Kakao, Potensi yang Belum Dimaksimalkan

Oleh Ashiva Nindra Humaira | Periset Spire Indonesia

Spire Insight Tahukah Anda bahwa saat ini Indonesia merupakan negara penghasil biji kakao terbesar ketiga di dunia?

Merujuk pada data International Cocoa Organization (ICCO), Indonesia berhasil memproduksi biji kakao sebanyak 350.000 ton per tahun.

Namun, jumlah itu tidak ada-apanya jika dibandingkan dengan Pantai Gading yang menjadi penghasil kakao terbesar di dunia, yakni mencapai 1.581.000 ton per tahun dan Ghana sebanyak 778.000 ton per tahun. Di bawah Indonesia ada Ekuador yang menghasilkan 232.000 ton per tahun.

Baca Juga: Strategi Menekan Harga Pangan

Untuk diketahui, biji kakao terdiri dari keping biji yang jika diolah akan menjadi kakao massa (cocoa liquor). Lalu, kakao massa menjadi lemak kakao (cocoa butter) dan bungkil (cocoa cake). Dari lemak kakao dan bungkil kemudian bisa menjadi bubuk kakao (cocoa powder).

Buah kakao memiliki kulit yang tebal, yaitu sekitar 3 sentimeter (cm). Daging buahnya yang disebut pula sering tidak dimanfaatkan. Pulpa sendiri mengandung gula dan membantu proses fermentasi biji.

Pohon industri pulpa kakao memperlihatkan bahwa pulpa tidak dapat ditingkatkan menjadi bahan lain yang lebih bermanfaat dan bernilai jual tinggi.

Berbeda dengan kulitnya yang justru bisa ditingkatkan nilainya. Kulit buah kakao bisa dikembangkan menjadi senyawa bioaktif, biomassa, dan nutrisi.

 

Produk Intermediate Kakao

Di Indonesia, hingga saat ini setidaknya terdapat 20 industri pengolah biji kakao atau yang disebut industri produk intermediate. Berikut ini daftarnya yang telah diperbarui tahun ini.

Ada dua warna di dalam tabel: abu-abu dan putih. Abu-abu menunjukkan bahwa industri tersebut sudah tidak beroperasi lagi, sedangkan yang putih masih.

Rupanya sebagai penghasil biji kakao terbesar ketiga tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri.

Dari 20 perusahaan pengolah bahan baku kakao, ada sembilan yang sudah tidak menghasilkan bahan setengah jadi.

Ini menjadi bukti bahwa Indonesia menjadi penghasil biji kakao terbesar ketiga tapi tidak diikuti dengan pertumbuhan pengolahan lanjutan.

Rupanya sebagai penghasil biji kakao terbesar ketiga tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri. Pada 2014, Indonesia telah mengimpor biji kakao sebanyak 109.000 ton dan naik menjadi 226.613 ton pada 2017.

Namun, karena impor bahan baku kakao dikenakan bea masuk 5%, akibatnya harga menjadi mahal dan pabrik-pabrik kakao gulur tikar. Padahal, permintaan produk olahan cokelat di dalam negeri maupun global terus meningkat.

Defisit biji kakao itu diperkirakan akan berlarut-larut karena tidak adanya peremajaan pohon kakao. Ketiadaan peralatan untuk mengolah biji kakao dan minimnya permodalan di tingkat petani—yang kebanyakan di Sulawesi, Sumatera Utara, Jawa Barat, Papua, dan Kalimantan Timur—menjadi penyebab yang lain.

Kalau sudah begitu, dibutuhkan andil pemerintah. Penghapusan bea masuk kakao seperti tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 6/PMK.010/2017 tentang Penetapan Sistem Klasifikasi Barang dan Pembebanan Tarif Bea Masuk atas Barang Impor bisa jadi menjadi salah satu solusi.

Berbarengan dengan itu, pemerintah perlu merevisi PMK No. 67/PMK.011/2010 jo PMK No. 75/PMK.011/2012 tentang Penetapan Barang Ekspor yang Dikenakan Bea Keluar dan Tarif Bea Keluar dengan mengubah tarif bea keluar dari progresif 0-15% menjadi flat 10%.

Dengan adanya beberapa penyesuaian dari pemerintah diharapkan industri pengolah bahan dasar kakao akan semakin tumbuh, baik dari segi produktivitas maupun performa keuangannya.

