Zahir Alokasikan Rp100 Miliar untuk Fintech Syariah

Jakarta, TechnoBusiness ID ● Bisnis penyaluran modal lewat teknologi finansial (financial technology) memang seksi. Itu sebabnya, perusahaan-perusahaan, baik rintisan maupun yang sudah besar, berlomba-lomba melahirkan aplikasi fintech.

Berdasarkan data dari Asosiasi Fintech Indonesia, jumlah perusahaan fintech per 2017 mencapai 235. Menginjak 2018, jumlahnya sudah bertambah cukup banyak, bahkan ada yang menyebutkan hingga 600-an perusahaan.

Hari ini, TechnoBusiness Indonesia baru saja menerima pengumuman resmi dari PT Zahir Internasional yang mengatakan bahwa perusahaan meluncurkan fintech syariah dengan nama Zahir Capital Hub.

Baca Juga: Teknologi dan Tumpuan Tiens Selanjutnya

Untuk menyediakan layanan itu, Zahir bekerja sama dengan perusahaan fintech syariah lainnya, yakni Alami, Asy-Syirkah, Ethis, dan Kapital Boost. Perusahaan yang sudah berdiri sejak lebih dari 20 tahun lalu itu tak main-main dan menyatakan siap mengucurkan modal hingga Rp100 miliar untuk bisnis barunya tersebut.

“Zahir Capital Hub hadir untuk menjawab perkembangan teknologi yang luar biasa di bidang teknologi finansial,” kata Muhamad Ismail, CEO Zahir Internasional. “Zahir punya potensi besar untuk meraih sukses di industri fintech.”

Apa yang dikatakan Muhamad sepertinya tak terlalu muluk-muluk. Sebab, sebagai pengembang aplikasi bisnis yang sebagian kliennya berskala usaha kecil menengah, Zahir akan dengan mudah menggaet pelanggan untuk bisnis barunya tersebut.

Baca Juga: Salim Group Tanamkan Investasi Strategis di Youtap

Zahir mengambil jalan penyaluran pinjaman secara syariah karena beberapa alasan. Pertama, kata Muhamad, sifatnya yang transparan atau terbuka. Kedua, menguntungkan semua pihak yang terlibat. Ketiga, menggunakan sistem bagi hasil.

“Ini menjadi layanan pintar dan mudah bagi perusahaan untuk mendapatkan investasi permodalan dari fintech syariah yang kredibel dan tepercaya,” ungkap Muhamad.

Dalam menjalankan bisnisnya, Zahir pun sudah tergabung dalam Asosiasi Fintech Syariah Indonesia dan telah mengantongi izin Otoritas Jasa Keuangan. Ketua Asosiasi Fintech Syariah Indonesia Ronald Yusuf menyatakan potensi pasar fintech syariah memang menggiurkan.

“Hal itu karena Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbanyak dan dengan jumlah pengguna internet yang sangat besar,” ujar Ronald di sela-sela Konferensi Keuangan Syariah ke-3 di Makassar, Sulawesi Selatan. “Kehadiran Zahir Capital Hub sangat positif.”●

—Ivan Darmawan, TechnoBusiness ID ● Foto: Zahir

 

J Trust Bank Luncurkan Uang Elektronik

Jakarta, TechnoBusiness IDPT Bank J Trust Indonesia Tbk. (IDX: BCIC), perbankan yang bernaung di bawah J Trust Co Ltd asal Minato-ku, Tokyo, Jepang, meluncurkan uang elektronik berbasis server.

Dalam pengembangan uang elektronik yang dapat diunduh oleh nasabah dan masyarakat di Google Play dan iOS itu, J Trust Bank menggandeng PT Digital Artha Media (DAM) Corp., fintech enabler yang merupakan anak usaha PT Kresna Graha Investama Tbk. (IDX: KREN).

Baca Juga: Strategi Baru Dongkrak Pendapatan Kresna Graha 803,2%

Direktur J Trust Bank Rio Lanasier mengatakan penyediaan layanan uang elektronik J Trust Bank itu diharapkan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat yang semakin meminati transaksi pembayaran nontunai (cashless).

