RedBus Permudah Pembelian Tiket Bus Sinar Jaya

Jakarta, TechnoBusiness ID ● Jika biasanya Anda harus pergi ke agen perjalanan untuk membeli tiket bus, yang tentu membutuhkan waktu dan tenaga, kini tak perlu lagi. redBus, platform pembelian tiket bus online yang lahir di India pada 2006, telah mempermudah masyarakat Indonesia dalam membeli tiket bus.

Baru-baru ini, redBus mengumumkan bahwa platformnya telah dapat dinikmati oleh pelanggan bus Sinar Jaya, setidaknya untuk jurusan Bogor-Bandung dan Jakarta-Bandung. Jurusan-jurusan lain akan segera dilayani dalam beberapa bulan ke depan.

Baca Juga: Memasuki Usia 50 Tahun, KADIN Lebih Membuka Diri

Realisasi tercepat, yaitu tiket bus Sinar Jaya yang terdaftar dalam Jakarta Airport Connexion. Rute-rute dari Jabodetabek ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan sebaliknya akan dimulai pada akhir September ini. Untuk menarik pelanggan, redBus mengiming-imingi diskon 15% kepada para penggunanya.

“redBus memberi kami platform tidak hanya untuk menjual tiket secara online, tapi juga untuk menyederhanakan model bisnis kami ke mode online. Caranya, dengan menyediakan aplikasi yang dapat digunakan di kantor cabang dan agen kami,” ungkap Teddy Rusly, Direktur Sinar Jaya Group, perusahaan penyedia jasa transportasi yang sudah berdiri sejak 1982.

Baca Juga: Selamat Datang Selfin, Penantang Baru Facebook

Dengan layanan bersistem online itu, Sinar Jaya mengaku telah terbantu dalam memahami pola permintaan pelanggan secara lebih baik. Selain itu, juga dapat mengoptimalkan pemanfaatan armada yang ada.

“Bersama Sinar Jaya, sinergi untuk tumbuh bersama dengan mengadopsi tekologi adalah hal yang saling menguntungkan,” ujar Adithyan Asokan, Business Manager redBus Indonesia, perusahaan yang telah berhasil menjual 100 juta tiket bus dari 80 operator bus di Indonesia dan 2.500 operator di seluruh dunia.

JEFFREY BAHAR
Group Deputy CEO Spire Research and Consulting

Bagi penyedia moda transportasi darat, bertransformasi ke ranah digital itu sudah menjadi kebutuhan. Menurut Jeffrey Bahar, Group Deputy CEO Spire Research and Consulting, perusahaan riset dan konsultasi bisnis yang berpusat di Jepang, redBus pintar menangkap peluang.

Ia menggambarkan bagaimana para pengguna kendaraan pribadi di Indonesia sekarang lebih memilih menggunakan moda transportasi online seperti Go-Ride dan Grab. Selain memudahkan, tarif yang ditawarkan juga lebih jelas dan murah.

“Pola pembelian tiket pesawat bahkan telah mematikan bisnis agen perjalanan sama seperti Go-Car dan GrabCar ‘membunuh’ taksi konvensional,” ungkap Jeffrey kepada TechnoBusiness Indonesia di Jakarta, Senin (24/9).

Kalau itu diterapkan di moda transportasi bus, lanjutnya, jelas akan mempermudah pola pembelian bagi konsumen. Selain itu, manajemen transportasi, baik armada, agen, maupun konsumen, akan semakin mudah dan tertib.●

—Anwar Ibrahim, TechnoBusiness ID ● Foto: redBus

 

What’s Hot about Fintech: Why Even Unicorns are Moving Into It?

PowerTalks.ID ● Financial Technology (Fintech) sebagai salah satu alternatif solusi keuangan diharapkan mampu mendongkrak inklusi keuangan di Indonesia. Melalui inovasi digital, fintech makin mampu menjangkau seluruh segmen masyarakat, bahkan yang tidak memiliki akses keuangan ke lembaga keuangan konvensional.

Fintech hadir dengan maraknya layanan e-payment, pembiayaan digital, penasihat keuangan digital, financial aggregator, dan lainnya. Bahkan, saat ini jumlahnya telah melebihi 150-an dan akan terus meningkat. Hingga akhir 2018 diprediksi mencapai 164 fintech. Saat itu, dana pinjaman yang dikucurkan pun tidak main-main besarnya, yang diyakini akan menyentuh angka Rp15 triliun.

Satu hal yang menarik untuk ditelaah yaitu:

  1. Mengapa banyak sekali startup, mulai dari yang baru tumbuh hingga startup unicorn, ramai-ramai masuk ke bisnis fintech?
  2. Apa yang membuat jumlah startup fintech tumbuh mengalahkan startup lainnya dalam waktu singkat?

