“Jadi Pemenang” Cara Adx Asia

Jakarta, TechnoBusiness ID · Adx Asia, sebuah platform marketplace periklanan yang berbasis di Jakarta, mengajak para pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) untuk menjadi pemenang.

Caranya, kata Albert Toha, pendiri sekaligus CEO Adx Asia, dalam konferensi persnya di Jakarta, Selasa (15/1), dengan mendigitalkan bisnisnya dan membuat video untuk platform digital.

Baca Juga: Strategi “Invasi” Tokocrypto ke Kampus-Kampus

Mendigitalkan bisnis sangat penting karena hampir seluruh konsumen sudah terkoneksi dengan dunia maya. Sedangkan video untuk platform digital diperlukan untuk mempromosikan bisnis tersebut.

Sebab, hingga akhir 2018 jumlah UKM di Indonesia mencapai 60 juta, sehingga persaingannya sudah pasti amat ketat. Itu belum dibandingkan dengan rival-rival dari merek-merek raksasa di pasar yang sama.

“Dalam upaya merebut pasar, pelaku UKM perlu membuat strategi pemasaran dan promosi yang efektif, efisien, dan berbiaya rendah.”

Oleh karena itu, kata Albert, “Dalam upaya merebut pasar, pelaku UKM perlu membuat strategi pemasaran dan promosi yang efektif, efisien, dan berbiaya rendah.” Adx Asia dihadirkan sejak 2016 untuk itu, yakni membantu UKM-UKM mempromosikan bisnisnya dengan biaya murah.

Sampai saat ini, Adx Asia telah membantu mempromosikan bisnis sekitar 80 perusahaan yang mayoritas berskala kecil menengah di 300 titik ruang publik.

Tidak jelas berapa jumlah layar media yang tersedia di titik-titik itu. Tapi, perusahaan tersebut pernah menyebutkan bahwa manajemen berupaya untuk menyebar 1.000 layar media di empat kota di Indonesia.

Agar menarik para UKM untuk beriklan, maka Adx Asia meluncurkan kampanye “Jadi Pemenang”. Kompetisi pembuatan video bertema “Jadi Pemenang” itu diharapkan dapat melatih UKM-UKM untuk mempromosikan produknya melalui layar media Adx Asia.

TechnoBusiness TV: Indonesia di Mata Investor Jepang

Tidak sulit. “Hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk membuat sebuah iklan produk dan langsung terpasang di semua titik yang kami miliki,” kata Albert. “Biayanya, mulai dari Rp10.000 per hari.”

Masalahnya, apakah beriklan di layar-layar media semacam itu masih efektif? “Untuk lokasi-lokasi tertentu yang ramai, iya, sedangkan di lokasi-lokasi yang sepi jelas tidak,” kata Jeffrey Bahar, Group Deputy CEO Spire Research and Consulting, di Jakarta, Rabu (16/1).

Beriklan di layar-layar media itu tak ubahnya berpromosi di media-media lainnya, baik cetak maupun elektronik. Ada dua pengukurannya, karena jumlah penontonnya banyak atau mengejar efektivitas sesuai target pasar.

Strategi kampanye membuat video bertema “Jadi Pemenang” memang bagus bagi Adx Asia. Akan tetapi, lanjut Jeffrey, tetap saja para UKM mesti berpikir seberapa sesuai layar-layar media itu dengan strategi pemasaran produknya.·

—Ivan Darmawan, TechnoBusiness ID · Foto: Adx Asia

 

Incar Pasar Kuliner, DIVA Investasi di Pawoon

Jakarta, TechnoBusiness ID PT Digital Voucher Nusantara Tbk. (IDX: DIVA), entitas anak PT Kresna Graha Investama Tbk. (IDX: KREN), berencana akan berinvestasi sebesar 30% di Pawoon, sebuah aplikasi point of sales (POS) berbasis cloud.

Tidak disebutkan berapa nilai investasi yang dikucurkan, tapi dinyatakan akan mengakselerasi pertumbuhan Pawoon secara eksponensial dan memasuki bisnis miliaran dolar di Asia Tenggara.

Baca Juga: Bulan Madu Baim-Paula Disponsori Booking.com

“Suntikan dana segar dari DIVA akan diarahkan untuk pengembangan produk serta mempercepat akuisisi merchant di penjuru negeri dengan potensi jutaan bisnis,” ungkap Ahmad Gadi, pendiri dan CEO Pawoon.

