Berkat Bisnis Teknologi, Pendapatan KREN Melonjak 764,2%

Jakarta, TechnoBusiness ID ● PT Kresna Graha Investama Tbk. (IDX: KREN), perusahaan manajemen investasi finansial yang berbasis di Jakarta, pada kuartal 1/2018 mencatatkan pendapatan senilai Rp950,4 miliar, melonjak 764,2% dibanding setahun lalu yang menorehkan Rp110 miliar.

 

Baca Juga: Alasan Kresna Graha Investama Berinvestasi di Matchmove Pay

 

Kinerja Keuangan PT Kresna Graha Investama Tbk. per kuartal 1/2018 vs Kuartail 1/2017

Dari pendapatan itu, Kresna Graha membukukan laba bersih sebesar Rp119,6 miliar, naik 71,4% dibanding kuartal 1/2017 yang sebesar Rp69,8 miliar. Pendapatan itu sebagian besar disumbangkan oleh segmen digital dan teknologi.

Dalam siaran pers yang diterima TechnoBusiness Indonesia, segmen digital dan teknologi perseroan menyumbangkan Rp801,5 miliar, 84,3% dari total pendapatan. Angka itu 70,2% lebih tinggi dibanding 2017.

Margin kotornya meningkat dari 1,7% menjadi 4,0% selama periode penghitungan. Lalu, total aset kuartalannya naik 6,7% menjadi Rp2,1 triliun dengan kas bersih naik 5,9% menjadi Rp610,6 miliar.

—Anwar Ibrahim, TechnoBusiness ID ● Foto-Foto: KREN

 

Rupiah Merosot, Apa “Obatnya”?

Jakarta, TechnoBusiness ID ● Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat merosot ke lebih dari Rp14.000 beberapa minggu terakhir. Sebagian analis mengatakan sebetulnya melemahnya mata uang Garuda itu tidak begitu mengagetkan karena sudah bisa diprediksi sebelumnya.

Baca Juga: AADC, Strategi Memenangkan Pasar Online

Pasalnya, semakin membaiknya perekonomian Paman Sam jelas akan mengeruk dolar lebih banyak. Penguatan itu tentu akan memengaruhi nilai tukar seluruh mata uang di dunia, termasuk rupiah, meskipun kondisi perekonomian makro cenderung terjaga.

Apresiasi dolar dan depresiasi rupiah kemungkinan masih akan terjadi beberapa waktu ke depan. Hal itu dipengaruhi oleh kenaikan suku bunga The Fed dan kebijakan Presiden Amerika Donald Trump yang memangkas pajak (tax cut) dan menggelorakan perang dagang.

Kongkow Bisnis Live PAS FM di Jakarta, Rabu (9/5).

Namun, depreasi itu tidak perlu dikhawatirkan, kata Bank Indonesia, karena volatilitasnya masih dalam batas aman. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Hariyadi Sukamdani berpendapat serupa, walaupun menurutnya pemerintah dan Bank Indonesia kurang mengantisipasi atas pelemahan itu.

Memang sekalipun sudah melebihi Rp14.000 per dolar Amerika, rupiah hanya terdepresiasi 3,3%, lebih rendah dibanding Rupee India, Peso Filipina, dan lain sebagainya. Euro, dolar Australia, dan dolar Singapura tidak lepas dari pengaruh penguatan dolar Amerika.

Dalam Kongkow Bisnis Live bertema “Rupiah Gonjang-Ganjing, Apa yang Bisa Dilakukan?” yang diselenggarakan radio bisnis PAS FM di Hotel Milenium, Jakarta, Rabu (9/5), Head of Economics and Research Finance and Corporate Service UOB Indonesia Enrico Tanuwidjaja mengatakan yang perlu dikhawatirkan adalah pembayaran dividen dan utang luar negeri, baik pemerintah maupun swasta.

Kekhawatiran masyarakat pasti terjadi, walaupun fundamental perekonomian saat ini lebih solid daripada 10 atau 20 tahun lalu. “Hal ini dapat dilihat dari peringkat layak investasi yang diberikan oleh tiga rating agensi kepada Indonesia,” ungkap Enrico.

Kalaupun saat ini terjadi net sell di pasar modal, bukan berarti langsung ditukar ke dolar. Enrico memprediksi kemungkinan dananya dialihkan ke pasar obligasi.

