BCA: Mempertahankan Predikat “Brand of Choice” Tidak Mudah

Tangerang, TechnoBusiness ID ● PT Bank Central Asia Tbk. (BCA), salah satu bank transaksi terbesar di Indonesia, mengakui bahwa mempertahankan sebagai brand of choice tidaklah mudah.

Suasana BCA Expoversary di ICE BSD, Tangerang, Jumat (9/2)

Oleh karena itu, “Serangkaian inisiatif dalam rangka meningkatkan customer engagement selalu menjadi fokus kami dalam memberikan kepuasan dan mendorong loyalitas nasabah setia,” ungkap Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja dalam puncak perayaan ulang tahun BCA ke-61 di ICE BSD, Tangerang, Jumat pekan lalu.

Salah satu langkah untuk meningkatkan customer engagement yang dimaksud Jahja yaitu menggelar BCA Expoversary tersebut. Pameran itu melibatkan 22 merek kendaraan bermotor, 6 pengembang properti, puluhan kedai makanan dan minuman serta fashion.●

—Anwar Ibrahim, TechnoBusiness ID ● Foto-Foto: BCA

 

Sri Mulyani, Menteri Terbaik Dunia

Dubai, TechnoBusiness ID Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dinobatkan sebagai Menteri Terbaik di Dunia (Best Minister in the World ). Penghargaan itu diberikan oleh World Government Summit dan diserahkan oleh pemimpin Dubai, Sheikh Mohammad bin Rashid Al Maktoum di Dubai, Uni Arab Emirates, Sabtu (11/2).

Sebagai yang terbaik, Sri Mulyani merupakan satu-satunya menteri dari seluruh dunia yang menerima penghargaan itu. Penghargaan tersebut hasil penilaian World Government Summit bekerja sama dengan lembaga independen EY.

Menteri Keuangan Sri Mulyani saat menerima penghargaan sebagai Menteri Terbaik Dunia.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu dalam sambutannya menyampaikan apresiasinya sebagai menteri pertama dari Asia yang menerima penghargaan tersebut. Penghargaan itu menjadi bagian dari pengakuan atas kerja kolektif pemerintah di bawah pimpinan Presiden Joko Widodo, khususnya di bidang ekonomi.

Selain menjadi satu-satunya penerima, penghargaan itu amat bergengsi lantaran diberikan oleh forum yang menjadi pertukaran pengalaman dan pengetahuan antarpejabat pemerintah, penentu kebijakan, dan pimpinan sektor swasta dalam melihat tren ke depan.

World Goverment Summit dihadiri oleh 4000 peserta dengan 90 pembicara dari 150 negara. Seperti disampaikan dalam siaran pers yang diterima TechnoBusiness ID, laporan hasil pertemuan itu kemudian akan diterbitkan oleh Oxford Analytica, McKinsey, Harvard Business Review, dan lain sebagainya.●

—Ivan Darmawan, TechnoBusiness ID ● Foto-Foto: Kementerian Keuangan

 

Waspadalah, Ekonomi Global Tahun Depan Lebih Buruk

TechnoBusiness Insight ● Ekonomi global kembali berguncang, bahkan lebih parah dari biasanya. Risiko yang ditimbulkan pun meningkat sejak Mei lalu, terutama disebabkan oleh ketegangan antara Amerika Serikat, China, dan Uni Eropa dalam perdagangan antarnegara.

Risiko itu tidak boleh dianggap main-main karena sudah mengarah kepada krisis ekonomi baru. Menurut laporan periset pasar Euromonitor International yang baru saja dirilis, pemilihan pemerintah di Italia telah meningkatkan risiko guncangan Zona Euro.

Baca Juga: Telkom Merek Termahal Indonesia 2018

Euromonitor memperkirakan guncangan Zona Euro itu dapat membahayakan stabilitas keuangan kawasan. Inggris pasca-Brexit yang tak kunjung tenang menambah gejolak di Barat. Krisis Turki di Timur Tengah juga memicu kekhawatiran penularan ke negara-negara berkembang lainnya.

Untuk itu, Pendapatan Domestik Bruto (PDB) negara-negara maju sekalipun tahun depan diperkirakan turun. Dalam laporan yang dirilis pada Senin (17/9), PDB Amerika yang tahun ini tumbuh 2,7% dibanding tahun lalu, akan turun menjadi 2,6% pada tahun depan.

