Industri Ban Vulkanisir, Nasibmu Kini

Oleh Muhammad Rizki Faisal | Assistant Manager Consumer Research Spire Research and Consulting

Spire Insight ● Bagi pemilik kendaraan niaga seperti truk dan bus, untuk menghemat biaya mereka kebanyakan memilih membeli ban vulkanisir ketimbang ban baru.

Ban vulkanisir yaitu ban bekas yang diukir kembali untuk menutup tapak yang mulai halus. Dengan menggunakan ban vulkanisir, pemilik kendaraan bisa menghemat pembelian ban.

Simak Juga: Spire Research and Consulting Memiliki Empat Divisi Riset

Ban-ban vulkanisir amat mudah ditemukan di bengkel-bengkel pinggir jalan. Bahkan, ada bengkel yang memang khusus untuk menjual dan melayani vulkanisir ban.

Nilai bisnis ban vulkanisir tidak main-main. Di tengarai nilainya terbesar kedua setelah ban baru. Pengendalinya pebisnis skala kecil atau rumah tangga (home industry).

Nilai bisnis ban vulkanisir tidak main-main.

Tapi, belakangan muncul tantangan: dibukanya keran impor ban oleh pemerintah menjadi masalah besar bagi industri ini.

Pertama, harga ban impor, terutama di China, lebih murah. Kedua, ban impor yang memiliki kualitas jelek tidak bisa divulkanisasi. Ban yang bersifat sekali pakai itu mengakibatkan ketersediaan ban bekas semakin berkurang.

Spire Insight: Menganalisis Nasib Industri Baja Nasional

 

Data Ban Vulkanisir

Selama lima tahun sejak 2013, kapasitas produksi ban vulkanisir terus meningkat. Setiap tahun rata-rata tumbuh 4%. Artinya, sama seperti bengkel-bengkel yang lain, nilai bisnisnya cukup besar dalam menopang perekonomian nasional.

Realisasi Produksi Ban Nasional 2013-2017

Sumber: Spire Research and Consulting

Yang mendorong permintaan ban vulanisir terus tumbuh yaitu harganya yang lebih murah dibanding ban baru.

Meski murah dan hasil pengukiran ulang, ban vulkanisir bukan berarti tidak aman digunakan.

Saat ini, memang ada tantangan tersendiri bagi industri ban vulkanisir untuk bisa menjamin kualitas produk ban yang dihasilkan melalui sertifikasi yang menjadi tolak ukur standar keamanan ban vulkanisir.

Spire Insight: Tren Bisnis “Managed Service” Industri Komunikasi

Asosiasi Pabrik Vulkanisir Ban Indonesia sebagai asosiasi yang membidangi industri ban vulkanisir di Tanah Air terus berupaya untuk menginventarisasi pelaku industri dalam rangka menyelaraskan standar manajemen kualitas dari produk ban vulkanisir yang diproduksi.

Pemerintah diharapkan hadir membantu industri ini agar tetap berkembang. 

Pemerintah diharapkan hadir membantu industri ini agar tetap berkembang mengingat potensinya yang cukup besar terhadap perekonomian.

Misalnya, dengan membantu mengatur regulasi impor ban, melakukan sertifikasi atau standardisasi terkait pengujian kualitas mutu ban vulkanisir.

Pengujian kualitas menjadi dilematis mengingat harga yang harus dibayar cukup tinggi. Padahal, pelaku industri ini mayoritas usaha skala rumah tangga.

Spire Insight: Kakao, Potensi yang Belum Dimaksimalkan

Fakta lainnya, saat ini di Thailand, produsen ban Michelin sudah mengembangkan bisnis vulkanisir ban untuk ban pesawat terbang.

Hal ini tentu menjadi konsen di mana ban vulkanisir hadir menjadi solusi bagi industri lain, khususnya industri transportasi dan logistik.

Dengan biaya yang lebih irit, ban vulkanisir mampu diandalkan untuk pelaku bisnis dalam menggunakan ban tanpa harus membeli ban baru.●

 

Spire Research and Consulting merupakan perusahaan riset pasar dan konsultasi bisnis global, terutama di negara-negara berkembang. Perusahaan yang didirikan pada 2000 di Singapura ini kini memiliki kantor perwakilan di semua negara Asia Pasifik dan berkantor pusat di Tokyo, Jepang.

PT Spire Indonesia | Wisma BNI Lt. 25 Unit 8-10, Jalan Jend. Sudirman Kav. 1, Jakarta 10220, Telp/Faks: (021) 57945800 www.spireresearch.com

 

Industri Karet dan Segala Permasalahannya

Spire Insight ● Menjadi salah satu unggulan Indonesia dalam bidang ekspor, industri karet mampu menyumbangkan devisa hampir mencapai US$5,589 juta.

Pada 2017, industri karet mampu mengekspor hingga 3.277.000 ton ke berbagai negara, khususnya Amerika Serikat, China, dan Jepang.

Simak Juga: Spire Research and Consulting Memiliki Empat Divisi Riset

Meski Indonesia merupakan negara kedua terbesar yang memproduksi getah karet, 85% getah alam tidak bisa dinikmati oleh industri dalam negeri.