Kalau sudah begitu, bukan tidak mungkin Indonesia bisa menjadi negara penghasil biji dan olahan kakao terbesar di dunia. Apalagi pasarnya terus berkembang dari tahun ke tahun.●

 

Spire Research and Consulting merupakan perusahaan riset pasar dan konsultasi bisnis global, terutama di negara-negara berkembang. Perusahaan yang didirikan pada 2000 di Singapura ini kini memiliki kantor perwakilan di semua negara Asia Pasifik dan berkantor pusat di Tokyo, Jepang.

 

Strategi Menekan Harga Pangan

Spire Insight ● Dalam talk show Spire Insightyang ditayangkan TechnoBusiness TV pada akhir April 2018 tersirat bahwa salah satu penyebab kemiskinan, bahkan di kalangan petani sendiri, yaitu sulitnya mendapatkan akses pembiayaan atau permodalan.

Simak Juga: Mengatasi Kemiskinan Petani dengan Skema Value Chain Financing

Dengan alasan takut risiko, institusi formal seperti bank enggan memberikan pembiayaan kepada mereka. Masa panen yang lama dan acap kali gagal menjadi pertimbangan bank-bank tak mau mengucurkan pembiayaan tersebut.

Jika itu dibiarkan, maka kemiskinan akan terus terjadi. Oleh sebab itu, Spire Research and Consulting, perusahaan riset dan konsultasi bisnis yang berbasis di Tokyo, Jepang, menawarkan skema value chain financing (VCF).

Skema itu merupakan model pembiayaan mikro bagi petani yang melibatkan semua aktor dalam satu siklus pertanian. Harapannya, para petani mendapatkan akses pembiayaan dengan agunan alternatif sehingga mampu menekan risiko.

Akan tetapi, mengandalkan skema VCF saja tidaklah cukup. Dalam seminar bertajuk “Pangan Berkeadilan untuk Semua: Menuju Hari Pangan Sedunia 2018” yang diselenggarakan Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) di Jakarta, Selasa (14/8), Jeffrey Bahar, Group Deputy CEO Spire Research and Consulting, “Model VCF bukanlah obat mujarab”.

Baca Juga: Mencari Solusi Pendanaan Petani

Jeffrey menjelaskan, untuk menekan harga pangan, yang pada akhirnya mengentaskan kemiskinan, banyak tergantung pada keberlanjutan value chain itu sendiri.

“Meskipun pendekatan dan aplikasinya bervariasi, sebagian besar value chain memiliki beberapa karakteristik umum, termasuk perspektif pasar,” ujar Jeffrey.

Untuk diketahui, saat ini CIPS sedang menggalang kampanye Hak Makmur atau Hak Makan Murah. Agar kampanyenya berhasil, CIPS menggandeng mitra koalisi sebanyak-banyaknya, dan Spire Indonesia salah satunya.

“Dengan harga pangan yang terjangkau, masyarakat dapat mengalokasikan anggaran ke kebutuhan lain seperti pendidikan dan kesehatan,” ungkap Hizki Respatiadi, Head of Research CIPS.●

 

Spire Research and Consulting merupakan perusahaan riset pasar dan konsultasi bisnis global, terutama di negara-negara berkembang. Perusahaan yang didirikan pada 2000 di Singapura ini kini memiliki kantor perwakilan di semua negara Asia Pasifik dan berkantor pusat di Tokyo, Jepang.

 

5 Tren Pergeseran Pasar Kuliner Nasional

Spire Insight ● Makanan dan minuman merupakan salah satu sektor yang berkembang pesat di Tanah Air akhir-akhir ini. Seperti kita lihat, tempat makan, mulai dari warung hingga restoran besar, bermunculan di mana-mana.

Spire Research and Consulting menyebutkan bahwa industri layanan makanan dan minuman sepanjang 2017 mencapai Rp295,6 triliun. Nilai pasar restoran (Full Service Restaurant) menyumbangkan porsi terbesar, yakni hingga 85,64%.

Baca Juga: AADC, Strategi Memenangkan Pasar Online

Mulai menjamurnya kafe dan bar di berbagai wilayah menyumbangkan 6,41% dari total nilai pasar. Posisi ketiga ditempati oleh kedai cepat saji dengan porsi 4,50%, disusul warung pinggir jalan dan kios sebanyak 2,46%.

