Kata Go-Pay Terkait Saling Tiru Strategi Antar Platform

TechnoBusiness TV ● Sekarang ini antarpenyedia jasa transportasi online, sebut saja Go-Jek dan Grab, cenderung saling tiru strategi dan layanan yang disediakan untuk pelanggannya.

Kok bisa ya? Lantas, apakah itu sehat dalam persaingan bisnis?

Berikut ini tanggapan Vincent, Head of Partnership and Business Development Go-Pay (Powered by Go-Jek) saat dimintai komentarnya oleh Kevin Wu, founder and CEO Tripal.co dalam acara #PowerTalksID Monthly Talks di Jakarta, Jumat (30/11).

Tonton konten-konten TechnoBusiness TV Indonesia menarik lainnya di sini

PowerTalks.ID: The Story of Go-Pay

GO-PAY telah menjadi dompet virtual yang telah dimanfaatkan masyarakat secara luas untuk melakukan pembayaran semua transaksi dalam aplikasi GO-JEK atau pun transaksi offline di banyak merchant.

GO-PAY sampai saat ini terus mengembangkan fitur-fiturnya seperti top-up, transfer saldo, scan QR, pembayaran transaksi/tagihan, penarikan tunai, pembelian voucherserta layanan lainnya.

Dengan value proposition yang kuat (Speed, Simplicity, dan Security), GO-PAY dikembangkan untuk membangun sistem pembayaran yang lebih efektif dan efisien.

Strategi pengembangan bisnis yang dilakukan oleh GO-PAY terbukti ampuh meningkatkan angka transaksi pengguna secara signifikan.

Kembali hadir untuk Anda, para start-up enthusiastPowerTalks.ID Monthly Talks hasil kerja sama antara IDX Incubator, Tripal.co dan TechnoBusiness Indonesia edisi November 2018 yang bertema: The Story of Go-Pay oleh Vincent (Head of Partnership & Business Development GO-PAY) sebagai pembicara dan Kevin Wu (Founder & CEO Tripal.co) sebagai moderator.

Jumat, 30 November 2018 pukul 18.00-21.00 WIB di IDX Incubator (Menara Mandiri I Lt.16 Jl. Jend. Sudirman Kav. 54-55 Jakarta Selatan).

 GRATIS. Daftar sekarang, tempat terbatas,

Klik > exc.li/powertalksid

#PowerTalksID

#MonthlyTalk

#IDXIncubator

#TechnoBusinessID

#TripalCo

#ExcellenceAsia

 

PowerTalks.ID: The Future of AI-Leveraging AI Tech to Create New Business Opportunities for Startup 

Yuk, Bangun Startup dengan Teknologi Artificial Intelegence!

Gaung teknologi artificial intelligence (AI) semakin sering kita dengar. Peran AI untuk mengolah data menjadi insight yang bernilai didasari oleh kemampuan teknologi tersebut guna mengidentifikasi sumber data, membangun sistem analisis data, dan membuat keputusan akhir menjadi hal yang sangat penting dalam menyelesaikan sebuah masalah.

Dengan manfaat yang sangat besar tersebut, penggunaan teknologi AI pun mulai banyak diadopsi baik oleh perusahaan berskala besar ataupun startup yang menggunakan AI sebagai platform utama bisnis mereka.

Namun seiring dengan berkembangnya teknologi AI itu sendiri, tentunya akan lebih banyak hal yang dapat dimanfaatkan, khususnya bagi para penggiat startup di Indonesia untuk melihat dan membangun peluang bisnis baru.

Kembali hadir untuk Anda, para Startup Enthusiast, PowerTalks.ID Monthly Talks hasil kerja sama antara IDX Incubator, Tripal.co dan TechnoBusiness Indonesia edisi Oktober 2018:

Tema          : The Future of Artificial Intelligence (AI): Leveraging AI-Tech to Create New Business Opportunities

Pembicara : Irzan Raditya, CEO & Co-Founder Kata.ai

Moderator : Kevin Wu (Founder & CEO Tripal.co)

Waktu        : Jumat, 26 Oktober 2018 pukul 18.00-21.00 WIB

Tempat       : IDX Incubator (Menara Mandiri I Lt.16 Jl. Jend. Sudirman Kav.54-55 Jakarta Selatan).