Pada tahun yang sama, Indonesia memproduksi 3.630.000 ton karet. Hasil produksi itu lebih banyak diekspor daripada dikonsumsi dalam negeri.

Indonesia merupakan negara terbesar kedua yang memproduksi getah karet, tapi 85% getah alamnya tidak bisa dinikmati oleh industri dalam negeri.

Ternyata hal itu disebabkan oleh kurang berkembangnya industri hilir karet, yang hanya fokus pada produk konvensional seperti ban, ban vulkanisir, dan sarung tangan karet.

Dari 385 perusahaan getah karet di Indonesia, 80%-nya berupa perkebunan rakyat. Sesuai dengan produk ekspor yang banyak dilakukan Indonesia, perkebunan rakyat mayoritas hanya dapat memproduksi karet remah (crumb rubber).

Berdasarkan tabel dibawah, dapat dilihat bahwa Perkebunan Negara (PBN) dan Perkebunan Rakyat (PR) mengalami penurunan.

Spire Insight: Menganalisis Nasib Industri Baja Nasional

Sebab, perkebunan negara mengalami penurunan produtivitas yang kemungkinan diakibatkan oleh berpindahnya fokus pemerintah ke perkebunan kelapa sawit yang lebih luas.

Sedangkan untuk perkebunan rakyat, faktor tersebut disebabkan oleh usia pohon karet yang sudah tua.

Presiden memerintahkan Kementerian PUPR untuk membeli karet remah dari petani untuk dijadikan bahan aspal karet.

Karena mayoritas karet yang diproduksi merupakan karet remah, maka Indonesia memiliki kekurangan pasokan untuk lateks pekat.

Sehingga produk turunan dari lateks pekat, seperti sarung tangan dan kondom, mengalami kekurangan bahan baku.

Untuk dapat memproduksi lateks pekat, perusahaan membutuhkan teknologi dan modal yang besar untuk dapat membeli alat sentrifugal demi menjaga kondisi lateks.

Seperti yang dialami industri kondom, industri ini membutuhkan investor untuk memperbaiki teknologinya sehingga dapat bersaing dengan produk impor di pasar dalam negeri.

Selain itu, untuk mengatasi harga bahan bakar gas yang semakin tinggi, saat ini banyak industri sarung tangan yang menggunakan karet sintesis ataupun melakukan impor lateks pekat.

Spire Insight: Tren Bisnis “Managed Service” Industri Komunikasi

Permasalahan lainnya, mengenai regulasi impor, khususnya industri ban. Kebijakan Permendag No. 06/2018 yang membuka jalur impor untuk ban tidak hanya membuat khawatir para pengusaha ban, tetapi juga industri vulkanisir.

Berdasarkan pernyataan Asosiasi Pabrik Vulkanisir Ban Indonesia, saingan utama dari ban vulkanisir adalah ban baru impor, terutama produk yang memiliki harga lebih murah.

Karet termasuk komoditas internasional sehingga industri ini sangat dipengaruhi oleh kondisi perdagangan internasional.

Selain konsumen akan memilih ban yang lebih murah, ban tersebut tidak dapat dijadikan cetakan untuk divulkanisasi. Hal ini akan berdampak buruk bagi industri ban vulkanisir.

Hal serupa juga dialami oleh industri dok kapal dan bantalan bangunan. Sampai saat ini, beberapa BUMN masih menggunakan produk impor sehingga produksi dalam negeri rendah.

Mereka mengakui, permasalahan ini dapat diatasi dengan adanya TKDN untuk industri bantalan bangunan dan dok kapal.

Spire Insight: Kakao, Potensi yang Belum Dimaksimalkan

Karet termasuk komoditas internasional sehingga industri ini sangat dipengaruhi oleh kondisi perdagangan internasional. Perang dagang AS dan China dikhawatirkan akan membuat permintaan karet menurun.

Untuk mengatasinya, dibutuhkan negosisasi dengan negara lain agar membeli hasil karet dari Indonesia. Kemudian, kurangnya penyerapan pada industri hilir karet membuat Presiden Joko Widodo mengembangkan program seperti aspal karet melalui program infrastruktur.

Presiden memerintahkan Kementerian PUPR untuk membeli karet remah dari petani untuk dijadikan bahan aspal karet, yang harganya lebih tinggi dari rata-rata, yaitu Rp 6.000-7.500 per kg.

Selain itu, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) juga akan mengembangkan ban vulkanisir pesawat yang selama ini belum bisa memproduksi sendiri di dalam negeri.

Hal itu seiring dengan perencanaan di bidang aviasi yang dikembangkan oleh PT Dirgantara Indonesia dan PT Regio Aviasi Indonesia.

Dengan dilakukannya dua hal tersebut, maka diharapkan harga karet di Indonesia semakin membaik dan penyerapan dalam negeri dapat ditingkatkan.●

 

Spire Research and Consulting merupakan perusahaan riset pasar dan konsultasi bisnis global, terutama di negara-negara berkembang. Perusahaan yang didirikan pada 2000 di Singapura ini kini memiliki kantor perwakilan di semua negara Asia Pasifik dan berkantor pusat di Tokyo, Jepang.