Tahun lalu, Pawoon juga mendapat kucuran dana dari Kejora Ventures melalui Kejora Star Capital II Fund

Pawoon menarik untuk diakuisisi karena membantu semua jenis dan ukuran usaha secara digital, mulai layanan penjualan hingga investori.

Sejak didirikan pada 2015, aplikasi Pawoon telah digunakan oleh lebih dari 10.000 merchant yang tersebar di 200 kota.

Namun, jumlah merchant itu jauh lebih sedikit ketimbang yang diumumkan Pawoon setahun lalu yang berkisar 30.000 bisnis terdaftar.

Merek-merek populer seperti Go-Pay, Geprek Bensu, Dum Dum Thai Tea, Bakso Lapangan Tembak, dan Mango Bomb merupakan sebagian dari penggunanya.

“Dengan pertumbuhan eksponensial yang melonjak 28 kali lipat selama 24 bulan terakhir, pertumbuhan bulanan 20% dalam empat bulan terakhir, Pawoon menawarkan ekspansi bisnis yang menarik,” kata Dian Kurniadi, Direktur DIVA.

TechnoBusiness Insight: Ekonomi Digital Asia Tenggara Menuju US$240 Miliar 

Dengan begitu, Pawoon memungkinkan mendorong pertumbuhan potensial bagi DIVA di luar tiga sektor yang digarap sebelumnya.

Apalagi, pasar makanan dan minuman yang menjadi konsentrasi Pawoon bernilai Rp27,5 triliun per tahun hanya di Jakarta saja.

Tahun lalu, Pawoon juga mendapat kucuran dana dari Kejora Ventures melalui Kejora Star Capital II Fund bersama lima perusahaan rintisan (startup) lainnya seperti C88Fintech Group, Qareen Group Asia, Etobee, Investree, dan MoneyTable.

Pendanaan yang tidak disebutkan nilainya itu dilakukan setelah Kejora Ventures menggalang dana US$80 juta dari investor-investor besar, di antaranya Barito Pacific Group, Charoen Pokphand, dan Hubert Burda Media.●

—Ivan Darmawan, TechnoBusiness ID ● Foto: Pawoon

Strategi BCA Jaring Kreator Teknologi Perbankan

Jakarta, TechnoBusiness ID ● Teknologi informasi, digitalisasi, dan big data terus berkembang dan mengubah gaya hidup masyarakat dunia, tidak terkecuali di Indonesia.

PT Bank Central Asia Tbk (IDX: BBCA), salah satu perusahaan perbankan terbesar di Tanah Air, tidak ingin tertinggal dengan perkembangan itu. Caranya dengan menyelenggarakan kompetisi #DataChallenge.

Baca Juga: HP Perkenalkan Tiga Seri Laptop Terbaru

Dalam Demo Day Finhacks 2018 #DataChellenge, BCA, bank transaksi yang memiliki 18,5 juta nasabah per September 2018, menyatakan kompetisi tersebut sebagai upaya perusahaan bersinergi dengan komunitas data science.

Sebanyak 15 finalis akan dipilih, terdiri dari 5 finalis kategori Credit Scoring, 5 finalis Fraud Detection, dan 5 finalis kategori ATM Cash Optimization.

Rangkaian Finhacks 2018 #DataChallenge sudah dimulai sejak Agustus lalu.

Dari seluruh tahapan pendaftaran, diketahui ada 4.162 peserta yang mendaftar dengan 605 machine learning model yang telah dikumpulkan.

Sebanyak 15 finalis akan dipilih, terdiri dari 5 finalis kategori Credit Scoring, 5 finalis Fraud Detection, dan 5 finalis kategori ATM Cash Optimization.

Mereka berkompetisi kembali pada demo day untuk memperebutkan sebagai sang juara. Sayangnya, hingga kini belum ada informasi siapa yang memenangkan kompetisi itu.

Baca Juga: Zahir Alokasikan Rp100 Miliar untuk Fintech Syariah

“Melalui Finhacks 2018 #DataChallenge, kami meyakini bakat terbaik dari para data scientist di Tanah Air dapat terjaring,” ungkap Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja di Jakarta, Rabu (14/11).

Jahja meyakini bahwa para talenta terbaik tersebut nantinya akan mampu berkreasi secara maksimal dengan data dan mengeksekusinya hingga menjadi rumusan solusi di bidang perbankan.●

—Anwar Ibrahim, TechnoBusiness ID ● Foto: BCA

 

Mengapa Cocowork Berubah Nama Lagi?

