Akibat Perang Dagang, GoPro Tinggalkan China



California, TechnoBusiness ● GoPro Inc. (Nasdaq: GPRO) mengumumkan akan memindahkan sebagian besar basis produksi kameranya dari China pada musim panas 2019.

Produsen kamera aksi eponymous dan perangkat lunak penyuntingan video yang berbasis di San Mateo, California, Amerika Serikat, itu secara terang-terangan menyatakan pemindahan basisproduksinya itu untuk menghindari pengenaan tarif baru.

“Lingkungan bisnis geopolitik saat ini membutuhkan kelincahan, dan kami secara proaktif menangani masalah tarif dengan memindahkan sebagian besar produksi kamera Amerika yang terikat keluar dari China,” kata Brian McGee, Executive Vice President dan Chief Financial Officer GoPro.

Baca Juga: Bulan Madu Baim-Paula Disponsori Booking.com

McGee menambahkan, “Kami percaya pendekatan diversifikasi produksi ini dapat menguntungkan bisnis kami tanpa menghiraukan implikasi tarif.”

Penting untuk dicatat, McGee menegaskan, GoPro memiliki basis produksi sendiri, sedangkan mitra manufakturnya hanya menyediakan fasilitas. Jadi, pemindahan pabrik tidak terlalu sulit, dan “Kami berharap dapat melakukannya dengan biaya yang relatif rendah.”

Sayangnya, GoPro masih tertutup soal lokasi baru yang akan menjadi basis produksinya. Namun, perusahaan yang pada 2017 meraup pendapatan sebesar US$1,18 miliar itu menyatakan produksi internasionalnya tetap di Negeri Panda.

Baca Juga: Jakarta Bukan Tujuan Utama Wisata Dunia

GoPro, yang akan menampilkan jajaran kamera Hero7, termasuk Hero7 Black 399 yang paling laris, di Consumer Electronics Show, Las Vegas, 8-11 Januari nanti, per kuartal 2018 membukukan pendapatan US$286 juta, turun 13,3% dibanding periode yang sama tahun lalu.

Di Amerika, menurut periset pasar NFD, GoPro sukses menguasai 96% pangsapasar kamera aksi. Untuk pasar kamera Eropa di atas US$150, menurut periset pasar GfK, GoPro memperoleh pangsa pasar 84%.

Di Jepang, GoPro meraih pangsa pasar 58%, di Korea 47%. Layanan GoPro Plus diikuti oleh 185.000 pelanggan, naik 16% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

—Philips C. Rubin, TechnoBusiness ● Foto: GoPro

Di Balik Filosofi Logo Baru Realme

Jakarta, TechnoBusiness ID Realme, merek kedua (second brand) dari vendor ponsel pintar (smartphone) Oppo, hadir ke pasar ponsel pintar online Asia baru enam bulan didirikan, tapi kenapa sudah mengubah logonya?

Perubahan logo itu diumumkan Realme pada Kamis (15/11). Semula logo Realme berupa tulisan “real” berwarna merah dan “me” berwarna hitam. Kini, tulisan realme dibalut kotak warna kuning.

Baca Juga: Rahasia Realme Raup Rp33 Miliar dalam 3 Menit

Warna kuning keemasan yang disematkan mewakili kekuatan, gaya, modernitas, dan muda.

Warna kuning keemasan yang disematkan mewakili kekuatan, gaya, modernitas, dan muda.

Lebih dari itu, dalam budaya Timur dan Barat, berarti pula positivisme, optimisme, keramahan, dan energi emosional, kebijaksanaan, harmoni, dan kemakmuran.

Warna tambahan abu-abu mewakili profesionalisme, ketenangan, dan inklusivitas. Warna tambahan lain ada hitam dan putih klasik.

Logo baru itu dirancang oleh Pentagram, perusahaan konsultan desain ternama dunia. Eddie Opara, Chief of Design Pentagram, menjelaskan, logo “R” pada “Realme Yellow” merupakan representasi artistik dan pengaruh yang baik dari identitas merek.

Baca Juga: Membaca Arah Realme, “Second Brand” Oppo

Selain itu, juga mengandung visi Realme yang ingin menjadi Proud to be Young, simbol harapan bagi anak muda di seluruh dunia.

Setidaknya, dalam enam bulan kelahirannya, Realme telah hadir di India, Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, Kamboja, Timur Tengah, dan Afrika Selatan. Logo baru itu akan segera diluncurkan di negara-negara tersebut.