PT Spire Indonesia | Wisma BNI Lt. 25 Unit 8-10, Jalan Jend. Sudirman Kav. 1, Jakarta 10220, Telp/Faks: (021) 57945800 www.spireresearch.com

 

Spire Research and Consulting Memiliki Empat Divisi Riset

Spire Research and Consulting merupakan perusahaan riset pasar dan konsultasi bisnis global, terutama di negara-negara berkembang.

Perusahaan yang didirikan pada 2000 di Singapura ini kini memiliki kantor perwakilan di semua negara Asia Pasifik dan berkantor pusat di Tokyo, Jepang.

Menurut Albertus Edy Rianto, Senior Manager Spire Research and Consulting (Indonesia), perusahaannya memiliki empat divisi.

Keempat divisi itu antara lain business to business (B2B), consumer, information communication technology (ICT), dan public policy.

Simak penjelasan singkatnya di TechnoBusiness TV

————–

PT Spire Indonesia | Wisma BNI Lt. 25 Unit 8-10, Jalan Jend. Sudirman Kav. 1, Jakarta 10220, Telp/Faks: (021) 57945800 | www.spireresearch.com

 

Menganalisis Nasib Industri Baja Nasional

Oleh Andhika Irawan Saputra | Periset Spire Indonesia

Spire Insight ● Indonesia memiliki varian industri yang sangat beragam untuk menunjang pembangunan nasional. Salah satu industri yang cukup mendapat sorotan akhir-akhir ini adalah baja.

Digalakkannya semangat pembangunan nasional, terutama infrastruktur dan fasilitas publik, oleh Presiden Joko Widodo telah meningkatkan angka konsumsi baja nasional.

Spire Insight: Tren Bisnis “Managed Service” Industri Komunikasi

Hingga 2018, angka konsumsi baja nasional telah mencapai 14 juta ton atau sekitar 62,2 kilogram (kg) per kapita. Angka tersebut memang tergolong cukup rendah dibanding negara tetangga seperti Vietnam dan Malaysia yang masing-masing sebesar 164,5 dan 354,5 kg per kapita.

Terlebih lagi, produksi industri baja nasional saat ini baru mencapai 8 juta ton per tahun.

Angka yang tidak berbanding lurus tersebut memaksa Indonesia untuk mengimpor produk baja secara masif demi memenuhi kebutuhan nasional.

Saat ini, pemerintah sedang berupaya membangkitkan produksi baja dalam negeri untuk menekan besarnya angka impor. Upaya yang dilakukan pemerintah tampak berhasil karena angka impor pada 2017 menurun dibanding tahun sebelumnya.

Spire Insight: Kakao, Potensi yang Belum Dimaksimalkan

Di sisi lain, angka ekspor Indonesia terhadap produk baja juga semakin meningkat. Usaha yang sedang dilakukan pemerintah melalui Kementerian Perindustrian adalah dengan melakukan percepatan pembangunan demi menunjang produktivitas di wilayah dengan potensi tinggi.

Hingga 2018, angka konsumsi baja nasional telah mencapai 14 juta ton atau sekitar 62,2 kilogram (kg) per kapita.

Wilayah-wilayah dengan potensi tinggi itu antara lain Cilegon (Banten), Batulicin (Kalimantan Selatan), dan Morowali (Sulawesi Tengah).

Ketiga wilayah tersebut diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pasar dan konsumsi domestik, meningkatkan ekspor, serta mengurangi impor terhadap produk baja.

Namun, permasalahan pun tetap muncul. Permasalahan-permasalahan yang terjadi di industri baja antara lain:

  1. Kebutuhan Bahan Baku

Kemampuan Indonesia untuk mengolah bahan baku masih terbilang cukup minim. Aturan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) tampaknya belum diterapkan secara optimal oleh pemangku kebijakan atau para pelaku industri.

Kondisi ini yang menciptakan ketergantungan terhadap impor bahan baku. Cina merupakan salah satu negara pengekspor bahan baku baja terbesar ke Indonesia.

  1. Sumber Daya Manusia

Bonus demografi yang dimiliki Indonesia tampaknya belum bisa diserap ke dalam industri baja nasional karena minimnya kemampuan dan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang ada. Alhasil, mendatangkan tenaga kerja asing merupakan salah satu opsi wajib dilakukan.

Namun, saat ini pemerintah sedang berusaha untuk menyediakan sarana pendidikan yang berkualitas di salah satu daerah konsentrasi dengan harapan dapat menghasilkan SDM yang kompeten dan mampu bersaing dengan tenaga kerja asing.

  1. Utilisasi Produksi Baja dalam Negeri

Para pelaku industri baja nasional cenderung belum dapat memaksimalkan produktivitasnya sehingga angka utilisasi industri baja masih cukup rendah, yakni berkisar antara skala 20-40%.

Spire Insight: Strategi Menekan Harga Pangan

Pada dasarnya, industri baja nasional memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan. Secara perlahan tapi pasti, produktivitas terus meningkat dan pemerintah juga terus mengeluarkan kebijakan yang bersifat suportif terhadap para pelaku industri.

Diterapkannya kebijakan anti-dumping atas impor asal China juga memberi kesempatan untuk menstabilkan harga di skala nasional sehingga menjadikan pasar baja dalam negeri lebih stabil dan menarik bagi para pelaku industri.