Kembali hadir untuk Anda, para startup enthusiast, PowerTalks.ID Monthly Talks hasil kerja sama antara IDX Incubator, Tripal.co, dan TechnoBusiness Indonesia edisi September 2018 yang bertema:

“What’s Hot about Fintech: Why Even Unicorns are Moving into It?” dengan Ajisatria Suleiman (Direktur Eksekutif Kebijakan Publik Fintech Indonesia) sebagai pembicara dan Kevin Wu (Founder & CEO Tripal.co) sebagai host.

Hari: Jumat, 21 September 2018

Jam: 18.00 – 21.00 WIB

Tempat: IDX Incubator, Jakarta.

GRATIS.

Daftar sekarang, Tempat Terbatas.

Klik > http://exc.li/powertalksid 

 

Selamat Datang Selfin, Penantang Baru Facebook

California dan Jakarta, TechnoBusiness ● Pada 25 Juli 2018, Facebook, Inc. (Nasdaq: FB) melaporkan bahwa selama kuartal II/2018 media sosial yang berbasis di Menlo Park, California, Amerika Serikat, itu digunakan oleh 1,47 miliar pengguna aktif harian, naik 11% dibanding setahun sebelumnya.

Jika dihitung secara bulanan, pengguna Facebook jauh lebih banyak, yakni mencapai 2,23 miliar, juga naik 11% dalam setahun terakhir. Berbekal belanja modal (capital expenditure)-nya yang sebesar US$3,46 miliar, perusahaan tersebut meraup US$13,23 miliar, naik 42% dari US$9,32 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Baca Juga: Strategi AirAsia Dorong Pertumbuhan Lewat Data

“Komunitas dan bisnis kami terus tumbuh dengan cepat,” kata Mark Zuckerberg, pendiri sekaligus CEO Facebook, Inc., saat mengumumkan kinerja keuangan perusahaannya di San Jose. “Kami berkomitmen untuk berinvestasi demi menjaga keamanan dan keamanan orang, serta terus membangun cara baru agar orang-orang saling terhubung.”

Meski jumlah pengguna dan pendapatan Facebook sudah sulit dikejar, tetap saja ada kreator yang menciptakan aplikasi baru di ranah media sosial. Namanya Selfin. Rencananya, media sosial itu akan diluncurkan pada akhir September ini.

Sang penantang baru itu diciptakan di negara bagian yang sama dengan Facebook, yaitu California. Jika markas Facebook berada di Menlo Park, markas Selfin di San Jose. Kedua kota itu berjarak kira-kira 33 kilometer. Dalam pencarian TechnoBusiness terkait profil pendirinya yang belum dibuka ke publik, Selfin didirikan oleh Akin Nefesogullari.

Nefesogullari diketahui mengembangkan Selfin sejak September 2017. Ia menguji coba selama setahun terakhir dan kini siap meluncurkannya. Dalam pernyataan kepada media, Selfin dapat menjadi jackpot bagi orang-orang yang ingin melarikan diri dari keluarga Facebook yang mereka sebut sebagai Facebook Mafia.

Baca Juga: Empat Langkah Pemasaran yang Efektif 2018

Facebook Mafia yang dimaksud Selfin antara lain Facebook, Instagram, dan WhatsApp Messenger. Instagram, aplikasi berbagi foto yang didirikan pada Oktober 2010 dan menjadi portofolio Facebook setelah diakuisisi senilai US$1 miliar pada April 2012, sudah memiliki 1 miliar pengguna aktif bulanan per Juni 2018.

WhatsApp Messenger, aplikasi pesan instan (instant messaging) yang dikembangkan WhatsApp Inc., yang diambil alih Facebook pada Februari 2014, juga telah mempunyai 450 juta pengguna per Juni 2018. Tapi, kata Nefesogullari, semua itu bisa dijadikan satu di Selfin.

Selfin hadir dengan menawarkan antarmuka horizontal, aman, dan andal. Seolah menyindir Facebook yang belum lama ini tersangkut skandal penggunaan data pihak ketiga, seperti Cambridge Analytica, AggregateIQ, dan CubeYou, Selfin mengklaim tidak akan menjual data penggunanya.

“Selfin merupakan aplikasi media sosial. Selfin menjamin perlindungan data dari pengguna yang berharga dan tidak akan pernah menjual sedikit pun informasi pengguna kepada pihak ketiga mana pun karena alasan apapun. Keamanan menjadi alasan inti awal mengapa Selfin dibuat,” tulis manajemen Selfin, Senin (17/9).

