Penjualan Mobil Tumbuh, Bagaimana dengan Bisnis Bengkel?

TechnoBusiness ID ● Masyarakat cenderung mengerem pembelian, tetapi tidak untuk mobil. Penjualan mobil terus naik. Berdasarkan data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil tahun ini ditargetkan menembus 1,1 juta unit.

Baca Juga: AADC, Strategi Memenangkan Pasar Online

Angka itu naik dari 1,07 juta unit pada 2017; 1,06 juta unit pada 2016; dan 1,01 juta unit pada 2015. Peningkatan penjualan itu telah mendorong industri turunannya seperti ban, oli, dan suku cadang lainnya.

Spire TechnoBusiness Lunch di Penang Bistro Grand Indonesia, Jakarta, Rabu (8/5).
Jeffrey Bahar, Group Deputy CEO Spire Research and Consulting (kiri) bersama Indah Muliana, Senior Manager Spire Indonesia (tengah) dan Asisten Manager Putri Permatasari (kanan).

 

Senior Manager Spire Indonesia Indah Muliana mencontohkan, penjualan ban di Tanah Air pada 2016 tercatat sebanyak 8,5 juta unit. Angka itu kemudian naik menjadi 9,1 juta pada 2017.

“Tahun ini diperkirakan akan meningkat sekitar 7-8%,” kata Indah bersama rekannya, Putri Permatasari, dalam Spire TechnoBusiness Lunch (Automotive Edition) di Penang Bistro Grand Indonesia, Jakarta, Rabu (8/5).

Pertanyaannya, meningkatnya penjualan mobil baru itu apakah diikuti pula dengan peningkatan kinerja bisnis layanan purnajual kendaraan? Menurut Handy Suhendra, Direktur Clesia Group, produsen Magic Lube Oil Booster, ternyata tidak.

Pasalnya, Handy menjelaskan, sama halnya dengan konsumsi, orang memilih menunda pengeluaran, termasuk untuk service mobil. Jika bisa diperbaiki sendiri atau ditunda, mayoritas memilih untuk tidak pergi ke bengkel.

Selain itu, bengkel-bengkel lama yang tak melakukan inovasi juga mulai ditinggalkan. “Sekarang pemilik mobil lebih memilih bengkel baru yang lebih nyaman yang sekarang bermunculan di mana-mana,” lanjutnya.

Pendapat Handy itu dibenarkan oleh Robby Kurnia, CEO Autoglaze, bengkel rekanan Toyota. Kebanyakan bengkel independen kurang promosi dan lebih memilih “menunggu bola”.

Handy Suhendra, Direktur Clesia Group (kiri) dan Robby Kurnia, CEO Autoglaze (kanan).

Padahal, di tengah persaingan yang semakin ketat seperti sekarang ini, bengkel-bengkel resmi semakin melengkapi fasilitas dan memperbaiki layanannya. “Oleh karena itu, bengkel-bengkel umum mesti berubah,” ujar Robby.

Salah satu Autoglaze Express yang ada di pusat perbelanjaan. (Foto: Autoglaze)

Sebagai contoh, jika sebelumnya bengkel resmi tidak melayani spooring-balancing hingga penggantian ban, kini sudah menambahkannya. Artinya, kata Robby, yang ditawarkan oleh bengkel umum terdisrupsi oleh bengkel resmi.

Bengkel umum, apalagi yang sudah lama, kebanyakan kurang bersih sehingga tak nyaman bagi pemilik mobil. Sedangkan bengkel-bengkel baru, tambah Handy, dikemas sedemikian rupa sehingga jauh lebih nyaman. “Itu juga bisa membuat bengkel umum menjadi sepi,” katanya.

Persaingan juga datang dari pemain baru yang lebih memosisikan diri sebagai bengkel spesialis seperti pusat ban Planet Ban dan 1 Station. Ada pula produsen yang langsung terjun ke ritel sehingga memangkas jalur distribusi.