Sementara itu, Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada Tony Prasetiantono yang juga hadir dalam acara itu mengungkapkan sebaiknya Bank Indonesia tidak berpikir menyelesaikan ini dengan intervensi, mengingat cadangan devisa negara merosot cukup signifikan.

“Menaikkan suku bunga merupakan opsi yang harus segera ditempuh,” kata Tony. Negara lain pun sudah melakukannya. “Jika terlambat merespons akan menimbulkan biaya tambahan seperti terkurasnya cadangan devisa, yang nantinya malah akan membuat pasar semakin khawatir,” lanjutnya.

Opsi menaikkan BI rate dari 4,25% sepertinya memang hanya menunggu waktu. Bank Indonesia tampak hati-hati melakukannya mengingat inflasi yang menjadi salah satu indikator perekonomian tetap stabil di kisaran 3,5%, juga defisit transaksi berjalan masih di bawah 3% dari Produk Domestik Bruto. Jika Mei belum diputuskan naik, bisa jadi Juni 2018.●

—Ivan Darmawan, TechnoBusiness ID ● Foto-Foto: TechnoBusiness ID, PAS FM  

 

Strategi Baru Dongkrak Pendapatan Kresna Graha 803,2%

Jakarta, TechnoBusiness ID ● Manajemen PT Kresna Graha Investama Tbk. (IDX: KREN) sedang bahagia. Sebab, pendapatan perusahaan manajemen investasi finansial yang berbasis di Jakarta itu pada semester 1/2018 melonjak hingga 803,2% menjadi Rp2,11 triliun.

Baca Juga: Alasan Kresna Graha Berinvestasi di Matchmove Pay 

Padahal, dalam waktu yang sama tahun lalu, Kresna Graha hanya memperoleh pendapatan sebesar Rp234,1 miliar. Lantas, apa yang mendorong perusahaan tersebut mampu melipatgandakan pendapatannya?

Rupanya, keseriusan Kresna Graha masuk ke bisnis teknologilah jawabannya. Sejak beberapa tahun terakhir, Kresna masuk ke pasar yang sedang tumbuh dengan beragam cara, termasuk mengakuisisi sebagian kepemilikan perusahaan-perusahaan teknologi.

Kinerja keuangan PT Kresna Graha Investama Tbk. pada semester 1/2018

Selama enam bulan pertama tahun ini, Kresna Graha semakin fokus memperkaya ekosistem dan memberdayakan jaringan distribusi segmen digital, terutama hub pertukaran digital (digital exchange hubs), Internet of Things (IoT), dan Banking-as-a-Service (BaaS).

Dalam bisnis hub pertukaran digital, Kresna Graha berinvestasi di PT NFC Indonesia Tbk. (IDX: NFCX), perusahaan dengan bisnis utama pertukarang pulsa telepon digital (NFCX) dan media dan hiburan digital terprogram (OONA).

NFC, yang baru terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada 12 Juli 2018, kemudian masuk ke bisnis iklan awan digital (digital cloud advertising) dengan menanamkan investasinya di PT Digital Marketing Solution (DMS).

DMS memiliki 4.000 lebih tempat iklan dengan klien-klien besar seperti Djarum, Indomaret, Circle-K, The Bodyshop Indonesia, Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Awal tahun, Kresna Graha juga berinvestasi di PT Sistem Mikroelektronik Cerdas C-Desain (SMC), perusahaan teknologi IoT berupa Two-Way Prepaid Meter (Melinda) dengan akses pasar lebih dari 60 juta pelanggan potensial.

Selama enam bulan pertama tahun ini, Kresna Graha fokus memperkaya ekosistem dan memberdayakan jaringan distribusi segmen digital.

Tidak berhenti sampai di situ, Kresna Graha juga berinvestasi di Matchmove Pay Pte Ltd (MMP), perusahaan teknologi finansial (financial technology) asal Singapura yang telah menggandeng 50-an perusahaan di Asia Tenggara, India, Australia, dan Amerika Latin.

Anak perusahaan Kresna Graha yang bergerak di bidang teknologi Artificial Intelligence (AI), KPISoft Pte Ltd berkembang pesat di delapan negara dengan sederet klien seperti Zurich, TM, dan Sinarmas Group.

Lantas, PT Digital Artha Media (DAM Group) dan PT M Cash Integrasi Tbk. (IDX: MCAS), yang juga menjadi bagian dari Kresna Graha, tumbuh hingga memberdayakan 50.000-an usaha mikro dan kecil di seluruh Indonesia.