Untuk saat ini, mungkin angka produksi nasional belum dapat memenuhi kebetuhan dalam negeri sehingga impor masih sangat diperlukan. Tetapi, melihat pada dinamika dan progresifnya industri baja nasional, tidak menutup kemungkinan apabila di masa depan Indonesia dapat memenuhi kebutuhannya sendiri.●

 

Spire Research and Consulting merupakan perusahaan riset pasar dan konsultasi bisnis global, terutama di negara-negara berkembang. Perusahaan yang didirikan pada 2000 di Singapura ini kini memiliki kantor perwakilan di semua negara Asia Pasifik dan berkantor pusat di Tokyo, Jepang.

PT Spire Indonesia | Wisma BNI Lt. 25 Unit 8-10, Jalan Jend. Sudirman Kav. 1, Jakarta 10220, Telp/Faks: (021) 57945800 | www.spireresearch.com

 

Pasar Obat Tradisional Tumbuh Pesat

Oleh Mahwida Nur Fitriasari | Periset Spire Indonesia

Spire Insight ● Tahukah Anda bahwa nilai pasar obat di Indonesia mencapai US$5,7 miliar per tahun? Nilai itu disumbangkan oleh pasar obat tradisional sebesar 34%, sedangkan obat modern 66%, termasuk obat bebas dan obat resep.

Dalam studi ini, kita akan fokus membahas soal obat tradisional yang penggunaannya dipengaruhi oleh berbagai faktor: pengetahuan, pendapatan, kepercayaan, wilayah tempat tinggal, dan usia.

Spire Insight: Tren Bisnis “Managed Service” Industri Komunikasi

Ternyata tingkat penetrasi pengguna obat tradisional banyak dipengaruhi oleh meningkatnya pendapatan masyarakat, terutama di kelas menengah ke atas.

Nilai pasar obat di Indonesia mencapai US$5,7 miliar per tahun

Faktor sosial dan kepercayaan serta tradisi, terutama untuk masyarakat yang tinggal di pedesaan dan berusia lanjut, juga lebih memilih pengobatan tradisional ketimbang pengobatan modern.

Namun, di sisi lain, literasi mengenai pengobatan modern lebih mudah diperoleh dibanding pengobatan tradisional sehingga memengaruhi penggunaan masyarakat.

Spire Insight: Kakao, Potensi yang Belum Dimaksimalkan

Segmentasi Pasar

Adapun segmentasi pasar obat tradisional di Indonesia dapat dikelompokkan ke dalam lima kategori, yakni:

  1. Ramuan Tradisional Indonesia/Jamu

Jamu merupakan obat alam yang masih berupa simplisia sederhana (daun, akar, irisan rimpang). Jamu memiliki logo jamu () pada kemasannya dan memiliki komposisi ramuan obat tradisional Indonesia seperti kunyit, kunir, temulawak, kencur dan sebagainya.

Nilai Pasar Obat Tradisional 2013-2017 (Dalam Juta Dolar)

Sumber: Spire Indonesia
  1. Ramuan Obat Tradisional Cina

Ramuan obat tradisional Cina dapat dibuat secara langsung atau lokal oleh Shinse atau ahli obat Cina maupun diimpor.

  1. Ramuan Obat Tradisional Timur Tengah

Pada dasarnya, ramuan obat Timur Tengah seperti halnya ramuan obat Cina, menggunakan cara pengobatan dengan merujuk pada pengobatan Thibbun Nabawi atau dengan mengimpor obat tradisional tersebut langsung dari Timur Tengah dan menamai kembali produk tersebut.

Pangsa Pasar Obat Tradisional dan Modern di Indonesia

Sumber: Spire Indonesia
  1. Ramuan Obat Tradisional India

Ramuan obat tradisional India didasarkan pada pengobatan India seperti Ayurveda dan biasanya obat diimpor langsung dari India.

  1. Ramuan Herbal Alami, Obat Fitofarmaka, dan OHT (Obat Herbal Terstandarisasi)

Ramuan herbal alami merupakan obat herbal tradisional yang belum memiliki sertifikasi atau diuji coba melalui BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan).

Spire Insight: Strategi Menekan Harga Pangan

Seperti misalnya penggunaan buah mengkudu untuk mengurangi rasa sakit dan kerusakan sendi. Sedangkan obat fitofarmaka dan OHT dibedakan berdasarkan sertifikasi yang telah dicapai.

OHT merupakan ramuan herbal alami yang telah lolos uji pre klinis (), sedangkan obat fitofarmaka () merupakan OHT yang telah melalui dan lolos uji klinis.

Meski pasar obat tradisional tumbuh pesat, penetrasinya stabil di angka 20% per tahun. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tingkat konsumsi per pengguna meningkat tapi jumlah penggunanya tidak bertambah.● Sponsored Content

 

Spire Research and Consulting merupakan perusahaan riset pasar dan konsultasi bisnis global, terutama di negara-negara berkembang. Perusahaan yang didirikan pada 2000 di Singapura ini kini memiliki kantor perwakilan di semua negara Asia Pasifik dan berkantor pusat di Tokyo, Jepang.

