan, dan sejenisnya.

Sama seperti teknologi AI yang mendukung otomotif lainnya, Clova juga bisa memudahkan pengendara menelepon dan menerima pesan melalui aplikasi Line secara cuma-cuma, dan mendengarkan musik di Line Music. Semua itu bisa dilakukan tanpa harus takut kehilangan konsentrasi berkendara karena dapat dioperasikan melalui perintah suara.●

—Akihiro Arata, TechnoBusiness ● Foto-Foto: Line

 

Strolling Dragon, Truk Nirawak Pertama E-commerce China

Shanghai, TechnoBusiness ● Dalam mengelola layanan jasa logistik yang direncanakan serbaotomatis, Suning Logistics pun mengembangkan truk otonom berbobot berat (autonomous heavy-duty truck). Truk itu dinamakan Strolling Dragon.

Baca Juga: Line Tunjuk Marbot. Apa Tugasnya?

Strolling Dragon baru saja selesai diuji coba dan dinyatakan lolos menyusuri jalan-jalan di China. Kendaraan nirawak (unmanned) terbesar dalam jajaran armada otomatis Suning, truk itu mempunyai kemampuan mengemudi level 4 alias sangat otomatis dan dapat dikendalikan tanpa bantuan manusia yang bersifat pre-programmed.

Strolling Dragon truk nirawak hasil pengembangan Suning Logistics.

Strolling Dragon juga menjadi truk nirawak pertama yang dikembangkan oleh perusahaan e-commerce asal Negeri Tirai Bambu.

“Keberhasilan uji coba swakemudi Strolling Dragon menjadi terobosan bagi Suning dan menjadi langkah maju berikutnya dalam strategi Online to Offline [O2O] smart retail,” ungkap Zang Jindong, Chairman Suning Holding.

Pengembangan truk nirawak tersebut sejalan dengan rencana anak perusahaan Suning Holdings Groups tersebut membangun bisnis logistik hingga menjadi jaringan infrastruktur ritel terbesar dan termutakhir. Apalagi, proses otomatisasi akan berdampak pada efisiensi operasional bisnis logistik.

Untuk diketahui, Strolling Dragon juga dilengkap dengan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang canggih, deep-learning, dan perangkat berteknologi tinggi seperti laser radar. Tantangan kendaraan nirawak kebanyakan mengenali hambatan di jalan raya, tapi truk tersebut mampu mendeteksi rintangan hingga jarak lebih dari 300 meter, bahkan saat melaju kencang sekalipun.

“Keberhasilan uji coba swakemudi Strolling Dragon menjadi terobosan bagi Suning dan menjadi langkah maju berikutnya dalam strategi Online to Offline [O2O] smart retai.

—Zang Jindong, Chairman Suning Holding

Strolling Dragon dalam melakukan pemberhentian darurat dan menghindari hambatan secepat 25 ms saat kecepatan 80 kilometer per jam (km/j). Pengoperasian truk nirawak tersebut nantinya bakal diintegrasikan dengan sistem otomasi di pergudangan milik Suning.

Dalam rangka menyambut Festival Belanja 11/11 dan Hari Lajang pada 2017, Suning telah menerapkan pola “barang menuju manusia”, kebalikan dari “manusia menuju barang” seperti pola sebelumnya. Pola itu berhasil memangkas 10 detik proses pengambilan barang dari rak sampai pengantaran, lima kali lipat lebih efisien dari pekerjaan manual.

Suning juga mengirim barang menggunakan robot otonom Biu dan drone. Kecanggihan teknologi-teknologi yang sudah ada itu bakal terus ditambah oleh Suning dengan cara berkolaborasi. Pada akhirnya, perusahaan akan mengeruk pendapatan lebih besar daripada yang dibukukannya pada 2017 sebesar US%65,7 miliar.●

—Zhang Ju, TechnoBusiness ● Foto-Foto: Suning Logistics

 

Hankook Tire Jadi Pemasok Terbaik General Motors

Detroit, TechnoBusiness ● Hankook Tire (KRX: 000240), produsen ban mobil skala global yang berbasis di Gangnam-gu, Seoul, Korea Selatan, terpilih menjadi GM Supplier of the Year 2017 oleh produsen mobil terbesar di Amerika Serikat, General Motors.