“Dengan uang elektronik ini diharapkan masyarakat dapat lebih nyaman dalam bertransaksi,” ungkap Rio dalam penandatanganan kerja sama di Jakarta, Rabu (1/8).

“Dengan uang elektronik ini diharapkan masyarakat dapat lebih nyaman dalam bertransaksi.”

—rio lanasier, direktur j trust bank indonesia

Peluncuran uang elektronik J Trust Bank tersebut juga bertujuan untuk mendukung Gerakan Nasional Non Tunai yang dikampanyekan oleh Bank Indonesia sejak beberapa tahun lalu.

Sebab, hingga saat ini ada sekitar 120 juta penduduk Indonesia yang masih belum memiliki rekening bank (unbanked). Dalam uang elektronik J Trust Bank, pengguna dapat memasukkan saldo sebesar Rp2 juta untuk unregistered dan Rp10 juta yang registered user.

“Kerja sama kami dengan J Trust Bank diharapkan mampu mempercepat adopsi teknologi digital dan mendorong akselerasi industri perbankan dalam menurunkan tingkat unbanked society serta menciptakan pemerataan ekonomi digital di Indonesia,” ungkap Izak Jenie, CEO DAM Corp.

Di Indonesia, J Trust Bank memiliki 47 kantor yang tersebar di kota-kota besar. Tahun ini, bank tersebut telah membuka tiga kantor cabang baru di Balikpapan, Pontianak, dan Lampung. Dua kantor lagi segera menyusul, yakni di Malang dan Cirebon.

Inovasi J Trust Bank itu diyakini berdampak positif terhadap kinerja perusahaan, meskipun penyediaan uang elektronik bukanlah hal baru bagi perbankan di Tanah Air. Bank-bank lain yang sudah lebih dulu meluncurkannya.●

—Anwar Ibrahim, TechnoBusiness ID ● Foto: J Trust Bank

 

Strategi Baru Dongkrak Pendapatan Kresna Graha 803,2%

Jakarta, TechnoBusiness ID ● Manajemen PT Kresna Graha Investama Tbk. (IDX: KREN) sedang bahagia. Sebab, pendapatan perusahaan manajemen investasi finansial yang berbasis di Jakarta itu pada semester 1/2018 melonjak hingga 803,2% menjadi Rp2,11 triliun.

Baca Juga: Alasan Kresna Graha Berinvestasi di Matchmove Pay 

Padahal, dalam waktu yang sama tahun lalu, Kresna Graha hanya memperoleh pendapatan sebesar Rp234,1 miliar. Lantas, apa yang mendorong perusahaan tersebut mampu melipatgandakan pendapatannya?

Rupanya, keseriusan Kresna Graha masuk ke bisnis teknologilah jawabannya. Sejak beberapa tahun terakhir, Kresna masuk ke pasar yang sedang tumbuh dengan beragam cara, termasuk mengakuisisi sebagian kepemilikan perusahaan-perusahaan teknologi.

Kinerja keuangan PT Kresna Graha Investama Tbk. pada semester 1/2018

Selama enam bulan pertama tahun ini, Kresna Graha semakin fokus memperkaya ekosistem dan memberdayakan jaringan distribusi segmen digital, terutama hub pertukaran digital (digital exchange hubs), Internet of Things (IoT), dan Banking-as-a-Service (BaaS).

Dalam bisnis hub pertukaran digital, Kresna Graha berinvestasi di PT NFC Indonesia Tbk. (IDX: NFCX), perusahaan dengan bisnis utama pertukarang pulsa telepon digital (NFCX) dan media dan hiburan digital terprogram (OONA).

NFC, yang baru terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada 12 Juli 2018, kemudian masuk ke bisnis iklan awan digital (digital cloud advertising) dengan menanamkan investasinya di PT Digital Marketing Solution (DMS).