Baca Juga: Langkah Jitu MSI Kuasai Pasar eSports Indonesia

Namun, sejatinya Selfin lebih diperuntukkan bagi pemilik iPhone X terlebih dahulu. Buktinya, aplikasi itu baru bisa diunduh oleh pengguna perangkat keluaran Apple Inc. tersebut di App Store-nya. Pernyataan manajemen Selfin memperkuat fakta itu.

“Anda tidak perlu mengklik tombol capture yang tidak berguna lagi. Anda cukup menggeser ke atas untuk mengambil gambar. Jika sudah memiliki iPhone X, Anda sudah tahu apa yang sedang kita bicarakan,” jelas manajemen Selfin.

Lebih dari itu, pengguna Selfin akan mendapat tanda bintang. Bintang itu diperoleh berdasarkan aktivitas pengguna, yang berarti suka, suka banget, dan komentar. Bintang itu lalu menjadi penentu apakah pengguna layak menjadi influencer yang akhirnya dapat memonetisasi akun atau tidak.

Saat ini, Selfin sedang mencari pendanaan di Fundable.com, platform crowdfunding yang membantu banyak perusahaan rintisan (startup) dalam memperoleh investasi. Per hari ini, Fundable.com telah berhasil menarik komitmen pendanaan dari investor untuk perusahaan-perusahaan rintisan senilai US$444 juta.

Baca Juga: 10 Perusahaan Internet dengan Kapitalisasi Pasar Terbesar

PURJONO AGUS SUHENDRO pengamat bisnis teknologi

Menanggapi lahirnya Selfin sebagai penantang baru Facebook, pengamat bisnis teknologi yang juga CEO TechnoBusiness Media Purjono Agus Suhendro berpendapat bahwa secara konsep dan model bisnisnya bagus. “Mereka pun hadir ketika banyak pengguna Facebook yang menutup akunnya pascaskandal penyalahgunaan data,” katanya.

Karena itu, Selfin dianggap pintar memanfaatkan momen yang menjadikan kelemahan lawan sebagai strategi komunikasinya. Namun demikian, Purjono melanjutkan, pengalaman pengguna yang berbeda menjadi kunci utama. “Jika tidak, media sosial baru itu tidak akan berhasil,” ungkapnya.

Walau begitu, mantan Managing Editor Bloomberg Businessweek Indonesia yang kini mendirikan Pas Corp—kelompok usaha yang menaungi bisnis media,startup, kopi, dan properti miliknya—itu lebih lanjut menyarankan agar Selfin tidak terlalu menyerang Facebook, sekalipun sebagai strategi komunikasi untuk mengakuisisi pengguna.

Purjono mengingatkan bahwa Facebook merupakan raksasa teknologi terbesar kelima di dunia. Kapitalisasi pasarnya per Mei 2018 sudah mencapai US$538 miliar. “Sebagai perusahaan raksasa, mereka memiliki segalanya. Jika mereka tiba-tiba datang ke San Jose dan menyatakan ingin mengakuisisi dengan nilai yang cukup menakjubkan, apakah Selfin bisa menolak?” ujarnya.

Masih mending jika diakuisisi lalu dikembangkan dan menjadi bagian dari keluarga Facebook Mafia, sebutan Selfin untuk kelompok bisnis Facebook, itu. Kalau justru dimatikan? “Seandainya pilihan terakhir itu menjadi nyata, bukankah sangat menyakitkan? ungkap Purjono memberi gambaran.●

—Philips C. Rubin (US), Intan Wulandari (Indonesia), TechnoBusiness ● Foto: Selfin Inc.

 

Go-Viet Disambut Baik di Vietnam

Hanoi, TechnoBusiness ID ● Sekali merengkuh dayung, dua-tiga pulau terlampaui. Pepatah itu sepertinya cukup tepat untuk menggambarkan kunjungan kerja Presiden Republik Indonesia Joko Widodo pada minggu ke-2 dan 3 September ini.

Bertolak dari Jakarta pada Minggu (9/9), Presiden Jokowi berkunjung ke Seoul, Korea Selatan, untuk melakukan kunjungan balasan atas lawatan Presiden Korea Selatan Moon Jae-In ke Indonesia tahun lalu. Kunjungan itu bertepatan dengan peringatan 45 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Korea Selatan.

Baca Juga: Pasar Layanan 5G Bernilai US$123,27 Miliar pada 2025

Seperti dijelaskan dalam laman Facebook-nya, bersama Presiden Moon, Presiden Jokowi membahas penguatan kerja sama kedua negara di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu. Jokowi juga bertemu dengan pemimpin empat perusahaan besar Korea, antara lain CJ Group, Lotte Group, Posco, dan Hyundai Motor Company.