Jakarta, TechnoBusiness ID ● Rasanya baru enam bulan jaringan ruang kerja bersama (co-working space) terbesar di Indonesia EV Hive mengubah namanya (rebranding) menjadi Cocowork, kini telah berganti lagi.

Dalam pengumuman yang diterima TechnoBusiness Indonesia pada Jumat (10/11), Cocowork telah mengubah namanya menjadi CoHive. Artinya, dari semula EV Hive, Cocowork, lalu CoHive.

Baca Juga: Dapat Suntikan US$20 Juta, EV Hive Siap Ekspansi ke Asia Tenggara

Manajemen beralasan perubahan nama dari Cocowork menjadi CoHive karena layanan yang ditawarkan bukan lagi sekadar ruang kerja bersama, melainkan juga co-living solution dan konsep ritel baru.

“Dengan serangkaian solusi komprehensif yang ada dalam CoHive, komunitas pengusaha yang tergabung bersama kami dapat bekerja, hidup, dan bersenang-senang di dalam ekosistem kami,” ungkap Carlson Lau, co-founder dan CEO CoHive.

Co-Hive telah mengoperasikan lebih dari 32.000 meter persegi (m2) ruang kerja bersama di 22 lokasi strategis di Jakarta dan Medan.

Saat ini, Co-Hive telah mengoperasikan lebih dari 32.000 meter persegi (m2) ruang kerja bersama di 22 lokasi strategis di Jakarta dan Medan.

Berbekal layanannya yang holistik dan terintegrasi, CoHive optimistis mampu memperluas ruang kantornya hingga 100.000 m2 tahun depan.

Untuk mencapai target itu tidak akan sulit karena CoHive didukung sejumlah investor kuat, di antaranya East Ventures, Sinar Mas Digital Ventures, Insignia Ventures, SoftBank Ventures Korea, H&CK Partner, Tigris Investment, dan Intudo Ventures.

Baca Juga: Gandeng EV HIve, Strategi Pos Indonesia Maksimalkan Aset Properti

Enam bulan lalu, tepatnya pada 26 Juni, EV Hive mengumumkan pergantian namanya menjadi Cocowork. Cocowork diambil dari kata community, collaboration, dan workplace.

Saat itu, Carlson mengutarakan bahwa pergantian nama dari EV Hive menjadi Cocowork dilakukan demi mengakhiri kesalahmengertian yang selama ini terjadi jika EV Hive merupakan bagian dari pemoda ventura East Ventures.

Padahal, kata Carlson, EV Hive dimiliki oleh beberapa investor, termasuk investor-investor yang masih bertahan saat ini, dan East Ventures hanyalah salah satunya.●

—Intan Wulandari, TechnoBusiness ID ● Foto: TechnoBusiness ID

 

MMV Siapkan US$50 Juta untuk Startup Asia Tenggara

Singapura, TechnoBusiness ID ● MassMutual Ventures (MMV), pemodal ventura bersistem imbal hasil yang berbasis di Boston, Massachusetts, Amerika Serikat, mengalokasikan investasi US$50 juta untuk 10-15 perusahaan rintisan (startup) di Asia Tenggara.

Namun, investasi itu lebih difokuskan pada startup-startup yang bergerak di bidang kesehatan digital, teknologi finansial, insurtech, dan peranti lunak perusahaan.

Baca Juga: Setahun, Warung Pintar Pintarkan 1.000 Kios

Investasi itu lebih difokuskan pada startup-startup yang bergerak di bidang kesehatan digital, teknologi finansial, insurtech, dan peranti lunak perusahaan.

“Dana baru ini menekankan komitmen kami dalam membangun platform MMV yang betul-betul mendunia,” ungkap Doug Russell, Managing Director MMV.

Penyaluran investasi MMV di Asia Tenggara akan dikelola oleh MMV SEA.

“Pembentukan MMV SEA memperkuat tekad MMV di Asia Tenggara,” lanjut Eddie Ahmed, Chairman, Presiden, dan CEO MassMutual International.

MMV, anak usaha dari Massachusetts Mutual Life Insurance Company, melihat begitu banyak peluang menarik dan inovatif di kawasan ini. MMV SEA dipimpin oleh dua orang managing director, yaitu Ryan Collins dan Anvesh Ramineni.●

—Michael A. Kheilton, TechnoBusiness ID ● Foto: PDPLondon.com

 

Setahun, Warung Pintar Pintarkan 1.000 Kios

Jakarta, TechnoBusiness ID Warung Pintar, platform digitalisasi ritel kecil tradisional, berhasil memodernisasi proses bisnis terhadap 1.000 kios di Jabodetabek dalam satu tahun pertama.

