Indocomtech 2018 Usung Tema “Technology for Everyone”

Jakarta, TechnoBusiness ID · Indocomtech, ajang pameran teknologi informasi dan komunikasi terbesar di Tanah Air, akan kembali digelar. Tahun ini, pameran yang diselenggarakan oleh Yayasan Apkomindo Indonesia dan PT Traya Eksibisi Internasional (Traya Events) itu dijadwalkan digelar pada 31 Oktober-4 November 2018.

Menurut penyelenggara, pameran ke-26 itu akan mengusung tema “Technology for Everyone”. Alasannya, “Tema ‘Technology for Everyone’ sangat tepat menggambarkan koneksi antara teknologi dan manusia di zaman sekarang,” ungkap Bambang Setiawan, Presiden Direktur Traya Events, di Jakarta, Kamis (23/8).

Baca Juga: Schindler Data Kontrak dari Empat Properti CT Corp

Dalam pameran tersebut nantinya akan diramaikan oleh lebih kurang 250 perusahaan teknologi. Perusahaan-perusahaan itu terbagi ke dalam sembilan kategori, antara lain aksesori, audio, kamera, gaming, laptop, personal computer, smart homesmartphone, dan wearable device.

Selain itu, jika tahun lalu teknologi virtual realitydan dronemenjadi spotlight, pameran kali ini kemungkinan akan diramaikan oleh produk-produk berkonsep teknologi Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), financial technology, smart health, dan sejumlah solusi inovatif berbasis aplikasi dan teknologi internet.

Bambang mengatakan Indocomtech 2018 akan menempati area seluas 17.000 meter persegi (m2). Pengunjung diwajibkan membayar tiket sebesar Rp20.000 per orang untuk Rabu-Kamis dan Rp30.000 per orang. “Kerja sama antarpelaku industri tentu menjadi salah satu poin penting yang ingin dihadirkan di Indocomtech 2018,” ungkapnya.·

—Ivan Darmawan, TechnoBusiness ID · Foto: Indocomtech

 

“Karpet Merah” Mahathir untuk Investor China

Beijing, TechnoBusiness ● Perdana Menteri Mahathir Mohamad berharap semakin banyak pengusaha China yang berinvestasi di Malaysia. Hal itu diungkapkan Mahathir dalam sebuah forum yang diselenggarakan oleh Jack Ma, Executive Chairman Alibaba Group dan Chairman China Entrepreneur Club di Beijing, Minggu (19/8).

Mahathir berpendapat bahwa Jalur Sutera Maritim masa lalu serta hubungan ekonomi dan perdagangan bilateral saat ini berpeluang bagi perusahaan Malaysia dan China melakukan pengembangan bisnis baru, juga menyediakan kesempatan kerja dan produk-produk berkualitas di masyarakat.

Baca Juga: iPrice Group Panen Investasi Lagi

“Malaysia akan terus mempertahankan hubungan persahabatan dengan China dan memperluas bisnis di pasar Negeri Tirai Bambu,” ungkap Mahathir di hadapan hampir 400 delegasi, baik pengusaha China maupun pejabat Malaysia yang hadir dalam forum tersebut.

Forum yang fokus pada kerja sama ekonomi dan bisnis itu juga berbagi pandangan tentang teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), pertanian, manufaktur konvensional, pariwisata, dan Belt and Road Initiative.

Malaysia diakui sebagai mitra ekonomi dan perdagangan penting bagi China. Mahathir sendiri yang dikenal sebagai pendiri Malaysia Modern (Engineer of Modern Malaysia) dikenal baik di China. Mahathir pun menyampaikan peluang-peluang investasi, pengembangan pasar, pertukaran budaya, dan pembangunan sosial-ekonomi yang berkelanjutan.

Jack Ma pun menyambut baik “Multimedia Super Corridor” yang digagas Mahathir dan mengatakan inisiatif itu mengilhami kepercayaan dirinya dalam berwirausaha. Antara Malaysia dan China “Harus bekerja sama demi memasuki era ekonomi digital saat ini,” katanya.●

—Zhang Ju, TechnoBusiness/PRN ● Foto: Twitter Mahathir Mohamad

 

Oakley Capital Akuisisi cPanel Inc.

Houston, TechnoBusiness ● Adakah pengelola website yang tidak mengenal cPanel? Hampir semua website di dunia ini dikelola menggunakan halaman khusus yang bernama cPanel. Sudah terbayang, kan, seberapa besar nilai bisnisnya?