Setelah meninggalkan Negeri Ginseng dengan membawa peluang investasi senilai Rp81,7 triliun, Jokowi mendarat di Vietnam. Tidak kalah mengesankan dengan kunjungannya ke Korea Selatan, di Hanoi Jokowi didaulat menjadi salah satu pembicara di World Economic Forum on ASEAN.

Baca Juga: Turunkan Rasio Gini dengan Ekonomi Digital

Lebih dari itu, Jokowi juga menjadi saksi sejarah peluncuran Go-Viet, aplikasi jasa transportasi dan layanan pengiriman setempat yang didukung oleh Go-Jek asal Indonesia. “Selamat kepada Go-Jek, Go-Viet, dan tentu saja kepada anak-anak muda Indonesia yang kreatif, inovatif, dan berpikiran maju,” tulis Jokowi di Facebooknya.

Sebelum diresmikan, Go-Viet telah diuji coba selama enam minggu. Selama masa uji coba itu, Go-Jek menyebut, aplikasi Go-Viet diunduh oleh 1,5 juta pengguna. Menteri Komunikasi dan Informatika Indonesia Rudiantara mengungkapkan rasa bangganya melihat perkembangan Go-Jek.

Dalam siaran pers Kemkominfo, Menteri Rudi mengatakan Go-Viet menjadi ajang pembuktian bahwa Indonesia memiliki kesempatan yang sama dengan negara maju di ranah digital. “Go-Jek mampu melihat peluang tersebut sekaligus mampu mengeksekusinya,” ungkapnya.●

—Intan Wulandari, TechnoBusiness ID ● Foto: FB Joko Widodo

 

Alasan Telkomsel Hadirkan Perpustakaan Digital

Jakarta, TechnoBusiness ID ● Harus diakui kemampuan membaca, berhitung, dan pengetahuan ilmiah masyarakat Indonesia masih sangat minim. Hal itu disebabkan oleh tingkat literasi yang paling rendah di dunia.

Atas dasar itu, PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel), anak perusahaan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. (IDX: TLKM), meluncurkan perpustakaan digital yang diberi nama T-Perpus (Telkomsel Digital Library).

Baca Juga: Pola Baru Mengingat Password Ditemukan di China

Dalam upayanya itu, Telkomsel menggandeng Gramedia Digital Nusantara, anak perusahaan Gramedia yang bergerak di bidang bisnis digital.

“Aplikasi T-Perpus dapat digunakan dengan mudah menyesuaikan gaya hidup digital masa kini sehingga diharapkan dapat meningkatkan minat baca anak muda Indonesia,” ungkap Tubagus Husniyullah, General Manager Corporate Social Responsibility Telkomsel, di Jakarta, Senin (20/8).

T-Perpus dikembangkan agar memudahkan masyarakat, khususnya sekolah-sekolah, dalam mengakses informasi, mendorong minat baca, serta meningkatkan kompetensi dan mutu pendidikan.

Aplikasi tersebut menyediakan berbagai macam kategori buku, majalah, dan koran. Pengguna dapat mengunduhnya melalui platform Android dan iOS. Telkomsel membebaskan biaya kepada 5.000 pengakses pertama.

Selain itu, Telkomsel akan menyasar perguruan-perguruan tinggi di Jawa Barat terlebih dahulu sebelum ke seluruh Indonesia. Operator telekomunikasi seluler tersebut akan membagikan 1.000 akses pengguna dengan 3.000 buku dari 69 kategori.

Sementara itu, bagi Gramedia Digital Nusantara, “Suatu kehormatan bagi kami bisa membantu Telkomsel dalam mempersiapkan aplikasi T-Perpus,” kata chief operating officer-nya, Adi Ekatama.

—Anwar Ibrahim, TechnoBusiness ID ● Foto: Telkomsel

 

Salim Group Tanamkan Investasi Strategis di Youtap

Singapura dan Jakarta, TechnoBusiness ID · Salim Group, konglomerasi bisnis terbesar di Asia asal Indonesia, baru saja menjalin kemitraan strategis dengan Youtap Limited, perusahaan jasa keuangan seluler (mobile financial services) untuk transaksi seluler nirkabel (contactless mobile money payments) dan jasa keuangan di Eropa, Timur Tengah, Afrika, dan Asia.

Kedua perusahaan sepakat untuk mendirikan perusahaan yang beroperasi di berbagai pasar dalam menjalankan bisnis penyediaan aplikasi dan solusi e-moneybagi pemilik gerai dan konsumen. Salim akan berinvestasi di Youtap dan akan memegang saham minoritas substansial atas berdirinya perusahaan yang beroperasi.