Jumlah kios MCAS terus bertambah dari 809 pada 2017 menjadi 1.700 pada kuartal 1/2018. Agen digitalnya membengkak dari 27.000 pada 2017 menjadi 36.000 pada kuartal 1/2018.

Fokus ke bisnis teknologi digital itulah yang kemudian mendatangkan pendapatan berkali lipat tersebut. Dari pendapatan itu, yang 87%-nya disumbang oleh segmen teknologi digital, Kresna Graha mengantongi laba bersih (net income) konsolidasian sebesar Rp165,2 miliar, naik 9,1% dari Rp151,4 miliar pada semester 1/2017.

Nilai asetnya yang pada semester 1/2017 tercatat sebesar Rp2,0 triliun, naik 29% menjadi Rp2,58 triliun. Pertumbuhan yang signifikan itu diyakini bakal terus berlanjut seiring dengan aksi korporasi Kresna Graha dan anak-anak perusahaannya ke depan.●

—Ivan Darmawan, TechnoBusiness ID ● Foto-Foto: Kresna Graha Investama

 

Fintopia pun Terpikat Pasar Indonesia

Jakarta, TechnoBusiness ID ● Perusahaan-perusahaan rintisan (startup) lahir dari sebuah ironi kemajuan pasar konvensional. Kelahirannya bertopang inovasi untuk mengisi celah yang ada.

Begitu pula dengan teknologi finansial (financial technology/fintech), hadir untuk menjembatani pasar yang selama ini tidak tersentuh perbankan dan lembaga pembiayaan lainnya.

Rendahnya akses ke perbankan dari sebagian besar populasi penduduk Indonesia itulah yang kemudian dilirik pula oleh perusahaan fintech asing, salah satunya Fintopia Inc.

Baca Juga: Hadapi Kecerdasan Buatan, CEO Harus Beradaptasi!

Fintopia merupakan perusahaan fintech asal China. Di Indonesia, Fintopia masuk dengan mendirikan anak usaha bernama PT Indonesia Fintopia Technology. Layanannya dinamakan EasyCash.

Menurut co-founder dan CEO Fintopia Liu Yongyan, perusahaannya ingin berkontribusi dalam pembangunan sektor keuangan yang inklusif di seluruh dunia.

“Kami secara khusus memperhatikan upaya pembangunan platform fintech yang berorientasi pasar teknologi agar bisa memenuhi kebutuhan pendanaan yang cepat, nyaman, dan mudah dijangkau.”

Sepertinya Fintopia tidak main-main dalam menggarap pasar Indonesia. Dalam waktu singkat, perusahaan langsung mendapatkan izin resmi dari Otoritas Jasa Keuangan.

Baca Juga: Mengenal Keunggulan Teknologi Sprint Digital 360

Beroperasinya Fintopia menambah daftar pasar yang dimasukinya. Pasar-pasar itu antara lain Hong Kong, Jepang, Thailand, dan Brazil, negara-negara di luar asal muasalnya.

Gerak cepat itu memang sudah menjadi ciri khas Fintopia, bahkan sejak sebelum lahir. Menurut sejarah, Fintopia dimulai dari secangkir kopi dua insinyur Facebook dan Microsoft yang kebetulan teman kuliah.

Dua insinyur itu, satu adalah Yongyan yang pernah bekerja di Google dan Facebook, satu lagi Bo Geng—saat ini bertindak sebagai co-founder sekaligus chief technology officer—dari Microsoft.

Seiring berkembangnya teknologi, keduanya menyadari kemampuan merek untuk membangun sistem analisis kredit generasi mutakhir. Sistem itu berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan mengubah cara orang untuk mendapatkan kredit ataupun berinvestasi.

Baca Juga: Setelah ValuKlik Diakuisisi Dentsu Aegis Network

Kesadaran itu kemudian secara cepat diejawantahkan menjadi Fintopia dan mulai beroperasi di Beijing pada September 2015. Sejak itu, Fintopia berkembang pesat dan memiliki banyak karyawan.

Sampai saat ini, Fintopia mempekerjakan sebanyak 260 karyawan yang menurut mereka kebanyakan berlatar pakar keuangan dari Wall Street dan ahli teknologi informasi asal Silicon Valley, California, Amerika Serikat.