PDB Zona Euro yang pada 2018 tercatat tumbuh 2,1% akan turun 0,2% menjadi 1,8%. PDB Jepang, negara maju di belahan Asia, juga turun dari 1,1% pada tahun ini menjadi 1,0% pada tahun depan.

Yang meningkat sedikit justru PDB Inggris. Setelah ekonominya terseok akibat ketidakpastian pasca-Brexit, PDB Inggris justru naik dari 1,2% tahun ini menjadi 1,3% tahun depan. Negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, akan menghadapi tantangan yang tak kalah kuat—dan berisiko.●

Teks: TechnoBusiness Insight

Data: Euromonitor International

Grafis: TechnoBusiness Insight, Euromonitor International

 

Cryptology Masuk CoinMarketCap dan CoinGecko

Singapura, TechnoBusiness ● Bursa jual-beli mata uang digital (cryptocurrency) asal Singapura, Cryptology Exchange, melakukan pencatatan di situs pelacakan kripto terbesar di dunia, CoinMarketCap,  dan situs lainnya, yakni CoinGecko, Selasa (22/10).

Baca Juga: 1 dari 3 Orang Indonesia Tertarik Memiliki Kripto

Menurut Anton Kalinin, Chief Operating Officer Cryptology Exchange, pencatatan itu akan mempermudah komunitas kripto dalam mengakses informasi terbaru seperti volume perdagangan, perdagangan yang tersedia, harga tawaran terbaru, dan lain sebagainya.

Pencatatan itu akan mempermudah komunitas kripto dalam mengakses informasi terbaru.

“Kami dengan bangga mengumumkan daftar Cryptology Exchange yang banyak diantisipasi di CoinMarketCap dan CoinGecko,” ungkap Kalinin.

Sampai saat ini, bursa kripto yang didirikan di Negeri Merlion pada Agustus 2017 itu memiliki 38 token, termasuk Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), dan Stellar Lumens (XLM).

“Sebagai pertukaran komunitas-sentris, kami berusaha untuk terus membawa nilai bagi semua pengguna dan mendaftar di situs-situs besar ini barulah permulaan,” tambah Herbert Sim, Chief Marketing Officer Cryptology Exchange.

—Michael A. Kheilton, TechnoBusiness ● Foto: Cryptology Exchange

 

Strategi Baru Dongkrak Pendapatan Kresna Graha 803,2%

Jakarta, TechnoBusiness ID ● Manajemen PT Kresna Graha Investama Tbk. (IDX: KREN) sedang bahagia. Sebab, pendapatan perusahaan manajemen investasi finansial yang berbasis di Jakarta itu pada semester 1/2018 melonjak hingga 803,2% menjadi Rp2,11 triliun.

Baca Juga: Alasan Kresna Graha Berinvestasi di Matchmove Pay 

Padahal, dalam waktu yang sama tahun lalu, Kresna Graha hanya memperoleh pendapatan sebesar Rp234,1 miliar. Lantas, apa yang mendorong perusahaan tersebut mampu melipatgandakan pendapatannya?

Rupanya, keseriusan Kresna Graha masuk ke bisnis teknologilah jawabannya. Sejak beberapa tahun terakhir, Kresna masuk ke pasar yang sedang tumbuh dengan beragam cara, termasuk mengakuisisi sebagian kepemilikan perusahaan-perusahaan teknologi.

Kinerja keuangan PT Kresna Graha Investama Tbk. pada semester 1/2018

Selama enam bulan pertama tahun ini, Kresna Graha semakin fokus memperkaya ekosistem dan memberdayakan jaringan distribusi segmen digital, terutama hub pertukaran digital (digital exchange hubs), Internet of Things (IoT), dan Banking-as-a-Service (BaaS).

Dalam bisnis hub pertukaran digital, Kresna Graha berinvestasi di PT NFC Indonesia Tbk. (IDX: NFCX), perusahaan dengan bisnis utama pertukarang pulsa telepon digital (NFCX) dan media dan hiburan digital terprogram (OONA).

NFC, yang baru terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada 12 Juli 2018, kemudian masuk ke bisnis iklan awan digital (digital cloud advertising) dengan menanamkan investasinya di PT Digital Marketing Solution (DMS).