“Realme berharap menciptakan simbol bagi kaum muda melalui logo baru yang dapat mereka identifikasi dan menjadi simbol visual dari identitas dan emosional mereka,” ungkap Sky Li, Sky Li, Chief Executive Officer and Founder Realme.●

—Intan Wulandari, TechnoBusiness ID ● Foto: Realme

 

Rahasia Realme Raup Rp33 Miliar dalam 3 Menit

Jakarta, TechnoBusiness IDRealme merupakan merek ponsel pintar (smartphone) baru di pasar global, apalagi di Indonesia. Tapi, merek kedua (second brand) dari Oppo asal China itu langsung diterima pasar dengan baik.

Begitu Realme 1 diluncurkan pertama kali di India melalui Amazon India, pasar ponsel pintar terbesar kedua setelah Tirai Bambu, pada September lalu, Realme 2 pun sukses dipasarkan di Indonesia pada awal Oktober ini.

Baca Juga: Membaca Arah Realme, “Second Brand” Oppo

Berdasarkan data yang disampaikan Realme South East Asia, Realme 2 yang ditawarkan di Lazada Indonesia terjual 15.000 unit hanya dalam waktu 10 menit. Realme 2 Pro pun terjual 10.600 unit dalam tiga menit.

Itu berarti, dalam tiga menit penjualan Realme 2 Pro, Realme meraup Rp33 miliar. Angka itu diperoleh dari jajaran produk Realme 2 Pro yang dibanderol mulai dari Rp2,89-3,69 juta.

Kami telah melakukan penelitian secara ekstensif selama bertahun-tahun sehingga kami mengetahui hal yang lebih baik dan memiliki strategi produk yang lebih jelas.

Penetapan harga (pricing) itulah yang menjadi salah satu strategi Realme. Dengan range harga itu, Realme masuk ke segmen pasar kelas menengah. Di segmen pasar yang sama ada Honor keluaran Huawei, Pocophone dari Xiaomi, dan lain sebagainya.

Sama seperti merek-merek rival tersebut, Realme menawarkan spesifikasi yang tinggi tapi dengan harga yang lebih terjangkau. Merek-merek utama mereka semakin menyasar segmen yang lebih tinggi lagi, misalnya di harga Rp4,5-7 jutaan.

Supaya menarik pasar, Realme menghadirkan Realme 2 Pro dengan desain menawan berlayar penuh lengkap Dewdrop Super-View. Juga, dibekali prosesor berkinerja tinggi dari Snapdragon 660 Artificial Intelligence Engine.

Baca Juga: Menilik Pabrik Ponsel Pintar Vivo di Cikupa, Tangerang

Besaran prosesor dan kapasitas memori penyimpanan pada masing-masing lini produk dapat dengan mudah dilihat dari harganya. Untuk Realme 2 Pro ber-RAM 4GB + 6GB, harganya dipatok Rp2,89 juta. Untuk produk yang ber-RAM 8GB + 128GB dihargai Rp3,69 juta.

Masih banyak fitur lainnya yang menarik dari jajaran Realme. Tapi, intinya, Realme memosisikan sebagai merek ponsel pintar kelas menengah yang menawarkan produk berspesifikasi tinggi dengan harga terjangkau.

Maka dari itu, begitu dipasarkan melalui Lazada Indonesia, Realme 2 Pro terjual sebanyak 10.600 unit hanya dalam waktu tiga menit. “Saya sangat senang mengetahui bawah Realme 2 Pro juga menerima sambutan hanya pada hari penjualan online perdananya di Indonesia,” ungkap Josef Wang, Marketing Dictor Realme South East Asia.

Baca Juga: Rahasia Huawei Pertahankan Pasar Ponsel Global

Meski strateginya tampak sederhana, yakni menawarkan spesifikasi tinggi dengan harga terjangkau, tapi sesungguhnya Realme telah melakukan riset bertahun-tahun. Keberhasilan dalam pemasaran unitnya saat ini merupakan hasil dari penelitian jangka panjang.

“Kami telah melakukan penelitian secara ekstensif selama bertahun-tahun sehingga kami mengetahui hal yang lebih baik dan memiliki strategi produk yang lebih jelas daripada merek lainnya untuk pasar anak muda,” jelas Wang.

Keberhasilan Realme itu pun mendapat pujian dari manajemen Lazada. “Realme menghadirkan inovasi yang keren, teknologi terbaru, dan harga terbaik untuk pasar yang fokus pada anak muda,” ujar Alessandro Piscini, CEO Lazada Indonesia. “Semoga Realme bisa terus sukses di Indonesia.”●

—Intan Wulandari, TechnoBusiness ID ● Foto: Realme

 

GoPro Hero7, Harapan Baru GoPro

California, TechnoBusiness ID ● GoPro Inc. (Nasdaq: GPRO), produsen perangkat dan aplikasi kamera aksi yang berbasis di California, Amerika Serikat, mengumumkan bahwa jajaran produk terbarunya, Hero7, sudah mulai tersedia secara global sejak Minggu (30/9).