GRATIS. Daftar sekarang, tempat terbatas,

Klik > exc.li/powertalksid

Ajisatria Suleiman: “Kenapa Fintech Itu Menarik?”

PowerTalks.ID/TechnoBusiness ID ● Perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang teknologi finansial (financial technology/fintech) belakangan ini tumbuh subur bak jamur pada musim hujan.

Jika merujuk pada data Asosiasi Fintech Indonesia, per September ini ada 67 fintech lending, 3 agen reksa dana khusus berbasis teknologi informasi (TI), dan 2 pialang asuransi khusus berbasis TI yang terdaftar secara resmi di Otoritas Jasa Keuangan.

Baca Juga: Selamat Datang Selfin, Penantang Baru Facebook

Sedangkan yang terdaftar di Bank Indonesia ada 10 penyelenggara fintech, 1 penyelenggara dompet elektronik, 7 penyelenggara payment gateway, 13 penyelenggara uang elektronik, dan lain sebagainya.

Direktur Eksekutif Asosiasi Fintech Indonesia M. Ajisatria Suleiman mengungkapkan bahwa industri fintech saat ini sama seperti ketika booming e-commerce pada 4-5 tahun lalu. “Karena masih awal, maka belum ada pemenang di fintech,” katanya.

Baca Juga: Strategi AirAsia Dorong Pertumbuhan Lewat Data

Di hadapan para peserta PowerTalks.ID, talkshow bulanan yang diadakan oleh IDX Incubator, Tripal.co, dan TechnoBusiness Indonesia, pada Jumat (21/9) malam, Aji melanjutkan, “Oleh karena itu, semua orang mencurahkan pikiran, sumber daya, dan uang untuk menjadi pemenang di fintech.”

Ia menggambarkan bahwa sebelum kelihatan pemenangnya, para pemain e-commerce juga jor-joran dengan segala strategi yang dimiliki. Kondisi itu akan terjadi sampai pada satu titik muncul sang pemenang.

TechnoBusiness Star: Erick Hadi Talked About Hard Choice in His Life and Career

Saat lima besar e-commerce sudah diketahui, yang keenam dan seterusnya mulai melakukan konsolidasi. Sebab, pasarnya sudah terkonsentrasi ke yang paling besar. “Kalau di fintech belum sampai pada titik itu,” jelas Aji.

Karena belum mencapai titik itu, maka masih sulit menyebutkan siapa yang menjadi pemain terbesar di industri fintech saat ini. Tidak hanya yang bergerak di bidang payment, tapi juga lending, dan lain sebagainya. Apalagi, fintech yang fokus pada lending pun masih terpecah-pecah sesuai target pasarnya.

“Jadi, untuk terlibat di industri fintech saat ini sangat menarik karena sedang hot-hot-nya,” terang Aji. “Diprediksi 4-5 tahun mendatang akan muncul Unicorn berikutnya dan itu kemungkinan berasal dari fintech.”●

—Purjono Agus Suhendro, TechnoBusiness ID ● Foto & Video: TechnoBusiness ID

 

Baca artikel-artikel bisnis teknologi yang menarik, baik global maupun lokal, di TechnoBusiness ID; simak dan berlanggananlah konten-konten video TechnoBusiness TV di sini.#NoBusinessWithoutTechnology

 

What’s Hot about Fintech: Why Even Unicorns are Moving Into It?

PowerTalks.ID ● Financial Technology (Fintech) sebagai salah satu alternatif solusi keuangan diharapkan mampu mendongkrak inklusi keuangan di Indonesia. Melalui inovasi digital, fintech makin mampu menjangkau seluruh segmen masyarakat, bahkan yang tidak memiliki akses keuangan ke lembaga keuangan konvensional.