Itulah peta persaingan layanan purnajual kendaraan terkini di Tanah Air. Jika tidak melakukan perubahan dan improvement kepada pelanggan, banyak bengkel yang diprediksi akan mati. “Bengkel umum lupa improvement, sedangkan bengkel resmi semua ada,” kata Robby.●

—Purjono Agus Suhendro, TechnoBusiness ID ● Foto-Foto: TechnoBusiness ID

 

Central Kitchen, Solusi Bisnis Kuliner Masa Depan?

Jakarta, TechnoBusiness ID ● Wilayah Indonesia yang amat luas, berkepulauan, dan tak cukup dijangkau dalam waktu singkat menjadi kendala bagi siapa pun yang berbisnis kuliner dengan cabang yang banyak.

 

Baca Juga: Tak Semua Bisnis Kuliner Tumbuh. Ini Penyebabnya

 

Untuk itu, para pebisnis kuliner harus menyiasatinya dengan beragam cara, salah satu yang mulai muncul akhir-akhir ini yaitu memanfaatkan dapur utama, dapur terpusat, atau yang sering disebut central kitchen.

Ilustrasi “central kitchen”

Central kitchen, yang di luar negeri ada pula yang menyebut commissary kitchen, merupakan tempat memasak tersentralisasi dari satu merek restoran dengan jaringan yang banyak.

Biasanya, restoran-restoran yang mengembangkan central kitchen itu karena merasa ingin mempermudah proses pengolahan menu makanan, menjaga standar makanan yang ditawarkan, menghemat biaya pengiriman produk, dan lain sebagainya.

“Ini tren yang kami lihat mulai berkembang di Indonesia,” kata Jeffrey Bahar, Group Deputy CEO Spire Research and Consulting, perusahaan riset dan konsultan bisnis global yang berkantor pusat di Tokyo, Jepang, dalam Spire TechnoBusiness Lunch di Al Nafoura Restaurant, Le Meridien Hotel, Jakarta, Senin (12/3).

Suasana diskusi dalam Spire TechnoBusiness Lunch di Al Nafoura Restaurant, Le Meridien Hotel, Jakarta, Senin (12/3)

Di luar negeri, penggunaan central kitchen sudah marak terjadi. Bahkan, central kitchen justru menjadi peluang bisnis yang potensial, tidak hanya melayani satu jaringan restoran, melainkan ke banyak perusahaan kuliner.

Pemilik jaringan waralaba Gian Pizza Afifah Sekhon, misalnya, tahun lalu mengaku sudah ditawari untuk menggunakan fasilitas central kitchen apabila membuka kedai di Malaysia.

“Waktu itu kami ikut pameran waralaba yang diselenggarakan oleh Malaysia Franchise Association. Begitu ada permintaan waralaba dari Malaysia, kami bingung suplainya bagaimana. Setelah saya konsultasi dengan konsultan bisnis franchise di sana, mereka ternyata sudah menyediakan titik penyewaan central kitchen. Jadi, satu central kitchen untuk beberapa perusahaan,” cerita Ifa.

Tapi, Ifa belum pernah mendengar ada “satu central kitchen untuk semua” di Indonesia. Melihat luasnya wilayah, ia sepakat jika central kitchen menjadi jawaban atas kendala para pebisnis kuliner di Tanah Air dalam mendistribusikan produknya.

Ia sendiri sudah memiliki central kitchen untuk Gian Pizza di Bali, selain di Jakarta. Pasalnya, central kitchen di Pulau Dewata itu untuk melayani jaringan-jaringan kedai western food tersebut di bawah satu masterfranchise.

What’s Up Cafe, tempat nongkrong kekinian dengan target pasar anak muda yang telah memiliki cabang di Jabodetabek, Bandung, dan Manado, sudah menerapkan sistem central kitchen.

“Kami sudah menerapkan central kitchen, walau masih butuh penyempurnaan. Kalau dilihat dari jumlah cabang kami memang belum ideal, tapi sebagai pewaralaba kami memerlukannya,” ujar Valentino Ivan, pemilik What’s Up Cafe.

Saat ini, central kitchen What’s Up Cafe masih berada di Jakarta. Namun, mereka bersiap mengembangkannya di Sumatera jika jumlah cabangnya telah mencapai lima tempat.