Kemarin, tepatnya pada Senin (20/8), sebuah kelompok yang dipimpin oleh Oakley Capital menandatangani perjanjian akuisisi terhadap cPanel Inc. Tidak disebutkan berapa nilainya, tapi aksi korporasi itu memungkinkan pengembangan inovasi produk dan fitur baru serta menambah jumlah karyawan.

Baca Juga: Alasan Telkomsel Hadirkan Perpustakaan Digital

Seperti diketahui, cPanel merupakan perangkat lunak otomatisasi web hosting industri yang andal dan intuitif. Dengan fitur yang kaya dan dukungan pelanggan yang kuat, platform hosting yang didirikan oleh CEO J. Nick Koston pada 1997 itu memberikan pelanggan kemampuan untuk mengelola setiap aspek dari situs web mereka.

Koston menjelaskan bahwa investasi itu mencerminkan langkah maju yang besar bagi cPanel. “Saya senang dengan masa depan perusahaan dan tim hebat di cPanel,” ungkap Koston.

Berbasis di Houston, Texas, Amerika Serikat, hingga saat ini cPanel mempekerjakan lebih dari 220 anggota tim dengan jutaan pelanggan di 70 negara.

Proses akuisisi itu belum selesai. Setelah dilaporkan, ada sejumlah langkah yang perlu dilakukan sebelum transaksi itu bersifat final. Langkah-langkah tersebut termasuk tinjauan pemerintah.●

—Philips C. Rubin, TechnoBusiness/PRN ● Foto: cPanel Inc.

Pola Baru Mengingat Password Ditemukan di China

Suzhou, TechnoBusiness ID ● Anda sering lupa password? Peneliti dari Xi’an Jiaotong-Liverpool University, perguruan tinggi yang berbasis di Suzhou, Jiangsu, China, menemukan pola terbaru mengingat password yang lebih sederhana namun efektif.

Para peneliti dari Departemen Ilmu Komputer dan Rekayasa Perangkat Lunak perguruan tinggi hasil afiliasi Xi’an Jiaotong dan Liverpool University itu, antara lain Dr. Hai-Ning Liang, Dr. Charles Fleming, dan Ilesanmi Olade, mengatakan sistem password yang mereka temukan berbasis ikon.

Baca Juga: Salim Group Tanamkan Investasi Strategis di Youtap

Sistem tersebut mengandalkan kemampuan alami manusia untuk bercerita. Dr. Fleming menjelaskan, temuan mereka kemudian diberi nama SemanticLock. Cara kerjanya, sistem tersebut meminta pengguna untuk mengarang cerita unik mereka sendiri dengan ikon yang telah ditentukan dalam membuat password.

Temuan Dr. Fleming dan kawan-kawan itu saat ini masih dalam tahap purwarupa. Jika dikembangkan lebih lanjut, kata dia, lupa password tinggal kenangan. “Manusia tidak diprogram untuk menghafal angka atau huruf acak dan inilah mengapa kita susah sekali mengingat password,” ujarnya.

Dr. Liang, co-researcher dalam proyek tersebut, menambahkan bahwa password berbasis ikon jauh lebih mudah diingat ketimbang pin atau pola. Hanya 30% dari peserta studi yang dapat mengingat password berbentuk pola yang diberikan minggu sebelumnya.

“Sedangkan 50% di antara mereka dapat mengingat password pin, dan 90%-nya mampu mengingat password SemanticLock,” jelas Dr. Liang. Itu disebabkan karena manusia secara alami lebih mampu mengingat cerita yang bermakna daripada angka atau pola tidak memiliki arti.

Jika dikembangkan, tentu saja manfaatnya banyak. Salah satu yang terpenting dari fungsinya jelas lebih sanggup melindungi pengguna dari peretas (hackers).

“Pin menawarkan jutaan kombinasi password, tapi yang benar-benar digunakan sangat sedikit karena kebanyakan orang memilih sesuatu yang mudah diingat seperti tanggal,” kata Dr. Fleming.