DMS memiliki 4.000 lebih tempat iklan dengan klien-klien besar seperti Djarum, Indomaret, Circle-K, The Bodyshop Indonesia, Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Awal tahun, Kresna Graha juga berinvestasi di PT Sistem Mikroelektronik Cerdas C-Desain (SMC), perusahaan teknologi IoT berupa Two-Way Prepaid Meter (Melinda) dengan akses pasar lebih dari 60 juta pelanggan potensial.

Selama enam bulan pertama tahun ini, Kresna Graha fokus memperkaya ekosistem dan memberdayakan jaringan distribusi segmen digital.

Tidak berhenti sampai di situ, Kresna Graha juga berinvestasi di Matchmove Pay Pte Ltd (MMP), perusahaan teknologi finansial (financial technology) asal Singapura yang telah menggandeng 50-an perusahaan di Asia Tenggara, India, Australia, dan Amerika Latin.

Anak perusahaan Kresna Graha yang bergerak di bidang teknologi Artificial Intelligence (AI), KPISoft Pte Ltd berkembang pesat di delapan negara dengan sederet klien seperti Zurich, TM, dan Sinarmas Group.

Lantas, PT Digital Artha Media (DAM Group) dan PT M Cash Integrasi Tbk. (IDX: MCAS), yang juga menjadi bagian dari Kresna Graha, tumbuh hingga memberdayakan 50.000-an usaha mikro dan kecil di seluruh Indonesia.

Jumlah kios MCAS terus bertambah dari 809 pada 2017 menjadi 1.700 pada kuartal 1/2018. Agen digitalnya membengkak dari 27.000 pada 2017 menjadi 36.000 pada kuartal 1/2018.

Fokus ke bisnis teknologi digital itulah yang kemudian mendatangkan pendapatan berkali lipat tersebut. Dari pendapatan itu, yang 87%-nya disumbang oleh segmen teknologi digital, Kresna Graha mengantongi laba bersih (net income) konsolidasian sebesar Rp165,2 miliar, naik 9,1% dari Rp151,4 miliar pada semester 1/2017.

Nilai asetnya yang pada semester 1/2017 tercatat sebesar Rp2,0 triliun, naik 29% menjadi Rp2,58 triliun. Pertumbuhan yang signifikan itu diyakini bakal terus berlanjut seiring dengan aksi korporasi Kresna Graha dan anak-anak perusahaannya ke depan.●

—Ivan Darmawan, TechnoBusiness ID ● Foto-Foto: Kresna Graha Investama

 

Transaksi Ilegal Turis China Merebak di Vietnam

Hanoi, TechnoBusiness ● Pembayaran elektronik lintas batas semakin nyata, tapi rupanya menimbulkan masalah di Vietnam. Seperti diketahui, toko-toko di negara paling timur di Semenanjung Indochina itu diam-diam mulai menggunakan mesin point-of-sale (POS) yang dikeluarkan pemerintah China.

Baca Juga: Jumienten, Chatbot Canggih dari Sprint Asia Technology

Toko-toko itu menyediakan fasilitas pembayaran untuk para pelancong dari China. Pembayaran berbasis kartu dan QR-Code tersebut dinilai sudah mengkhawatirkan karena tidak menggunakan Dong, tapi Yuan. Tentu saja hal itu mengundang reaksi otoritas Vietnam karena dianggap ilegal dan berpotensi menimbulkan kerugian pajak.

Kawasan wisata Ha Long Bay yang terkenal

Pada pertengahan Mei, misalnya, Pemerintah Kota Ha Long mendapati banyak transaksi di kawasan Pantai Ha Long Bay yang terkenal menggunakan mesin POS yang dikeluarkan China. Proses transaksi itu tanpa melalui sistem perbankan atau perantara pembayaran resmi di Vietnam. Nilai yang dicatatkan diperkirakan lebih dari RMB200.000.

