1 dari 3 Orang Indonesia Tertarik Memiliki Kripto

Jakarta, TechnoBusiness ID ● Sebanyak 63% masyarakat Indonesia telah mengetahui tentang mata uang digital (cryptocurrency). Kesadaran masyarakat itu tergolong yang paling tinggi di dunia mengalahkan negara-negara lain seperti Malaysia, Prancis, Italia, dan Irlandia.

Persentase itu dihitung dari 1.000 responden lokal berusia 18 tahun ke atas yang disurvei oleh Kantar TNS (sebelumnya dikenal sebagai Taylor Nelson Sofres/TNS), firma riset pasar yang berbasis di London, Inggris. Survei dilakukan pada Juni lalu.

Dari total responden juga diketahui 1 dari 4 orang sudah memiliki mata uang kripto dan 1 dari 3 orang tertarik untuk memilikinya. Kantar TNS menyatakan 84% orang tertarik memiliki kripto untuk tujuan investasi.

Baca Juga: Inilah 100 Universitas Paling Inovatif di Dunia 2018 

Mereka (87%) yang menjadikan kripto sebagai produk investasi mayoritas pria, sedangkan 47% wanita menyatakannya sebagai alat pembayaran di internet. Sebanyak 47% orang setuju jika kripto merupakan produk investasi yang aman.

(Catatan Redaksi TechnoBusiness Indonesia: Mata uang kripto sebagai produk investasi masih menjadi ajang perdebatan. Bank Indonesia juga masih melarang penggunaan mata uang kripto sebagai alat pembayaran).

Oleh sebab itu, menurut Kanta Nandana, Country Manager Luno Indonesia, penyedia platform jual-beli kripto global yang berkantor pusat di London, kripto berpotensi besar untuk diadopsi di Indonesia.

“Adopsi itu bisa memanfaatkan kripto sebagai alat investasi serta instrumen untuk menyimpan dan mentransfer dana,” ungkap Kanta kepada media di Jakarta, Selasa (16/10).

Baca Juga: Mengenal Crowde, Platform untuk Permodalan Petani

Sebagai platform jual-beli kripto, Luno menawarkan tingkat keamanan terbaik. “Kami ingin menjadi pilihan nomor satu bagi orang-orang Indonesia untuk memiliki Bitcoin pertama mereka,” lanjut Kanta.

Untuk diketahui, Luno berdiri di Singapura pada 2013 dengan nama BitX. Pada 2017, BitX berganti nama menjadi Luno dan memperkuat pasarnya di Eropa. Sampai saat ini, Luno telah memperoleh pendanaan sebesar US$13,8 juta.

Putaran pendanaan terbaru diperoleh pada September 2017 dari tiga pemodal ventura yang dipimpin oleh Balderton Capital Group senilai US$9 juta. Investasi lain berasal dari Venturra Capital, PayU, Digital Currency Group, dan AlphaCode Club.

Setiap hari Luno mentransaksikan 50-70 Bitcoin dan Ethereum dari jumlah total 2 juta pengguna Luno secara global yang ditargetkan naik jadi 1 miliar pengguna pada 2025. Indonesia menyumbang 15% dari seluruh jumlah pengguna tersebut.●

—Intan Wulandari, TechnoBusiness ID ● Foto: TechnoBusiness ID

 

Erani Yustika: Ada Lima Urusan Inti Bidang Ekonomi yang Dikerjakan Pemerintah

TechnoBusiness TV ● Pemerintah telah mengerjakan lima urusan inti yang terkait dalam bidang ekonomi nasional selama empat tahun ini.

Demikian dikatakan oleh Prof. Dr. Ahmad Erani Yustika, staf khusus bidang ekonomi kepresidenan, di Kongkow Bisnis PAS FM, Hotel Ibis Harmoni, Jakarta, Rabu (26/9).

Untuk mengetahui apa saja lima urusan inti itu, simak penjelasan Erani tersebut berikut ini. Kunjungi pula TechnoBusiness TV Channel di YouTube.●

Rizal Ramli: Kebijakan Pengetatan Anggaran Justru Memperlambat Perekonomian

TechnoBusiness TVDr. Rizal Ramli, mantan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, menilai kebijakan pemerintah dalam menangani gejolak perekonomian nasional dengan melakukan pengetatan anggaran tidak tepat.