Jajaran Hero7 itu antara lain Hero7 Black, Hero7 Silver, dan Hero7 White. Ketiga lini produk itu dibanderol dengan harga masing-masing US$399, US$299, dan US$199. Sesuai harganya, Hero7 Black memiliki fitur yang lebih lengkap daripada dua seri lainnya.

Baca Juga: Enam Negara Penyumpang Pembayaran Digital Terbesar di ASEAN 2018

“Hero7 Black mendorong keterlibatan sosial tertinggi yang pernah kami lihat untuk GoPro baru, dan kami juga telah melihat penjualan yang kuat di GoPro.com selama seminggu sejak peluncuran,” ungkap pendiri dan CEO GroPro Nicholas Woodman di San Mateo, California, Minggu (30/9).

GoPro meluncurkan Hero7, termasuk Hero7 Black yang menjadi andalannya, pada 20 September lalu. Dalam lini tersebut, GoPro memasukkan bar baru dengan fitur menonjol yang dinamakan HyperSmooth. Fitur itu berfungsi menstabilisasi video, bahkan saat di dalam air dan gunjangan keras sekalipun.

Baca Juga: Pahami Proses Pembuatan Iklan Video Online yang Benar

Dengan Hero7 Black, GoPro juga memperkenalkan bentuk video baru yang disebut TimeWarp. TimeWarp Video menerapkan efek wahana karpet balap berkecepatan tinggi untuk video yang dihasilkan. Perjalanan yang indah atau penyelaman lautan yang dalam dapat distabilkan secara mudah.

Karena kelebihannya itu, “Hero7 Black merupakan GoPro yang sudah ditunggu-tunggu,” kata Woodman. Selain itu, masih banyak kelebihan yang dibenamkan dalam produk tersebut. Sayangnya, Woodman tidak menyebutkan berapa hasil penjualan GoPro selama seminggu ini.

Untuk diketahui, sejak pertama kali diluncurkan pada 2009 hingga kuartal 2/2018, kamera HD Hero telah terjual sebanyak lebih dari 30 juta unit. Penjualan itu melibatkan 25.000 ritel di 100 negara.

Simak Juga: Ajisatria Suleiman: “Kenapa Fintech Itu Menarik?” 

Di kategori kamera aksi, menurut periset pasar elektronik NFD dan GfK, GoPro meraih pangsa pasar terbesar di Amerika Utara, Eropa, dan Asia dengan menguasai 97% pasar di seluruh dunia. Pada 2017, pendapatannya saja mencapai US$1,18 miliar.

Namun demikian, GoPro harus semakin waspada lantaran kompetitornya semakin banyak sehingga menggerus pendapatannya. Buktinya, walau pendapatannya besar, tapi itu sudah jauh lebih kecil dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Berdasarkan laporan kinerja keuangan perusahaan, pada 2014 GoPro mampu membukukan pendapatan sebesar US$1,39 miliar. Pendapatan itu melonjak menjadi US$1,62 miliar pada tahun berikutnya. Tapi, pada 2016, pendapatannya anjlok tinggal US$1,18 miliar.●

—Philips C. Rubin, TechnoBusiness/PRN ● Foto-Foto: GoPro

 