Bagi peretas, hanya perlu mengetahui sesuatu tentang pengguna—seperti tanggal lahir atau usia—untuk melakukan aksi pembobolan lewat password. Dengan mengarang cerita, kombinasi password yang harus mereka coba lebih sedikit.●

—Zhang Ju, TechnoBusiness/PRN ● Foto: Yuanyuan Du

 

EY Siapkan US$1 Miliar Dorong Inovasi Teknologi

London, TechnoBusiness ● EY, perusahaan jasa profesional global yang berpusat di London, Inggris, mengalokasikan investasi hingga US$1 miliar guna memperkuat solusi teknologi baru, layanan pelanggan, serta inovasi dan ekosistem dalam dua tahun ke depan sejak Juli 2018.

EY, yang sebelumnya dikenal dengan nama Ernst & Young, tampak betul-betul serius dalam memperkuat solusi teknologi tersebut. Sebab, selain investasi dana, mereka juga merekrut Nicola Morini Bianzino sebagai global chief client technology officer dan Steve George sebagai global chief information officer.

Baca Juga: Strategi Menghadapi Era Digital dengan 3C

Belum cukup, EY juga menunjuk Barbara O’Neill sebagai global chief information and security officer-nya. Dengan jabatannya itu, O’neill bertugas memberikan arahan strategis mengenai semua hal yang berkaitan dengan keamanan informasi.

Dalam penjelasan manajemen EY di London, Minggu (12/8), para eksekutif baru itu akan membawa keterampilan industri dan teknologi secara signifikan ke perusahaan, yang masuk dalam upaya transformasi digital dan agenda inovasi perusahaan.

Itu juga merupakan langkah melengkapi investasi EY di bidang inovasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan laboratoriun blockchain yang sudah ada.

Chairman dan CEO EY Global Mark Weinberger mengatakan, “Pada era transformatif ini, bisnis dan pemerintah berada di bawah tekanan yang cukup signifikan. Tidak hanya sekadar untuk mengejar, tapi lebih maju dari gangguan besar dan perubahan teknologi”.

EY memperkuat solusi teknologi karena melihat peluang besar dalam membantu pelanggan mengatasi hal tersebut. Sebelum bergabung dengan EY, Bianzino menjadi pemimpin dan strategi AI di Accenture (NYSE: ACN), perusahaan konsultasi manajemen global yang berbasis di Dublin, Irlandia.

Di EY, Bianzino akan fokus menghadirkan kemampuan digital kepada pelanggan sehingga teknologi menjadi jantung layanan perusahaan. “Selama setahun terakhir kami telah memelopori dan meluncurkan sejumlah layanan inovatif seperti penggunaan blockchain dalam asuransi kelautan serta otomatisasi dan lain-lain,” ungkap Weinberger.●

—Richard O. Kimberly, TechnoBusiness/PRN ● Foto: EY

Berkolaborasi, Strategi Net1 dan Matrix TV Perluas Pasar

Jakarta, TechnoBusiness ID ● Merasa saling membutuhkan, Net1 Indonesia, layanan telekomunikasi seluler milik PT Sampoerna Telekomunikasi Indonesia, dan Matrix TV, layanan televisi berbayar di bawah naungan PT Garuda Media Nusantara, sepakat melakukan kolaborasi bisnis.

Baca Juga: Dahsyat! Apple Jadi Perusahaan US$1 Triliun

Dalam kesepakatan yang ditandatangani kedua perusahaan di kantor pusat Net1, Jakarta, pada Rabu (27/7) lalu, terungkap bahwa Matrix TV akan memasarkan koneksi internet nirkabel berbasis 4G LTE berfrekuensi 450 MHz lengkap dengan fixed wireless router LOG-U270 dan tipe TUBE-R02 milik Net1.

Sementara itu, Matrix TV dapat menawarkan paket televisi sekaligus internet berkecepatan tinggi. “Kerja sama dengan Net1 merupakan salah satu upaya kami dalam memberikan layanan yang lebih baik kepada pelanggan,” ujar General Manager Matrix TV Adrian Sidharta.

“Kami berharap kerja sama ini bisa saling menguntungkan satu sama lain.”

—Larry Ridwan, CEO Net1 Indonesia

Net1 akan memberikan program promosi bagi produk Matrix TV prabayar yang setara atau lebih baik dibanding program reguler prabayar Net1. Jika kerja sama itu selesai, Net1 akan memigrasi produk internet Matrix TV prabayar ke produk reguler prabayar Net1.

Strategi itu dilakukan untuk menjawab kebutuhan pasar yang sama besar, yakni menonton tayangan televisi berkualitas dan koneksi internet yang cepat, saat ini. Kebetulan antara Net1 dan Matrix TV sama-sama menyasar pasar rural.

