95% Konsumen Inginkan Merek Peduli Lingkungan

Singapura dan Jakarta, TechnoBusiness ID ● Dalam sebuah focus group discussion (FGD) tentang pemilihan makanan sehari-hari yang diselenggarakan oleh Spire Indonesia di Jakarta, Selasa (4/12), salah satu pertanyaan yang muncul adalah “pilih yang organik atau tidak”.

Rata-rata peserta FGD menjawab lebih memilih makanan organik asalkan rasa yang ditawarkan sama dengan selisih harga yang tidak terlalu berbeda.

Jawaban peserta FGD anak perusahaan Spire Research and Consulting, periset pasar terkemuka di Asia Pasifik yang berpusat di Tokyo, Jepang, itu kurang lebih sama dengan laporan terbaru Kantar.

Baca Juga: Incar Pasar Kuliner, DIVA Investasi di Pawoon

Kantar, perusahaan riset pasar yang berbasis di London, Inggris, baru saja mengumumkan hasil penelitiannya yang melibatkan 3.000 responden di sembilan negara: Australia, India, Indonesia, Korea, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Taiwan.

Hasilnya, 90% konsumen di Asia dan 95% di Indonesia menginginkan merek terlibat dalam mengatasi masalah isu-isu penting mereka seperti kesehatan dan kemiskinan.

90% konsumen di Asia dan 95% di Indonesia menginginkan merek terlibat dalam mengatasi masalah isu-isu penting mereka. –Kantar

Laporan yang dirangkum dalam judul Purpose in Asia itu menyadarkan kepada para pemilik merek bahwa brand purpose yang autentik saat inimerupakan harapan, bukan lagi bonus.

Merek pun sudah menyadarinya. “Namun, tantangannya adalah mengidentifikasi berbagai masalah yang dianggap penting di seluruh Asia yang beragam, lalu terlibat secara autentik,” kata Joy Lee, Regional Digital Consultant Insights Division Kantar, di Singapura.

Solusinya, merek perlu terlibat langsung dengan konsumen dalam membuat perubahan. “Merek dapat mendukung inisiatif lokal dan mendorong perubahan kecil tapi bermakna bagi banyak orang,” lanjut Lee.

Dalam laporan tersebut mencontohkan merek-merek yang telah terlibat dalam kehidupan konsumen adalah The Body Shop milik The Body Shop International Plc dan Dove dari Unilever.

Kedua merek tersebut menjadikan kepedulian lingkungan dan sosial sebagai bagian dari nilai merek itu sendiri.●

—Michael A. Kheilton (Singapura), Intan Wulandari (Jakarta), TechnoBusiness ID ● Foto: The Body Shop

Bulan Madu Baim-Paula Disponsori Booking.com

Jakarta, TechnoBusiness ID ● Empat hari setelah setelah resmi menikah pada Kamis (22/11), artis sinetron Baim Wong dan model Paula Verhoeven langsung berbulan madu (honeymoon) ke Los Angeles dan San Francisco, Amerika Serikat.

Selama tujuh hari, Baim dan Paula menikmati beberapa pilihan akomodasi yang disediakan Booking.com (Nasdaq: BKNG), situs perjalanan online terbesar di dunia yang didirikan di Amsterdam, Belanda, pada 1996.

Baca Juga: Jakarta Bukan Tujuan Utama Wisata Dunia

Mungkinkah bulan madu pasangan selebriti itu disponsori oleh Booking.com? Bisa jadi ya, jika merujuk pada pernyataan resmi Booking.com pada Rabu (5/12).

“Menginap di beragam pilihan akomodasi menawan yang disediakan oleh Booking.com telah menjadi salah satu highlight dari keseluruhan pengalaman bulan madu mereka di Amerika Serikat,” tulis Booking.com.

Berikut aktivitas-aktivitas Baim dan Paula selama tujuh hari berbulan madu di Pantai Barat (West Coast):

Hari ke-1 – Santa Monica dan Venice Beach

Bagi pasangan pengantin baru ini, cuaca yang tidak terlalu dingin merupakan pilihan ideal.

Menyusuri Venice Beach yang berlokasi tidak jauh dari penginapan mereka di Loews Santa Monica sambil melihat warga lokal dan wisatawan berlalu-lalang di Abbot Kinney memberi nuansa baru untuk memulai liburan kali ini.