Penggunanya, berdasarkan penjelasan di situs resminya, telah mencapai 17,3 juta orang. Dari jumlah itu, Fintopia menyalurkan pendanaan hingga ¥39,1 miliar.

Dalam menjalankan operasinya, Fintopia bekerja sama dengan empat mitra, antara lain Beijing Kunlun WanWei Technologies (SZA: 300418), Huaxia Bank Co Ltd (SHA: 600015), China International Capital Corp Ltd (HKG: 3908), dan Face.●

—Intan Wulandari, TechnoBusiness ID ● Foto: Fintopia

 

Cetak Penjualan Rp3,3 Triliun, Laba Bersih M Cash Naik 741,1%

Jakarta, TechnoBusiness IDPT M Cash Integrasi Tbk. (IDX: MCAS), perusahaan layanan kios digital yang didirikan pada 2010, berhasil mencetak penjualan senilai Rp3,3 triliun selama sembilan bulan pertama 2018.

Itu berarti, penjualan perusahaan yang melakukan penawaran saham perdana (initial public offering/IPO) pada awal November 2017 naik 300,5% dibanding setahun lalu.

Baca Juga: Mengawali Tahun Fiskal 2019, Microsoft Raup Pendapatan US$29,1 Miliar

Penjualan yang gemilang itu ditorehkan setelah M Cash per September sukses menambah titik distribusinya hingga 121,4% menjadi 43.853 dari 19.804 titik pada periode yang sama tahun lalu.

NFC sukses menambah pelanggan dari 918 pada Juni menjadi 1.800 pada September 2018.

Perluasan implementasi teknologi kios digital ke bidang logistik juga mendongkrak angka penjualan perusahaan.

Dalam merambah ke layanan logistik, M Cash berkolaborasi dengan perusahaan milik negara PT Pos Indonesia.

Kolaborasi itu menghasilkan layanan kemitraan multibiller POS PAY dan digital locker M-BOX POS. POS PAY mendistribusikan lebih dari 300 jenis produk biller PPOB melalui 4.800 jaringan kantor pos dan 40.000 agen pos.

Baca Juga: Strategi Jet Commerce Taklukkan Pasar E-commerce

Sementara itu, M-BOX POS, digital locker untuk pengiriman dan pengambilan barang logistik, memanfaatkan 24.000 titik layanan yang tersebar di seluruh Indonesia.

Sumbangsih Anak Perusahaan

Kinerja penjualan yang tumbuh tiga kali lipat pada tiga kuartal pertama 2018 juga tak luput dari kesuksesan PT NFC Indonesia Tbk. (IDX: NFCX), anak perusahaannya.

Kinerja Penjualan PT M Cash Integrasi Tbk. per September 2018

Sumber: PT M Cash Integrasi Tbk.

Sebagai penyedia bursa pulsa digital, NFC sukses menambah pelanggan dari 918 pada Juni menjadi 1.800 pada September 2018. Pertumbuhan pelanggan itu mencetak penjualan 16 kali lipat dari Rp44,1 miliar pada Juni menjadi Rp697,9 miliar pada September.

Di ranah bisnis media televisi digital, Oona TV yang dimiliki NFC berhasil menarik 1,4 juta pelanggan per 22 Oktober lalu, tiga bulan setelah peluncuran.

Baca Juga: Inilah Pendorong Laba Bersih NFC Melonjak 182 Kali Lipat

Lalu, lini bisnis digital cloud advertising-nya, yakni PT Digital Marketing Solution, menyumbang pendapatan sebesar Rp8,7 miliar dengan laba kotor Rp5,9 miliar.

Gowes, platform dan aplikasi bike-sharing yang diluncurkan pada Mei 2018, telah mencatatkan 18.000 pengguna aktif per September, naik dari 10.000 pengguna pada satu bulan sebelumnya.

Atas kinerja keuangan konsolidasi yang baik itu, menurut pernyataan resmi perusahaan yang diterima TechnoBusiness Indonesia pada Senin (29/10), M Cash meraup laba bersih sebesar Rp60,7 miliar, naik 741,1% dibanding setahun lalu.●

—Intan Wulandari, TechnoBusiness ID ● Foto: M Cash

 

Cryptology Masuk CoinMarketCap dan CoinGecko

Singapura, TechnoBusiness ● Bursa jual-beli mata uang digital (cryptocurrency) asal Singapura, Cryptology Exchange, melakukan pencatatan di situs pelacakan kripto terbesar di dunia, CoinMarketCap,  dan situs lainnya, yakni CoinGecko, Selasa (22/10).