Untuk diketahui, sejak mengantongi izin jaringan 4G LTE di frekuensi 450 MHz pada September 2016, Net1 memfokuskan diri pada layanan ke perdesaan-perdesaan dan sub-urban. Sebab, frekuensi 450 MHz dianggap cocok dengan karakteristik geografis Indonesia yang memiliki 14.000 pulau.

Baca Juga: 10 Destinasi Wisata Ini Dilayani Jaringan Net1

Matrix TV dihadirkan oleh Garuda Media Nusantara, penyedia sistem SMATV/CATV sejak 1990. Perusahaan tersebut memasarkan perangkat siaran digital parabola seperti receiver, antena parabola, actuator, booster, kabel-kabel, dan segala macam aksesorinya, yang notabene pasarnya juga di daerah-daerah.

CEO Net1 Larry Ridwan menyatakan kerja sama dengan stasiun televisi berbayar seperti Matrix TV merupakan hal baru. “Kami berharap kerja sama ini bisa saling menguntungkan satu sama lain, utamanya dalam memperluas cakupan pelanggan,” ungkapnya.

Kolaborasi itu akan berlangsung dalam empat tahun ke depan. Jika berhasil, kata Larry, dapat diperpanjang. Tapi, kata Adrian, kerja sama tersebut tidak bersifat eksklusif sehingga tidak membatasi kedua perusahaan dalam menjalin kolaborasi dengan pihak lain dalam waktu yang sama.●

—Anwar Ibrahim, TechnoBusiness ID ● Foto: Net1 Indonesia

 

Paten Pengenalan Wajah Baru Google Disetujui

New York, TechnoBusiness ● Kantor Paten dan Merek Dagang Amerika Serikat (The US Patent and Trademarks Office) pada Selasa (24/7) lalu mengeluarkan persetujuan atas paten “Pengenalan Wajah dengan Bantuan Jejaring Sosial (Facial Recognition with Social Networking Aiding)” yang diajukan Google pada November 2015.

Baca Juga: JD.ID Buka Toko Berbasis AI Pertama di Indonesia

Teknologi tersebut akan memanfaatkan sistem di jejaring sosial untuk mengidentifikasi wajah dalam gambar, tidak menutup kemungkinan termasuk di Facebook, Twitter, Gmail, dan blog.

Seperti dilaporkan CB Insight pada Minggu (5/8), teknologi itu bukan yang pertama bagi Google. Pada Agustus 2017, Google telah menerima hak paten teknologi yang bekerja melalui sistem dengan mengautentikasi pengguna media sosial melalui sinyal mata beometrik.

Paten Google lainnya, berupa perincian sensor optik yang dapat memantau fungsi kardiovaskular, diterbitkan pada Januari 2018. Tidak seperti paten pengenalan wajah pada umumnya, paten baru kali ini bergantung pada aplikasi sosial.

Alhasil, teknologi itu memungkinkan Google dan penggunanya mengidentifikasi tokoh publik menggunakan gambar. Google akan memberi “tebakan terbaik” tentang siapa yang muncul dalam foto tersebut, dan makin lama makin akurat.

Paten baru tersebut, seperti dikatakan CB Insights, menjadi jawaban untuk mengidentifikasi foto wajah orang baru yang kurang terkenal. Sistem akan membawa data dari aplikasi jejaring sosial pengguna dan memeriksa secara beometrik untuk menebak identitas.

Proses mencari dengan memasukkan kata atau kalimat untuk mendapatkan hasil berupa teks maupun gambar dan video bukanlah hal baru. Tapi, teknologi baru itu membuat Google selangkah lebih maju lagi, yakni menjawab kueri visual dalam bentuk foto dan tangkapan layar.

Namun, Google tidak serta-merta bebas menggunakan teknologi pengenalan wajah itu karena yang dideteksi setiap orang dilindungi etika dan privasinya.

Sebetulnya teknologi itu menarik untuk diaplikasikan di Google Glass, tapi produk konsumen tersebut sudah dihentikan sejak 2015. Saat ini, Glass masih diproduksi terbatas untuk penggunaan perusahaan.