Pilihan kuliner selama perjalanan pun menjadi pelengkap perjalanan sore itu. Hari pertama pun dihabiskan di 3rd Street Promenade dengan menikmati gemerlap dan kemeriahan sepanjang jalan.

Hari ke-2 – Rodeo Drive, The Grove, & LACMA

Rodeo Drive tersohor sebagai destinasi belanja para bintang Hollywood yang menawarkan berbagai merek mode kelas atas, seperti (Louis Vuitton, Saint Laurent, hingga Chanel dan Stuart Weitzman yang menjadi pilihan Baim dan Paula untuk berbelanja.

Setelah menikmati makan siang di Shake Shack West Hollywood, mereka melanjutkan sesi belanja di pusat Hollywood dengan mengunjungi The Grove, pusat perbelanjaan yang juga menjadi andalan selebriti dunia.

Hari kedua pun ditutup dengan kunjungan ke Los Angeles Country Museum of Art (LACMA) dan berfoto di antara lampu-lampu ikonik LACMA.

Hari ke-3 – Hollywood & LA Lakers

Pagi itu, Baim dan Paula sudah bersiap sejak pagi untuk berpindah ke akomodasi The Charlie West Hollywood dan menyantap sarapan pagi di Urth Caffe Melrose.

Sisa hari mereka lanjutkan untuk berbelanja menyusuri pertokoan di Melrose Avenue.

Sekembalinya ke The Charlie, pengantin baru ini segera bersiap untuk melanjutkan malam dan menyaksikan tim basket idola Baim, LA Lakers, yang bertanding melawan Dallas Maverick di Staple Centre.

Hari ke-4 – Family Day

Di momen spesialnya kali ini, Baim dan Paula mendapat kejutan lebih berupa kunjungan dari abang kandung Baim yang terbang langsung bersama keluarga untuk menemaninya sepanjang hari di Los Angeles.

Sambil menelusuri Hollywood Boulevard, tempat di mana bintang-bintang Hollywood tinggal, mereka pun mengeksplorasi pertokoan di kawasan tersebut sambil sesekali berbelanja dengan keponakannya.

Mereka tidak lupa untuk mencoba Big Mama’s Pizza, pizza berukuran raksasa yang hanya bisa ditemukan di Amerika.

 

Hari ke-5 – Universal Studio

Pengantin baru itu memang terkenal dengan kepribadian yang seru dan spontan. Perjalanan hari terakhir di Los Angeles dihabiskan dengan mengunjungi taman hiburan Universal Studio.

Di sana, mereka menyempatkan untuk berpose dan menikmati wahana Harry Potter yang tersedia, mulai dari Harry Potter and the Forbidden Journey hingga Flight of the Hippogriff.

Baim dan Paula tidak melewatkan kesempatan untuk mengunjungi atraksi The Walking Dead dan The Simpsons Ride. Untuk memudahkan mobilitas, Hilton Los Angeles menjadi pilihan akomodasi mereka karena lokasinya yang sangat dekat dengan Universal Studio.

Hari ke-6 – Union Square, San Francisco

San Francisco menjadi destinasi liburan bulan madu Baim dan Paula berikutnya.

Seusai check-in di Hotel Vitale, a Joie de Vivre Hotel yang berlokasi strategis di jantung kota San Francisco, mereka bergegas untuk menyantap makan siang di Super Duper Burger.

Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan untuk melihat jembatan Golden Gate nan ikonik. Bagi pengguna Booking.com, perusahaan ini memberi pilihan harga dan layanan khusus untuk perjalanan ke berbagai destinasi yang menarik, seperti Golden Gate.

Sambil menikmati sisa sore hari, mereka pun menghabiskannya dengan bersantai di Yerba Buena Garden dilanjutkan makan malam di daerah Union Square, San Francisco.

Hari ke-7 – Pier 39 & Union Square, San Francisco

Angin dingin San Francisco seakan tak meredakan semangat Baim dan Paula untuk melanjutkan momen bulan madu, terutama untuk berbelanja.

Pada pagi hari, mereka menikmati suasana santai sambil berjalan menyusuri deret pertokoan di Pier 39 yang menjual produk-produk khas San Francisco dan bersantap malam di Fisherman Wharf.

Hari itu dilanjutkan dengan menjelajahi Union Square yang merupakan kawasan pertokoan mewah di San Francisco.