“Kami juga tidak menutup kemungkinan membuka central kitchen di Surabaya untuk menangani kawasan timur Indonesia. Sekarang biaya untuk pengirimannya sedikit besar, tapi masih bisa [masuk dalam hitungan],” lanjutnya.

Berbeda dengan Gian Pizza dan What’s Up, untuk menyiasati jauhnya jarak cabang di daerah, Dapoer Roti Bakar yang berpusat di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, lebih memilih melatih stafnya yang berada di daerah dalam membuat roti, produk andalannya.

“Kami juga tidak menutup kemungkinan membuka central kitchen di Surabaya untuk menangani kawasan timur Indonesia.”

—Valentino Ivan, pemilik What’s Up Cafe

“Jadi, kami kirimkan premix-nya dalam bentuk powder dari Jakarta, lalu mereka bisa membuatnya sendiri jadi roti. Itu salah satu cara untuk menekan biaya ekspedisi yang mahal,” kata Dhenny Dhelanto, pemilik Dapoer Roti Bakar, kepada TechnoBusiness Indonesia.

Lain lagi yang dilakukan Doddy Virgianto. Lewat PT Nusapangan Sukses Makmur miliknya, Doddy hanya memproduksi makanan dan minuman siap masak (ready to cook) dan siap minum (ready to drink) untuk konsumen perorangan maupun perusahaan.

Ia berpendapat, central kitchen memiliki dinamika bisnis tersendiri. “Central kitchen memang jadi solusi, tapi kalau belum sesuai skala ekonominya bisa jadi justru jadi beban, karena akan berkaitan dengan sumber daya orang, standardisasi produk, lisensi, dan lain sebagainya,” katanya.●

—Purjono Agus Suhendro, TechnoBusiness ID ● Foto-Foto: Rico/TechnoBusiness ID, FullHouse Kitchen

 

Tak Semua Bisnis Kuliner Tumbuh. Ini Penyebabnya

Jakarta, TechnoBusiness ID ● Industri makanan dan minuman di Indonesia sepanjang 2013-2017 rata-rata (CAGR) tumbuh sebesar 6,95%. Pertumbuhan itu didorong oleh kenaikan kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) makanan dan minuman yang mencapai 26,7%.

Baca Juga: Mencari Solusi Pendanaan Petani

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, pertumbuhan kredit UMKM makanan dan minuman yang tertinggi dibanding rata-rata semua industri jika dilihat dari lapangan usaha yang tercipta.

“Itu berarti jumlah penyedia makanan dan minuman berskala UMKM meningkat,” ungkap Nico Dharmaputra, Research and Consulting Manager Spire Indonesia, perusahaan riset global yang kantor pusat di Tokyo, dalam “Spire TechnoBusiness Lunch” di Al Nafoura Restaurant, Le Meridien Hotel, Jakarta, Senin (12/3).

Suasana diskusi dalam acara Spire TechnoBusiness Lunch di Al Nafoura Restaurant, Le Meridien Hotel, Jakarta, Senin (12/3).

Akan tetapi, acara yang dihadiri oleh para pemilik bisnis kuliner itu mengungkap, tidak semua bisnis kuliner naik daun. Menurut Afifah Sekhon, pemilik jaringan Gian Pizza, masyarakat perkotaan cenderung menyimpan uangnya untuk berlibur akhir pekan, terutama long weekend, ketimbang makan di restoran.

Dibukanya akses Jalan Tol Cipali telah memengaruhi bisnis kuliner di Jabodetabek. “Uang bukan digunakan untuk membeli pizza, tapi disimpan dulu lalu digunakan kalau ada long weeekend. Buang-buang uangnya di situ,” ungkap wanita yang akrab dipanggil Ifa itu.

Itu sebabnya, industri traveling meningkat pesat, sedangkan restoran-restoran premium tak tumbuh. “Hanya kuliner yang punya modal berlipat dan berkonsep milenial yang berjaya. Uangnya bergeser ke kuliner-kuliner di daerah karena masyarakat suka jalan-jalan,” kata Ifa.