Lagi pula, pengembang dilarang mengembangkan aplikasi Glass menggunakan pengenalan wajah untuk mengidentifikasi orang. Pelarangan itu jelas untuk mencegah potensi masalah.●

—Philips C. Rubin, TechnoBusiness ● Foto-Foto: CB Insights

 

Laba Bisnis Teknologi Astra Kalahkan Properti

Jakarta, TechnoBusiness ID PT Astra International Tbk. (IDX: ASII), konglomerasi bisnis nasional yang berbasis di Jakarta, sepanjang semester 1/2018 berhasil membukukan pendapatan bersih secara konsolidasi sebesar Rp112,55 triliun.

Pendapatan bersih itu naik 15% dibanding perolehan pada semester 1/2017 yang tercatat sebesar Rp98,03 triliun. Atas dasar pendapatan bersih itu, laba bersih Astra meningkat 11% dari 9,34 triliun pada semester 1/2017 menjadi Rp10,38 triliun pada semester 1/2018.

Baca Juga: 10 Perusahaan Internet dengan Kapitalisasi Pasar Terbesar

Presiden Direktur Astra International Prijono Sugiarto menyatakan peningkatan laba bersih itu ditopang oleh meningkatnya bisnis alat berat, pertambangan, dan jasa keuangan. Peningkatan ketiga bisnis itu dapat mengimbangi pelemahan yang terjadi di sektor agribisnis dan infrastruktur.

Astra Graphia, perusahaan teknologi informasi dan solusi dokumen yang 76,9% sahamnya dimiliki PT Astra International Tbk.

“Kinerja Grup Astra hingga akhir 2018 diperkirakan cukup baik, didukung dengan stabilitas pertumbuhan ekonomi Indonesia dan harga batu bara yang stabil, walaupun persaingan di pasar mobil dan melemahnya harga minyak kelapa sawit menjadi perhatian,” ungkap Prijono.

Di luar bisnis-bisnis yang disebutkan itu, justru ada yang lebih menarik untuk dicermati, yakni bisnis teknologi informasi. Dalam laporan keuangan enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2018 diketahui bahwa bisnis teknologi informasi Astra menyumbang laba bersih Rp68 miliar.

Itu berarti naik 24% dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencatatkan laba bersih sebesar Rp55 miliar. Tentu saja laba bersih itu disokong oleh PT Astra Graphia Tbk. (IDX: AGIT), perusahaan yang bergerak dalam bidang teknologi informasi, solusi dokumen, dan layanan perkantoran yang 76,9% sahamnya dimiliki oleh Astra.

Untuk diketahui, laba bersih Astra Graphia tersebut berhasil menyalip perolehan laba bersih bisnis Astra di bidang properti. Rupanya, selain agribisnis serta logistik dan infrastruktur yang melemah, bisnis propertinya pun turut turun.

Lihatlah laporan keuangannya, laba bersih bisnis properti Astra yang pada semester 1/2017 tercatat sebesar Rp68 miliar, lebih besar daripada laba bersih yang disumbangkan bisnis teknologi informasi, pada semester 1/2018 justru kalah dari bisnis teknologi informasi karena hanya mencatatkan sebesar Rp48 miliar atau turun 29%.

Prijono menjelaskan, penurunan laba bersih bisnis properti itu disebabkan oleh rendahnya penerimaan laba dari Anandamaya Residences, proyek apartemen prestisius di pusat bisnis Jakarta yang dikembangkan bersama Hong Kong Land (LSE: HKLD), pengembang properti yang berpusat di Hong Kong.

Penurunan laba bersih itu “Mencerminkan tingkat persentase penyelesaian proyek yang semakin mengecil pada tahap akhir konstruksi,” jelas Prijono. Laba bersih itu diperkirakan akan naik kembali menyusul ekspansi yang akan dilakukan ke depan.

Anandamaya Residences, salah satu proyek properti yang dikembangkan Grup Astra di pusat bisnis Jakarta.

Sebab, pada April lalu, PT Astra Land Indonesia, yang 50% sahamnya dimiliki Astra International, membeli tiga hektare tanah yang juga di pusat bisnis Jakarta untuk pengembangan hunian dan komersial. Ditambah proyek-proyek properti lain seperti Arumaya di Jakarta Selatan dan Asya di Jakarta Timur. Sehingga total lahan yang dikembangkan Astra saat ini menjadi seluas 70 hektare.