 

Tren Bisnis “Managed Service” Industri Komunikasi

Oleh Mahwida Nur Fitriasani, Periset Spire Indonesia

Spire Insight ● Pada 2017, sektor jasa komunikasi dan informasi di Tanah Air tumbuh (y-o-y) 9,8% dibanding tahun sebelumnya. Pertumbuhan itu lebih tinggi dibanding sektor jasa lainnya.

Pertumbuhan tersebut didorong oleh Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang memprioritaskan sektor teknologi informasi dan komunikasi.

Spire Insight: Manisnya Bisnis GPS Fleet Management System

Dalam MP3EI, Indonesia Broadband Plan 2014-2019 menjadi salah satu  program permulaan. Lalu, program itu turut menyuburkan jasa layanan professional managed service.

Berkembangnya professional managed service dapat dilihat dari dua sisi pasar, penyedia dan pengguna jasa. 

Layanan professional managed service menyediakan jasa outsourcing untuk kebutuhan penanganan pada managed service.

Layanan yang termasuk dalam kategori managed service ada bermacam-macam.

Di antara layanan yang ada, misalnya network outsourcing management, service desk, security managed service, desktop outsourcing management, non/hosted application management, communication services dan hardware managed service.

Spire Insight: Kakao, Potensi yang Belum Dimaksimalkan

Berkembangnya professional managed service dapat dilihat dari dua sisi pasar, penyedia jasa (supply side) dan pengguna jasa (demand side). Dari sisi penyedia jasa, ada beberapa tren yang dapat ditemukan seperti:

1. Group Support

Dukungan dari grup penyedia jasa dapat berupa referensi ke pelanggan untuk menggunakan jasa dari vendor/anak perusahaan tersebut. Selain itu, grup juga memiliki peran untuk dapat melakukan bundling antara subsidiary lain dengan penyedia professional managed service. Selain dari sisi pengguna, dukungan grup juga dapat berupa penyediaan tenaga ahli professional managed service.

2. Bundled Service

Layanan professional managed service saat ini masih didominasi oleh paket antara hardware atau software dengan tenaga untuk mengoperasikan dan mengawasi jalannya hardware maupun software sehari-hari.

Bundling layanan dan perangkat keras maupun lunak memiliki keunggulan tersendiri, seperti:

a. Penyedia jasa dapat memberikan kepastian akan kompatibilitas keahlian teknisi dengan perangkat lunak maupun perangkat keras yang mereka operasikan.

Spire Insight: Strategi Menekan Harga Pangan

Bundling juga membantu penyedia jasa untuk membuat pengguna jasa loyal dan menjadikan salah satu hambatan untuk pengguna berpindah-pindah vendor.

b. Dari sisi pengguna jasa, bundling dinilai lebih menguntungkan karena teknisi memahami dan bisa diandalkan untuk perangkat lunak dan perangkat keras yang mereka sediakan. Terlebih lagi, bundling memberikan kemudahan untuk mendapatkan suku cadang ketika perangkat keras bermasalah.

Dengan vendor yang sama untuk penyedia perangkat keras maupun perangkat lunak, baik dari sisi pengguna maupun penyedia jasa akan terasa lebih nyaman karena teknisi yang disediakan memahami dengan baik perangkat yang tersedia.●

 

Spire Research and Consulting merupakan perusahaan riset pasar dan konsultasi bisnis global, terutama di negara-negara berkembang. Perusahaan yang didirikan pada 2000 di Singapura ini kini memiliki kantor perwakilan di semua negara Asia Pasifik dan berkantor pusat di Tokyo, Jepang.

 

Manisnya Bisnis GPS Fleet Management System

Oleh Kepri Marudur Hutagalung | Periset Senior Spire Indonesia

Spire Insight ● Tren digitalisasi di Indonesia memberi harapan besar bagi banyak industri, khususnya perusahaan dengan bisnis inti telekomunikasi dan Internet of Things (IoT).

Salah satu peluang yang tumbuh subur adalah layanan GPS Fleet Management System. Sistem itu membantu pelacakan (tracking) aset kendaraan, baik business to customer (B2C) maupun business to business (B2B).

Baca Juga: Kakao, Potensi yang Belum Dimaksimalkan

Kendaraan yang dilacak umumnya merupakan transportasi publik seperti kendaraan sewa, taksi, truk, pick up, alat berat untuk pertambangan, dan lain sebagainya.

Jumlahnya yang terus tumbuh membuat potensi bisnis layanan GPS Fleet Management System di Indonesia juga ikut tumbuh. Per Januari-Oktober 2018, jumlahnya sudah 1,1 juta kendaraan diproduksi, yang kemungkinan akan naik menjadi 1,2 juta unit hingga akhir tahun.

Oleh karena itu, layanan Fleet Management System amat potensial. Produknya saja, harganya Rp 2 juta per unit, belum termasuk perawatan dan paket kuota data.

Tapi, biaya itu lebih murah dibanding menggunakan Vessel Tracking Management—yang acap digunakan oleh kapal laut—yang biayanya mencapai puluhan juta rupiah.

Padahal, segmen B2B tidak hanya mempertimbangkan harga, tapi juga hal-hal terkait lainnya seperti fitur, kualitas produk, dan service level agreement-nya.