Baca Juga: 1 dari 3 Orang Indonesia Tertarik Memiliki Kripto

Menurut Anton Kalinin, Chief Operating Officer Cryptology Exchange, pencatatan itu akan mempermudah komunitas kripto dalam mengakses informasi terbaru seperti volume perdagangan, perdagangan yang tersedia, harga tawaran terbaru, dan lain sebagainya.

Pencatatan itu akan mempermudah komunitas kripto dalam mengakses informasi terbaru.

“Kami dengan bangga mengumumkan daftar Cryptology Exchange yang banyak diantisipasi di CoinMarketCap dan CoinGecko,” ungkap Kalinin.

Sampai saat ini, bursa kripto yang didirikan di Negeri Merlion pada Agustus 2017 itu memiliki 38 token, termasuk Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), dan Stellar Lumens (XLM).

“Sebagai pertukaran komunitas-sentris, kami berusaha untuk terus membawa nilai bagi semua pengguna dan mendaftar di situs-situs besar ini barulah permulaan,” tambah Herbert Sim, Chief Marketing Officer Cryptology Exchange.

—Michael A. Kheilton, TechnoBusiness ● Foto: Cryptology Exchange

 

Transaksi Ilegal Turis China Merebak di Vietnam

Hanoi, TechnoBusiness ● Pembayaran elektronik lintas batas semakin nyata, tapi rupanya menimbulkan masalah di Vietnam. Seperti diketahui, toko-toko di negara paling timur di Semenanjung Indochina itu diam-diam mulai menggunakan mesin point-of-sale (POS) yang dikeluarkan pemerintah China.

Baca Juga: Jumienten, Chatbot Canggih dari Sprint Asia Technology

Toko-toko itu menyediakan fasilitas pembayaran untuk para pelancong dari China. Pembayaran berbasis kartu dan QR-Code tersebut dinilai sudah mengkhawatirkan karena tidak menggunakan Dong, tapi Yuan. Tentu saja hal itu mengundang reaksi otoritas Vietnam karena dianggap ilegal dan berpotensi menimbulkan kerugian pajak.

Kawasan wisata Ha Long Bay yang terkenal

Pada pertengahan Mei, misalnya, Pemerintah Kota Ha Long mendapati banyak transaksi di kawasan Pantai Ha Long Bay yang terkenal menggunakan mesin POS yang dikeluarkan China. Proses transaksi itu tanpa melalui sistem perbankan atau perantara pembayaran resmi di Vietnam. Nilai yang dicatatkan diperkirakan lebih dari RMB200.000.

Tentu saja itu juga merugikan Vimo, perantara pembayaran berlisensi pertama dan satu-satunya yang bermitra dengan WeChat Pay milik Tencent Holdings Limited dan Alipay keluaran Alibaba Group Holding Limited. “Baru-baru ini ada sejumlah bisnis milik China yang menggunakan mesin pembayaran POS atau e-wallet yang dikeluarkan di China untuk menerima pembayaran RMB dari turis China saat berdagang di wilayah Vietnam. Ini merupakan pelanggaran serius terhadap hukum Vietnam,” kata CEO Vimo Do Cong Dien.

Sebab, harga yang tercantum dan pembayaran yang diterima dalam mata uang asing di wilayah Vietnam menyebabkan aliran uang langsung dari kartu perbankan pembeli atau e-wallet ke penjual di China tanpa mengalir ke Vietnam. “Pola itu menghasilkan transaksi yang tidak terkendali dan kerugian pajak,” lanjut Dien.

Padahal, berdasarkan data dari Vietnam National Administration of Tourism, jumlah wisatawan China ke Vietnam melonjak drastis (39,7%). Selama empat bulan pertama 2018, pelancong dari Negeri Tirai Bambu itu mencapai 1,8 juta. Lalu, disusul Korea Selatan sebanyak hampir 1,2 juta (naik 67,3%). Pelancong kedua negara menguasai hampir 60% pelancong dari seluruh negara ke Vietnam.●

—Nguyen Tien Trang, TechnoBusiness/PRN ● Foto-Foto: GS1 Vietnam,

 

J Trust Bank Luncurkan Uang Elektronik

Jakarta, TechnoBusiness IDPT Bank J Trust Indonesia Tbk. (IDX: BCIC), perbankan yang bernaung di bawah J Trust Co Ltd asal Minato-ku, Tokyo, Jepang, meluncurkan uang elektronik berbasis server.