Fintech hadir dengan maraknya layanan e-payment, pembiayaan digital, penasihat keuangan digital, financial aggregator, dan lainnya. Bahkan, saat ini jumlahnya telah melebihi 150-an dan akan terus meningkat. Hingga akhir 2018 diprediksi mencapai 164 fintech. Saat itu, dana pinjaman yang dikucurkan pun tidak main-main besarnya, yang diyakini akan menyentuh angka Rp15 triliun.

Satu hal yang menarik untuk ditelaah yaitu:

  1. Mengapa banyak sekali startup, mulai dari yang baru tumbuh hingga startup unicorn, ramai-ramai masuk ke bisnis fintech?
  2. Apa yang membuat jumlah startup fintech tumbuh mengalahkan startup lainnya dalam waktu singkat?

Kembali hadir untuk Anda, para startup enthusiast, PowerTalks.ID Monthly Talks hasil kerja sama antara IDX Incubator, Tripal.co, dan TechnoBusiness Indonesia edisi September 2018 yang bertema:

“What’s Hot about Fintech: Why Even Unicorns are Moving into It?” dengan Ajisatria Suleiman (Direktur Eksekutif Kebijakan Publik Fintech Indonesia) sebagai pembicara dan Kevin Wu (Founder & CEO Tripal.co) sebagai host.

Hari: Jumat, 21 September 2018

Jam: 18.00 – 21.00 WIB

Tempat: IDX Incubator, Jakarta.

GRATIS.

Daftar sekarang, Tempat Terbatas.

Klik > http://exc.li/powertalksid 

 

“Right Mindset for Industry 4.0” Ala Gunawan Susanto

TechnoBusiness TV ● Setelah mengandalkan komputasi dan otomasi (Industri 3.0), kini proses manufaktur telah memasuki babak baru. Babak termutakhir ini dikenal sebagai Era Revolusi Industri 4.0 (Industrial Revolution 4.0 Era).

Pada era ini, industri bukan hanya mengandalkan komputasi dan otomasi, melainkan juga siber. Artinya, era yang menggabungkan kecanggihan fisik dengan siber (cyber physical system).

Baca Juga: JD.ID Buka Toko Berbasis AI Pertama di Indonesia

Itu sebabnya, era ini mulai diramaikan dengan banyaknya “pabrik pintar” di berbagai belahan dunia, terutama negara-negara maju. Masalahnya, setiap revolusi pasti ada konsekuensinya, termasuk revolusi industri kali ini.

Salah satu konsekuensi dari perkembangan era ini adalah semakin tergantikannya tenaga kerja manusia dengan perangkat robotik, komputasi, dan siber. Benarkah demikian?

“Jangan takut. Kalau China yang penduduknya miliaran saja tidak takut, kenapa kita takut?”

—Gunawan Susanto, mantan Presiden Direktur IBM Indonesia

Dalam PowerTalks.ID Monthly Talks edisi Juli 2018 yang diselenggarakan oleh TechnoBusiness Indonesia, IDX Incubator, dan Tripal.co di Jakarta, Jumat (27/7), Gunawan Susanto, mantan Presiden Direktur IBM Indonesia, memberikan pandangannya tentang Industri 4.0.

Menurut dia, era baru ini tidak bisa dibendung. “Dan, jangan takut. Kalau China yang penduduknya miliaran saja tidak takut, kenapa kita takut?” ujarnya di hadapan 100-an peserta malam itu.

Yang paling utama dipersiapkan dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0 yaitu pola pikir (mindset). Seperti apa maksudnya? Simak pemaparan Gunawan mengenai “Right Mindset for Industry 4.0” dalam video berikut ini.●

—Purjono Agus Suhendro, TechnoBusiness ID ● Video: TechnoBusiness TV