Begitulah keseruan bulan madu Baim dan Paula di Amerika yang didukung oleh Booking.com. “Booking.com menginspirasi kami untuk merasakan dunia dengan memperkaya perjalanan kami dari awal hingga akhir,” ungkap Baim.●

—Intan Wulandari, TechnoBusiness ID/PRN ● Foto-Foto: Booking.com, Istimewa

 

Wisatawan Milenial di Asia Pasifik Ingin Hal-Hal Baru

Jakarta, TechnoBusiness ID ● Saat ini masanya generasi milenial. Populasi yang masuk dalam kategori itu jumlahnya kian banyak. Pada 2020, misalnya, lebih dari 45% populasi di Asia Pasifik merupakan kaum milenial. Dan, lebih dari 60% kaum milenial diharapkan hidup di Asia.

Generasi milenial, yang didominasi oleh orang-orang yang berumur 18-35 tahun, memiliki karakter yang berbeda untuk beberapa hal dibanding generasi-generasi sebelumnya. “Generasi milenial sungguh generasi yang menarik. Mereka bertumbuh dengan internet dan teknologi merupakan hal yang sangat biasa bagi mereka,” kata Andy Yeow, General Manager Amadeus Indonesia.

Baca Juga: Dahsyat! Apple Jadi Perusahaan US$1 Triliun

Mereka memiliki keterbukaan terhadap pengalaman-pengalaman baru dan ingin mendobrak status quo. Dalam “Journey of Me Insights: What Asia Pacific Millenial Travelers Want” yang keluarkan Amadeus IT Group SA (AMS.MC), penyedia solusi teknologi bagi industri perjalanan global yang berbasis di Real Madrid, Spanyol, bersama YouGov, terungkap mereka menginginkan pengalaman yang berbeda, termasuk ketika melakukan perjalanan wisata.

Ada tiga hal yang menjadi ciri kaum milenial dalam melakukan perjalanan wisata:

1. Merangkul yang Baru

Generasi milenial lebih suka merangkul teknologi, pengalaman, dan cara perjalanan yang baru. Sebanyak 42% kaum milenial mengatakan mereka biasanya menggunakan aplikasi ride-sharing ketika melakukan perjalanan, 35% menggunakan layanan sharing economy untuk akomodasi.

Dalam riset yang melibatkan 6.870 respondens, 40% di antaranya kaum milenial, di 14 negara Asia Pasifik, diketahui bahwa kaum milenial India lebih banyak menganut sharing economy ketimbang negara-negara lain. Sebanyak 75% di antara mereka menggunakan aplikasi ride-sharing dan 55% menggunakan aplikasi home-sharing.

Sementara itu, milenial Jepang tercatat yang paling sedikit menggunakan layanan-layanan tersebut. Lebih dari 90% dari mereka tidak pernah menggunakannya. Padahal, yang menjadi alasan utama bagi kaum milenial dalam memanfaatkan ride-sharing dan sharing economy adalah menghemat biaya (42%).

Alasan berikutnya, yaitu dianggap lebih nyaman, seperti diungkapkan kaum milenial Indonesia (35%), dan memberikan pengalaman baru (30%) bagi mereka. Jika 31% milenial di Asia Pasifik memilih menerima informasi perjalanan lewat e-mail, di Indonesia hanya 19%. Kaum milenial Tanah Air lebih menyukai informasi melalui media sosial (34%), saluran yang di seluruh kawasan regional hanya diminati 23%.

2. Manusia di Atas Merek

Jika generasi X lebih bisa dipengaruhi oleh influencer, generasi milenial tidak. Dalam memilih destinasi perjalanan, ternyata kaum milenial Indonesia lebih menerima rekomendasi keluarga dan teman, diikuti situs-situs booking online, dan kanal-kanal media sosial, ketimbang selebriti dan influencer. Selebriti dan influencer malah diposisikan paling bawah oleh kaum milenial dalam memilih perjalanan, sebuah hasil riset yang cukup mengejutkan.

Baca Juga: Bali Jadi Destinasi Wisata Luar Biasa Dunia 2018

3. Waspada atau Berani?

Generasi milenial dikenal lebih berani, tapi untuk bagian tertentu sebaliknya. Milenial tidak terlalu mempermasalahkan destinasi-destinasi yang menjadi tempat serangan teror, demonstrasi, dan bencana alam. Tapi, 59% generasi baby boomer cenderung menghindari.