Simak Juga: Erick Hadi Talked About Hard Choice in His Life and Career

Rizal mengatakan kebijakan pengetatan anggaran justru akan semakin memperlambat pergerakan perekonomian nasional. Ia mencontohkan kebijakan serupa pernah dilakukan di banyak negara, tapi tidak ada yang berhasil.

“Bahkan, negara maju pun tidak mau melakukan itu,” ungkap ekonom senior itu di Kongkow Bisnis Pas FM, Hotel Ibis Harmoni, Jakarta, Rabu (26/9). Berikut penjelasannya.●

—Ivan Darmawan, TechnoBusiness ID ● Video: TechnoBusiness TV

 

AgroFresh, Penjaga Kualitas Pangan untuk Konsumen

Philadelphia, TechnoBusiness ● Selama ini, produk pertanian sering kali dihargai murah ketika pasokannya melimpah dan sebaliknya ketika jauh dari musim panen. Tak ayal, biaya petani untuk menanam yang nilainya tidak sedikit acap sulit kembali.

Tidak hanya itu, para petani justru mendapati produk pangannya membusuk saat hendak didistribusikan. Limbah produk segar pertanian pun melimpah, yang jelas menjadi kerugian yang nyata bagi petani.

Baca Juga: Ketika Smartfren Tak Mau Ketinggalan Kaum Milenial

Guna menjawab persoalan itu, AgroFresh Solutions Inc. (Nasdaq: AGFS), perusahaan penyedia solusi terintegrasi produk pangan yang berbasis di Philadelphia, Pennsylvania, Amerika Serikat, baru saja memperkenalkan teknologi FreshCloud Storage Insights.

FreshCloud Storage Insights merupakan satu dari tiga penawaran FreshCloud, platform untuk memprediksi produk pertanian, proses pengepakan, hingga pengelolaan ke pengecer.

“FreshCloud Storage Insights menggunakan teknologi sensor dan analitik eksklusif untuk memberikan visibilitas dan data tentang kesehatan produk di dalam ruang penyimpanan, sehingga memungkinkan pelanggan kami membuat keputusan yang lebih cerdas dan lebih tepat waktu,” ungkap Dan MacLean, pemimpin penelitian dan pengembangan global AgroFresh.

Baca Juga: Selamat Datang Selfin, Penantang Baru Facebook

Ia menjelaskan bahwa buang sering disimpan di ruang dingin selama berbulan-bulan dengan sedikit wawasan sampai dibuka dan dikonsumsi. Storage Insights memecahkan masalah yang sudah lama dihadapi petani dan pengecer tersebut.

CEO AgroFresh Jordi Ferre mengatakan FreshCloud Storage menjadi cara terbaru dalam membantu pelanggan mengatasi hambatan atas produk berkualitas tinggi kepada konsumen. Pelanggan dapat mengakses data ruang penyimpanan di platform FreshCloud.

Dengan begitu, produk pangan, semisal buah-buahan, dapat disimpan dengan baik dan kemudian didistribusikan tepat waktu tanpa mengabaikan kualitasnya. Saat ini, AgroFresh memiliki 25.000 ruang penyimpanan yang tersebar di 45 negara.●

—Philips C. Rubin, TechnoBusiness/PRN ● Foto: AgroFresh

 

Waspadalah, Ekonomi Global Tahun Depan Lebih Buruk

TechnoBusiness Insight ● Ekonomi global kembali berguncang, bahkan lebih parah dari biasanya. Risiko yang ditimbulkan pun meningkat sejak Mei lalu, terutama disebabkan oleh ketegangan antara Amerika Serikat, China, dan Uni Eropa dalam perdagangan antarnegara.

Risiko itu tidak boleh dianggap main-main karena sudah mengarah kepada krisis ekonomi baru. Menurut laporan periset pasar Euromonitor International yang baru saja dirilis, pemilihan pemerintah di Italia telah meningkatkan risiko guncangan Zona Euro.

Baca Juga: Telkom Merek Termahal Indonesia 2018

Euromonitor memperkirakan guncangan Zona Euro itu dapat membahayakan stabilitas keuangan kawasan. Inggris pasca-Brexit yang tak kunjung tenang menambah gejolak di Barat. Krisis Turki di Timur Tengah juga memicu kekhawatiran penularan ke negara-negara berkembang lainnya.

Untuk itu, Pendapatan Domestik Bruto (PDB) negara-negara maju sekalipun tahun depan diperkirakan turun. Dalam laporan yang dirilis pada Senin (17/9), PDB Amerika yang tahun ini tumbuh 2,7% dibanding tahun lalu, akan turun menjadi 2,6% pada tahun depan.