Tentu saja itu juga merugikan Vimo, perantara pembayaran berlisensi pertama dan satu-satunya yang bermitra dengan WeChat Pay milik Tencent Holdings Limited dan Alipay keluaran Alibaba Group Holding Limited. “Baru-baru ini ada sejumlah bisnis milik China yang menggunakan mesin pembayaran POS atau e-wallet yang dikeluarkan di China untuk menerima pembayaran RMB dari turis China saat berdagang di wilayah Vietnam. Ini merupakan pelanggaran serius terhadap hukum Vietnam,” kata CEO Vimo Do Cong Dien.

Sebab, harga yang tercantum dan pembayaran yang diterima dalam mata uang asing di wilayah Vietnam menyebabkan aliran uang langsung dari kartu perbankan pembeli atau e-wallet ke penjual di China tanpa mengalir ke Vietnam. “Pola itu menghasilkan transaksi yang tidak terkendali dan kerugian pajak,” lanjut Dien.

Padahal, berdasarkan data dari Vietnam National Administration of Tourism, jumlah wisatawan China ke Vietnam melonjak drastis (39,7%). Selama empat bulan pertama 2018, pelancong dari Negeri Tirai Bambu itu mencapai 1,8 juta. Lalu, disusul Korea Selatan sebanyak hampir 1,2 juta (naik 67,3%). Pelancong kedua negara menguasai hampir 60% pelancong dari seluruh negara ke Vietnam.●

—Nguyen Tien Trang, TechnoBusiness/PRN ● Foto-Foto: GS1 Vietnam,

 

GMF Ikut Ketiban Rezeki Gemerlapnya Bisnis Transportasi Udara

Jakarta, TechnoBusiness ID PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk. (IDX: GMFI) pada kuartal 1/2018 berhasil membukukan pendapatan operasional senilai US$115,9 juta, naik 9% dari US$106 juta setahun lalu.

Dalam masa yang sama, perusahaan Maintenance Repair & Overhaul (MRO) yang merupakan anak perusahaan PT Garuda Indonesia Tbk. itu mengantongi laba bersih sebesar US$7,4 juta (margin 6,3%).

Baca Juga: Pasar Perangkat Lunak Ground Handling Pesawat Bernilai US$2,49 Miliar

Arus kasnya pun meningkat 28% menjadi US$48,4 juta. Peningkatan pendapatan itu dikontribusi oleh Line Maintenance senilai US$20 juta, sedangkan Rapir & Overhaul US$95,9 juta.

Salah satu hanggar GMF AeroAsia

“Porsi ini sesuai dengan target perusahaan, yaitu fokus pada bisnis perawatan komponen pesawat,” ujar Direktur Utama GMF AeroAsia Iwan Joeniarto dalam siaran persnya yang diterima TechnoBusiness Indonesia, Kamis (17/5).

Selain itu, komposisi pendapatan dari non-afiliasi juga tumbuh 43%, lebih besar daripada kuartal yang sama 2017 yang mencatatkan sebesar 38%.

Seperti diketahui, perusahaan dengan tingkat dispacth realibity sebesar 99,64% itu baru melakukan pelepasan saham perdana (intial public offering/IPO) pada Oktober 2017.

Dana segar senilai Rp1,129 triliun yang diraihnya saat itu 15%-nya digunakan untuk refinancing, 25% untuk modal kerja, dan sisanya untuk investasi. Sampai saat ini, “Sebanyak 12% dari dana IPO sudah kami gunakan untuk investasi,” jelas Iwan.

Beberapa teknisi GMF AeroAsia sedang melakukan perbaikan salah satu armada pesawat.

Saking penting investasi, berdasarkan keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan GMF AeroAsia di Garuda City, Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, pada 30 April 2018, memutuskan hanya membagikan dividen 2017 sebesar 20% senilai US$10.189.270.

Saat itu, Iwan menuturkan bahwa GMF membutuhkan modal besar untuk mendanai pengembangan bisnisnya. Pada 2018, GMF membutuhkan lebih dari US$100 juta untuk itu. Apalagi, perusahaan menargetkan masuk dalam jajaran 10 besar pemain MRO global tahun ini.