Meski demikian, Jeffrey Bahar, Group Deputy CEO Spire Research and Consulting mengatakan, para pelaku pasar di sektor layanan makanan dan minuman mesti menyadari adanya pergeseran konsumen dalam mengunjungi tempat kuliner.

“Setidaknya ada lima tren perubahan konsumen dalam memilih tempat kuliner,” ungkap Jeffrey saat menjadi pembicara dalam acara TechnoBusiness Talks (Edisi Kuliner) di Menara Top Food, Alam Sutera, Serpong, belum lama ini.

Pertama, pergeseran segmen. Segmen pasar kuliner nasional mengalami pergeseran dari restoran keluarga yang premium dengan kualitas makanan yang baik ke restoran skala kecil-menengah. Restoran skala kecil-menengah itu misalnya Warunk Upnormal, Whats Ups Cafe, dan sejenisnya.

JEFFREY BAHAR
Group Deputy CEO Spire Research and Consulting

Kedua, pergeseran harga. Pasar kuliner mulai meninggalkan restoran dengan harga yang relatif mahal ke restoran dengan harga yang relatif lebih terjangkau.

Ketiga, pergeseran siklus. Jika sebelumnya siklus hidup sebuah restoran lebih lama, yakni antara 3-4 tahun, sekalipun kurang inovasi produk, sekarang siklusnya relatif lebih cepat. Tren makanan semakin hari semakin cepat berubah, kira-kira hanya 2-3 tahun saja. Untuk itu, inovasi amat penting.

Keempat, pergeseran “kiblat” outlet. Dulu, restoran cenderung mengutamakan kualitas makanan, sedangkan sekarang berpikir bagaimana caranya agar pengunjung lebih nyaman dan tinggal lebih lama.

Kelima, pergeseran layanan pengiriman. Jika restoran sebelumnya harus melayani pengiriman secara in-house (in-house delivery), sekarang cenderung lebih banyak menggunakan mitra pihak ketiga (3rd party delivery partners) seperti Go-Food dan GrabFood.

“Berdasarkan survei, mayoritas orang Indonesia memiliki kebiasaan makan yang buruk seperti ngemil larut malam dan bekerja sambil makan. Namun, kebiasaan yang buruk itu justru meningkatkan konsumsi makanan dan mendukung pertumbuhan industri,” kata Jeffrey menjelaskan.●

 

Spire Research and Consulting merupakan perusahaan riset pasar dan konsultasi bisnis global, terutama di negara-negara berkembang, yang didirikan di Singapura pada 2000. Kini, perusahaan ini memiliki kantor perwakilan di semua negara Asia Pasifik dengan kantor pusat di Tokyo, Jepang.

 

Lebaran Telko

Spire Insight ● Hari Raya Idul Fitri, selayaknya hari raya lainnya, selalu membawa suka cita. Umat Islam, agama dengan penganut terbanyak di Indonesia, menyambut hari raya tersebut dengan luar biasa.

Baca Juga: Ramadhan, Bulan Gempita E-commerce Indonesia

Membeli baju baru, atau bahkan mobil baru, sudah lumrah adanya. Yang tidak ketinggalan, dan tidak ditemui di momen Lebaran negara mana pun, yakni tradisi pulang ke kampung halaman alias mudik.

Mobilitas yang tinggi itulah yang kemudian mendongkrak kebutuhan penggunaan data internet untuk berkomunikasi antarsanak saudara dan handai taulan lainnya selama momen Lebaran.

PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel), operator telekomunikasi seluler terbesar di Tanah Air di bawah naungan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk., misalnya, selama Lebaran 2018 mengalami lonjakan trafik data 22,3% dibanding hari biasa dan 109% dibanding Lebaran 2017.

Baca Juga: Mengatasi Kemiskinan Petani dengan Skema Value Chain Financing

Lonjakan trafik data itu juga terjadi pada PT XL Axiata Tbk. XL, operator yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh Axiata Group, Malaysia, itu menikmati lonjakan trafik data 30% selama Lebaran 2018 dibanding hari biasa dan 95% dibanding momen yang sama tahun lalu.

PT Indosat Tbk. (Indosat Ooredoo), operator milik Ooredoo asal Qatar, menerima kenaikan trafik data Lebaran 2018 sebesar 45% dibanding hari biasa dan 71% daripada Lebaran tahun lalu.

PT Smartfren Telecom Tbk. (Smartfren) kepunyaan Sinarmas Group pun mendapat berkah lonjakan trafik data 176% dibanding Lebaran tahun lalu. Lonjakan trafik data Smartfren terjadi H-3 dan H+3 Lebaran.