Selain itu, milenial lebih tertutup dalam hal berbagi informasi perjalanan ketimbang wisatawan gen X, dan cenderung memilih penawaran yang relevan. Sebanyak 68% generasi baby boomer dan 66% generasi X terbuka untuk berbagi informasi, hanya 62% generasi milenial di Asia Pasifik yang berpendapat serupa.

“Meskipun riset ini menyoroti berbagai perilaku dan preferensi unik wisatawan milenial Asia Pasifik, penting juga untuk menunjukkan bahwa terdapat banyak kemiripan antara milenial dengan generasi-generasi sebelumnya,” kata Yeow.

Bagi milenial, lanjut Yeow, personalisasi menjadi semakin penting, menjadi sesuatu yang nyata adalah kunci, dan wisatawan ingin terhubung dengan konten yang tepat, melalui kanal yang tepat, dan pada waktu yang tepat pula. Oleh karena itu, “Industri perjalanan hanya bisa berhasil jika kita menempatkan wisatawan sebagai pusat dari semua hal yang kita lakukan,” ujarnya.

Menanggapi temuan Amadeus itu, Deputy Group CEO Spire Research and Consulting Jeffrey Bahar mengatakan generasi milenial berperilaku yang cenderung berbeda untuk beberapa hal, termasuk dalam pola melakukan perjalanan wisata, dibanding generasi-generasi sebelumnya karena juga dipengaruhi oleh kemajuan teknologi.

“Teknologi yang semakin canggih akan membuka ruang bagi siapa pun untuk melakukan apa pun, termasuk mencari informasi mengenai pusat-pusat destinasi wisata yang menarik berikut cara mencapainya. Generasi yang mudah mengakomodasi teknologi jelas generasi milenial,” kata Jeffrey kepada TechnoBusiness ID di Jakarta, Selasa (7/8).

Baca Juga: Airbnb Menuju 1 Miliar Tamu per Tahun pada 2028

Oleh karena itu, aplikasi-aplikasi pendukung perjalanan wisata, begitu juga ride-sharing dan economy sharing, yang lebih informatif dan personal menjadi pilihan utama bagi generasi milenial. “Dengan demikian, biaya yang dikeluarkan menjadi lebih murah, karena generasi saat ini lebih menyukai pengeluaran yang relevan,”lanjut Jeffrey.

Hadirnya generasi milenial dengan segala karakteristiknya itulah yang melatarbelakangi Brian Chesky dan Joe Gebbia menawarkan tiga airbed di apartemen mereka di San Francisco, California, Amerika Serikat, pada 2008, sebuah bisnis yang kemudian dikenal dengan sebutan Airbnb.

Seperti diberitakan TechnoBusiness pada akhir Maret lalu, setelah 10 tahun berjalan, Airbnb menjelma menjadi platform akomodasi terbesar di dunia. Perusahaan tersebut memiliki jaringan 4,5 juta tempat tinggal di 81.000 kota. Para pelancong yang menggunakan jasanya sudah mencapai 300 juta kali senilai US$41 miliar.

Chesky, co-founder yang menjadi Head of Community Airbnb, mengungkapkan bahwa ia dan Gebbia tidak pernah memimpikan usahanya akan berkembang seperti sekarang. Apalagi, banyak orang berpikir orang asing menginap di rumah orang asing lainnya merupakan hal gila.

Baca Juga: Xiaoxhu.com, Kompetitor Tangguh Airbnb di China

“Namun, saat ini jutaan orang melakukan hal itu setiap harinya,” kata Chesky kala itu. Untuk itu, dalam 10 tahun ke depan, Airbnb akan memperluas komunitasnya yang terbentuk menjadi 1 miliar pengguna jasa platform akomodasinya per tahun. Target itu masuk dalam roadmap Airbnb untuk 10 tahun berikutnya.

Di China, pasar house sharing semacam itu juga tumbuh pesat. Menurut State Information Center setempat, pasar house sharing di Negeri Tirai Bambu pada 2017 tumbuh 70,6%. Penyedia layanan yang mendominasi secara kuat di pasar tersebut adalah Xiaozhu.com, platform akomodasi lokal yang berdiri pada November 2012.

Saat ini, Xiaozhu telah memiliki cabang di 13 kota dengan cakupan hingga 130 pasar di seluruh China. Kemampuan layanan offlineyang kuat menjadi daya saing Xiaozhu dibanding rival globalnya, Airbnb.