Membaca Arah Realme, “Second Brand” Oppo

Jakarta, TechnoBusiness ID ● Mungkin Anda belum tahu apa itu Realme. Realme merupakan merek ponsel pintar (smartphone) baru pisahan dari Oppo asal China. Kehadirannya ke pasar mirip seperti Honor yang memisahkan diri dari merek induknya, Huawei. Strategi yang diusung Realme, juga Honor, adalah dengan mencitrakan sebagai merek global. Citra global itu ditancapkan dengan menghadirkan produk yang secara kualitas bagus dan, yang tak kalah penting, diluncurkan di pasar utama dunia. Realme menyadari itu sehingga produk pertamanya, Realme 1, pun diluncurkan pertama kali di India, pasar terbesar kedua di dunia setelah China. Biasanya, merek kedua (second brand) semacam itu didalihkan sebagai merek untuk pasar e-commerce (e-brand) yang sedang berkembang pesat. Baca Juga: Fintopia pun Terpikat Pasar Indonesia Benar saja, Realme 1, lini produk pertama Realme, dipasarkan di India melalui Amazon India. Menurut manajemen Realme, Realme 1 terjual habis hanya dalam dua menit pada Mei lalu. Amazon menyebut Realme 1 terjual sebanyak 400.000 unit dalam dua bulan, sebuah pencapaian yang baik bagi merek baru. Pendiri sekaligus CEO Global Realme Sky Li menyatakan, “Realme akan menjadi game changer di pasar smartphone global.” Untuk mewujudkannya, Realme fokus menyediakan produk dengan inovasi terbaru, kinerja yang kuat, dan desain yang penuh gaya. Sebelum memproduksi, Realme mengadakan riset pasar dan interaksi yang mendalam dengan konsumen. Hasilnya, pasar menganggap ponsel pintar bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga perangkat dasar untuk bersosialisasi, menikmati hiburan, bekerja, dan belajar. Untuk itu, tampilan ponsel pintar menjadi simbol kepribadian konsumen. Sayangnya, harga ponsel pintar yang layak menjadi simbol kepribadian kebanyakan di atas rata-rata kemampuan mereka, sehingga Realme hadir. Menyusul kesuksesan Realme 1, Realme 2 tampil berlayar penuh dengan notch, baterai berkapasitas besar, dual-camera, dan lain-lain. Sudah jelas produk-produk itu disasarkan untuk anak-anak muda di berbagai belahan dunia. Baca Juga: Transaksi Ilegal Turis China Merebak di Vietnam Chief Product Officer Realme Levi Lee mengatakan Realme 2 menjadi ponsel pintar pertama yang dipasarkan secara internasional. Pasar utama di kancah internasional yang dimaksud Lee kemungkinan besar adalah Asia. Pernyataan Lee itu diperkuat oleh Madhav Sheth, CEO Realme India. Dalam satu waktu, Madhav mengungkapkan bahwa tahun ini Realme akan memperkuat pasarnya di Asia, terutama Timur Tengah dan Asia Tenggara. Jika benar, tentu sasaran utama Realme adalah Indonesia. Sebab, Indonesia merupakan pasar ponsel pintar yang paling menarik di kawasan ini. Berdasarkan data International Data Corporations (IDC), jumlah pengiriman ponsel pintar ke Indonesia pada 2017 mencapai 30,4 juta unit. Jeffrey Bahar, Group Deputy CEO Spire Research and Consulting, perusahaan riset dan konsultasi bisnis yang berkantor pusat di Tokyo, Jepang, berpendapat bahwa Indonesia menjadi salah satu pasar yang paling menggiurkan setelah China, India, dan Amerika Serikat. Kemenarikan itu, kata Jeffrey, jelas didorong oleh besarnya jumlah populasi penduduk Tanah Air yang mencapai 264 juta jiwa. “Selain itu, jumlah kaum milenial di negara ini semakin besar sehingga menuntut penggunaan ponsel pintar yang sarat teknologi-teknologi mutakhir namun dengan harga yang affordable,” lanjutnya. Baca Juga: Menilik Pabrik Ponsel Pintar Vivo di Cikupa, Tangerang Namun demikian, sepertinya Realme tak bisa begitu saja “datang” ke pasar  berkembang ini. Pasalnya, menurut catatan TechnoBusiness Indonesia, pemerintah mewajibkan setiap perangkat ponsel pintar global yang dipasarkan di Indonesia menggunakan komponen dalam negeri minimal 30% mulai 1 Januari 2017. Aturan itu tertuang dalam Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 65 Tahun 2016 Tentang Ketentuan dan Tata Cara Penghitungan Nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri Produk Telepon Seluler, Komputer Genggam, dan Komputer Tablet. Walau, bagi Realme, menjalankan aturan itu tidaklah sulit. Buktinya, Oppo, induk dari Realme, telah membangun pabrik perakitan di Tangerang, Banten, sejak 2015. Bahkan, pabrik dengan luas lahan 27.000 meter persegi yang menelan investasi sebesar US$30 juta itu menjadi yang terbesar kedua setelah pabrik utamanya di Shenzhen, China. Vivo, rival Oppo yang juga dari Tirai Bambu, juga membuka pabrik perakitan di Cikupa, Tangerang, di atas tanah seluas 8.000 meter persegi. Di Indonesia, pada 2017 Oppo telah berhasil menggeser pemain-pemain lama dan merangsek ke posisi kedua di bawah Samsung, sedangkan Vivo masih berada di bawah. Bagaimana dengan Realme? Asia dan Indonesia memang pasar yang besar, antara peluang dan tantangannya juga besar, dan semua itu real, nyata. Karena itu, semua kembali kepada strategi Realme apakah bisa menaklukkannya atau tidak. Hukum pasar berlaku.● —Intan Wulandari, TechnoBusiness ID ● Foto: Realme  

Berapa Kandungan Lokal Ponsel Vivo di Indonesia?

Jakarta, TechnoBusiness ID ● Pemerintah mewajibkan setiap perangkat ponsel pintar (smartphone) global yang dipasarkan di Tanah Air menggunakan komponen dalam negeri minimal sebesar 30%.

Aturan itu tertuang dalam Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 65 Tahun 2016 Tentang Ketentuan dan Tata Cara Penghitungan Nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri Produk Telepon Seluler, Komputer Genggam, dan Komputer Tablet.