Baca Juga: Strategi AirAsia Dorong Pertumbuhan lewat Data 

Dengan berinvestasi di Youtap, Salim dapat mengakses saranae-moneydan solusi Youtap secara lengkap. Teknologi dan layanan Youtap kemudian disuguhkan kepada konsumen, pemilik gerai, dan jaringan distribusi rantai pasoknya yang tersebar di berbagai negara.

Di sisi lain, konsumen akan dimudahkan dalam proses pembayaran elektronik, mulai dari dompet, perangkat, hingga metode pembayarannya. Selain itu, manajemen Salim mengatakan Youtap juga menyediakan berbagai aplikasi untuk mengelola inventaris dan pembayaran rantai pasok barang bagi pemilik gerai.

Pendiri dan CEO Youtap Chris Jones tidak bisa menutupi rasa gembiranya setelah perusahaannya memperoleh investasi dari Salim. “Jaringan bisnis global Salim di sektor makanan, manufaktur, dan distribusi berpadu dengan investasi dan visi mereka di bidang financial technology, serta keinginan untuk menjadi penyedia jasa pembayaran e-moneyterdepan di berbagai pasar”.

Atas dasar itu, Salim menjadi mitra dan pemegang saham strategis serta ideal bagi Youtap. Youtap pun berharap dapat menyediakan solusi pembayaran dan aplikasi yang lengkap untuk Salim dan membantu mereka menjadi pemimpin dalam penggunaan kartu e-money.

“Salim merupakan konglomerat Indonesia dengan sumber daya yang signifikan dan pemilik jaringan gerai yang mapan di seluruh target pasar kami,” ungkap Jones. “Jaringan ini memberi kesempatan bagi Youtap untuk membangun posisi kepemimpinan dalam pemrosesan e-money di Asia Tenggara dan dunia.”

Diketahui Standard Chartered Bank Cabang Singapura bertindak sebagai penasihat keuangan eksklusif bagi Youtap atas transaksi tersebut. Sayangnya, dalam keterangan resmi itu, tidak diketahui berapa nilai investasi yang ditanamkan Salim Group ke Youtap.·

—Intan Wulandari, TechnoBusiness ID · Foto:Youtap

Skyegrid, Platform Game Streaming Android Pertama

Jakarta, TechnoBusiness ID ● Ingin bermain game seperti Fornite, Assasin’s Creed Origins, atau Far Cry 5 tapi laptop dan ponsel Anda kurang mumpuni? Tak usah khawatir, karena sekarang ada Skyegrid.

Skyegrid merupakan platform game streaming berbasis komputasi awan (cloud) atau yang populer disebut cloud gaming. Dengan solusi itu, siapa pun dapat bermain game triple A (AAA) dengan perangkat apa pun.

Baca Juga: Strategi Menghadapi Era Digital dengan 3C

Jika memiliki laptop kerja biasa berbasis Windows, MacBook, dan iMac, atau pun ponsel pintar Android, Anda bisa bermain game secara cukup menyenangkan. Bahkan, Skyegrid dianggap sebagai platform cloud gaming pertama di Indonesia.

“Selama ini, untuk memainkan game tripel A, kita membutuhkan konsol game, misalnya PlayStation, Xbox, atau personal computer berspesifikasi tinggi. Tapi, tidak semua orang mampu membelinya,” ujar Rolly Edward, CEO Skyegrid, dalam peluncurannya di Jakarta, Kamis (9/8).

ROLLY EDWARD, CEO Skyegrid

Bayangkan, konsol game Sony PlayStation 4 (500 GB) dibanderol seharga Rp3,5 juta; unit televisi ukuran 32 incinya seharga Rp2,5 juta; belum termasuk game-game-nya yang rata-rata seharga Rp300.000. Jika ditotal bisa menghabiskan Rp6,3 juta.

Itulah yang menjadi alasan Rolly dan teman-temannya untuk mengembangkan cloud gaming bernama Skyegrid. Sehingga, tanpa membeli perangkat yang mahal itu, siapa pun sudah bisa bermain game. Tapi, karena berbasis cloud, gamer mesti mendaftar dan berlangganan.

Baca Juga: Wisatawan Milenial di Asia Pasifik Ingin Hal-Hal Baru

Untuk tahap awal, Skyegrid menyediakan 50-an judul game AAA terpopuler di Tanah Air dari 25-an penerbit game global. Penerbit-penerbit itu di antaranya Ubisoft, CD Project, Epic Games, 2K, dan masih banyak lagi. Sampai akhir tahun nanti, jumlahnya akan ditambah menjadi 120 game.