Terus tumbuhnya jumlah penumpang pesawat dari tahun ke tahun, yang pada 2017 mencapai 3,95 miliar orang, memang telah mendongkrak bukan hanya kinerja bisnis perawatan dan perbaikan pesawat, tetapi juga menggerakkan pertumbuhan bisnis perangkat keras (hardware) dan lunak (software) pendukung.

Seperti yang pernah ditulis oleh TechnoBusiness, pasar perangkat komputer pesawat dunia bakal menyentuh US$7,87 miliar pada 2022. Pada tahun itu, pasar perangkat lunak ground handling pesawat diperkirakan juga meningkat menjadi US$3,25 miliar.●

—Ivan Darmawan, TechnoBusiness ID ● Foto-Foto: GMF AeroAsia

 

Rupiah Merosot, Apa “Obatnya”?

Jakarta, TechnoBusiness ID ● Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat merosot ke lebih dari Rp14.000 beberapa minggu terakhir. Sebagian analis mengatakan sebetulnya melemahnya mata uang Garuda itu tidak begitu mengagetkan karena sudah bisa diprediksi sebelumnya.

Baca Juga: AADC, Strategi Memenangkan Pasar Online

Pasalnya, semakin membaiknya perekonomian Paman Sam jelas akan mengeruk dolar lebih banyak. Penguatan itu tentu akan memengaruhi nilai tukar seluruh mata uang di dunia, termasuk rupiah, meskipun kondisi perekonomian makro cenderung terjaga.

Apresiasi dolar dan depresiasi rupiah kemungkinan masih akan terjadi beberapa waktu ke depan. Hal itu dipengaruhi oleh kenaikan suku bunga The Fed dan kebijakan Presiden Amerika Donald Trump yang memangkas pajak (tax cut) dan menggelorakan perang dagang.

Kongkow Bisnis Live PAS FM di Jakarta, Rabu (9/5).

Namun, depreasi itu tidak perlu dikhawatirkan, kata Bank Indonesia, karena volatilitasnya masih dalam batas aman. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Hariyadi Sukamdani berpendapat serupa, walaupun menurutnya pemerintah dan Bank Indonesia kurang mengantisipasi atas pelemahan itu.

Memang sekalipun sudah melebihi Rp14.000 per dolar Amerika, rupiah hanya terdepresiasi 3,3%, lebih rendah dibanding Rupee India, Peso Filipina, dan lain sebagainya. Euro, dolar Australia, dan dolar Singapura tidak lepas dari pengaruh penguatan dolar Amerika.

Dalam Kongkow Bisnis Live bertema “Rupiah Gonjang-Ganjing, Apa yang Bisa Dilakukan?” yang diselenggarakan radio bisnis PAS FM di Hotel Milenium, Jakarta, Rabu (9/5), Head of Economics and Research Finance and Corporate Service UOB Indonesia Enrico Tanuwidjaja mengatakan yang perlu dikhawatirkan adalah pembayaran dividen dan utang luar negeri, baik pemerintah maupun swasta.

Kekhawatiran masyarakat pasti terjadi, walaupun fundamental perekonomian saat ini lebih solid daripada 10 atau 20 tahun lalu. “Hal ini dapat dilihat dari peringkat layak investasi yang diberikan oleh tiga rating agensi kepada Indonesia,” ungkap Enrico.

Kalaupun saat ini terjadi net sell di pasar modal, bukan berarti langsung ditukar ke dolar. Enrico memprediksi kemungkinan dananya dialihkan ke pasar obligasi.

Sementara itu, Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada Tony Prasetiantono yang juga hadir dalam acara itu mengungkapkan sebaiknya Bank Indonesia tidak berpikir menyelesaikan ini dengan intervensi, mengingat cadangan devisa negara merosot cukup signifikan.