Langkah itu terus berjalan, “Sembari menembus cepat ke berbagai kota sekunder dan pedesaan,” ujar Chen Chi, co-founder dan CEO Xiaozhu, saat menjadi pembicara dalam ajang 2018 Boao Forum for Asia di Boao, China, 10-11 April lalu.

Xiaozhu telah berhasil mengumpulkan pendanaan sebanyak enam kali senilai total US$271,6 juta. Pendanaan terbaru dipimpin oleh Yunfeng Capital pada 1 November 2017 sebesar US$120 juta.

Baca Juga: Tripal.co, Aplikasi Travel Kekinian yang Berpotensi Menjadi Pengungkit Ekonomi Masyarakat Lokal 

Jika di Amerika ada Airbnb, di China ada Xiaozhu, di Indonesia ada Tripal.co.Tripal, yang didirikan oleh Kevin Wu pada Mei 2017, menawarkan pengalaman pariwisata yang personal, fleksibel, otentik, dengan memanfaatkan masyarakat lokal. Dengan konsep seperti itu, tentu yang disasar adalah generasi milenial.

Kevin menyadari pola perjalanan wisata antara kaum milenial dengan generasi sebelumnya berbeda. “Jika generasi sebelumnya lebih menyukai jalan-jalan secara berkelompok, ramai-ramai, sedangkan generasi milenial lebih suka dengan 2-4 orang dengan waktu dan tujuan yang fleksibel,” katanya saat peluncuran di Jakarta pada Mei 2017.

Tidak hanya itu, Tripal juga memberikan penghasilan atas jasa pemandu kepada masyarakat setempat. Pemandu yang dimaksud bisa siapa saja yang menawarkan jasanya lewat platform tersebut.

“Mereka justru akan mendapatkan bayaran dari jasanya menjadi teman lokal bagi turis, penyewaan kendaraan, dan penyewaan kamar atau rumah mereka sebagai homestay,” jelas Kevin.●

—Intan Wulandari, TechnoBusiness ID ● Foto:  Tripal.co

Strategi Versace Optimalkan Pengalaman Pelanggan

Seattle, TechnoBusiness ● Operator-operator ritel premium di bandara-bandara tersibuk di Eropa seperti Burberry, Hugo Boss, dan Versace, baru-baru ini menunjuk Avanade dan K3 untuk membantu mengoptimalkan pengalaman pelanggan (customer experience) serta membaca perilaku konsumen (customer behavior).

Baca Juga: Sirclo Bantu Catatkan Transaksi E-commerce Rp100 Miliar

Avanande dan K3 merupakan perusahaan penyedia layanan digital dan solusi bisnis terkemuka. Avanade Inc berada di bawah naungan Accenture LLP yang berbasis di Seattle, Washington, Amerika Serikat, sedangkan K3 Retail Solutions Limited menjadi bagian dari K3 Business Technology Group asal Inggris.

Burberry bersama Versace, Hugo Boss, dan ritel premium global lainnya menggunakan solusi digital hasil kolaborasi Avanade dan K3.

Kedua perusahaan menjelaskan bahwa solusinya membantu memindahkan operasi ke platform terpadu Microsoft Dynamics 365. Solusi itu memungkinkan peritel memperkenalkan produk ke pasar lebih cepat. Sebab, penanganannya mencakup seluruh siklus ritel, mulai dari pembuatan desain hingga penjualan.

Forrester Research, perusahaan riset yang berkantor pusat di Cambridge, Massachusetts, kolaborasi teknologi dari dua perusahaan itu amat menarik karena Avanade memiliki kemampuan menciptakan inovasi dan pengiriman, sedangkan K3 mengontrol atas semua proses dan saluran distribusi ritel ke pasar.

“Kami selalu mencari keunggulan di setiap aspek bisnis, dan ini termasuk ekosistem mitra kami. Solusi K3 memberikan fungsionalitas fashion dan pasar ritel terkemuka yang melengkapi kemampuan kami dalam sektor ini,” ungkap Francois Matte, Global ERP Lead Avanade, di Seattle, Washington, Jumat (20/7).

“Solusi K3 memberikan fungsionalitas fashion dan pasar ritel terkemuka yang melengkapi kemampuan kami dalam sektor ini.”

—Francois Matte, Global ERP Lead Avanade

Ia menambahkan, di era intelijen pasar (market intelligence) seperti sekarang ini, perusahaan perlu memanfaatkan kemajuan teknologi untuk memprediksi dan memimpin pasar. Aliansi Avanade dan K3 mampu menciptakan perusahaan ritel memperoleh keunggulan kompetitif, menyenangkan pelanggan, sekaligus menarik dan mempertahankan talenta terbaik.