Dalam pengembangan uang elektronik yang dapat diunduh oleh nasabah dan masyarakat di Google Play dan iOS itu, J Trust Bank menggandeng PT Digital Artha Media (DAM) Corp., fintech enabler yang merupakan anak usaha PT Kresna Graha Investama Tbk. (IDX: KREN).

Baca Juga: Strategi Baru Dongkrak Pendapatan Kresna Graha 803,2%

Direktur J Trust Bank Rio Lanasier mengatakan penyediaan layanan uang elektronik J Trust Bank itu diharapkan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat yang semakin meminati transaksi pembayaran nontunai (cashless).

“Dengan uang elektronik ini diharapkan masyarakat dapat lebih nyaman dalam bertransaksi,” ungkap Rio dalam penandatanganan kerja sama di Jakarta, Rabu (1/8).

“Dengan uang elektronik ini diharapkan masyarakat dapat lebih nyaman dalam bertransaksi.”

—rio lanasier, direktur j trust bank indonesia

Peluncuran uang elektronik J Trust Bank tersebut juga bertujuan untuk mendukung Gerakan Nasional Non Tunai yang dikampanyekan oleh Bank Indonesia sejak beberapa tahun lalu.

Sebab, hingga saat ini ada sekitar 120 juta penduduk Indonesia yang masih belum memiliki rekening bank (unbanked). Dalam uang elektronik J Trust Bank, pengguna dapat memasukkan saldo sebesar Rp2 juta untuk unregistered dan Rp10 juta yang registered user.

“Kerja sama kami dengan J Trust Bank diharapkan mampu mempercepat adopsi teknologi digital dan mendorong akselerasi industri perbankan dalam menurunkan tingkat unbanked society serta menciptakan pemerataan ekonomi digital di Indonesia,” ungkap Izak Jenie, CEO DAM Corp.

Di Indonesia, J Trust Bank memiliki 47 kantor yang tersebar di kota-kota besar. Tahun ini, bank tersebut telah membuka tiga kantor cabang baru di Balikpapan, Pontianak, dan Lampung. Dua kantor lagi segera menyusul, yakni di Malang dan Cirebon.

Inovasi J Trust Bank itu diyakini berdampak positif terhadap kinerja perusahaan, meskipun penyediaan uang elektronik bukanlah hal baru bagi perbankan di Tanah Air. Bank-bank lain yang sudah lebih dulu meluncurkannya.●

—Anwar Ibrahim, TechnoBusiness ID ● Foto: J Trust Bank

 

Huobi MENA Resmi Bermitra dengan AI Trader

Dubai, Koin.Digital – Huobi MENA, ekosistem perdagangan aset digital global yang menjadi bagian dari Huobi Group asal Singapura, resmi bekerja sama dengan AI Trader. 

AI Trader merupakan penyedia platform perdagangan koin digital canggih berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Kerja sama kedua perusahaan itu ditandai dengan peluncuran mode perdagangan koin digital berkecerdasan hibrida (hybrid intelligence trading) yang dipadukan dengan platform mutakhir MENA di Dubai, Uni Emirat Arab, pada Kamis (1/11).

Artikel selengkapnya silakan klik Koin.Digital, TechnoBusiness Media Network

 

Rizal Ramli: Kebijakan Pengetatan Anggaran Justru Memperlambat Perekonomian

TechnoBusiness TVDr. Rizal Ramli, mantan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, menilai kebijakan pemerintah dalam menangani gejolak perekonomian nasional dengan melakukan pengetatan anggaran tidak tepat.

Simak Juga: Erick Hadi Talked About Hard Choice in His Life and Career

Rizal mengatakan kebijakan pengetatan anggaran justru akan semakin memperlambat pergerakan perekonomian nasional. Ia mencontohkan kebijakan serupa pernah dilakukan di banyak negara, tapi tidak ada yang berhasil.

“Bahkan, negara maju pun tidak mau melakukan itu,” ungkap ekonom senior itu di Kongkow Bisnis Pas FM, Hotel Ibis Harmoni, Jakarta, Rabu (26/9). Berikut penjelasannya.●

—Ivan Darmawan, TechnoBusiness ID ● Video: TechnoBusiness TV