Baca Juga: Menilik Pabrik Ponsel Pintar Vivo di Cikupa, Tangerang

Dalam aturan itu disebutkan juga bahwa para pemasar harus memenuhi aturan TKDN tersebut mulai 1 Januari 2017. Untuk itu, hampir semua vendor ponsel ramai-ramai membuka pabrik perakitan di Indonesia, tidak terkecuali Vivo Mobile Communications Co. asal China.

Lantas, berapa TKDN yang dimiliki produk-produk Vivo? Dalam penjelasan Vivo yang diterima TechnoBusiness Indonesia pada Kamis (23/8), model ponsel pintar terbaru Vivo V11 mengandung TKDN sebanyak 30,98% atau melebihi dari ketentuan yang sebesar 30%.

“Kami telah mendaftarkan V11 Pro untuk sertfikasi TKDN dengan tipe seri Vivo 1804 per tanggal 31 Juli 2018 dengan nomor referensi 18100150,” kata Edy Kusuma, General Manager for Brand and Activation Vivo Indonesia. “Dukungan basis produksi kami di Cikupa dan mitra Vivo tentu saja berkontribusi besar dalam pemenuhan TKDN V11 Pro ini.”

Baca Juga: Rahasia Huawei Pertahankan Pasar Ponsel Global

Kementerian Perindustrian telah mengelurkan sertifikat TKDN No. 511/ILMATE/TKDN/7/2018 untuk tipe Vivo 1804 per tanggal 31 Juli 2018. Dengan begitu, Vivo V11 Pro telah memenuhi standar sebagai perangkat berbasis jaringan 4G LTE.

Vivo V11 Pro hadir ke pasar Indonesia bukan hanya berbekal desain yang futuristik, bezel yang semakin tipis, melainkan juga menawarkan performa, kualitas kamera, dan keamanan. “Tentu kami berusaha melakukan peningkatan dari seri sebelumnya,” ungkap Jason Fanjaya, Product Manager Vivo Indonesia.

—Anwar Ibrahim, TechnoBusiness ID ● Foto: Vivo Indonesia

 

Menilik Pabrik Ponsel Pintar Vivo di Cikupa, Tangerang

TechnoBusiness TV ● Anda pengguna ponsel pintar Vivo? Mereknya memang berasal dari China, tapi di mana produknya dirakit? Rupanya di Cikupa, Tangerang.

Perakitan di atas tanah seluas 8.000 meter persegi itu merupakan satu-satunya pabrik Vivo di Asia Tenggara, melengkapi basis produksinya di Guangdong, kota asalnya.

Di kancah global Vivo memang belum masuk daftar lima besar ponsel pintar, tapi di Indonesia IDC menyebutkan posisinya telah berada di bawah Samsung, Oppo, Advan, dan Asus sepanjang 2017 lalu.

Posisi kelima itu diraih setelah Vivo berhasil mengirimkan produknya ke tangan konsumen Tanah Air sebanyak 6% dari total 30,4 juta unit yang disebarkan vendor.

Seperti apa proses perakitan Vivo di pabrik yang didirikan sejak 2016, dua tahun setelah masuk ke pasar Indonesia, itu? Untuk lebih jelasnya, silakan simak video berikut ini.●

#TechnoBusinessTV #TechnoBusinessID #Vivo

 

Rahasia Huawei Pertahankan Pasar Ponsel Global

Hong Kong, TechnoBusiness Samsung dan Apple boleh saja saling berebut posisi puncak, tapi Huawei tetap “anteng” di urutan ketiga perolehan pangsa pasar (market share) ponsel pintar (smartphone) global berdasarkan pengiriman unit (unit shipment)-nya.

Tentu saja, baik Samsung, Apple, Huawei, atau “siapa pun” itu, nomor satu menjadi tujuan. Dari 1,46 miliar perangkat ponsel pintar yang dikirimkan ke seluruh dunia pada 2017, Samsung mencatatkan pengiriman terbanyak pada kuartal 1/2017 dengan persentase 23,3%; mengalahkan Apple yang hanya 14,7%.

Baca Juga: Samsung Member, Strategi Samsung Layani Pelanggan

Pada kuartal 2/2017 dan 3/2017, merek keluaran Samsung Electronics Co. Ltd. (KRX: 005930) yang berbasis di Suwon, Korea Selatan, itu tetap berada di posisi puncak dengan persentase 22,9% dan 22,1%. Sayangnya, Galaxy Note 7 yang gagal karena kualitas baterai yang buruk telah menghunjamkan pangsa pasar Samsung pada kuartal terakhir tahun lalu.

Honor 10

Merujuk pada data IDC Quarterly Mobile Tracker-Final Historical 2017 yang dirilis perusahaan riset pasar International Data Corporation (IDC) asal Framingham, Massachusetts, Amerika Serikat, kegagalan produk itu menjatuhkan posisi Samsung ke posisi kedua dengan pangsa pasar 18,9% pada kuartal 4/2017.