“Uang bukan digunakan untuk membeli pizza, tapi disimpan dulu lalu digunakan kalau ada long weeekend. Buang-buang uangnya di situ.”

—Afifah Sekhon, pemilik jaringan Gian Pizza

Di samping itu, restoran yang menargetkan keluarga (family restaurant) juga terimbas disrupsi teknologi. “Biasanya mereka yang berusia 40 tahun ke atas mengajak keluarganya makan di restoran, sekarang cukup memesan menggunakan gadget,” tambahnya.

Anggaran kuliner masyarakat juga terpangkas oleh kebutuhan memiliki perangkat gadget dan elektronik yang lebih bagus. Mereka yang selama ini cukup menonton televisi 32 inci, rela membeli yang berukuran lebih besar secara kredit. Jadi, angsuran bulanan mereka bertambah, tapi untuk makan dihemat.

Indikasi itu juga terlihat di industri perhotelan. Meskipun kebutuhan traveling meningkat, tingkat okupansi hotel bintang lima menurun. Nico mengatakan yang bertahan adalah hotel-hotel kelas menengah, sama halnya tempat-tempat makan, selain tempat makan dengan target kaum milenial yang sedang booming.

—Purjono Agus Suhendro, TechnoBusiness ID ● Foto-Foto: Rico/TechnoBusiness ID

 

Manuver Cantik Astra Graphia

Perilaku pasar berubah setelah industri digital berkembang pesat. Bisnis cetak-mencetak dokumen pun terpengaruh. Kenyataan itulah yang mengharuskan Astra Graphia menyusun strategi baru agar tak lengah. Seperti apa strategi barunya itu?

Oleh Purjono Agus Suhendro ● Foto-Foto: TechnoBusiness, Astra International

 PT Astra Graphia Tbk. sepanjang 2016 hanya berhasil menaikkan pendapatannya sebesar 2% menjadi Rp2,71 triliun jika dibandingkan dengan perolehan setahun sebelumnya sebesar Rp2,65 triliun. Meski pendapatannya sedikit meningkat, laba bersihnya justru turun 4% dari Rp265,12 miliar pada 2015 menjadi Rp255 miliar.

Berdasarkan data yang tertera dalam lembar keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia yang dirilis pada Jumat (24/2), pendapatan itu diperoleh dari penjualan produk melalui entitas anak usaha, yakni PT Astragraphia Informations Technology (AGIT) sebesar Rp1,13 triliun dan unit usaha solusi dokumen sebesar Rp1,54 triliun.

Meski tidak buruk, kinerja Astra Graphia cenderung stagnan. Pasalnya, pada 2015 saja perusahaan mampu mendongkrak pendapatannya sebesar 16% dari Rp2,28 triliun pada 2014 menjadi Rp2,65 triliun. Laba bersihnya pun positif 2% dari 260,27 miliar menjadi Rp265,12 miliar.

Sepertinya ekonomi makro yang melemah memengaruhi kinerja Astra Graphia. Sebab, tak dimungkiri bahwa daya beli pasar di semua sektor industri menurun. Akibatnya, banyak perusahaan yang melakukan efisiensi. Bisnis cetak-mencetak pun tak luput dari faktor itu, yang dalam keterbukaan informasi diakui oleh manajemen perusahaan.

Tidak hanya itu, Astra Graphia juga mesti berhadapan dengan perubahan perilaku pasar dalam berbelanja di zaman yang semakin digital ini. Kenyataan tersebut amat disadari sehingga sejak dua tahun lalu perusahaan mulai melakukan transformasi bisnis.

Salah satu langkah yang diambil adalah menggabungkan entitas Layan Gerak menjadi PT Astragraphia Xprins Indonesia (AXI) pada 14 Februari 2014. Kemudian memperkenalkan dua channel online Business to Business (B2B), yaitu AXIQoe.com untuk memenuhi kebutuhan office supplies serta offlice equipment, dan Xprins Web Services (XWS) untuk pencetakan dokumen berbasis web services.