“Menaikkan suku bunga merupakan opsi yang harus segera ditempuh,” kata Tony. Negara lain pun sudah melakukannya. “Jika terlambat merespons akan menimbulkan biaya tambahan seperti terkurasnya cadangan devisa, yang nantinya malah akan membuat pasar semakin khawatir,” lanjutnya.

Opsi menaikkan BI rate dari 4,25% sepertinya memang hanya menunggu waktu. Bank Indonesia tampak hati-hati melakukannya mengingat inflasi yang menjadi salah satu indikator perekonomian tetap stabil di kisaran 3,5%, juga defisit transaksi berjalan masih di bawah 3% dari Produk Domestik Bruto. Jika Mei belum diputuskan naik, bisa jadi Juni 2018.●

—Ivan Darmawan, TechnoBusiness ID ● Foto-Foto: TechnoBusiness ID, PAS FM  

 

Berkat Bisnis Teknologi, Pendapatan KREN Melonjak 764,2%

Jakarta, TechnoBusiness ID ● PT Kresna Graha Investama Tbk. (IDX: KREN), perusahaan manajemen investasi finansial yang berbasis di Jakarta, pada kuartal 1/2018 mencatatkan pendapatan senilai Rp950,4 miliar, melonjak 764,2% dibanding setahun lalu yang menorehkan Rp110 miliar.

 

Baca Juga: Alasan Kresna Graha Investama Berinvestasi di Matchmove Pay

 

Kinerja Keuangan PT Kresna Graha Investama Tbk. per kuartal 1/2018 vs Kuartail 1/2017

Dari pendapatan itu, Kresna Graha membukukan laba bersih sebesar Rp119,6 miliar, naik 71,4% dibanding kuartal 1/2017 yang sebesar Rp69,8 miliar. Pendapatan itu sebagian besar disumbangkan oleh segmen digital dan teknologi.

Dalam siaran pers yang diterima TechnoBusiness Indonesia, segmen digital dan teknologi perseroan menyumbangkan Rp801,5 miliar, 84,3% dari total pendapatan. Angka itu 70,2% lebih tinggi dibanding 2017.

Margin kotornya meningkat dari 1,7% menjadi 4,0% selama periode penghitungan. Lalu, total aset kuartalannya naik 6,7% menjadi Rp2,1 triliun dengan kas bersih naik 5,9% menjadi Rp610,6 miliar.

—Anwar Ibrahim, TechnoBusiness ID ● Foto-Foto: KREN

 

Bagaimana Kinerja Keuangan Facebook Pascaskandal Data?

California, TechnoBusiness ● Banyak orang yang bertanya-tanya bagaimana kinerja Facebook Inc. (Nasdaq: FB) usai skandal pemanfaatan data pengguna oleh pihak ketiga, yakni Cambridge Analytica dan CubeYou, yang belum tuntas sampai sekarang.

 

Baca Juga: Sharp Cari Celah di Pasar Otomotif

 

Seiring tuntasnya pembukuan, Facebook pun melaporkan kinerja keuangan per kuartal pertama 2018 yang berakhir 31 Maret di Menlo Park, California, Amerika Serikat, Rabu (25/4).

Dalam laporan itu diketahui bahwa pengguna aktif harian (daily active users) Facebook mencapai 1,45 miliar, meningkat 13% dibanding setahun lalu. Pengguna aktif bulanan (monthly active users)-nya juga naik dengan persentase yang sama menjadi 2,20 miliar.

Seperti biasa, pertumbuhan pengguna itu diikuti dengan peningkatan pendapatan perusahaan. Perusahaan jejaring sosial itu berhasil mengumpulkan pendapatan sebesar US$11,96 miliar, naik 49% dibanding kuartal yang sama 2017 yang mencatatkan US$8,03 miliar.

Pendapatan yang besar itu 91%-nya disokong oleh iklan seluler, lebih besar porsinya dibanding 85% setahun lalu. Selama kuartal pertama 2018, perusahaan mengeluarkan belanja modal (capital expenditure) sebanyak US$2,81 miliar.

“Meskipun menghadapi tantangan yang sangat penting, komunitas dan bisnis kami dimulai dengan awal yang kuat pada 2018.”