Apple ketiban berkah. Merek besutan Apple Inc. (Nasdaq: AAPL) asal Cupertino, California, Amerika Serikat, itu mendapat limpahan permintaan hingga membukukan pangsa pasar 19,7%, lebih besar daripada yang dicetak Samsung, pada kuartal tersebut. Padahal, pada kuartal 1/2017 Apple hanya menorehkan pangsa 14,7%; kuartal 2/2017 11,8%; dan kuartal 3/2017 12,4%.

Pangsa Pasar Ponsel Pintar Global (Dalam Unit Pengiriman)

Apple, yang mengusung iPhone, mirip Yamaha yang sesekali mengalahkan Honda di pasar sepeda motor atau Xpander keluaran Mitsubishi yang sempat menyalip penjualan raja otomotif Avanza dari Toyota di pasar otomotif Indonesia.

Gerak Langkah Huawei

Saling salip antara Samsung dan Apple di posisi puncak sepertinya tak memengaruhi kinerja Huawei. Berdasarkan data IDC, pangsa pengiriman unit ponsel pintar produksi Huawei Technologies Co. Ltd. yang berkantor pusat di Shenzhen, Guangdong, China, itu tetap stabil di urutan ketiga dengan kisaran 10-11% per kuartal tahun lalu.

Namun demikian, tetap stabil bukan berarti tetap aman. Posisi Huawei yang kuat dalam beberapa tahun terakhir ini mulai terancam oleh agresivitas rival-rival senegaranya sendiri seperti Xiaomi, Oppo, dan Vivo. Xiaomi, dipasarkan oleh Xiaomi Corporation berbasis di Beijing, China, terus mengancam posisi Huawei.

Lihatlah grafik IDC, setiap kuartal menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Pada kuartal 1/2017, Xiaomi baru memperoleh pangsa pasar 4,3%. Tapi, pada kuartal 2/2017 angkanya naik jadi 6,2%; lalu 7,5% pada kuartal 3/2017; sedikit menurun jadi 7,2% pada kuartal 4/2017. Pada kuartal 1/2018, yang Huawei mencatatkan pangsa 11,8%; Xiaomi sudah 8,4%.

Honor 10

Artinya, jarak antara Huawei dan Xiaomi setiap kuartalnya semakin dekat. Lantas, apakah Huawei akan menyerah dari Xiaomi, Oppo, dan Vivo? Jika strategi Huawei yang terkesan sangat hati-hati dalam mengeluarkan lini produk seperti selama ini, bisa jadi kompetitor akan segera melibasnya. Walau, tentu saja tidak semudah itu juga.

Sebagai pemain besar, Huawei tahu apa yang harus dilakukan, termasuk berharap banyak dari sub-mereknya, Honor. Beruntung harapan itu tak sirna setelah kinerja penjualannya tumbuh dengan baik. Bahkan, pada semester 1/2018, penjualan Honor secara global naik 150% dibanding periode yang sama tahun lalu.

Produk terbaru Honor 10 yang sarat inovasi, khususnya dua teknologi andalannya, yaitu desain menawan berkaca 3D dan optik nano serta kamera ganda yang dilengkapi dengan teknologi Artificial Intelligence (AI), terbukti mampu membuat kejutan sekaligus mendongkrak pangsa pengiriman lini produk keluarga Huawei.

Berkat kecanggihan yang diusung, Honor 10 banjir pujian dari berbagai negara. Di Malaysia, menurut keterangan tertulis manajemen Honor, Honor 10 yang dipasarkan melalui situs belanja online Shopee memecahkan rekor penjualan ponsel terlaris sepanjang sejarah.

Di Prancis, pada Mei lalu, Honor 10 menempati posisi sebagai ponsel canggih terlaris kedua untuk kategori produk berharga EUR300-400 di pasar e-commerce dan keenam dari sisi omzet yang diperolehnya. Di Rusia, menurut periset pasar GfK, Honor 10 masuk dalam jajaran ponsel terlaris seharga antara RUB25.000-30.000. Secara global, Honor 10 terserap hingga 3 juta unit hanya dalam tiga bulan sejak peluncurannya.

Oleh karena itu, “Di Honor, kami gembira menyaksikan dedikasi untuk menghadirkan inovasi dan pengalaman pengguna yang unggul dengan harga terbaik, mendapat pengakuan dan antusiasme dari para pengguna di seluruh dunia,” ungkap Presiden Honor George Zhao di Hong Kong, Kamis (12/7).