Dalam jamuan makan siang Spire TechnoBusiness Lunch yang diselenggarakan TechnoBusiness Indonesia bersama Spire Research and Consulting di Penang Bistro, Grand Indonesia, Jakarta, Kamis (23/2), Presiden Direktur Astragraphia Xprins Indonesia Sahat M. Sihombing menjelaskan setelah Layan Gerak dan Xprins digabung ke AXI, kini Astra Graphia hanya memiliki dua entitas bisnis, yaitu AGIT dan AXI.

AGIT bertugas dalam ruang lingkup teknologi informasi, layanan dan solusi aplikasi, sedangkan AXI mengurusi produk-produk ritel seperti printer, toner, dan produk-produk Fuji Xerox dan merek lainnya yang low-end serta multiproduk. AXI juga menangani variabel printing seperti cetak tagihan telepon, billing statement, tagihan koran, dan lain sebagainya yang mengutamakan keamanan.

“Kalau Anda mendapatkan tagihan telepon, salah satunya itu dicetak di tempat kami dan kami yang mengirimkannya. Ada juga rekening koran, tagihan kartu kredit, dan lain sebagainya. Bisnis kami termasuk content distribution dengan armada dan kurir kami sendiri,” kata Sahat kepada TechnoBusiness Indonesia.

Ia mengakui penggabungan dua divisi yang sudah berdiri hampir 24 tahun itu merupakan salah satu strategi perusahaan agar bisa lebih fokus dan berjalan cepat. Dengan begitu, AXI memiliki tiga portofolio bisnis, yakni Xprins, Layan Gerak, dan Layan Gerak Xpress.

Langkah penggabungan itu diambil seraya melakukan transformasi bisnis ke arah pengembangan e-commerce. Ketiga portofolio AXI tersebut didorong agar berkinerja baik, baik dari sisi transaksi konvensional maupun online. “Memang masih 80% offline, 20%-nya online. Tapi, online-nya akan terus berkembang,” ungkapnya.

Transformasi bisnis ke arah online itu bukan sekadar untuk “gagah-gagahan”. AXI beranjak ke ranah online karena adanya perubahan perilaku pasar. Apalagi generasi Y mulai memasuki ruang-ruang pekerjaan, mendominasi perusahaan-perusahaan, dan menempati posisi pengambil keputusan.

Ditambah pengguna internet di Tanah Air saat ini menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia sudah mencapai 132,7 juta, naik dua kali lipat dibanding 2014 yang berjumlah 88,1 juta orang. Dari jumlah itu, 22% atau 82,2 juta di antaranya (dilihat dari sisi penggunaan komersial) memanfaatkan untuk berbelanja online. Sehingga, mau tidak mau perusahaan harus bertransformasi dari sekadar offline ke ranah online pula.

 

Baca Juga: Purjono Agus Suhendro berbincang dengan Sahat M. Sihombing, Presiden Direktur PT Astragraphia Xprins Indonesia

 

Karena itu, sejak tahun lalu Axi meluncurkan e-commerce, di antaranya layanan print on demand XWS dan business to business (B2B) e-commerce yang terdaftar sebagai salah satu penyedia e-katalog Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah (LKPP), Axiqoe.com.

Dengan adanya layanan online, semua proses transaksi menjadi lebih simpel. Sahat mencontohkan, apabila perusahaan Anda yang berbasis di Jakarta mau mengadakan pelatihan di Bali dan membutuhkan 100 handbook, untuk menyiapkannya biasanya Anda berangkat dua hari lebih awal. Keberangkatan Anda pun dengan dua kemungkinan: membawa handbook-nya dari kantor pusat atau mencetak di kota setempat.

Dari situ persoalan muncul. Kalau dibawa dari kantor pusat akan menambah ongkos pengiriman, di samping repot. Namun, apabila dicetak di daerah sekitar tempat pelatihan, Anda tidak tahu percetakan mana yang layak dan sesuai dengan keinginan Anda. Sering kali hasil cetakannya tidak memuaskan, bukan?