Walau demikian, Astra juga terus menggenjot bisnis teknologinya, salah satunya dengan mengucurkan investasi sebesar Rp2 triliun ke PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (Go-Jek) pada Februari lalu. Oleh sebab itu, utang bersih untuk berinvestasi di Go-Jek, pengembangan jalan tol, dan belanja modal bisnis kontraktor penambangan mencapai Rp6,6 triliun dibanding nilai kas bersih sebesar Rp2,7 triliun per 31 Desember 2017.

Bukan Hal Baru

Saling salip perolehan laba bersih antara bisnis teknologi informasi dengan properti Astra bukanlah hal baru. Dalam catatan TechnoBusiness Insight yang merujuk pada laporan keuangan kuartalan perusahaan, dua divisi itu memang sering kali bergantian posisi dalam besaran sumbangan laba bersih ke grup.

Sepanjang 2015, misalnya, bisnis teknologi informasi Astra mencatatkan laba bersih sebesar Rp204 miliar. Dalam waktu yang sama, bisnis propertinya memperoleh Rp211 miliar. Tapi, pada 2016, bisnis teknologi informasi menyumbang laba bersih Rp196 miliar, bisnis propertinya hanya Rp111 miliar.

Namun, pada 2017, pertumbuhan laba bersih bisnis properti Astra langsung melesat hingga 101% menjadi Rp223 miliar, sedangkan bisnis teknologi informasi hanya naik 1% menjadi Rp198 miliar. Pada semester pertama 2018, posisinya kembali berbalik.

Saling salip dua lini bisnis itu tak menutup kemungkinan akan terus terjadi ke depan. Posisi teratas dari seluruh bisnis Astra diduduki oleh bisnis otomotif. Lini bisnis yang memasarkan kendaraan merek Toyota itu sulit tergoyahkan, baik oleh bisnis lain dari satu grup maupun kompetitor. Sebab, sudah menjadi pemimpin pasar yang tangguh dengan laba bersih per 30 Juni lalu sebesar Rp4,21 triliun.●

—Intan Wulandari, TechnoBusiness ID ● Foto-Foto: Astra International, Astra Graphia, Anandamaya Residences

 

Langkah Telkomsel Sambut Era Industri 4.0

Jakarta, TechnoBusiness ID ● Pemerintah Indonesia mencanangkan program “Making Indonesia 4.0” dalam rangka menyambut masuknya era Industri 4.0. Program itu diluncurkan oleh Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada ajang Indonesia Industrial Summit 2018 di Jakarta awal April lalu.

Baca Juga: Tantangan Penerapan Industri 4.0 di Indonesia

Presiden Joko Widodo dalam acara yang sama pun menyatakan betapa besar dampak positif dari penerapan Industri 4.0. Masalahnya, seperti analisis McKinsey Global Institute, perubahan itu tidak diikuti dengan tumbuhnya permintaan tenaga kerja karena sudah serbaotomasi dan terkoneksi dengan internet.

Pameran solusi IoT yang sudah melewati masa inkubasi Telkomsel di Jakarta, Rabu (25/7).

Firma konsultan manajemen internasional asal Amerika Serikat itu memperkirakan akan ada 400-800 juta orang di seluruh dunia yang kehilangan pekerjaan dalam 12 tahun ke depan sejak laporan itu dirilis pada November 2017.

Pada era Industri 4.0, yang disebut pula dengan era Internet of Things (IoT), semua proses manufaktur dilakukan secara cerdas. Ada proses kolaborasi antara fisik dan maya (cyber-physical system). Hampir semua proses produksi dijalankan oleh teknologi sensorik dan elemen penggerak secara otomatis.

Menyadari hal itu, PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel), anak perusahaan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. (IDX: TLKM) yang menjadi operator telekomunikasi seluler terbesar di Tanah Air, berupaya semakin memperkuat ekosistem IoT. Salah satu strateginya yaitu dengan meluncurkan program Telkomsel Innovation Center (TIC).

Vice President Corporate Planning Telkomsel Andi Kristianto mengatakan Telkomsel Innovation Center akan merangkum berbagai kegiatan dalam membentuk ekosistem IoT Indonesia dan mengembangkan laboratorium IoT, mengadakan program mentoring dan bootcamp bersama expertise di bidang IoT, serta networking access bagi para startup, developer, dan system integrator dengan para pemain industri terkait.