Keberhasilan itu akan dirayakan dengan menggelar Pesta Rakyat Pintar di Theater Garuda, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, pada Minggu (11/11).

Baca Juga: Go-Food Jadi Raja Deliveri Makanan Asia

Kios-kios tersebut dikatakan Warung Pintar karena dilengkapi dengan beberapa fitur teknologi, di antaranya surveillance camera, digital system, charging station, PreFab Building, LCD TV, stove dan dispenser, dan lemari es mini.

Ada pula Wi-Fi gratis serta fasilitas pembayaran nontunai menggunakan Ovo dan Go-Pay. “Tentu hal ini bisa diwujudkan secara kolaborasi dengan startup lain,” ungkap Agung Bezharie, CEO Warung Pintar, di Jakarta, Rabu (7/11).

Hingga saat ini, sudah ada 34 prinsipal yang andil dalam menyediakan produk ke mitra Warung Pintar.

Hingga saat ini, sudah ada 34 prinsipal yang andil dalam menyediakan produk ke mitra Warung Pintar.

Dari prinsipal-prinsipal itu telah terkumpul sekitar 370 jenis produk yang tersedia di Warung Pintar.

Jika melihat jumlah kiosnya, dalam setahun Warung Pintar tumbuh 110 kali lipat. Per September lalu, Warung Pintar telah mendorong kemandirian bagi 57% mitra.

Agung menjelaskan satu kios Warung Pintar berdampak sosial ekonomi pada lima orang, terdiri dari 1 mitra, 2 orang keluarganya, 1 penjaga warung, dan 1 orang keluarga penjaga warung.

Simak Juga: Exclusive Interview with Setyo Harsoyo, CEO Sprint Asia Technology

Pendapatan mitra pun tumbuh signifikan. “Per kuartal kedua, pendapatan mitra naik 37% dibanding kuartal sebelumnya,” tambah Agung.

Setelah berhasil memodernisasi 1.000 kios di Jabodetabek pada tahun pertama, Warung Pintar siap berekspansi ke beberapa kota lain di Indonesia.

Bagi yang berminat menjadi mitra, merujuk pada informasi yang ada di situsnya, mitra bisa hanya menyediakan tempatnya. Warung, modal, fasilitas akan disediakan oleh Warung Pintar.●

—Intan Wulandari, TechnoBusiness ID ● Foto: Warung Pintar

 

Go-Food Jadi Raja Deliveri Makanan Asia

Jakarta, TechnoBusiness ID PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (Go-Jek) menyatakan layanan pesan antar makanannya, Go-Food, telah menjadi yang terbesar se-Asia, di luar China.

Sebab, perusahaan penyedia jasa angkutan berbasis online asli Indonesia yang berdiri pada 2010 itu menyebutkan, saat ini Go-Food telah memiliki hampir 300.000 mitra merchant di seluruh Indonesia.

Baca Juga: Jumlah Pengunjung Lazada Anjlok Amat Dalam

“Layanan Go-Food telah menghubungkan puluhan juta pengguna dengan hampir 300.000 merchant di Indonesia,” kata Catherine Hindra Sutjahyo, Chief Commercial Expansion Go-Jek, di Jakarta, Senin (5/11).

Selain terbesar se-Asia, Go-Food juga menjadi platform kuliner terlengkap di Tanah Air. Lebih dari itu, berbekal teknologi analisis big data, Go-Food menjadi Social Proven Personalized Food Expert.

“Layanan Go-Food telah menghubungkan puluhan juta pengguna dengan hampir 300.000 merchant di Indonesia.”

Catherine menjelaskan, yang dimaksud Social Proven Personalized Food Expert yaitu layanan yang memberi kemudahan kepada pengguna dalam menentukan dan menemukan makanan favorit mereka.

“Jadi, pengguna bisa disodori menu-menu sesuai riwayat pengguna sehingga lebih personal. Antarpengguna berbeda-beda,” jelas Catherine dalam peluncuran Pesta Mamimumemo, singkatan dari Makan Minum Murah Menang Mobil, tersebut.

Meski Catherine menolak menyampaikan berapa persen kemungkinan fraud seperti order fiktif, keberhasilan Go-Food telah menjadi bahan bahasan di Silicon Valley, China, dan India.