DMS memiliki 4.000 lebih tempat iklan dengan klien-klien besar seperti Djarum, Indomaret, Circle-K, The Bodyshop Indonesia, Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Awal tahun, Kresna Graha juga berinvestasi di PT Sistem Mikroelektronik Cerdas C-Desain (SMC), perusahaan teknologi IoT berupa Two-Way Prepaid Meter (Melinda) dengan akses pasar lebih dari 60 juta pelanggan potensial.

Selama enam bulan pertama tahun ini, Kresna Graha fokus memperkaya ekosistem dan memberdayakan jaringan distribusi segmen digital.

Tidak berhenti sampai di situ, Kresna Graha juga berinvestasi di Matchmove Pay Pte Ltd (MMP), perusahaan teknologi finansial (financial technology) asal Singapura yang telah menggandeng 50-an perusahaan di Asia Tenggara, India, Australia, dan Amerika Latin.

Anak perusahaan Kresna Graha yang bergerak di bidang teknologi Artificial Intelligence (AI), KPISoft Pte Ltd berkembang pesat di delapan negara dengan sederet klien seperti Zurich, TM, dan Sinarmas Group.

Lantas, PT Digital Artha Media (DAM Group) dan PT M Cash Integrasi Tbk. (IDX: MCAS), yang juga menjadi bagian dari Kresna Graha, tumbuh hingga memberdayakan 50.000-an usaha mikro dan kecil di seluruh Indonesia.

Jumlah kios MCAS terus bertambah dari 809 pada 2017 menjadi 1.700 pada kuartal 1/2018. Agen digitalnya membengkak dari 27.000 pada 2017 menjadi 36.000 pada kuartal 1/2018.

Fokus ke bisnis teknologi digital itulah yang kemudian mendatangkan pendapatan berkali lipat tersebut. Dari pendapatan itu, yang 87%-nya disumbang oleh segmen teknologi digital, Kresna Graha mengantongi laba bersih (net income) konsolidasian sebesar Rp165,2 miliar, naik 9,1% dari Rp151,4 miliar pada semester 1/2017.

Nilai asetnya yang pada semester 1/2017 tercatat sebesar Rp2,0 triliun, naik 29% menjadi Rp2,58 triliun. Pertumbuhan yang signifikan itu diyakini bakal terus berlanjut seiring dengan aksi korporasi Kresna Graha dan anak-anak perusahaannya ke depan.●

—Ivan Darmawan, TechnoBusiness ID ● Foto-Foto: Kresna Graha Investama

 

Inilah Pendorong Laba Bersih NFC Melonjak 182 Kali Lipat

Jakarta, TechnoBusiness ID ● Fantastis! PT NFC Indonesia Tbk. (IDX: NFCX), perusahaan digital exchange hub yang didirikan pada Agustus 2013, berhasil mencatatkan laba bersih sebesar Rp14,4 miliar pada kuartal 3/2018.

Laba bersih sebesar itu berarti 182 kali lipat lebih besar dibanding periode yang sama tahun lalu yang hanya membukukan Rp79,3 juta. Lonjakan laba bersih itu didorong oleh lonjakan pendapatan dari yang semula (kuartal 3/2017) sebesar Rp44,0 miliar menjadi Rp706,6 miliar.

Baca Juga: Strategi Jet Commerce Taklukkan Pasar E-commerce

Margin kotor dan operasional perseroan selama periode perhitungan masing-masing naik dari 0,8% dan 0,2% menjadi 1,8% dan 1,0%. Pendapatan dan laba yang gemilang itu tak lepas dari kinerja yang baik anak-anak perusahaan.

Oona Media mempunyai produk Oona TV, yaitu platform mobile TV streaming gratis, yang baru diluncurkan (grand launching) pada September lalu.Di ranah bisnis media dan hiburan, NFC memiliki PT Oona Media Indonesia yang didirikan pada Mei 2018.

Lonjakan laba bersih itu didorong oleh lonjakan pendapatan yang kini menjadi Rp706,6 miliar.

Berdasarkan data perusahaan, Oona TV mempunyai kinerja yang baik. Ketika soft launching pada Juli, Oona hanya digunakan oleh 206.000 orang. Kini, per 22 Oktober, Oona telah diunduh oleh 1,4 juta pengguna. Durasi menonton pun naik dari 12 menjadi 18 menit.

Bisnis jual beli pulsa digital Bursa Pulsa-nya juga berjalan dengan baik. Pada Juni lalu, Bursa Pulsa baru memiliki 918 pelanggan, per September telah bertambah menjadi 1.800 pelanggan.