PDB Zona Euro yang pada 2018 tercatat tumbuh 2,1% akan turun 0,2% menjadi 1,8%. PDB Jepang, negara maju di belahan Asia, juga turun dari 1,1% pada tahun ini menjadi 1,0% pada tahun depan.

Yang meningkat sedikit justru PDB Inggris. Setelah ekonominya terseok akibat ketidakpastian pasca-Brexit, PDB Inggris justru naik dari 1,2% tahun ini menjadi 1,3% tahun depan. Negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, akan menghadapi tantangan yang tak kalah kuat—dan berisiko.●

Teks: TechnoBusiness Insight

Data: Euromonitor International

Grafis: TechnoBusiness Insight, Euromonitor International

 

Fintopia pun Terpikat Pasar Indonesia

Jakarta, TechnoBusiness ID ● Perusahaan-perusahaan rintisan (startup) lahir dari sebuah ironi kemajuan pasar konvensional. Kelahirannya bertopang inovasi untuk mengisi celah yang ada.

Begitu pula dengan teknologi finansial (financial technology/fintech), hadir untuk menjembatani pasar yang selama ini tidak tersentuh perbankan dan lembaga pembiayaan lainnya.

Rendahnya akses ke perbankan dari sebagian besar populasi penduduk Indonesia itulah yang kemudian dilirik pula oleh perusahaan fintech asing, salah satunya Fintopia Inc.

Baca Juga: Hadapi Kecerdasan Buatan, CEO Harus Beradaptasi!

Fintopia merupakan perusahaan fintech asal China. Di Indonesia, Fintopia masuk dengan mendirikan anak usaha bernama PT Indonesia Fintopia Technology. Layanannya dinamakan EasyCash.

Menurut co-founder dan CEO Fintopia Liu Yongyan, perusahaannya ingin berkontribusi dalam pembangunan sektor keuangan yang inklusif di seluruh dunia.

“Kami secara khusus memperhatikan upaya pembangunan platform fintech yang berorientasi pasar teknologi agar bisa memenuhi kebutuhan pendanaan yang cepat, nyaman, dan mudah dijangkau.”

Sepertinya Fintopia tidak main-main dalam menggarap pasar Indonesia. Dalam waktu singkat, perusahaan langsung mendapatkan izin resmi dari Otoritas Jasa Keuangan.

Baca Juga: Mengenal Keunggulan Teknologi Sprint Digital 360

Beroperasinya Fintopia menambah daftar pasar yang dimasukinya. Pasar-pasar itu antara lain Hong Kong, Jepang, Thailand, dan Brazil, negara-negara di luar asal muasalnya.

Gerak cepat itu memang sudah menjadi ciri khas Fintopia, bahkan sejak sebelum lahir. Menurut sejarah, Fintopia dimulai dari secangkir kopi dua insinyur Facebook dan Microsoft yang kebetulan teman kuliah.

Dua insinyur itu, satu adalah Yongyan yang pernah bekerja di Google dan Facebook, satu lagi Bo Geng—saat ini bertindak sebagai co-founder sekaligus chief technology officer—dari Microsoft.

Seiring berkembangnya teknologi, keduanya menyadari kemampuan merek untuk membangun sistem analisis kredit generasi mutakhir. Sistem itu berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan mengubah cara orang untuk mendapatkan kredit ataupun berinvestasi.

Baca Juga: Setelah ValuKlik Diakuisisi Dentsu Aegis Network

Kesadaran itu kemudian secara cepat diejawantahkan menjadi Fintopia dan mulai beroperasi di Beijing pada September 2015. Sejak itu, Fintopia berkembang pesat dan memiliki banyak karyawan.

Sampai saat ini, Fintopia mempekerjakan sebanyak 260 karyawan yang menurut mereka kebanyakan berlatar pakar keuangan dari Wall Street dan ahli teknologi informasi asal Silicon Valley, California, Amerika Serikat.

Penggunanya, berdasarkan penjelasan di situs resminya, telah mencapai 17,3 juta orang. Dari jumlah itu, Fintopia menyalurkan pendanaan hingga ¥39,1 miliar.