CEO K3 Adalsteinn Valdimarsson mengungkapkan aliansi strategis global dengan Avanade akan memperkuat dan mempercepat proposisi K3 untuk masuk ke pasar, terutama industri ritel dan fashion. Dynamics 365 milik Microsoft merupakan teknologi yang digunakan untuk membantu menata kembali bisnis dan menciptakan aliran pendapatan serta model baru perusahaan-perusahaan ritel tersebut.

Microsoft memang berada di balik pergerakan dan kolaborasi Avanade dan K3 di ranah solusi bisnis ritel. Selain berada di bawah Accenture LLP, Avanade juga menginduk ke Microsoft karena didirikan oleh kedua perusahaan tersebut. Kini, Avanade mempunyai anak perusahaan di antaranya Infusion Development dan Avanade UK Ltd.

Sama seperti Avanade yang mengembangkan solusi bisnis menggunakan Dynamics 365 milik Microsoft, K3 Business Solutions pun demikian. Sejak didirikan pada 2000 dengan Accenture sebagai pemegang saham terbesar, Avanade memiliki 30.000 orang yang terhubung secara digital di 24 negara, sementara K3 mempunyai 3.700 pelanggan dengan 40.000 pengguna di 50 negara.

Versace dari Gianni Versace S.p.A. asal Milan, Italia; bersama Burberry milik Burberry Group Plc, London, Inggris; dan Hugo Boss di bawah Hugo Boss AG dari Metzingen, Jerman, adalah tiga dari sekian banyak perusahaan ritel dan fashion premium global yang telah memanfaatkan teknologi hasil kemitraan Avanade dan K3.●

—Philips C. Rubin, TechnoBusiness/PRN ● Foto-Foto: Versace, Burberry

 

Cara Milenial Amerika Sambut Liburan Musim Panas 2018

Atlanta, TechnoBusiness ● Setelah mempertimbangkan kondisi keuangan keluarga, kaum milenial di Amerika Serikat lebih memungkinkan berlibur saat musim panas ini ketimbang generasi mapan.

Baca Juga: Alasan Portal Kode Diskon Sasar Pasar Indonesia

Berdasarkan hasil survei Travelport (NYSE: TVPT), platform travel online yang berbasis di Langley, United Kingdom, terhadap 1.500 penduduk di Negeri Paman Sam, milenial (berusia 18-34 tahun) diperkirakan mulai mengalokasikan dana jalan-jalan (traveling) lebih besar daripada generasi lainnya.

Satu dari tiga Gen Milenial bersedia membelanjakan US$5.000 atau bahkan lebih untuk menikmati liburan musim panas tahun ini. Lebih dari setengah Gen Milenial (56%)-nya berencana berlibur lebih banyak dibanding musim panas tahun lalu.

Sementara itu, Gen X (35-54 tahun) yang merencanakan melakukan jalan-jalan lebih banyak hanya 35%. Angka itu lebih besar daripada 22% yang direncanakan oleh Baby Boomers (55 tahun lebih).

Sebanyak 55% Gen Milenial berencana melakukan liburan lebih banyak dalam 12 bulan ke depan, sedangkan Gen X hanya 31% dan Baby Boomers 20%. Sedikitnya 37% kaum laki-laki Milenial mengalokasikan dana lebih dari US$5.000, sedangkan kaum perempuan hanya 15%.

Erika Moore, Vice President dan General Manager Travelport untuk Amerika Serikat, mengungkapkan hasil survei tersebut merupakan kabar baik bagi industri perjalanan setempat. “Orang Amerika secara hati-hati telah meningkatkan rencana perjalanan musim panas mereka,” ujarnya.●

—Philips C. Rubin, TechnoBusiness/PRN ● Foto-Foto: Travelport

 

Inilah Destinasi Internasional Paling Populer bagi Orang Amerika

Warwick, Rodhe Island, TechnoBusiness ● InsureMyTrip, situs perbandingan asuransi perjalanan pertama di dunia, melaporkan daftar terbaru destinasi-destinasi internasional palingpopuler bagi orang Amerika Serikat tanpa memedulikan di mana mereka tinggal.