Baca Juga: Strategi Menekan Harga Pangan

Saat ini, ada beberapa operator yang menawarkan layanan GPS Fleet Management System. Operator-operator itu, di antaranya Fox Logger, Superspring, IndoGPS, Telkom, Indosat, Smartfren, Inditracking, Intelitrac, Enerren, dan lain-lain.

Yang Perlu Diperhatikan

Terdapat beberapa hal penting yang perlu diperhatikan oleh penyedia layanan GPS Fleet Management dalam memasarkan produk:

  1. Produk fleet management sebaiknya ditawarkan dengan layanan bundling produk antara fleet dengan produk IoT di luar fleet yang terkait dengan kebutuhan enterprise.
  2. Pelanggan yang membeli produk perangkat dalam jumlah banyak dapat diberi bonus dengan sistem poin dan bisa ditukarkan dengan hadiah berupa perangkat elektronik, rumah, atau paket wisata/umroh.
  3. Penawaran harga lebih fleksibel dan negotiable. Ini untuk menyesuaikan ketersediaan anggaran di internal pelanggan.
  4. Penawaran bonus dengan tambahan sensor-sensor fleet management: panic bottom sensor, door sensor, fuel sensor, atau sensor lainnya.
  5. Untuk menudukung dan menjaga SLA layanan, sebaiknya mempertimbangkan penggunaan sim card dengan jaringan yang stabil, khususnya area pedalaman atau jalur terpencil.

Dari lima poin di atas, penyedia layanan juga perlu memperluas sasaran pemasaran ke berbagai sektor yang dapat menjadi strategi baru guna mendorong distribusi produk secara besar.

Simak Juga: Mengatasi Kemiskinan Petani dengan Skema Value Chain Financing

Misalnya, kerja sama dengan perusahaan asuransi kendaraan bermotor, perusahaan penjualan mobil bekas baik offline maupun online, agen tunggal pemegang merek (ATPM), atau dealer kendaraan (bundling product oriented).

Masalahnya, penyedia layanan pada industri ini masih minim dalam mengedukasi pasar. Ada yang melakukannya melalui media sosial tapi tidak efektif.

Meningkatkan brand awareness lewat event-event offline, road show, dan mengedukasi komunitas-komunitas kemungkinan akan lebih maksimal.

Penjualan produk Fleet Management pun sebaiknya tidak dibatasi oleh sumber daya manusia (SDM) internal. Sebab, perusahaan penyedia masih terkendala keterbatasan SDM khususnya tim penelitian dan pengembangan serta pemasaran.

Program reseller akan mendorong pencapaian target pemasaran karena membuka peluang berkembangnya channel atau link di berbagai perusahaan calon pelanggan.

Baca Juga: Mencari Solusi Pendanaan Petani

Pengembangan Produk

Pengembangan produk GPS Fleet Management juga perlu dilakukan dengan cara melibatkan industri lain. Sebagai contoh, kerja sama pengembangan produk dengan perusahaan teknologi finansial (fintech) untuk mengintegrasi sistem pembayaran tol atau penyeberangan lintas pulau.

Khusus untuk pemasaran di Jabodetabek, pengembangan produk GPS Fleet Management juga dapat dilakukan lewat fitur layanan pemetaan yang mampu memberikan informasi sistem ganjil-genap bagi pengguna.

Untuk pengembangan sensor fuel management, sebaiknya mempertimbangkan penggunaan sistem kalibrasi dengan menanamkan sensor di dalam ‘tangki bahan bakar kendaraan sehingga laporan lebih akurat dan tidak rentan untuk dirusak.

Industri Logistik

Dalam kurun 1-2 tahun belakangan, terjadi perubahan jenis kebutuhan fleet management di beberapa perusahaan logistik. Beberapa perusahaan logistik memilih menyediakan fleet management system sendiri. Namun, suplai perangkatnya tetap menjadi peluang.●

 

Spire Research and Consulting merupakan perusahaan riset pasar dan konsultasi bisnis global, terutama di negara-negara berkembang. Perusahaan yang didirikan pada 2000 di Singapura ini kini memiliki kantor perwakilan di semua negara Asia Pasifik dan berkantor pusat di Tokyo, Jepang.

 

Kakao, Potensi yang Belum Dimaksimalkan

Oleh Ashiva Nindra Humaira | Periset Spire Indonesia

Spire Insight Tahukah Anda bahwa saat ini Indonesia merupakan negara penghasil biji kakao terbesar ketiga di dunia?

Merujuk pada data International Cocoa Organization (ICCO), Indonesia berhasil memproduksi biji kakao sebanyak 350.000 ton per tahun.

Namun, jumlah itu tidak ada-apanya jika dibandingkan dengan Pantai Gading yang menjadi penghasil kakao terbesar di dunia, yakni mencapai 1.581.000 ton per tahun dan Ghana sebanyak 778.000 ton per tahun. Di bawah Indonesia ada Ekuador yang menghasilkan 232.000 ton per tahun.