Dalam menjalankan operasinya, Fintopia bekerja sama dengan empat mitra, antara lain Beijing Kunlun WanWei Technologies (SZA: 300418), Huaxia Bank Co Ltd (SHA: 600015), China International Capital Corp Ltd (HKG: 3908), dan Face.●

—Intan Wulandari, TechnoBusiness ID ● Foto: Fintopia

 

Zahir Alokasikan Rp100 Miliar untuk Fintech Syariah

Jakarta, TechnoBusiness ID ● Bisnis penyaluran modal lewat teknologi finansial (financial technology) memang seksi. Itu sebabnya, perusahaan-perusahaan, baik rintisan maupun yang sudah besar, berlomba-lomba melahirkan aplikasi fintech.

Berdasarkan data dari Asosiasi Fintech Indonesia, jumlah perusahaan fintech per 2017 mencapai 235. Menginjak 2018, jumlahnya sudah bertambah cukup banyak, bahkan ada yang menyebutkan hingga 600-an perusahaan.

Hari ini, TechnoBusiness Indonesia baru saja menerima pengumuman resmi dari PT Zahir Internasional yang mengatakan bahwa perusahaan meluncurkan fintech syariah dengan nama Zahir Capital Hub.

Baca Juga: Teknologi dan Tumpuan Tiens Selanjutnya

Untuk menyediakan layanan itu, Zahir bekerja sama dengan perusahaan fintech syariah lainnya, yakni Alami, Asy-Syirkah, Ethis, dan Kapital Boost. Perusahaan yang sudah berdiri sejak lebih dari 20 tahun lalu itu tak main-main dan menyatakan siap mengucurkan modal hingga Rp100 miliar untuk bisnis barunya tersebut.

“Zahir Capital Hub hadir untuk menjawab perkembangan teknologi yang luar biasa di bidang teknologi finansial,” kata Muhamad Ismail, CEO Zahir Internasional. “Zahir punya potensi besar untuk meraih sukses di industri fintech.”

Apa yang dikatakan Muhamad sepertinya tak terlalu muluk-muluk. Sebab, sebagai pengembang aplikasi bisnis yang sebagian kliennya berskala usaha kecil menengah, Zahir akan dengan mudah menggaet pelanggan untuk bisnis barunya tersebut.

Baca Juga: Salim Group Tanamkan Investasi Strategis di Youtap

Zahir mengambil jalan penyaluran pinjaman secara syariah karena beberapa alasan. Pertama, kata Muhamad, sifatnya yang transparan atau terbuka. Kedua, menguntungkan semua pihak yang terlibat. Ketiga, menggunakan sistem bagi hasil.

“Ini menjadi layanan pintar dan mudah bagi perusahaan untuk mendapatkan investasi permodalan dari fintech syariah yang kredibel dan tepercaya,” ungkap Muhamad.

Dalam menjalankan bisnisnya, Zahir pun sudah tergabung dalam Asosiasi Fintech Syariah Indonesia dan telah mengantongi izin Otoritas Jasa Keuangan. Ketua Asosiasi Fintech Syariah Indonesia Ronald Yusuf menyatakan potensi pasar fintech syariah memang menggiurkan.

“Hal itu karena Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbanyak dan dengan jumlah pengguna internet yang sangat besar,” ujar Ronald di sela-sela Konferensi Keuangan Syariah ke-3 di Makassar, Sulawesi Selatan. “Kehadiran Zahir Capital Hub sangat positif.”●

—Ivan Darmawan, TechnoBusiness ID ● Foto: Zahir

 

J Trust Bank Luncurkan Uang Elektronik

Jakarta, TechnoBusiness IDPT Bank J Trust Indonesia Tbk. (IDX: BCIC), perbankan yang bernaung di bawah J Trust Co Ltd asal Minato-ku, Tokyo, Jepang, meluncurkan uang elektronik berbasis server.

Dalam pengembangan uang elektronik yang dapat diunduh oleh nasabah dan masyarakat di Google Play dan iOS itu, J Trust Bank menggandeng PT Digital Artha Media (DAM) Corp., fintech enabler yang merupakan anak usaha PT Kresna Graha Investama Tbk. (IDX: KREN).

Baca Juga: Strategi Baru Dongkrak Pendapatan Kresna Graha 803,2%

Direktur J Trust Bank Rio Lanasier mengatakan penyediaan layanan uang elektronik J Trust Bank itu diharapkan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat yang semakin meminati transaksi pembayaran nontunai (cashless).

“Dengan uang elektronik ini diharapkan masyarakat dapat lebih nyaman dalam bertransaksi,” ungkap Rio dalam penandatanganan kerja sama di Jakarta, Rabu (1/8).

“Dengan uang elektronik ini diharapkan masyarakat dapat lebih nyaman dalam bertransaksi.”