—Mark Zuckerberg, pendiri dan CEO Facebook

Entah pengaruhnya belum terasa atau memang tidak ada pengaruhnya sama sekali dengan skandal data pengguna Facebook, yang jelas kinerja jejaring sosial terbesar sejagat itu terus menunjukkan kinerja keuangan yang baik.

“Meskipun menghadapi tantangan yang sangat penting, komunitas dan bisnis kami dimulai dengan awal yang kuat pada 2018,” kata Mark Zuckerberg, pendiri dan CEO Facebook. “Kami mengambil pandangan yang lebih luas tentang tanggung jawab dan investasi kami untuk memastikan layanan kami digunakan untuk kebaikan.”

Zuckerberg mengakui Facebook masih membutuhkan pengembangan lebih lanjut. “Kami perlu terus membangun alat-alat baru untuk membantu orang terhubung, memperkuat komunitas, dan membawa dunia lebih dekat lagi,” lanjutnya.

Tidak banyak yang dilaporkan terkait skandal data, tapi pada April lalu Facebook telah meningkatkan pembelian kembali saham dari investor mereka. Tidak tanggung-tanggung, nilainya hingga US$9 miliar. Padahal, sebelumnya dewan direksi hanya menyetujui US$6 miliar.●

—Philips C. Rubin, TechnoBusiness ID ● Foto-Foto: Facebook

 

Sri Mulyani Kembali Jadi Menteri Terbaik  

Jakarta, TechnoBusiness ID ● Setelah dinobatkan menjadi Menteri Terbaik di Dunia (Best Minister in the World) dalam World Government Summit di Dubai, Uni Arab Emirates, Februari lalu, kini Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati kembali mendapat predikat yang sama.

Baru-baru ini, majalah keuangan ternama FinanceAsia “mengganjar” Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan Terbaik di Asia Pasifik 2018. Tahun lalu, ia telah memperoleh penghargaan serupa.

Menurut FinanceAsia, Menteri Sri Mulyani berhasil melakukan reformasi struktur keuangan negara pada 2017 sehingga mampu bertahan di tengah gejolak pasar, termasuk ketika Bank Sentral Amerika Serikat The Fed menaikkan suku bunga acuannya.

Dalam peringkat yang dirilis majalah tersebut, seperti diberitakan dalam laman Kemenkeu.go.id, Sri Mulyani menempati urutan teratas Daftar Menkeu Terbaik di Asia Pasifik 2018.

Menteri Sri mengalahkan Menkeu Singapura Heng Swee Keat di urutan kedua, Menkeu Filipina Carlos Domininguez di urutan ketiga, dan Menkeu India Arun Jaitley di urutan keempat.

Berikut Daftar 10 Menteri Terbaik di Asia Pasifik 2018 versi Majalah FinanceAsia

  1. Sri Mulyani Indrawati : Menteri Keuangan Indonesia
  2. Heng Swee Keat : Menteri Keuangan Singapura
  3. Carlos Domininguez : Menteri Keuangan Filipina
  4. Arun Jaitley : Menteri Keuangan India
  5. Xiao Jie : Menteri Keuangan China
  6. Kim Dong Yeon : Menteri Strategi dan Keuangan Korea Selatan
  7. Scott Morrison : Menteri Keuangan Australia
  8. Apisak : Menteri Keuangan Thailand
  9. Taro Aso : Menteri Keuangan Jepang
  10. Paul Chan : Menteri Keuangan Hong Kong

 

Menteri Sri dinilai berhasil menjaga stabilitas belanja negara dengan menekan defisit anggaran yang lebih rendah, yakni sebesar 2,5%, dibanding proyeksi sebelumnya sebesar 2,9%.