Munir Syahda Prabowo, Vice President Technology and Special Project Smartfren, mengatakan terjadi perubahan pola kenaikan trafik Lebaran tahun lalu dan tahun ini.

Jika tahun lalu kenaikan trafik terjadi pada Hari Raya, tahun ini justru saat menjelang dan sesudahnya. “Perubahan pola itu kami maknai positif yang berarti para pelanggan menggunakan layanan kami sebagai teman ketika mereka melakukan perjalanan mudik,” ungkapnya.

Baca Juga: Simalungun, Surga Arabika di Tepi Danau Toba

Pernyataan itu diperkuat dengan adanya tren akses internet Smartfren untuk keperluan menonton video YouTube, video call via WhatsApp, bermain game online, dan mengakses situs e-commerce.

Lonjakan trafik data Telkomsel hingga 12,89 Petabyte pada H-1 Lebaran 2018 didominasi oleh penggunaan layanan media sosial sebesar 33,7% dan video streaming sebesar 31,3%.

Direktur Network Telkomsel Bob Apriawan menuturkan meningkatnya penggunaan data internet itu diikuti dengan penurunan panggilan telepon Telkomsel sebesar 9,8% dibanding masa-masa normal menjadi 1,29 miliar menit.

Trafik layanan pesan singkat (Short Messages Service/SMS) Telkomsel saat Lebaran juga turun 2,1% dibanding hari biasanya menjadi 594 juta pesan.

Naik tingginya trafik data internet operator-operator telko saat Lebaran itu menandakan masyarakat sudah semakin banyak menggunakan ponsel pintar yang mengakomodasi layanan jaringan internet 3G dan 4G.

Jeffrey Bahar, Group Deputy CEO Spire Research and Consulting

Tidak hanya itu, menurut Jeffrey Bahar, Group Deputy CEO Spire Research and Consulting, perubahan perilaku berkomunikasi seluler itu juga didorong oleh semakin kuatnya jaringan internet berbasis 3G dan 4G yang disediakan oleh para operator.

“Ke depan, sesuai perkembangan teknologi, panggilan telepon dan SMS sudah semakin berkurang digantikan dengan layanan komunikasi berbasis internet seperti instant messaging, video call, dan lain-lain,” kata Jeffrey.

Tapi, bagaimanapun, baik panggilan telepon, SMS, maupun trafik data, yang menikmati lonjakan ketika Lebaran tetap operator-operator telekomunikasi sebagai penyedia layanan. Lonjakan itulah yang kemudian menjadi momen Lebaran Telko pula.

“Sebagai pengguna teknologi yang semakin canggih dan layanan yang kian berkualitas, tentu para pengguna juga diuntungkan dari sisi kemudahan komunikasi. Tantangannya, operator-operator dituntut untuk bersaing dalam memanjakan pelanggannya.●

Spire Research and Consulting merupakan perusahaan riset pasar dan konsultasi bisnis global, terutama di negara-negara berkembang, yang didirikan di Singapura pada 2000. Kini, perusahaan ini memiliki kantor perwakilan di semua negara Asia Pasifik dengan kantor pusat di Tokyo, Jepang.

 

Menanam Harapan di Utara Jakarta

Spire Insight · Hingga September 2017, persentase penduduk miskin di Jakarta menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) berkisar 3,78% (393.000 jiwa) dari total penduduk sekitar 10 juta jiwa. Jumlah ini tidak pernah mengalami penurunan selama 10 tahun terakhir, bahkan sesungguhnya menunjukkan kenaikan dibanding Maret 2017.

Baca Juga: Enam Strategi Penyedia Layanan TIK di Indonesia

Angka pengangguran di Ibu Kota juga cukup besar, mencapai 5,36% dari 5.461.000 jiwa angkatan kerja per Februari 2017. Dalam 1 dasawarsa ini pun Gini Rasio-nya melebihi 0,4, yang menurut BPS bisa mencapai 0,409 per September 2017. Ini menunjukkan ketimpangan pendapatan. Artinya, distribusi kekayaan yang tak merata di Jakarta harus “dibaca ulang” sebagai sebuah masalah serius.


Data dari BPS DKI Jakarta juga menunjukkan bahwa Kepulauan Seribu dan sebagian wilayah Jakarta Utara (Marunda dan Cilincing) masih menjadi daerah dengan tingkat kemiskinan tertinggi, yakni mencapai 13% pada September 2017.