Nilai penjualan selama sembilan bulan pertama 2018 tercatat sebesar Rp706,6 miliar, 16 kali lipat lebih besar dibanding periode yang sama tahun lalu yang menorehkan Rp44,1 miliar.

Baca Juga: Rahasia Realme Raup Rp33 Miliar dalam 3 Menit

Bisnis digital cloud advertising-nya tak kalah baik. PT Digital Marketing Solution, perusahaan teknologi iklan digital bebasis komputasi awan  yang baru didanai oleh NFC pada Juli, kini memiliki 3.763 titik iklan dan telah merambah ke 26 kota di Indonesia.

Dalam laporan keuangan perusahaan, selama sembilan bulan pertama 2018 Digital Marketing Solution berhasil memperoleh pendapatan sebesar Rp32,0 miliar dengan laba kotor Rp3,2 miliar.

Ke depan, perusahaan tersebut akan semakin agresif memperluas pasar, terutama Indonesia Timur, termasuk dengan menggandeng peritel makanan dan fast moving consumer goods.●

—Anwar Ibrahim, TechnoBusiness ID ● Foto: TechnoBusiness ID

 

J Trust Bank Luncurkan Uang Elektronik

Jakarta, TechnoBusiness IDPT Bank J Trust Indonesia Tbk. (IDX: BCIC), perbankan yang bernaung di bawah J Trust Co Ltd asal Minato-ku, Tokyo, Jepang, meluncurkan uang elektronik berbasis server.

Dalam pengembangan uang elektronik yang dapat diunduh oleh nasabah dan masyarakat di Google Play dan iOS itu, J Trust Bank menggandeng PT Digital Artha Media (DAM) Corp., fintech enabler yang merupakan anak usaha PT Kresna Graha Investama Tbk. (IDX: KREN).

Baca Juga: Strategi Baru Dongkrak Pendapatan Kresna Graha 803,2%

Direktur J Trust Bank Rio Lanasier mengatakan penyediaan layanan uang elektronik J Trust Bank itu diharapkan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat yang semakin meminati transaksi pembayaran nontunai (cashless).

“Dengan uang elektronik ini diharapkan masyarakat dapat lebih nyaman dalam bertransaksi,” ungkap Rio dalam penandatanganan kerja sama di Jakarta, Rabu (1/8).

“Dengan uang elektronik ini diharapkan masyarakat dapat lebih nyaman dalam bertransaksi.”

—rio lanasier, direktur j trust bank indonesia

Peluncuran uang elektronik J Trust Bank tersebut juga bertujuan untuk mendukung Gerakan Nasional Non Tunai yang dikampanyekan oleh Bank Indonesia sejak beberapa tahun lalu.

Sebab, hingga saat ini ada sekitar 120 juta penduduk Indonesia yang masih belum memiliki rekening bank (unbanked). Dalam uang elektronik J Trust Bank, pengguna dapat memasukkan saldo sebesar Rp2 juta untuk unregistered dan Rp10 juta yang registered user.

“Kerja sama kami dengan J Trust Bank diharapkan mampu mempercepat adopsi teknologi digital dan mendorong akselerasi industri perbankan dalam menurunkan tingkat unbanked society serta menciptakan pemerataan ekonomi digital di Indonesia,” ungkap Izak Jenie, CEO DAM Corp.

Di Indonesia, J Trust Bank memiliki 47 kantor yang tersebar di kota-kota besar. Tahun ini, bank tersebut telah membuka tiga kantor cabang baru di Balikpapan, Pontianak, dan Lampung. Dua kantor lagi segera menyusul, yakni di Malang dan Cirebon.

Inovasi J Trust Bank itu diyakini berdampak positif terhadap kinerja perusahaan, meskipun penyediaan uang elektronik bukanlah hal baru bagi perbankan di Tanah Air. Bank-bank lain yang sudah lebih dulu meluncurkannya.●

—Anwar Ibrahim, TechnoBusiness ID ● Foto: J Trust Bank

 

Cetak Penjualan Rp3,3 Triliun, Laba Bersih M Cash Naik 741,1%

Jakarta, TechnoBusiness IDPT M Cash Integrasi Tbk. (IDX: MCAS), perusahaan layanan kios digital yang didirikan pada 2010, berhasil mencetak penjualan senilai Rp3,3 triliun selama sembilan bulan pertama 2018.

Itu berarti, penjualan perusahaan yang melakukan penawaran saham perdana (initial public offering/IPO) pada awal November 2017 naik 300,5% dibanding setahun lalu.