Pangsa Pasar Ponsel Pintar Global (Dalam Juta Unit Pengiriman)

Tidak hanya Huawei, Honor sendiri ditargetkan juga menempati jajaran tiga besar ponsel canggih dalam lima tahun ke depan. Target itu membuktikan Huawei penuh optimisme. Zhao menyatakan penjualan laris di berbagai negara sebagai tanda-tandanya. Apalagi, di beberapa negara Honor telah mengalahkan raksasa Apple.

Pada Mei lalu, terang Zhao, Honor mengalahkan Apple dan menjadi merek nomor dua di Rusia dalam hal omzet. Selama 13 bulan sebelumnya, Honor berada di posisi ketiga. Di India dan Inggris Raya, omzet Honor tumbuh 300%, di Spanyol malah sampai 500%, sepanjang satu semester awal 2018.

Honor juga terus memperluas jangkauan pasar globalnya dengan memperbesar portofolio produk di Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Amerika Latin. Beberapa peluncuran produk penting dilakukan di Indonesia, Thailand, Vietnam, Singapura, Mesir, Pakistan, Meksiko, dan Kolombia tahun ini.

Peluncuran-peluncuran itu melengkapi kesuksesan Honor di negara asalnya, China. Di Negeri Panda, menurut periset pasar Sino-Market Research, Honor berhasil menjual 18,07 juta unit ponsel selama Januari-April 2018. Dalam 618 Shopping Festival yang diadakan JD.com, Honor meraih omzet kumulatif terbesar selama promo 1-18 Juni dan single day pada 18 Juni 2018.

Bertumpu pada Kecanggihan Teknologi

Huawei bukan pemimpin pasar ponsel pintar global. Karena itu, untuk mencuri ceruk yang ada, vendor tersebut harus betul-betul memiliki diferensiasi dan nilai tambah. Terdepan dalam kecanggihan teknologi dan fitur jelas bukan hal yang bisa ditawar-tawar lagi.

Sama halnya dengan Honor 10 yang disematkan teknologi AI dalam kameranya, Honor baru saja memperkenalkan teknologi percepatan pengolahan grafis (graphics processing) yang diklaim cukup revolusioner di Beijing. Teknologi itu diberi nama GPU Turbo yang juga mendapat pujian dari media-media internasional.

“Kinerja grafis yang lebih baik biasanya mengorbankan daya tahan baterai, tetapi kini tidak lagi. GPU Turbo mempersembahkan kinerja gaming yang jauh lebih baik, sembari mengurangi konsumsi daya,” kata Zhao. “Kami merasa terhormat inovasi kami diterima dengan sangat baik oleh para pengulas dan jurnalis di seluruh dunia.”

GPU Turbo merupakan teknologi percepatan pemrosesan grafis untuk perangkat keras dan perangkat lunak secara terpadu. Teknologi tersebut meningkatkan efisiensi pemrosesan grafis hingga 60% sekaligus mengurangi konsumsi energi System on Chip (SoC) sebesar 30%. Dengan begitu, pengguna tidak perlu lagi mengorbankan daya untuk kinerja ponsel canggih seperti yang menjadi kendala bagi, misalnya, pemain game selama ini.

South China Morning Post, surat kabar bisnis berpengaruh di Hong Kong, menyebut, “Huawei [Honor] memanjakan para mobile gamers dengan teknologi ‘turbocharged’ yang mengalahkan semua pesaing, Android dan Apple.” Situs berita teknologi konsumen terbesar di Inggris, Tech Radar, menilai, “Itu [GPU Turbo] jelas teknologi yang mengesankan.”

Perpaduan antara teknologi yang canggih, desain yang menawan, dan harga yang terjangkau, menurut pandangan media bisnis teknologi terkemuka TechnoBusiness, itulah yang menjadi senjata akurat bagi Honor untuk memenangkan persaingan.

Jeffrey Bahar, Group Deputy CEO Spire Research and Consulting

Jeffrey Bahar, Group Deputy CEO Spire Research and Consulting, perusahaan riset pasar global yang berkantor pusat di Jepang, berpendapat strategi yang dikedepankan Huawei, baik dari sisi branding dengan menonjolkan sub-merek Honor yang nyaris menyembunyikan core-brand-nya maupun pengemasan produknya yang apik, memang tepat. “Buktinya, penjualan setiap model baru Honor laris manis,” katanya.

Penggunaan sub-merek Honor juga menjadi bagian dari strategi untuk memperkuat pasar Huawei di ranah ponsel pintar global, lanjut Jeffrey, mengingat citra merek (brand image) Huawei sendiri lebih lekat dengan perangkat keras untuk perusahaan (business to business). “Menggunakan merek Honor menjadi jalan pintas bagi Huawei,” kata Jeffrey.