Selain itu, ia juga mampu mempertahankan stabilitas inflasi dan nilai tukar rupiah. Pada 2017, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia mencapai US$1 triliun untuk pertama kalinya. Perekonomian nasional pun tumbuh di atas 5%.●

—Intan Wulandari, TechnoBusiness ID ● Foto-Foto: Kemenkeu

Alasan Kresna Graha Investama Berinvestasi di MatchMove Pay

Jakarta, TechnoBusiness ID PT Kresna Graha Investama Tbk. (IDX: KREN), perusahaan manajemen investasi finansial yang berbasis di Jakarta, menyatakan akan berinvestasi di PT Graha Kreasi Sejahtera, pemilik 15,5% saham perusahaan teknologi finansial (fintech) asal Singapura, MatchMove Pay Pte Ltd.

 

Baca Juga: Tantangan Penerapan Industri 4.0 di Indonesia

 

Investasi itu merupakan langkah perusahaan dalam mempercepat proses transformasi gaya hidup digital masyarakat Indonesia melalui pemanfaatan disruptive global technology excellence. Selain itu, juga sebagai strategi mengintegrasikan pasar lokal dan global.

 Michael Steven, Direktur Utama Kresna Graha, mengungkapkan aksi korporasi itu dimaksudkan untuk mendorong Indonesia menjadi ekonomi digital terbesar se-Asia Tenggara pada 2020. Periset pasar Statista memperkirakan pendapatan e-commerce Indonesia akan tumbuh rata-rata tahunan 17,7% hingga menjadi US$16,5 miliar pada 2022.

“Kami berpendapat pertumbuhannya harusnya lebih dari itu. Salah satu faktor yang menahan pertumbuhan tersebut adalah masalah pembayaran, mengingat masih tingginya persentase populasi unbanked” ungkap Michael.

Untuk itu, berdasarkan laporan United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) 2017, sistem pembayaran online (online payment system) dan mobile pada 2019 akan mengambil alih porsi penggunaan kartu kredit dan debit dalam transaksi e-commerce.

Di China, pendapatan pembayaran mobile, yang dikuasai WeChat milik Tencent Holdings Limited dan AliPay di bawah Alibaba Group Holding Limited, sudah mencapai US$5,5 triliun, 50 kali lipat dibanding Amerika Serikat.

“MatchMove berencana menjadikan Indonesia sebagai pusat pengembangan produk dan layanan dalam upayanya merangkul pasar Asia Tenggara yang lebih luas.”

—Shailesh Naik, CEO MatchMove Pay

Kresna Graha berinvestasi di MatchMove Pay karena perusahaan itu memiliki teknologi finansial yang canggih. Tidak hanya perbankan dan e-commerce, perusahaan asuransi, properti, pendidikan, telekomunikasi, dan lain sebagainya pun banyak yang menggunakan platform MatchMove Pay.

Pada 2017, teknologi MatchMove Pay setidaknya telah digunakan oleh 10 juta pengguna di tujuh negara. Pada tahun tersebut, pendapatannya naik 170% dibanding tahun sebelumnya. Pendapatan itu diyakini bakal melesat setelah memperluas cakupan pasarnya hingga ke Eropa, Afrika Selatan, dan China.

Dari sisi teknologi, tidak sekadar melayani kebutuhan saat ini, MatchMove Pay juga telah mengantisipasi perkembangan sistem pembayaran ke depan seperti blockchain, cybersecurity, dan Artificial Intelligence (AI).

Shailesh Naik, CEO MatchMove Pay, menjelaskan bahwa perusahaannya akan membawa kapabilitas yang sama ke Indonesia. “MatchMove berencana menjadikan Indonesia sebagai pusat pengembangan produk dan layanan dalam upayanya merangkul pasar Asia Tenggara yang lebih luas,” katanya.

Tidak hanya itu, MatchMove berkomitmen mentransfer kemampuan riset dan pengembangan dari Singapura dan India ke Indonesia, terutama di bidang data analytics dan AI. “Kami juga memastikan bahwa advanced intellectual property juga akan kami kembangkan di sini,” tambah Shailesh.●

—Intan Wulandari, TechnoBusiness ID ● Foto-Foto: Kresna Graha, MatchMove