Apalagi, kata Nadhiem Makarim, CEO Gojek, dalam konferensi pers Go-Food Festival pada Januari lalu, 80% mitra Go-Food merupakan usaha kecil dan menengah.

Baca Juga: Mengapa Posisi CIO Semakin Strategis?

Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia pada akhir 2017, seperti diberitakan Liputan6.com, memperkirakan Go-Food telah berkontribusi sebesar Rp1,7 triliun kepada perekonomian negara.

Mamimumemo

Dalam sebulan sejak Senin (5/11), Go-Food mengadakan Pesta Mamimumemo dengan menggandeng ribuan merchant. Selain diskon harga dan bebas biaya ongkos kirim, beberapa hadiah ditawarkan.

“Setiap minggu akan ada hadiah mobile phone, dan pada akhir periode akan diundi dengan hadiah mobil Toyota C-HR,” ungkap Aristo Kristandyo, Vice President Marketing Go-Food.●

—Vino Darmawan, TechnoBusiness ID ● Foto: TechnoBusiness ID

 

Alasan Booking Holdings Berinvestasi di Grab

Singapura, TechnoBusiness ● Dalam sebulan, Grab Holdings Inc., perusahaan layanan offline to online (O2O) terbesar di Asia Tenggara yang berpusat di Singapura, mendulang dua kemitraan strategis.

Jika minggu kedua Oktober lalu menjalin kemitraan Microsoft Corporation (Nasdaq: MSFT), pada Senin (29/10) Grab mengumumkan kerja samanya dengan pemimpin pasar pemesanan tiket online Booking Holdings Inc. (Nasdaq: BKNG).

Baca Juga: 10 Universitas Terbaik Global Versi US News

Pola kemitraan Grab dengan Microsoft dan Booking sama, yakni Grab mendapat kucuran investasi, setelah itu produk dan layanan kedua mitra dapat dipasarkan atau digunakan oleh Grab.

Tapi, Grab akan menggunakan teknologi-teknologi canggih milik Microsoft pasca keputusan kolaborasi.Tidak disebutkan berapa nilai investasi yang dikucurkan Microsoft ke Grab.

Berbeda dengan Microsoft, Booking terang-terangan bakal mengucurkan investasi US$200 juta ke Grab.

Kolaborasi keduanya bertujuan memperluas dan menyederhanakan solusi perjalanan bagi pelancong di Asia Tenggara dan dunia.

Setelah itu, merek-merek yang berada di dalam naungan Booking dapat menawarkan layanan transportasi on-demand melalui aplikasi mereka.

Sebaliknya, pelanggan Grab dapat memesan akomodasi Booking.com dan Agoda.com melalui platform Grab. Para pelanggan tersebut juga dapat membayar pesanan mereka melalui GrabPay.

Kolaborasi keduanya bertujuan memperluas dan menyederhanakan solusi perjalanan bagi pelancong di Asia Tenggara dan dunia.

Todd Henrich, Senior Vice President dan Head of Corporate Development Booking Holdings, menyatakan Grab telah berhasil menjadi pemimpin layanan O2O secara regional dalam beberapa tahun terakhir.

Simak Juga: Exclusive Interview with Setyo Harsoyo, CEO Sprint Asia Technology

“Pasar perjalanan online di Asia Tenggara hampir tiga kali lipat pada 2025, dan kami melihat banyak sinergi antara perjalanan dan transportasi yang mungkin dilakukan,” ungkap Presiden Grab Ming Maa dalam keterangan resminya.

Saat ini, Grab sedang mengumpulkan pendanaan baru yang ditargetkan meraup US$3 miliar sampai akhir tahun nanti. Sekarang investasi yang terkumpul dalam putaran pendaaan tersebut telah mencapai lebih dari US$2 miliar.●

—Michael A. Kheilton, TechnoBusiness ● Foto: Grab Holdings

 

Walletku Kini Milik TNG FinTech Group Hong Kong

Jakarta, TechnoBusiness IDPT Walletku Indompet Indonesia, atau yang lebih dikenal dengan Walletku, resmi diakuisisi oleh TNG Financial Technology Group asal Hong Kong.

Platform dompet digital yang didirikan oleh Tri Putra Permadi dan Farid MN pada 2017 itu dinilai menarik untuk diakuisisi demi memperkuat pasar TNG di Asia Tenggara.