“IoT menjadi salah satu elemen penting untuk mendukung roadmap pemerintah Indonesia menjalankan program ‘Making Indonesia 4.0’. Telkomsel secara konsisten terus meningkatkan kesiapan teknologi dan jaringan untuk menghadapi tren IoT yang sedang berkembang secara global,” ungkap Andi.

Ia menjelaskan bahwa Telkomsel Innovation Center diinisiasi untuk menciptakan ekosistem IoT yang matang, yang dapat mendukung terciptanya produk siap pakai dan layak jual secara bisnis bagi masyarakat. Langkah itu sejalan dengan transformasi digital yang dilakukan perusahaan.

Saat ini, Telkomsel sudah membantu para inovator, baik startup, developer, maupun system integrator, mulai dari fase pengembangan hingga komersialisasi produk. Solusi IoT yang sudah melewati masa inkubasi adalah bike sharing di Universitas Indonesia hasil kolaborasi dengan Banopolis.

Selain itu, ada automatic fish feeder/aqua culture solution bagi petani dan petambak di berbagai daerah hasil kolaborasi dengan eFishery, smart waste management system bersama Danone dan Alfa Mart hasil kolaborasi dengan SMASH. Ada pula yang sudah masuk tahap komersialisasi, yaitu smart metering dan remote tank monitoring.

Langkah itu yang akan terus dikembangkan oleh Telkomsel dalam menyambut era IoT dan industri 4.0. “Bersama para mitra, kami akan terus mengembangkan bisnis IoT yang menghadirkan solusi atas kebutuhan industri maupun masyarakat,” kata Andi.

Sebab, “IoT telah merevolusi gaya hidup serta menggabungkan dunia fisik dengan dunia digital yang selanjutnya menawarkan sejumlah peluang dan tantangan baru bagi kalangan bisnis, pemerintahan, dan konsumen perorangan,” lanjutnya.●

—Intan Wulandari, TechnoBusiness ID ● Foto-Foto: Telkomsel

 

Nilai Belanja Teknologi Blockchain Mencapai US$11,7 Miliar

Massachusetts, TechnoBusiness ● Teknologi blockchain menjadi ramai diperbincangkan setelah digunakan untuk mengembangkan mata uang digital (cryptocurrency) yang dipelopori oleh Bitcoin sejak 2009. Teknologi blockchain berbentuk blok-blok saling terkait yang berfungsi menampung transaksi secara virtual.

Baca Juga: 5 Besar Pangsa Pasar Ponsel Pintar Sejagat per Kuartal 1/2018

Dalam perkembangannya, blockchain semakin bermanfaat bukan hanya membantu memfasilitasi pertukaran mata uang digital, melainkan juga untuk transaksi segala produk dan jasa. Seperti contohnya membeli lagu, film, dan menginap di hotel bisa menggunakan Bitcoin yang transaksinya berbasis teknologi blockchain.

Nah, pertanyaannya kemudian, apakah teknologi blockchain bakal semakin berkembang pada masa mendatang? Jawabannya tentu saja, bahkan penggunaannya akan semakin meluas. Perusahaan riset pasar International Data Corporation (IDC) yang berbasis di Framingham, Massachusetts, Amerika Serikat, memprediksi nilai belanja untuk teknologi blockchain akan tumbuh signifikan dalam beberapa tahun ke depan.

Dalam periode 2017-2022, IDC memperkirakan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan lima tahunan (CAGR) pengeluaran untuk teknologi blockchain mencapai 73,2%. Pada 2018, nilainya sekitar US$1,5 miliar, naik dua kali lipat dibanding yang dibelanjakan pada 2017. Hingga akhirnya pada 2022 diyakini akan mencapai US$11,7 miliar untuk pencatatan di seluruh dunia.

Laporan yang dirilis di Seattle pada Kamis (19/7) itu menyebutkan Amerika Serikat menyumbang angka investasi teknologi blockchain terbesar selama masa perkiraan, yakni 36%, dari total pengeluaran global. Porsi terbesar kedua disumbang oleh Eropa Barat diikuti Asia Pasifik di luar Jepang dan China.

Nilai belanja teknologi blockchain dipimpin oleh sektor keuangan yang didorong oleh kecepatan adopsi industri perbankan. Urutan kedua disumbangkan oleh sektor distribusi dan jasa, lalu ketiga industri manufaktur dan sumber daya.●

—Philips C. Rubin, TechnoBusiness ● Foto-Foto: Istimewa