Sekarang tidak begitu. Kata Sahat, “Anda tinggal order melalui website XWS, kami akan mencetak dan mengantarkannya langsung ke tempat pelatihan Anda. Kami yang mengerjakan dan kami yang mendistribusikannya. Sekitar satu atau dua jam sebelum pelatihan dimulai, barangnya sudah sampai di ruang pelatihan.”

Dengan cara itu, pelanggan akan merasakan betapa lebih efisien dan simpelnya proses pencetakan saat ini. AXI dapat menjalankan layanan seperti itu karena didukung oleh 32 cabang, 92 titik layanan untuk menjangkau 514 kota dan kabupaten yang tersebar di seluruh Indonesia. “Kami mengerjakan dengan partner kami. Ekosistem seperti itu yang kami bangun,” ungkap Sahat.

 

“Saya pikir tahun ini sudah harus menghasilkan. Kalau tahun lalu single digit, tahun ini mesti double digit. Kami sangat optimistis untuk itu. Kini, saatnya take off.”

 

Berbeda dengan toko online lainnya yang mengharuskan pelanggan membayar terlebih dahulu, di XWS dapat dilakukan setelah produknya diantarkan. Itupun bisa menggunakan online payment gateway yang bekerja sama dengan Midtrans (sebelumnya bernama Veritrans) atau kartu debit, terutama untuk pelanggan B2B yang sudah terdata.

AXI berani melayani order dulu bayar belakangan karena memang kekuatan utamanya di B2B. Banyak sekali pelanggan korporat yang sudah berpuluh tahun menjadi pelanggan perusahaan. Kepada pelanggan tersebut, lanjut Sahat, yang tadinya hanya ditawarkan satu sekarang bisa ribuan item produk.

Dengan layanan online, pelanggan korporat pun akan merasakan benefit-benefitnya. Jika sebelumnya berbelanja dalam jumlah banyak dan harus menyiapkan inventori yang cukup luas, kini tidak lagi. Di samping bisa men-tracking pembelanjaan yang dilakukan, pelanggan juga tak perlu menyediakan tempat penyimpanan khusus. Sebab, pelanggan cukup order setiap kali hendak membutuhkannya sehingga cukup efisien.

Agar proses transformasinya sukses, AXI pun telah mengalokasikan dana promosinya dari semula sepenuhnya offline menjadi separuh untuk online. “Kami memanfaatkan e-mail blast, iklan digital, dan media sosial untuk menyapa pelanggan,” kata Suyanni Sapoetro, Planning and Marketing Division Head AXI, yang turut dalam jamuan Spire TechnoBusiness Lunch. “Hasilnya justru lebih efektif dan efisien.”

Melihat langkah tersebut, Group Deputy CEO Spire Research and Consulting Jeffrey Bahar menilai AXI cukup pintar dalam mentransformasi bisnisnya. Langkah itu merupakan strategi yang tepat mengingat dunia semakin digital dan industri apa pun tidak bakal bisa menghindarinya.

“Oleh karena itu, tidak ada pilihan lain kecuali harus segera bertransformasi tidak hanya mengandalkan pemasaran offline tetapi juga online,” kata Jeffrey. “Kita tahu bahwa kehadiran teknologi telah mengubah budaya berbelanja masyarakat, termasuk berbelanja alat-alat tulis, proses cetak-mencetak, baik kebutuhan individual maupun korporat.”

Dua tahun terakhir sudah cukup bagi Sahat untuk melakukan pengembangan-pengembangan perusahaan yang dikelolanya. Semua instrumen ia anggap sudah cukup untuk bisa diajak berlari lebih kencang. Sehingga ia yakin kinerja perusahaan tahun ini akan jauh lebih baik ketimbang dua tahun sebelumnya.

“Saya pikir tahun ini sudah harus menghasilkan. Kalau tahun lalu single digit, tahun ini mesti double digit. Kami sangat optimistis untuk itu. Kini, saatnya take off. Dari awal Januari semua individu AXI sudah kami kumpulkan. Kami sudah menyatakan akan lepas landas dan lari sekencang-kencangnya untuk mencapai target jangka panjang kami pada 2020 supaya bisa menyumbangkan kepada kinerja konsolidasi lebih besar,” jelas Sahat mengakhiri.**