Berkaca dari hal itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan berbagai pihak lainnya harus berupaya keras untuk memaksimalkan berbagai cara untuk menanggulangi kemiskinan di wilayahnya. Persoalan kemiskinan bukan sekadar jumlah dan persentase, melainkan ada dimensi lain yang harus diperhatikan, misalnya tingkat kedalaman dan karakter kemiskinan yang terjadi.

Baca Juga: Ramadhan, Bulan Gempita E-commerce Indonesia 

Menurut Spire Indonesia, kemiskinan yang terdeteksi setidaknya bisa diurai, salah satunya dengan memberikan ruang alternatif bagi masyarakat untuk bisa membaca ulang peluang di daerahnya dan menjadikannya sebagai strategi ketangguhan. Hal itu dimaksudkan untuk menyiasati keterbatasan dan degradasi lingkungan yang terus menyusut seiring dengan laju pertumbuhan populasi di kawasan urban. Setidaknya, dalam konteks kota Jakarta, kawasan pesisir utara termasuk dalam kawasan yang rentan secara sosial dan ekologi.

Marunda sebagai bagian dari kawasan urban Jakarta di Utara dapat memberikan contoh yang baik bagaimana usaha ketangguhan dan kelentingan masyarakat didefinisikan ulang sebagai sebuah usaha yang berkesinambungan dengan melibatkan banyak pihak secara strategis.

Pada 2015, sebuah inisiasi yang dilakukan secara kolaboratif di Marunda melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pihak swasta, non-government organization (NGO), hingga pemerintah. Inisiasi platform kerja sama tersebut dinamakan MURIA (Marunda Urban Resilience in Action).

 

Bercocok Tanam di Lingkungan yang Kritis

MURIA merupakan sebuah platform aksi kerja kolaboratif yang menitikberatkan pada proses inklusif dalam penyusunan strategi ketahanan wilayah Marunda, Jakarta Utara, guna mendapatkan perspektif dari berbagai pihak.

Proses inklusif di sini menunjukkan partisipasi dari semua pemangku kepentingan yang terdiri dari pemerintah, akademisi, komunitas dan organisasi, serta sektor swasta, dalam seluruh proses penerapan strategi ketahanan masyarakat yang rentan terhadap bencana alam dan kemiskinan urban.

Baca Juga: AADC, Strategi Memenangkan Pasar Online

Partisipasi dan kolaborasi antarpihak yang telah dilakukan untuk mencapai ketangguhan masyarakat kota hingga saat ini telah melibatkan beberapa pemangku kepentingan kunci yang strategis, termasuk pihak swasta.

MURIA menawarkan pendekatan multi-pihak yang melibatkan berbagai sektor dengan kapasitasnya masing-masing untuk berkolaborasi dengan pendekatan penguatan ketangguhan yang dikelola masyarakat sendiri (community managed).

Salah satu program yang diusung dalam platform kerja MURIA adalah Urban Farming. Program Urban Farming dilakukan di kawasan yang secara ekologis tidak memungkinkan untuk bercocok tanam (dikarenakan kualitas tanah dan air serta dilingkupi area perindustrian berat) di Marunda. Namun, penerapan pola cocok tanam yang diterapkan dalam program Urban Farming sudah disesuaikan dengan karakter perilaku masyarakat dan lingkungannya.

Tanaman yang ditanam merupakan jenis sayuran yang lebih mudah dalam perawatan dan relatif lebih cepat untuk dipanen serta secara komersial cepat terserap pasar lokal di Marunda. Sedangkan medium tanah dan demo plot yang digunakan juga disesuaikan dengan kondisi lingkungan yang banyak hama (tikus, ayam dan kambing) serta ancaman air rob dari laut. Sehingga demo plot tanaman yang digunakan menggunakan sistem rangka berlapis untuk menghidari hama dan rob.

Sebenarnya, pihak-pihak yang terlibat dalam platform MURIA menyediakan peran dan kapasitasnya masing-masing. Salah satu mitra strategis di MURIA adalah Spire Indonesia, yang ikut berkontribusi dalam program Urban Farming dengan menyediakan analisis mata rantai pasar sayuran dan memberikan lansekap potensial pasar sayuran di Marunda.