—rio lanasier, direktur j trust bank indonesia

Peluncuran uang elektronik J Trust Bank tersebut juga bertujuan untuk mendukung Gerakan Nasional Non Tunai yang dikampanyekan oleh Bank Indonesia sejak beberapa tahun lalu.

Sebab, hingga saat ini ada sekitar 120 juta penduduk Indonesia yang masih belum memiliki rekening bank (unbanked). Dalam uang elektronik J Trust Bank, pengguna dapat memasukkan saldo sebesar Rp2 juta untuk unregistered dan Rp10 juta yang registered user.

“Kerja sama kami dengan J Trust Bank diharapkan mampu mempercepat adopsi teknologi digital dan mendorong akselerasi industri perbankan dalam menurunkan tingkat unbanked society serta menciptakan pemerataan ekonomi digital di Indonesia,” ungkap Izak Jenie, CEO DAM Corp.

Di Indonesia, J Trust Bank memiliki 47 kantor yang tersebar di kota-kota besar. Tahun ini, bank tersebut telah membuka tiga kantor cabang baru di Balikpapan, Pontianak, dan Lampung. Dua kantor lagi segera menyusul, yakni di Malang dan Cirebon.

Inovasi J Trust Bank itu diyakini berdampak positif terhadap kinerja perusahaan, meskipun penyediaan uang elektronik bukanlah hal baru bagi perbankan di Tanah Air. Bank-bank lain yang sudah lebih dulu meluncurkannya.●

—Anwar Ibrahim, TechnoBusiness ID ● Foto: J Trust Bank

 

Strategi Baru Dongkrak Pendapatan Kresna Graha 803,2%

Jakarta, TechnoBusiness ID ● Manajemen PT Kresna Graha Investama Tbk. (IDX: KREN) sedang bahagia. Sebab, pendapatan perusahaan manajemen investasi finansial yang berbasis di Jakarta itu pada semester 1/2018 melonjak hingga 803,2% menjadi Rp2,11 triliun.

Baca Juga: Alasan Kresna Graha Berinvestasi di Matchmove Pay 

Padahal, dalam waktu yang sama tahun lalu, Kresna Graha hanya memperoleh pendapatan sebesar Rp234,1 miliar. Lantas, apa yang mendorong perusahaan tersebut mampu melipatgandakan pendapatannya?

Rupanya, keseriusan Kresna Graha masuk ke bisnis teknologilah jawabannya. Sejak beberapa tahun terakhir, Kresna masuk ke pasar yang sedang tumbuh dengan beragam cara, termasuk mengakuisisi sebagian kepemilikan perusahaan-perusahaan teknologi.

Kinerja keuangan PT Kresna Graha Investama Tbk. pada semester 1/2018

Selama enam bulan pertama tahun ini, Kresna Graha semakin fokus memperkaya ekosistem dan memberdayakan jaringan distribusi segmen digital, terutama hub pertukaran digital (digital exchange hubs), Internet of Things (IoT), dan Banking-as-a-Service (BaaS).

Dalam bisnis hub pertukaran digital, Kresna Graha berinvestasi di PT NFC Indonesia Tbk. (IDX: NFCX), perusahaan dengan bisnis utama pertukarang pulsa telepon digital (NFCX) dan media dan hiburan digital terprogram (OONA).

NFC, yang baru terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada 12 Juli 2018, kemudian masuk ke bisnis iklan awan digital (digital cloud advertising) dengan menanamkan investasinya di PT Digital Marketing Solution (DMS).

DMS memiliki 4.000 lebih tempat iklan dengan klien-klien besar seperti Djarum, Indomaret, Circle-K, The Bodyshop Indonesia, Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Awal tahun, Kresna Graha juga berinvestasi di PT Sistem Mikroelektronik Cerdas C-Desain (SMC), perusahaan teknologi IoT berupa Two-Way Prepaid Meter (Melinda) dengan akses pasar lebih dari 60 juta pelanggan potensial.

Selama enam bulan pertama tahun ini, Kresna Graha fokus memperkaya ekosistem dan memberdayakan jaringan distribusi segmen digital.

Tidak berhenti sampai di situ, Kresna Graha juga berinvestasi di Matchmove Pay Pte Ltd (MMP), perusahaan teknologi finansial (financial technology) asal Singapura yang telah menggandeng 50-an perusahaan di Asia Tenggara, India, Australia, dan Amerika Latin.