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menyatakan Skyegrid merupakan contoh economy sharing. Sebab, “Teknologi ini bisa memberikan stimulan kepada teman-teman pengembang lokal di Indonesia untuk menuju pasar internasional,” kata Rudiantara.

Dengan begitu, Direktur Infrastruktur Teknologi Informasi Komunikasi Badan Ekonomi Kreatif Muhammad Neil El Himam menambahkan, Skyegrid sangat mungkin menjadi nafas baru bagi industri game, khususnya pengembang game lokal pada masa depan.

Jika melihat potensi pasar game nasional, nilainya besar sekali. Pada 2017, nilai pasar video game di Tanah Air mendekati US$900 juta (Rp13 triliun). Sayangnya, porsi lokalnya tidak sampai 5%. “Saya berharap Skyegrid mampu menggenjot porsi lokal dari 5% menjadi 10 atau 20% dan seterusnya,” kata Muhammad.●

—Anwar Ibrahim, TechnoBusiness ID ● Foto: Skyegrid

“Raja Jodoh” dari India Incar Indonesia

Mumbai dan Jakarta, TechnoBusinessMatrimony.com, situs perjodohan online pertama di India dengan kapitalisasi pasar sebesar Rs 2000 crore, menargetkan 1,5 miliar pengguna muslim di seluruh dunia.

Untuk mencapainya, Matrimony—yang mengelola BharatMatrimony, EliteMatrimony, dan CommunityMatrimony—membentuk induk perusahaan baru untuk pasar global yang dinamakan GlobalMuslimMatch.com.

Baca Juga: Pasar Ritel Online India Tumbuh 63% per Tahun

Menurut keterangan resmi yang diterima TechnoBusiness pada Senin (23/7), GlobalMuslimMatch akan berkantor pusat di Dubai, Uni Emirat Arab. Di bawah induk baru itu dikembangkan situs perjodohan yang juga baru dengan nama sesuai pasarnya.

IndonesiaMuslimMatch, salah satu situs perjodohan online di Indonesia yang dirilis GlobalMuslimMatch.com, anak perusahaan baru Matrimony.com asal India.

GlobalMuslimMatch mengusung ArabMuslimMatch.com untuk pasar Timur Tengah, AmericanMuslimMatch.com untuk pasar Amerika Serikat, EuropeanMuslimMatch.com untuk pasar Eropa, dan BangladeshMuslimMatch.com untuk pasar Bangladesh.

Lalu, MalaysiaMulismMatch.com untuk pasar Malaysia dan IndonesianMuslimMatch.com untuk pasar Indonesia. Melihat namanya secara jelas situs-situs tersebut ditujukan untuk para pencari jodoh kaum muslim.

Matrimony meyakini kombinasinya dengan GlobalMuslimMatch mampu melayani sepertiga populasi global dan memecahkan target jumlah pengguna yang telah ditetapkan. Sayangnya, target pengguna itu tidak disebutkan secara rinci target waktu pencapaiannya pula.

CEO Matrimony Limited Murugavel Janakiraman menyatakan berbekal pemahaman tentang domain perjodohan ditambah pengalaman 18 tahun dalam mengelola perusahaan publik yang menguntungkan membuat perusahaan optimistis atas upaya ekspansi global tersebut.

“Kami merasa pasar perjodohan muslim global yang terfragmentasi menawarkan peluang besar bagi pemain mapan seperti kami,” ungkap Janakiraman.

Karakter perkawinan online di Asia sangat mirip dengan wilayah yang disasar Matrimony selama ini. “Dan, kami yakin akan memberikan pilihan yang lebih luas dan pengalaman perjodohan yang lebih kaya bagi muslim di kawasan tersebut,” lanjutnya.

“Kami merasa pasar perjodohan muslim global yang terfragmentasi menawarkan peluang besar bagi pemain mapan seperti kami.”

—Murugavel Janakiraman, CEO Matrimony Limited

Di India, Matrimony telah menjelma menjadi pemimpin pasar industri jasa perkawinan yang bernilai US$55 miliar. Beberapa bisnis yang menyumbang pendapatan bagi Matrimony yaitu MatrimonyPhotography, MatrimonyBazaar, dan MatrimonyMandaps.

Matrimony, yang berpusat di Chennai, India, juga memiliki 140 gerai konvensional dan mempekerjakan sebanyak 4.000 karyawan. Pada kuartal 1/2018, seperti diberitakan The Economic Times, perusahaan membukukan pendapatan Rs 335,5 crore, naik 14,5% dari Rs 293 crore pada periode yang sama tahun lalu.