Baca Juga: Mengawali Tahun Fiskal 2019, Microsoft Raup Pendapatan US$29,1 Miliar

Penjualan yang gemilang itu ditorehkan setelah M Cash per September sukses menambah titik distribusinya hingga 121,4% menjadi 43.853 dari 19.804 titik pada periode yang sama tahun lalu.

NFC sukses menambah pelanggan dari 918 pada Juni menjadi 1.800 pada September 2018.

Perluasan implementasi teknologi kios digital ke bidang logistik juga mendongkrak angka penjualan perusahaan.

Dalam merambah ke layanan logistik, M Cash berkolaborasi dengan perusahaan milik negara PT Pos Indonesia.

Kolaborasi itu menghasilkan layanan kemitraan multibiller POS PAY dan digital locker M-BOX POS. POS PAY mendistribusikan lebih dari 300 jenis produk biller PPOB melalui 4.800 jaringan kantor pos dan 40.000 agen pos.

Baca Juga: Strategi Jet Commerce Taklukkan Pasar E-commerce

Sementara itu, M-BOX POS, digital locker untuk pengiriman dan pengambilan barang logistik, memanfaatkan 24.000 titik layanan yang tersebar di seluruh Indonesia.

Sumbangsih Anak Perusahaan

Kinerja penjualan yang tumbuh tiga kali lipat pada tiga kuartal pertama 2018 juga tak luput dari kesuksesan PT NFC Indonesia Tbk. (IDX: NFCX), anak perusahaannya.

Kinerja Penjualan PT M Cash Integrasi Tbk. per September 2018

Sumber: PT M Cash Integrasi Tbk.

Sebagai penyedia bursa pulsa digital, NFC sukses menambah pelanggan dari 918 pada Juni menjadi 1.800 pada September 2018. Pertumbuhan pelanggan itu mencetak penjualan 16 kali lipat dari Rp44,1 miliar pada Juni menjadi Rp697,9 miliar pada September.

Di ranah bisnis media televisi digital, Oona TV yang dimiliki NFC berhasil menarik 1,4 juta pelanggan per 22 Oktober lalu, tiga bulan setelah peluncuran.

Baca Juga: Inilah Pendorong Laba Bersih NFC Melonjak 182 Kali Lipat

Lalu, lini bisnis digital cloud advertising-nya, yakni PT Digital Marketing Solution, menyumbang pendapatan sebesar Rp8,7 miliar dengan laba kotor Rp5,9 miliar.

Gowes, platform dan aplikasi bike-sharing yang diluncurkan pada Mei 2018, telah mencatatkan 18.000 pengguna aktif per September, naik dari 10.000 pengguna pada satu bulan sebelumnya.

Atas kinerja keuangan konsolidasi yang baik itu, menurut pernyataan resmi perusahaan yang diterima TechnoBusiness Indonesia pada Senin (29/10), M Cash meraup laba bersih sebesar Rp60,7 miliar, naik 741,1% dibanding setahun lalu.●

—Intan Wulandari, TechnoBusiness ID ● Foto: M Cash

 

Anda Nasabah BCA? Gunakan Asisten Virtual Vira

Jakarta, TechnoBusiness ID Ok Google. Bicara dengan Bank BCA.” Jika Anda nasabah PT Bank Central Asia Tbk. (IDX: BBCA), salah satu bank terbesar di Indonesia, cobalah mengetik atau mengirimkan perintah suara di Google. Secara otomatis, Asisten Google akan menghubungkan Anda dengan Vira.

 

Baca Juga: Finhacks BCA Hasilkan Tiga Aplikasi Digital Banking Terbaik

 

Vira merupakan singkatan dari Virtual Assistant Chat Banking. Layanan perbankan berbasis aplikasi chatting itu kini sudah dapat diakses melalui Asisten Google menyusul Line, Facebook Messenger, dan Kaskus Chat. Dengan bertanya dengan pesan suara atau mengetikkan kata kunci mengenai produk dan layanan BCA di Asisten Google, Vira akan langsung menjawabnya.

Untuk tahap awal, nasabah bisa mendapatkan informasi terkait promo terkini dan lokasi Anjungan Tunai Mandiri (ATM) BCA terdekat. “Pastinya pengembangan ini bukan menjadi inovasi yang terakhir dari BCA,” ungkap Santoso, Direktur BCA, di Jakarta, Selasa (4/4).