Anak perusahaan Kresna Graha yang bergerak di bidang teknologi Artificial Intelligence (AI), KPISoft Pte Ltd berkembang pesat di delapan negara dengan sederet klien seperti Zurich, TM, dan Sinarmas Group.

Lantas, PT Digital Artha Media (DAM Group) dan PT M Cash Integrasi Tbk. (IDX: MCAS), yang juga menjadi bagian dari Kresna Graha, tumbuh hingga memberdayakan 50.000-an usaha mikro dan kecil di seluruh Indonesia.

Jumlah kios MCAS terus bertambah dari 809 pada 2017 menjadi 1.700 pada kuartal 1/2018. Agen digitalnya membengkak dari 27.000 pada 2017 menjadi 36.000 pada kuartal 1/2018.

Fokus ke bisnis teknologi digital itulah yang kemudian mendatangkan pendapatan berkali lipat tersebut. Dari pendapatan itu, yang 87%-nya disumbang oleh segmen teknologi digital, Kresna Graha mengantongi laba bersih (net income) konsolidasian sebesar Rp165,2 miliar, naik 9,1% dari Rp151,4 miliar pada semester 1/2017.

Nilai asetnya yang pada semester 1/2017 tercatat sebesar Rp2,0 triliun, naik 29% menjadi Rp2,58 triliun. Pertumbuhan yang signifikan itu diyakini bakal terus berlanjut seiring dengan aksi korporasi Kresna Graha dan anak-anak perusahaannya ke depan.●

—Ivan Darmawan, TechnoBusiness ID ● Foto-Foto: Kresna Graha Investama

 

Transaksi Ilegal Turis China Merebak di Vietnam

Hanoi, TechnoBusiness ● Pembayaran elektronik lintas batas semakin nyata, tapi rupanya menimbulkan masalah di Vietnam. Seperti diketahui, toko-toko di negara paling timur di Semenanjung Indochina itu diam-diam mulai menggunakan mesin point-of-sale (POS) yang dikeluarkan pemerintah China.

Baca Juga: Jumienten, Chatbot Canggih dari Sprint Asia Technology

Toko-toko itu menyediakan fasilitas pembayaran untuk para pelancong dari China. Pembayaran berbasis kartu dan QR-Code tersebut dinilai sudah mengkhawatirkan karena tidak menggunakan Dong, tapi Yuan. Tentu saja hal itu mengundang reaksi otoritas Vietnam karena dianggap ilegal dan berpotensi menimbulkan kerugian pajak.

Kawasan wisata Ha Long Bay yang terkenal

Pada pertengahan Mei, misalnya, Pemerintah Kota Ha Long mendapati banyak transaksi di kawasan Pantai Ha Long Bay yang terkenal menggunakan mesin POS yang dikeluarkan China. Proses transaksi itu tanpa melalui sistem perbankan atau perantara pembayaran resmi di Vietnam. Nilai yang dicatatkan diperkirakan lebih dari RMB200.000.

Tentu saja itu juga merugikan Vimo, perantara pembayaran berlisensi pertama dan satu-satunya yang bermitra dengan WeChat Pay milik Tencent Holdings Limited dan Alipay keluaran Alibaba Group Holding Limited. “Baru-baru ini ada sejumlah bisnis milik China yang menggunakan mesin pembayaran POS atau e-wallet yang dikeluarkan di China untuk menerima pembayaran RMB dari turis China saat berdagang di wilayah Vietnam. Ini merupakan pelanggaran serius terhadap hukum Vietnam,” kata CEO Vimo Do Cong Dien.

Sebab, harga yang tercantum dan pembayaran yang diterima dalam mata uang asing di wilayah Vietnam menyebabkan aliran uang langsung dari kartu perbankan pembeli atau e-wallet ke penjual di China tanpa mengalir ke Vietnam. “Pola itu menghasilkan transaksi yang tidak terkendali dan kerugian pajak,” lanjut Dien.

Padahal, berdasarkan data dari Vietnam National Administration of Tourism, jumlah wisatawan China ke Vietnam melonjak drastis (39,7%). Selama empat bulan pertama 2018, pelancong dari Negeri Tirai Bambu itu mencapai 1,8 juta. Lalu, disusul Korea Selatan sebanyak hampir 1,2 juta (naik 67,3%). Pelancong kedua negara menguasai hampir 60% pelancong dari seluruh negara ke Vietnam.●

—Nguyen Tien Trang, TechnoBusiness/PRN ● Foto-Foto: GS1 Vietnam,