Baca Juga: Strategi Menekan Harga Pangan

Untuk diketahui, biji kakao terdiri dari keping biji yang jika diolah akan menjadi kakao massa (cocoa liquor). Lalu, kakao massa menjadi lemak kakao (cocoa butter) dan bungkil (cocoa cake). Dari lemak kakao dan bungkil kemudian bisa menjadi bubuk kakao (cocoa powder).

Buah kakao memiliki kulit yang tebal, yaitu sekitar 3 sentimeter (cm). Daging buahnya yang disebut pula sering tidak dimanfaatkan. Pulpa sendiri mengandung gula dan membantu proses fermentasi biji.

Pohon industri pulpa kakao memperlihatkan bahwa pulpa tidak dapat ditingkatkan menjadi bahan lain yang lebih bermanfaat dan bernilai jual tinggi.

Berbeda dengan kulitnya yang justru bisa ditingkatkan nilainya. Kulit buah kakao bisa dikembangkan menjadi senyawa bioaktif, biomassa, dan nutrisi.

 

Produk Intermediate Kakao

Di Indonesia, hingga saat ini setidaknya terdapat 20 industri pengolah biji kakao atau yang disebut industri produk intermediate. Berikut ini daftarnya yang telah diperbarui tahun ini.

Ada dua warna di dalam tabel: abu-abu dan putih. Abu-abu menunjukkan bahwa industri tersebut sudah tidak beroperasi lagi, sedangkan yang putih masih.

Rupanya sebagai penghasil biji kakao terbesar ketiga tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri.

Dari 20 perusahaan pengolah bahan baku kakao, ada sembilan yang sudah tidak menghasilkan bahan setengah jadi.

Ini menjadi bukti bahwa Indonesia menjadi penghasil biji kakao terbesar ketiga tapi tidak diikuti dengan pertumbuhan pengolahan lanjutan.

Rupanya sebagai penghasil biji kakao terbesar ketiga tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri. Pada 2014, Indonesia telah mengimpor biji kakao sebanyak 109.000 ton dan naik menjadi 226.613 ton pada 2017.

Namun, karena impor bahan baku kakao dikenakan bea masuk 5%, akibatnya harga menjadi mahal dan pabrik-pabrik kakao gulur tikar. Padahal, permintaan produk olahan cokelat di dalam negeri maupun global terus meningkat.

Defisit biji kakao itu diperkirakan akan berlarut-larut karena tidak adanya peremajaan pohon kakao. Ketiadaan peralatan untuk mengolah biji kakao dan minimnya permodalan di tingkat petani—yang kebanyakan di Sulawesi, Sumatera Utara, Jawa Barat, Papua, dan Kalimantan Timur—menjadi penyebab yang lain.

Kalau sudah begitu, dibutuhkan andil pemerintah. Penghapusan bea masuk kakao seperti tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 6/PMK.010/2017 tentang Penetapan Sistem Klasifikasi Barang dan Pembebanan Tarif Bea Masuk atas Barang Impor bisa jadi menjadi salah satu solusi.

Berbarengan dengan itu, pemerintah perlu merevisi PMK No. 67/PMK.011/2010 jo PMK No. 75/PMK.011/2012 tentang Penetapan Barang Ekspor yang Dikenakan Bea Keluar dan Tarif Bea Keluar dengan mengubah tarif bea keluar dari progresif 0-15% menjadi flat 10%.

Dengan adanya beberapa penyesuaian dari pemerintah diharapkan industri pengolah bahan dasar kakao akan semakin tumbuh, baik dari segi produktivitas maupun performa keuangannya.

Kalau sudah begitu, bukan tidak mungkin Indonesia bisa menjadi negara penghasil biji dan olahan kakao terbesar di dunia. Apalagi pasarnya terus berkembang dari tahun ke tahun.●

 

Spire Research and Consulting merupakan perusahaan riset pasar dan konsultasi bisnis global, terutama di negara-negara berkembang. Perusahaan yang didirikan pada 2000 di Singapura ini kini memiliki kantor perwakilan di semua negara Asia Pasifik dan berkantor pusat di Tokyo, Jepang.

 

Strategi Menekan Harga Pangan

Spire Insight ● Dalam talk show Spire Insightyang ditayangkan TechnoBusiness TV pada akhir April 2018 tersirat bahwa salah satu penyebab kemiskinan, bahkan di kalangan petani sendiri, yaitu sulitnya mendapatkan akses pembiayaan atau permodalan.

Simak Juga: Mengatasi Kemiskinan Petani dengan Skema Value Chain Financing

Dengan alasan takut risiko, institusi formal seperti bank enggan memberikan pembiayaan kepada mereka. Masa panen yang lama dan acap kali gagal menjadi pertimbangan bank-bank tak mau mengucurkan pembiayaan tersebut.

Jika itu dibiarkan, maka kemiskinan akan terus terjadi. Oleh sebab itu, Spire Research and Consulting, perusahaan riset dan konsultasi bisnis yang berbasis di Tokyo, Jepang, menawarkan skema value chain financing (VCF).

Skema itu merupakan model pembiayaan mikro bagi petani yang melibatkan semua aktor dalam satu siklus pertanian. Harapannya, para petani mendapatkan akses pembiayaan dengan agunan alternatif sehingga mampu menekan risiko.