Pasar Indonesia

Bisnis perjodohan online memang menggiurkan. Metode yang dipakai adalah mempertemukan antaranggota secara sistematis berdasarkan tes psikologi atau kuesioner yang dikumpulkan melalui pencocokan algoritma.

Hampir di semua negara telah muncul situs perjodohan online semacam itu. Di Indonesia, salah satu yang telah ramai digunakan yaitu Setipe.com. Bedanya dengan IndonesiaMuslimMatch yang diluncurkan Matrimony, Setipe tidak menjodohkan hanya untuk kaum atau agama tertentu.

Secara keseluruhan, pasar perjodohan online di Tanah Air lumayan menarik. Periset pasar Statista menyebutkan bahwa pendapatan yang berhasil dikumpulkan oleh industri diperkirakan mencapai US$17 juta pada 2018. Pada 2022, nilai pasarnya sudah menjadi US$23 juta.

Artinya, rata-rata potensi pasarnya tumbuh 7,7% selama periode perkiraan. Oleh sebab itu, wajar jika “Raja Jodoh” India masuk ke pasar Indonesia, di samping melakukan ekspansi ke Eropa, Amerika Serikat, Timur Tengah, dan lainnya.

Yang perlu dipahami oleh Matrimony, kata Jeffrey Bahar, Group Deputy CEO Spire Research and Consulting, adalah karakter pasarnya. Sebab, kultur Indonesia dengan kultur India dan negara lain jauh berbeda.

“Di Indonesia, situs perjodohan atau kencan online banyak tapi masyarakatnya cenderung tertutup andaikan memanfaatkannya. Muncul anggapan mencari jodoh secara online itu karena gagal dalam menemukan jodoh sebagaimana umumnya,” ungkap Jeffrey.

Namun demikian, pasar perjodohan atau kencan online pasti bertumbuh karena menjadi pola baru seiring semakin banyaknya kaum milenial yang memang sarat teknologi. “Tapi, untuk bisa menjadi rujukan masih butuh waktu,” ujarnya.●

—Anil Taba (India) dan Ivan Darmawan (Indonesia) ● Foto-Foto: Matrimony.com

 

Membaca Strategi Bisnis YouAppi di Pasar Asia

San Francisco dan Jakarta, TechnoBusiness ID● Besarnya potensi pasar membuat bisnis e-commerce di Asia Pasifik tumbuh pesat. Tak ayal pemain-pemain global pun berebut masuk ke kawasan ini melalui beragam cara, baik mengembangkan situs versi lokal, menanamkan investasi, ataupun akuisisi.

Baca Juga: Clova Auto Lengkapi Kendaraan Cerdas Toyota

Akibatnya, pasar semakin ramai pemain. Bahkan, lebih dari itu, persaingan dalam memperebutkan konsumen pun sudah kian sengit. Adu diskon, gratis ongkos kirim, jorjoran iklan di media elektronik tak terhindarkan. Kegiatan-kegiatan below the line acap kali disuguhkan.

YouAppi membantu growth marketing perusahaan-perusahaan e-commerce global, termasuk di Indonesia.

Atas dasar itu, YouAppi, perusahaan rintisan (startup) yang bergerak di bidang periklanan dan growth marketing perangkat seluler (mobile ad) berkantor pusat di San Francisco, Amerika Serikat, tersebut berupaya memperkuat basis pasarnya di Asia Pasifik yang sudah dimasukinya sejak 2017.

YouAppi menggarap pasar regional ini pertama kali di wilayah-wilayah yang menarik bagi e-commerce seperti China, Jepang, Indonesia, Filipina, Korea. Perusahaan itu berhasil membantu kampanye pemasaran pemain-pemain utama di ranah teknologi.

Perusahaan-perusahaan yang sudah terbantu oleh teknologi growth marketing YouAppi di antaranya online marketplace Bukalapak di Indonesia, pengembang aplikasi Cheetah Mobile di China, penyedia bermacam layanan internet Tencent di China, dan aplikasi belanja online Shopee asal Singapura.

“Untuk pemasar seluler, Asia merupakan salah satu tempat paling menarik di dunia.”

—Moshe Vaknin, pendiri dan CEO YouAppi

“Sebagai situs jual-beli online terkemuka di Indonesia, kami harus menggaet pengguna yang tepat dan memandu mereka hingga ke proses pembelian,” ujar Niva Widya, Senior Digital Marketing Manager Bukalapak. Untuk itu, Bukalapak menggunakan layanan YouAppi.

Niva menjelaskan, berkat YouAppi, Bukalapak mampu melakukan pendekatan secara mendalam kepada pelanggan. Alhasil, persentase pembeliannya lumayan tinggi dengan biaya akuisisi pelanggan (customer acquisition costs) yang cukup rendah.