Baca Juga: Teknologi di Balik Kesibukan Iwan Sunito

Penghargaan yang diberikan di Orlando, Florida, pada Jumat (20/4) itu diberikan kepada pemasok terbaik. Dalam siaran pers yang diterima TechnoBusiness, Hankook Tire menjadi yang terbaik dari 132 pemasok terbaik dari 17 negara bagi General Motors pada 2017.

Lebih dari 45% pemasok menjadi pelanggan penghargaan, dan Hankook Tire telah memperoleh predikat itu dua tahun berturut-turut.

Perusahaan-perusahaan tersebut telah secara konsisten memberi pelayanan, menyuguhkan nilai yang luar biasa, dan menciptakan inovasi baru kepada General Motors.

“Industri otomotif berubah pada tingkat yang luar biasa. Hubungan yang kami miliki dengan para pemasok sangat berarti dalam menghasilkan  deretan kendaraan yang bermutu,” ungkap Steve Kiefer, Senior Vice President General Motors.

Angka penjualan yang dibukukan Hankook per kuartal

Dalam hubungan business to business, Hankook Tire mampu lebih baik dari yang terbarik dalam hal metrik performa yang ditentukan General Motors. Metrik terbaik itu antara lain kualitas, eksekusi, inovasi, dan biaya secara keseluruhan.

“Hankook merasa terhormat telah menerima penghargaan GM Supplier of the Year 2017,” kata Presiden dan CEO Hankook Tire Hyun Bum Cho. “Kami menghargai GM sebagai mitra kami dan yakin dengan penghargaan yang kami dapatkan dua tahun berturut-turut adalah bukti kemitraan kuat kami dan pertumbuhan bersama yang berkelanjutan.”

Untuk diketahui, Hankook didirikan oleh Jae Hun Chung pada 1941 dengan nama The Chosun Tire Company. Pada 1968, namanya diubah menjadi Hankook Tire Manufacturing. Kata “Hankook” secara harfiah berarti Ban Korea.

Pada kuartal 4/2017, Hankook telah mencatatkan penjualan sebesar KRW1,68 triliun, naik dari KRW1,61 triliun pada periode yang sama 2017. Hankook telah lama merambah pasar global, tapi penjualan terbesarnya diperoleh dari Korea, China, Eropa, dan Amerika Utara.●

—Philips. Rubin, TechnoBusiness ● Foto-Foto: Hankook Tire

 

Daimler, Audi, dan Volvo Adopsi Alibaba Auto AI

Hangzhou, TechnoBusiness ● Penggunaan teknologi Artificial Intelligence (AI) semakin meluas. Hari ini, tiga produsen otomotif global, yakni Daimler dan Audi asal Jerman dan Volvo Cars asal Swedia, menyatakan siap mengadopsi solusi Auto AI + Car buatan Alibaba A.I. Labs, anak perusahaan Alibaba Group Holding Limited, China.

 

Baca Juga: Paper.id, Platform “Invoicing” Pertama di Indonesia

 

Berkat solusi itu, mobil mereka akan terhubung dengan pelanggan melalui Tmall Genie, asisten smart voice pertama keluaran Labs. Sesuai tujuannya, Alibaba mendirikan Labs memang untuk mengeksplorasi interaksi manusia dengan komputer lebih jauh lewat aplikasi berbasis AI.

Produk Tmall Genie keluaran Alibaba A.I. Labs

Sebagai contoh, pemilik kendaraan bisa mengecek apakah mobil sudah siap berjalan, pintu sudah terkunci atau belum, jendela dalam keadaan terbuka atau tertutup, waktunya menggantik suku cadang atau belum, menghidupkan atau mematikan pendingin ruangan (AC) mobil, dan lain sebagainya.

Melihat kecanggihannya, Daimler mengajukan Mercedes-Benz Connect, Audi dengan Audi Connect, dan Volvo Cars agar terhubung ke layanan Tmall Genie. Tmall Genie diluncurkan pada Juli 2017 dan telah terjual lebih dari 2 juta unit. Hingga saat ini, sudah menyambungkan dengan 45 juta perangkat rumah pintar (smart home) dan melaksanakan 900 jutaan tugas.

Dua bulan lalu, Labs memperkenalkan AliGenie 2.0 untuk melengkapi kecanggihan Tmall Genie. AliGenie 2.0 fokus ke arah pengenalan visual, termasuk memindai sampai membaca buku dan label obat-obatan.