BCA mengembangkan platform asisten virtual VIRA untuk mengikuti perkembangan teknologi. Media sosial dan aplikasi chatting telah menjadi andalan dalam berkomunikasi masyarakat Indonesia, yang sekarang berkembang lagi ke penggunaan asisten virtual.

Untuk diketahui, platform tersebut dikembangkan dari hasil inovasi Fariz Tadjoedin (35 tahun), juara pertama kompetisi Financial Hackathon (Finhacks) on #HackbyTheBeach pada 2016 yang diselenggarakan oleh BCA.

Hingga akhir Desember 2017, BCA memiliki 17 juta rekening nasabah yang tersebar di 1.235 cabang. Bank itu memproses jutaan transaksi setiap hari, termasuk melalui 17.658 ATM dan 470.000 mesin electronic data capture (EDC).

Sejak pertama kali diperkenalkan pada Februari 2017 hingga 28 Februari 2018, Vira telah digunakan oleh lebih dari 662.000 pengguna. Jumlah pengguna itu diyakini bakal melonjak drastis setelah kanal layanannya kini sudah merambah ke Asisten Google.

—Intan Wulandari, TechnoBusiness ID ● Foto-Foto: BCA

 

Zahir Alokasikan Rp100 Miliar untuk Fintech Syariah

Jakarta, TechnoBusiness ID ● Bisnis penyaluran modal lewat teknologi finansial (financial technology) memang seksi. Itu sebabnya, perusahaan-perusahaan, baik rintisan maupun yang sudah besar, berlomba-lomba melahirkan aplikasi fintech.

Berdasarkan data dari Asosiasi Fintech Indonesia, jumlah perusahaan fintech per 2017 mencapai 235. Menginjak 2018, jumlahnya sudah bertambah cukup banyak, bahkan ada yang menyebutkan hingga 600-an perusahaan.

Hari ini, TechnoBusiness Indonesia baru saja menerima pengumuman resmi dari PT Zahir Internasional yang mengatakan bahwa perusahaan meluncurkan fintech syariah dengan nama Zahir Capital Hub.

Baca Juga: Teknologi dan Tumpuan Tiens Selanjutnya

Untuk menyediakan layanan itu, Zahir bekerja sama dengan perusahaan fintech syariah lainnya, yakni Alami, Asy-Syirkah, Ethis, dan Kapital Boost. Perusahaan yang sudah berdiri sejak lebih dari 20 tahun lalu itu tak main-main dan menyatakan siap mengucurkan modal hingga Rp100 miliar untuk bisnis barunya tersebut.

“Zahir Capital Hub hadir untuk menjawab perkembangan teknologi yang luar biasa di bidang teknologi finansial,” kata Muhamad Ismail, CEO Zahir Internasional. “Zahir punya potensi besar untuk meraih sukses di industri fintech.”

Apa yang dikatakan Muhamad sepertinya tak terlalu muluk-muluk. Sebab, sebagai pengembang aplikasi bisnis yang sebagian kliennya berskala usaha kecil menengah, Zahir akan dengan mudah menggaet pelanggan untuk bisnis barunya tersebut.

Baca Juga: Salim Group Tanamkan Investasi Strategis di Youtap

Zahir mengambil jalan penyaluran pinjaman secara syariah karena beberapa alasan. Pertama, kata Muhamad, sifatnya yang transparan atau terbuka. Kedua, menguntungkan semua pihak yang terlibat. Ketiga, menggunakan sistem bagi hasil.

“Ini menjadi layanan pintar dan mudah bagi perusahaan untuk mendapatkan investasi permodalan dari fintech syariah yang kredibel dan tepercaya,” ungkap Muhamad.

Dalam menjalankan bisnisnya, Zahir pun sudah tergabung dalam Asosiasi Fintech Syariah Indonesia dan telah mengantongi izin Otoritas Jasa Keuangan. Ketua Asosiasi Fintech Syariah Indonesia Ronald Yusuf menyatakan potensi pasar fintech syariah memang menggiurkan.

“Hal itu karena Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbanyak dan dengan jumlah pengguna internet yang sangat besar,” ujar Ronald di sela-sela Konferensi Keuangan Syariah ke-3 di Makassar, Sulawesi Selatan. “Kehadiran Zahir Capital Hub sangat positif.”●

—Ivan Darmawan, TechnoBusiness ID ● Foto: Zahir