Akan tetapi, mengandalkan skema VCF saja tidaklah cukup. Dalam seminar bertajuk “Pangan Berkeadilan untuk Semua: Menuju Hari Pangan Sedunia 2018” yang diselenggarakan Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) di Jakarta, Selasa (14/8), Jeffrey Bahar, Group Deputy CEO Spire Research and Consulting, “Model VCF bukanlah obat mujarab”.

Baca Juga: Mencari Solusi Pendanaan Petani

Jeffrey menjelaskan, untuk menekan harga pangan, yang pada akhirnya mengentaskan kemiskinan, banyak tergantung pada keberlanjutan value chain itu sendiri.

“Meskipun pendekatan dan aplikasinya bervariasi, sebagian besar value chain memiliki beberapa karakteristik umum, termasuk perspektif pasar,” ujar Jeffrey.

Untuk diketahui, saat ini CIPS sedang menggalang kampanye Hak Makmur atau Hak Makan Murah. Agar kampanyenya berhasil, CIPS menggandeng mitra koalisi sebanyak-banyaknya, dan Spire Indonesia salah satunya.

“Dengan harga pangan yang terjangkau, masyarakat dapat mengalokasikan anggaran ke kebutuhan lain seperti pendidikan dan kesehatan,” ungkap Hizki Respatiadi, Head of Research CIPS.●

 

Spire Research and Consulting merupakan perusahaan riset pasar dan konsultasi bisnis global, terutama di negara-negara berkembang. Perusahaan yang didirikan pada 2000 di Singapura ini kini memiliki kantor perwakilan di semua negara Asia Pasifik dan berkantor pusat di Tokyo, Jepang.

 

5 Tren Pergeseran Pasar Kuliner Nasional

Spire Insight ● Makanan dan minuman merupakan salah satu sektor yang berkembang pesat di Tanah Air akhir-akhir ini. Seperti kita lihat, tempat makan, mulai dari warung hingga restoran besar, bermunculan di mana-mana.

Spire Research and Consulting menyebutkan bahwa industri layanan makanan dan minuman sepanjang 2017 mencapai Rp295,6 triliun. Nilai pasar restoran (Full Service Restaurant) menyumbangkan porsi terbesar, yakni hingga 85,64%.

Baca Juga: AADC, Strategi Memenangkan Pasar Online

Mulai menjamurnya kafe dan bar di berbagai wilayah menyumbangkan 6,41% dari total nilai pasar. Posisi ketiga ditempati oleh kedai cepat saji dengan porsi 4,50%, disusul warung pinggir jalan dan kios sebanyak 2,46%.

Meski demikian, Jeffrey Bahar, Group Deputy CEO Spire Research and Consulting mengatakan, para pelaku pasar di sektor layanan makanan dan minuman mesti menyadari adanya pergeseran konsumen dalam mengunjungi tempat kuliner.

“Setidaknya ada lima tren perubahan konsumen dalam memilih tempat kuliner,” ungkap Jeffrey saat menjadi pembicara dalam acara TechnoBusiness Talks (Edisi Kuliner) di Menara Top Food, Alam Sutera, Serpong, belum lama ini.

Pertama, pergeseran segmen. Segmen pasar kuliner nasional mengalami pergeseran dari restoran keluarga yang premium dengan kualitas makanan yang baik ke restoran skala kecil-menengah. Restoran skala kecil-menengah itu misalnya Warunk Upnormal, Whats Ups Cafe, dan sejenisnya.

JEFFREY BAHAR
Group Deputy CEO Spire Research and Consulting

Kedua, pergeseran harga. Pasar kuliner mulai meninggalkan restoran dengan harga yang relatif mahal ke restoran dengan harga yang relatif lebih terjangkau.

Ketiga, pergeseran siklus. Jika sebelumnya siklus hidup sebuah restoran lebih lama, yakni antara 3-4 tahun, sekalipun kurang inovasi produk, sekarang siklusnya relatif lebih cepat. Tren makanan semakin hari semakin cepat berubah, kira-kira hanya 2-3 tahun saja. Untuk itu, inovasi amat penting.

Keempat, pergeseran “kiblat” outlet. Dulu, restoran cenderung mengutamakan kualitas makanan, sedangkan sekarang berpikir bagaimana caranya agar pengunjung lebih nyaman dan tinggal lebih lama.

Kelima, pergeseran layanan pengiriman. Jika restoran sebelumnya harus melayani pengiriman secara in-house (in-house delivery), sekarang cenderung lebih banyak menggunakan mitra pihak ketiga (3rd party delivery partners) seperti Go-Food dan GrabFood.

“Berdasarkan survei, mayoritas orang Indonesia memiliki kebiasaan makan yang buruk seperti ngemil larut malam dan bekerja sambil makan. Namun, kebiasaan yang buruk itu justru meningkatkan konsumsi makanan dan mendukung pertumbuhan industri,” kata Jeffrey menjelaskan.●

 

Spire Research and Consulting merupakan perusahaan riset pasar dan konsultasi bisnis global, terutama di negara-negara berkembang, yang didirikan di Singapura pada 2000. Kini, perusahaan ini memiliki kantor perwakilan di semua negara Asia Pasifik dengan kantor pusat di Tokyo, Jepang.