 

Baca Juga: Inilah Daftar Destinasi Wisatawan Indonesia Terpopuler versi Airbnb

 

Situs yang didirikan oleh Jim Grace, yang sekarang menjadi CEO-nya, pada 2000 itu mengumumkan lima destinasi internasional dari setiap negara bagian di Amerika Serikat.

Data menunjukkan warga-warga dari 26 negara bagian lebih menyukai perjalanan ke Kepulauan Karibia, seperti Jamaika, Turks dan Caicos, St. Lucia, Antigua, dan St. Maarten.

Sementara itu, warga-warga dari negara bagian lain lebih senang berkunjung ke Inggris, Meksiko, atau Italia.

Berikut ini daftar destinasi internasional bagi orang-orang Amerika yang didasarkan pada pembelian asuransi perjalanan mereka selama 2017 versi InsureMyTrip.●

—Mike Jammy, TechnoBusiness ● Foto-Foto: InsureMyTrip

 

Ke Mana Orang Indonesia Merayakan Imlek Tahun Ini?

Singapura, TechnoBusiness ID ● Indonesia dengan segudang tempat yang menakjubkan ternyata tidak masuk dalam daftar 10 tujuan wisata liburan Imlek orang Asia, sekalipun Bali. Baca: Bali Terdepak dari 10 Besar Tujuan Wisata Asia Saat Imlek

Baca Juga: Berwisata Unik Jadi Tren. Ini Pilihannya

Lantas, ke mana orang Indonesia berlibur selama merayakan Imlek? Platform pemesanan hotel online global Agoda (Nasdaq: PCLN) menyatakan orang Indonesia lebih senang merayakan tahun baru China tahun ini di dekat kediamannya.

Dalam survei perusahaan berkantor pusat di Bangkok, Singapura, dan Filipina itu, 65% orang Indonesia mengaku lebih suka menikmati berbagai keindahan pantai dan keramaian kotanya.

Kota domestik yang masuk dalam tiga besar kota yang akan dikunjungi saat liburan Imlek, yaitu Bandung, Bali, dan Yogyakarta. Sementara itu, bagi orang Indonesia yang akan berlibur ke luar negeri, mereka kebanyakan memilih Kuala Lumpur, Singapura, dan Tokyo.

Berikut ini daftar 10 kota domestik yang akan dikunjungi orang Indonesia saat liburan Imlek tahun ini:

Anwar Ibrahim, TechnoBusiness ID ● Foto-Foto: Agoda

 

Bali Terdepak dari 10 Besar Tujuan Wisata Asia Saat Imlek

Singapura, TechnoBusiness ID ● Ternyata terjadi perubahan tujuan wisata bagi wisatawan Asia saat liburan Hari Raya Imlek tahun ini. Jika dua tahun lalu dipegang oleh Bangkok, Thailand, tapi tahun ini pelancong lebih menyukai Tokyo sebagai tujuan wisatanya.

Baca Juga: Setelah Valuklik Diakuisisi Dentsu Aegis Network

Berdasarkan platform pemesanan online global Agoda, peringkat destinasi-destinasi wisata di Jepang naik signifikan dibanding tahun sebelumnya. Kyoto yang pertama kali masuk dalam daftar 10 tujuan liburan wisatawan Asia teratas saat Imlek, misalnya, langsung tercatat di posisi 9, mengalahkan Phuket, Thailand.

Sayangnya, dari 10 destinasi wisatawan teratas saat Imlek itu, tidak ada satu pun di Indonesia. Bali pernah menduduki posisi ke-10, tapi pada 2017 tersisih kembali. Tahun ini, Bali atau destinasi wisata asal Indonesia lainnya tidak muncul. Padahal, Bangkok, Singapura, dan Kuala Lumpur masuk di dalamnya.●

Anwar Ibrahim, TechnoBusiness ID ● Foto-Foto: Agoda

 

Penetrasi Pasar Asuransi di Indonesia Baru 2,99% PDB

Jakarta, TechnoBusiness IDPenetrasi pasar asuransi di Tanah Air saat ini diperkirakan baru mencapai 2,99% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka itu masih lebih rendah dibanding Singapura, Malaysia, dan Thailand yang sudah mencatatkan angka 5%.

Baca Juga: Sharp Raih Pangsa Pasar Televisi Terbesar di Indonesia

Penyebabnya, kata Direktur Utama PT FWD Life Indonesia Choo Sin Fook, masyarakat menganggap produk asuransi jiwa rumit, sulit dipahami, dan mahal. Untuk itu, FWD bertekad mengubah persepsi masyarakat tersebut.