Pengakuan yang sama juga dikemukakan oleh Shopee Indonesia. Horas Octavianus Sihotang, Performance Marketing Manager Shopee Indonesia, menyatakan, “YouAppi mengoptimalkan penempatan iklan kami melalui jaringan mereka, menggunakan strategi display campaign berkinerja tinggi dan terbukti berhasil.”

US$18,1 JUTA

Dana yang sudah dikumpulkan YouAppi sejak didirikan pada 4 September 2011

Platform 360 YouAppi bekerja untuk meningkatkan akuisisi dan retensi high-value-customers dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan machine learning ke perangkat mobile pelanggan. Platform tersebut menghubungkan merek-merek premium dengan target pasarnya.

“Untuk pemasar seluler, Asia merupakan salah satu tempat paling menarik di dunia,” ungkap Moshe Vaknin, pendiri dan CEO YouAppi. “Konsumen tidak hanya melek teknologi dan rajin menggunakan ponsel, tapi juga selalu mencari cara yang baru dan menarik untuk terhubung dengan merek favorit mereka.”

Strategi lebih lanjut, YouAppi berupaya memperkuat pasarnya di kawasan Asia Pasifik. menggenjot kinerja Demi menggenjot pasarnya di Asia Pasifik, pada Minggu (2/7) YouAppi membuka kantor di Singapura. Manajemen YouAppi beralasan pertumbuhan iklan seluler di Negeri Merlion saat ini melebihi kinerja global.

Berdasarkan data yang dirilis Pricewaterhouse Coopers, pendapatan sektor hiburan dan media di Singapura diperkirakan bakal mencapai US$6,58 miliar pada 2020. Video online menjadi segmen iklan seluler dengan pertumbuhan terpesat di negara tersebut.

Dengan begitu, kini YouAppi beroperasi di 12 negara di Asia, Eropa, dan Amerika Utara. Sejak didirikan oleh Moshe Vaknin dan Ofer Garnett pada 4 September 2011, YouAppi telah berhasil menggalang pendanaan senilai total US$18,1 juta.

Pendanaan terbaru diperoleh YouAppi pada 17 Februari 2016 dari enam pemodal ventura (venture capital) senilai US$13,1 juta. Keenam pemodal ventura itu antara lain Global Brain Corporation, Flint Capital, 2B Angels, Digital Future, Emery Capital, dan Hawk Ventures.●

—Philips C. Rubin, TechnoBusiness; Vino Darmawan, TechnoBusiness ID ● Foto-Foto: YouAppi

 

Dapat Suntikan US$20 Juta, EV Hive Siap Ekspansi ke Asia Tenggara

Jakarta, TechnoBusiness ID · EV Hive, perusahaan penyedia co-working space terbesar di Indonesia, baru saja mendapat suntikan dana secara bersama-sama dari Softbank Ventures Korea, H&CK Partners, Tigris, Naver, Line Ventures, STIC Investments, East Ventures, SMDV, Sinar Mas Land, Insignia Ventures Partners, Intudo Ventures, dan angel investor seperti Michael Widjaya dan Chris Angkasa senilai US$20 juta.

Suasana EV Hive @ Pos Indonesia, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.

Dana itu akan dimanfaatkan EV Hive untuk melakukan ekspansi ke 100 lokasi di Asia Tenggara. Ekspansi tersebut sebagai langkah pengembangan co-working space yang sudah mencapai 30.000 meter persegi (m2) di 21 lokasi di Tanah Air. Yang terbaru, EV Hive menjalin kerja sama dengan Menara Mandiri dan Menara Prima di Jakarta.

“Kami sangat senang menyambut para investor baru untuk berpartisipasi dalam pertumbuhan EV Hive di Indonesia dan Asia Tenggara,” ujar CEO dan co-founder EV Hive Carlson Lau.

Menurut Partner and Managing Director Softbank Ventures Korea Sean Lee, Softbank Ventures Korea mengucurkan pendanaan ke EV Hive karena berpeluang menciptakan kombinasi yang kuat antarkedua perusahaan.

Sinar Mas Land sebagai mitra sebelumnya juga sepakat meneruskan kerja sama. Karena itu, Willson Cuaca selaku Managing Parner East Ventures mengungkapkan rasa syukurnya karena EV Hive telah berkembang cukup pesat. “Kami yakin EV Hive akan memenangkan pasar Indonesia dan seterusnya berkembang ke Asia Tenggara,” ungkapnya.·

—Intan Wulandari, TechnoBusiness ID · Foto-Foto: EV Hive