Begitulah Huawei dengan segala strateginya. Kesuksesan Honor juga menjadi keberhasilan Huawei dalam mempertahankan posisinya yang saat ini bertengger di tiga besar pasar ponsel pintar global. Tapi, perkembangan teknologi amat cepat, bisa jadi kinerja kompetitor pun melompat. Sekalipun penjualan merangkak ke atas, Huawei mesti tetap waspada tanpa batas.●

—Philips C. Rubin (US), Abra Matthew (Hong Kong), dan Purjono Agus Suhendro (Indonesia), TechnoBusiness/PRN ● Foto-Foto: Honor

 

Dahsyat! 4.000 Unit Infinix Hot6 Pro Terjual dalam Semenit

Jakarta, TechnoBusiness IDInfinix menjawab fenomena pemasaran ponsel pintar yang laris-manis dalam beberapa saat tapi bohongan. Manajemen Infinix menyatakan tidak pernah menyediakan “HP gaib”.

Pada Jumat (6/7) lalu, Infinix membuktikan itu. Dalam penjualan flash sale perdana untuk produk Infinix Hot6 Pro jam 9 pagi di marketplace Lazada Indonesia, Infinix berhasil menjual hingga 4.000 unit hanya dalam satu menit.

Baca Juga: Sirclo Bantu Catatkan Transaksi E-commerce Rp100 Miliar

Jajaran produk Infinix Hot6 Pro

“Kami yakin pencapaian ini tak luput dari seluruh kerja keras kami dalam memenuhi permintaan pelanggan akan produk unggulan ciptaan Infinix,” ujar Marcia Sun, SEA Regional Head of Infinix Mobile.

Selain itu, juga berkat dukungan yang tak terhingga dari seluruh mitra, terutama Qualcomm dalam pembuatan ponsel pintar teranyar Inifinix yang semakin canggih.

Infinix Hot6 Pro cocok untuk penggemar fotografi. Layar Infinity 6.0 inci 18:9-nya memberikan standar baru dalam menikmati gambar dan video. Dalam ponsel pintar itu juga dibekali mode Anti Disturb yang sering dibutuhkan bagi pekerja dan pecinta game.

Dalam flash sale pekan lalu, Infinix Hot6 Pro ditawarkan dalam dua harga, yakni Rp1,499 juta untuk kapasitas 2 GB + 16 GB dan Rp1,799 juta untuk kapasitas 3 GB + 32 GB. Baterainya yang berukuran 4.000 mAh terbilang lumayan besar dibanding ponsel sejenis.

Setelah sukses pada flash sale pertama, Infinix akan menggelar flash sale kembali pada 13 Juli. Apakah masih tetap laris-manis? Terus, yang beli pengguna atau tengkulak, nih?●

—Vino Darmawan, TechnoBusiness ID ● Foto-Foto: Infinix

 

Ili Translator, Teknologi Penerjemah Bahasa untuk Turis

Hong Kong, TechnoBusiness ● Anda ingin bepergian ke banyak negara, tapi tak bisa bahasa setempat? Tenang, teknologi terbaru ini akan membantu Anda mengatasi persoalan tersebut.

Ili Translator, nama teknologi ini, merupakan satu dari 13 inovasi desain pemenang perhargaan DFA Design for Asia Awards dari berbagai wilayah Asia yang diselenggarakan oleh Hong Kong Design Center tahun ini.

Baca Juga: Jumienten, Chatbot Canggih dari Sprint Asia Technology

ili Translator termasuk keluarga gadget yang berfungsi untuk menerjemahkan percakapan secara offline. Cara kerjanya tidak memerlukan internet dan mampu menerjemahkan dalam waktu 0,2 detik.

Bahasa yang bisa diterjemahkan antara lain Inggris ke Jepang, Inggris ke Spanyol, dan Inggris Mandarin. Temuan pertama di dunia ini dinilai cukup sempurna bagi pelancong yang suka mencari perjalanan unik dengan lokasi menarik yang hanya diketahui oleh penduduk setempat.

Teknologi yang langsung viral di media-media sosial ini dikembangkan oleh perusahaan Jepang Longbar. Perancang produk di Longbar Kato Kyoichiro mengatakan, “Kami merevolusi cara orang bepergian dengan sains dan teknologi.”

Seperti kita ketahui, turis cenderung menggunakan aplikasi seluler untuk terjemahan saat hendak berkomunikasi di luar negeri. Tapi, cara itu membutuhkan waktu lama untuk mengaturnya, dan pengguna cenderung mengabaikan kontak mata dengan lawan bicara. “Itu dapat menyebabkan interaksi yang aneh dan tidak alami,” kata Kato.

Pada Juli lalu, penjualan pertama ili Translator dari Longbar langsung terserap 10.000 unit hanya dalam tiga hari. Perangkat ini diyakini bakal semakin laris manis seiring dengan tren pasar yang menyukai jalan-jalan belakangan ini.●

—Abra Mathew, TechnoBusiness/PRN ● Foto-Foto: Longbar