“Kami berkomitmen untuk terus berinovasi guna menjawab kebutuhan masyarakat terhadap produk asuransi yang menawarkan perlindungan yang lengkap dengan harga terjangkau,” ungkap Choo saat peluncuran FWD Loop di Jakarta, Senin (12/2).

Suasana peluncuran FWD Loop, produk asuransi terbaru dari FWD Life, di Jakarta, Senin (12/2).

Komitmen itu didukung oleh teknologi sehingga proses pembelian asuransi jiwa bisa semudah berbelanja online. Teknologi tersebut diwujudkan dalam produk barunya, yakni FWD Loop, menyusul FWD Life untuk kecelakaan diri yang dipasarkan sebelumnya.

Chief Product Proposition & Sharia FWD Life Ade Bungsu mengatakan FWD Loop mengusung tiga kelebihan, yaitu value, fairness, dan simplicity. Dari sisi value, FWD Loop mencakup perlindungan lengkap tanpa menguras dompet. Produk tersebut menarik premi Rp250.000 hingga Rp1 juta per bulan, disesuaikan dengan umur nasabah.

Fairness, perlindungan terbaik tanpa banyak “tapi”. Ketiga, simplicity, mencakup pengalaman nasabah yang didukung dengan inovasi digital. “Salah satu kekuatan FWD Loop ada pada kombinasi jalur distribusi online dan keagenan yang mempersingkat dan mempercepat proses pembelian asuransi,” tambah Hendra Thanwijaya, Direktur dan Chief Agency Officer FWD Life.

FWD merupakan perusahaan asuransi jiwa patungan di bawah naungan FWD Group. Selain di Indonesia, perusahaan yang berdiri pada 2013 itu memiliki jaringan usaha di Hong Kong & Macau, Thailand, Filipina, dan beberapa negara lainnya.●

—Intan Wulandari, TechnoBusiness ID ● Foto-Foto: TechnoBusiness ID

 

Pengguna Kartu Kredit Sedikit, Potong Pulsa Jadi Solusi Joox

  • Indonesia merupakan pasar yang besar bagi layanan musik streaming, tapi masih terkendala metode pembayaran.
  • Untuk itu, Joox menyasar pengguna ponsel pintar dengan metode pembayaran pra dan pascabayar.

 

Jakarta, TechnoBusiness ID Menyadari jika pengguna kartu kredit hanya 2% dari total penduduk, maka Joox menggarap pasar Indonesia dengan pola pembayaran menggunakan pulsa telepon seluler, baik prabayar maupun pascabayar.

Baca Juga:

Mengenal Keunggulan Teknologi Sprint Digital 360

 

Strategi itu berpeluang berhasil mengingat 53% penduduk telah memiliki ponsel pintar (smartphone). Bukti lain, berdasarkan data SuperData Research, akun operator penagihan menyumbang 18,6% dari semua transaksi game digital dibanding kartu kredit dan debit yang hanya menguasai pasar 18,1%.

Joox, aplikasi layanan music streaming milik Tencent Group.

Untuk menyukseskan strateginya, salah satu layanan musik streaming ternama di Asia milik Tencent tersebut bersama dengan perusahaan teknologi seluler Fortumo menggandeng dua operator telekomunikasi seluler di Indonesia, yakni Indosat Ooredoo dan Smartfren.

Benny Ho, Senior Director of Business Development International Business Group Tencent menyatakan strateginya itu merupakan langkah maju dalam mempromosikan permintaan musik legal melalui kolaborasi dengan metode pembayaran terdepan.

“Layanan streaming berhasil mengembangkan basis pengguna mereka di kawasan ini, tapi mengubah pengguna menjadi pelanggan sulit dilakukan dengan metode pembayaran tradisional,” ungkap Andrea Boetti, Vice President Global Business Development Fortumo.

Salah satu yang ditawarkan Joox kepada pengguna ponsel pintar Android yaitu Joox VIP, layanan premium Joox dengan tarif mulai Rp25.000 per minggu hingga Rp509.000 per tahun. Dengan tarif tersebut, pengguna dapat mendengar, mengakses, mengunduh, dan menyaksikan lagu secara streaming tanpa batas dan bebas iklan.●

—Anwar Ibrahim, TechnoBusiness ID ● Foto-Foto: Joox