Seolah tidak mau ketinggalan memanfaatkan peluang, AliGenie langsung bermitra dengan 100-an merek, mulai dari maskapai penerbangan, pendidikan, hiburan, hotel, otomotif, hingga peralatan rumah tangga di China.●

—Zhang Ju, TechnoBusiness ● Foto-Foto: Tmall Genie

 

Apa Jadinya Jika Truk pun Tanpa Sopir?

Beijing dan San Francisco, TechnoBusiness ● Meski banyak kasus kecelakaan seperti yang pernah dialami Tesla dan Uber, pengembangan kendaraan otonom terus berlanjut. Tidak hanya kendaraan pribadi, pengembangannya pun sudah sampai pada penerapan terhadap kendaraan-kendaraan niaga, baik bus maupun truk.

 

Baca Juga: Central Kitchen, Solusi Bisnis Kuliner Masa Depan?

 

Kemarin, perusahaan teknologi Internet of Things (IoT) terkemuka di China, G7; perusahaan logistik global GLP; dan pemodal ventura NIO Capital mengumumkan telah membuat perusahaan patungan (joint venture) untuk mengembangkan truk listrik cerdas tanpa pengendara manusia (self-driving atau otonom).

Otto, perusahaan yang mengembangkan kendaraan niaga truk tanpa awak di San Francisco, Amerika Serikat.

Kolaborasi lintas industri itu bertujuan untuk menciptakan kendaraan cerdas yang hemat energi sehingga berbahan bakar energi terbarukan dan efisien karena dikendalikan secara otonom. Itu merupakan peluang baru, kata Presiden G7 Julian Ma.

“Mendefinisikan ulang peralatan transportasi yang cerdas melalui teknologi baru dan big data ke dalam manajemen aset dan asset as a service merupakan peluang dan tantangan bagi perusahaan otomotif, logistik, teknologi, finansial, dan energi untuk secara bersama-sama mendorong inovasi lintas lapangan secara ekstrem,” ungkap Ma.

1.700.000

Pengemudi truk di Amerika Serikat yang terancam kehilangan pekerjaan karena truk otonom menurut Biro Statistik Tenaga Kerja setempat.

 

Jika itu benar-benar terwujud dan mulai diterapkan secara luas, bisa dibayangkan berapa banyak sopir truk yang terancam menganggur? Apalagi, truk lebih memungkinkan dijalankan tanpa awak mengingat tak perlu mengkhawatirkan keselamatan penumpang secara berlebihan dibanding kendaraan penumpang.

Di Amerika Serikat, tahun lalu Biro Statistik Tenaga Kerja setempat sudah menghitung bahwa jika truk sukses melaju tanpa kendali manusia, akan ada 1,7 juta pengemudi truk yang kehilangan pekerjaannya. Memang teknologi tidak menggantikan tenaga manusia sepenuhnya, tapi hampir pasti akan mengubah sifat pekerjaan itu.

Apalagi, “Sistem ini cenderung lebih baik daripada saya,” kata Greg Murphy, seorang sopir truk profesional yang sudah berpengalaman selama 40 tahun seperti dikutip MIT Technology Review. Murphy kini menjadi penguji truk otonom di Otto, produsen truk di San Francisco.

Waymo Truck, truk otonom hasil pengembangan Waymo.

Waymo milik Google, yang terkenal dengan pengujian kendaraan otonomnya, juga telah menguji kendaraan truk untuk logistik tahun lalu di California, Arizona, dan Atlanta. Truk tersebut tidak sepenuhnya tanpa awak, tapi dijalankan secara otonom saat pengujian di jalanan umum Atlanta untuk mengirimkan barang ke pusat data Google.

Waymo menempelkan sensor kendaraan penumpang otonom ke truknya sehingga memiliki sistem kerja yang serupa. Waymo bahkan sudah berencana meluncurkan truk tanpa awak di Phoenix tahun ini.

Langkah tiga perusahaan, yakni G7, GLP, dan NIO, membentuk perusahaan patungan di China, dan pernyataan Murphy di Amerika hanya sebagai sedikit contoh betapa kendaraaan otonom telah merambah ke kendaraan niaga.

Tentu langkah tersebut akan semakin berkembang seiring terus dilakukannya penelitian di berbagai negara. Jadi, cepat atau lambat, truk-truk akan melaju di jalanan Ibu Kota, terutama negara-negara maju, dengan sendirinya layaknya sedang dibajak hantu.●

—Zhang Ju (Beijing) bersama Philips C. Rubin (California), TechnoBusiness ● Foto-Foto: Otto, Waymo, dan GLP