Seperti diketahui, 64% penduduk Indonesia belum memiliki rekening bank. Masyarakat yang unbankable itu berpotensi besar menjadi pengguna Walletku.

Baca Juga: Strategi Jet Commerce Taklukkan Pasar E-commerce

Sejak didirikan, Walletku telah digunakan oleh lebih dari 3 juta orang. Dengan aplikasi itu, para pengguna dapat mengirim uang, membayar tagihan listrik, air, telepon, televisi berbayar, penjualan tiket pesawat, dan lain sebagainya.

Selain pengguna, Walletku juga mempunyai 22.000 jaringan usaha kecil dan menengah yang tersebar di seluruh Indonesia. Sehingga kehadiran Walletku turut membantu memberdayakan usaha-usaha kecil tersebut.

Berkat besarnya potensi pasar yang ada, TNG mencatat nilai transaksi Walletku tumbuh 27% per tahun.

Berkat besarnya potensi pasar yang ada, TNG mencatat nilai transaksi Walletku tumbuh 27% per tahun. “Walletku dan TNG memiliki konsep dan strategi serupa,” Jiang Qingen, founder dan Chairman TNG Financial Technology Group.

Dengan memasukkan Walletku ke dalam peta TNG, maka diharapkan akan semakin memperkuat posisi TNG terdepan di Asia dan Walletku di Indonesia.

Tidak disebutkan berapa nilai akuisisi itu, tapi pasca akuisisi TNG akan langsung memasukkan Walletku ke Global E-Wallet Alliance yang diprakarsainya pada 2016.

Dengan begitu, pengguna e-wallet di China, Indonesia, Filipina, Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, India, Sri Lanka, Bangladesh, yang sudah menjadi anggota Global E-Wallet Alliance dapat mentransfer, mengirimkan pesan instan, melakukan panggilan peer to peer, dan lain sebagainya, secara real-time.

Simak Juga: Exclusive Interview with Setyo Harsoyo, CEO PT Sprint Asia Technology 

Pada September 2017, berdasarkan data Crunchbase, TNG telah mengantongi total pendanaan Seri A senilai $115 juta. Dana yang diperoleh dari tiga pemodal ventura yang dipimpin oleh New Margin Capital asal China itu menurut rencana memang untuk memperkuat ekspansinya ke Asia Tenggara dan Asia Selatan.

“Kami senang bergabung dengan TNG. Ini merupakan peluang bagus bagi kami untuk meningkatkan layanan dan representasi Walletku di Indonesia. Dengan keunggulan teknis TNG dan jaringan yang luas, kami yakin akan menjadi salah satu aplikasi e-wallet terdepan di Tanah Air,” ujar Farid yang bertindak sebagai CEO Walletku.●

—Ivan Darmawan, TechnoBusiness ID ● Foto: Walletku

 

Founda, Wadah Belajar Berbisnis Kaum Milenial

Jakarta, TechnoBusiness ID ● Anda Milenial? Sudah mencari pekerjaan dan ingin berbisnis? Kini, ada Founda, perusahaan rintisan (startup) baru yang mengajak kaum Milenial untuk belajar bersama.

Nama Founda sendiri diambil dari kata founder (pendiri) muda. Founda didirikan untuk meningkatkan jiwa kewirausahaan generasi muda. Caranya, Founda memberikan coaching clinic dan apparel products.

Baca Juga: “Ekonomi Startup Termasuk Skema Ponzi” 

Menurut Albert Palit, pendirinya, Founda pun mengajak para influencer, offline influencer, community leader, dan inspirator untuk bergabung menjadi Founda Partner. Founda Partner itu kemudian melakukan inovasi bisnis.

“Dapat dikatakan Founda merupakan school of founder dengan misi memberi ruang lebih kepada para milenial untuk menginspirasi orang melalui pesan yang mereka sampaikan,” ungkap Albert.

Selanjutnya, Founda menargetkan mampu menciptakan Founda baru yang tergabung dalam Founda Partner. Seperti Abi Bayu, influencer asal Surabaya yang menjadi Founda Partner pertama, telah berhasil memproduksi kaos dan topi dengan desain yang kreatif.

“Founda ingin memberikan kesan yang baik dalam jangka waktu panjang, menginspirasi, memberi edukasi sehingga terjalin hubungan baik antara pembeli, penjual, dan kolega,” tambah Christian Marpaung, co-founder Founda.

—Ivan Darmawan, TechnoBusiness ID ● Foto: Founda