Studi yang dilakukan Spire Indonesia di Marunda memberikan pemahaman strategis mengenai pemanfaatan pasar sayuran di wilayah setempat hingga perhitungan komersial yang bisa didapatkan oleh masyarakat dalam melakukan Urban Farming.

Baca Juga: Mengatasi Kemiskinan Petani dengan Skema Value Chain Financing 

Pemetaan yang dilakukan Spire Indonesia juga meliputi pemetaan aktor dan pelaku pasar dalam bisnis sayuran di Marunda. Setidaknya dalam satu siklus masa tanam panen dapat diketahui siapa saja yang berperan penting dan strategis dalam siklus pertanian sayuran di Marunda. Sehingga melalui pemetaan tersebut, stakeholder dalam MURIA lainnya bisa menentukan strategi aksi yang relevan untuk mendukung pengembangan program Urban Farming ke depan.

Jika melihat data produksi sayuran di Jakarta hingga 2016, setidaknya program Urban Farming bisa menyajikan peluang pemberdayaan ekonomi kecil masyarakat bersamaan dengan upaya mendukung lingkungan yang lebih ramah. Produksi sayuran di Jakarta masih di bawah rata-rata jika dibandingkan dengan tingkat konsumsi sayuran warganya yang mencapai tiga kali lipat.

Pasokan kebutuhan sayuran di Ibu Kota masih banyak disuplai dari wilayah satelit sekitaran Jakarta (Bogor, Sukabumi, dan Cianjur). Maka setidaknya, program Urban Farming yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga lokal ternyata bisa juga menjadi peluang usaha mikro melalui penjualan hasil panen sayuran yang konsisten.

Harapan untuk memperbaiki kualitas kehidupan masyarakat Marunda dapat dilakukan melalui opsi sumber penghidupan baru dari program Urban Farming ini. Pelibatan secara aktif anggota keluarga dalam mengelola demo plot tanaman sayur dan model pengelolaan berbasis komunitas atau kelompok warga dapat memberikan satu ruang alternatif pengentasan kemiskinan baru dalam dimensi yang berbeda.

Kini, tanaman-tanaman yang telah dipupuk segera panen dan dapat menemui pasarnya secara langsung dengan pendampingan intens dari pegiat-pegiat MURIA. Dengan demikian, keberlangsungan dan kemandirian masyarakat pun bisa ditempa perlahan untuk nantinya bisa meluas tak hanya di kawasan Marunda saja, tapi juga di wilayah kritis dan kantung kemiskinan lainnya.·

Penulis: Kumbo Lasmono

Infografis: Prizzy Natacia

 

Spire Research and Consulting merupakan perusahaan riset pasar dan konsultasi bisnis global, terutama di negara-negara berkembang, yang didirikan di Singapura pada 2000. Kini, perusahaan ini memiliki kantor perwakilan di semua negara Asia Pasifik dengan kantor pusat di Tokyo, Jepang.

 

Ramadhan, Bulan Gempita E-commerce Indonesia

Spire InsightJD.ID, perusahaan e-commerce di bawah naungan JD.com asal China, memperkenalkan kampanye promo menyambut Bulan Ramadhan kepada para wartawan di JW Marriot, Jakarta, Jumat (25/5).

Baca Juga: AADC, Strategi Memenangkan Pasar Online

Dalam acara yang dikemas sekaligus dengan berbuka puasa bersama itu, selama Ramadhan dan Idul Fitri, JD.ID menyampaikan tengah menggelar kampanye #AsliTulus. Artinya, konsep yang mengedepankan niat tulus untuk berubah ke arah yang lebih baik.

Teddy Arifianto dan Demmy Indronugroho dalam peluncuran kampanye Ramadan JD.ID #AsliTulus di Jakarta, Jumat (25/5).

Head of Marketing JD.ID Demmy Indranugroho mengatakan Ramadhan menjadi momentum yang baik untuk merefleksikan diri, menebarkan niat tulus. “Sehingga kampanye ini kami namakan #AsliTulus,” ungkapnya. “Ini seakan menjiwai seluruh kegiatan promo sebulan penuh.”

Adapun promo yang tawarkan JD.ID selama Ramadhan, antara lain produk-produk khas Bulan Puasa dalam Paket Must Need Ramadhan Items, parsel seharga Rp99.000 dalam Paket Ramadhan Hampers, produk-produk di bawah Rp100.000 dalam Paket Ramadhan Below 99K yang diiringi dengan The Last Reman TVC.

Baca Juga: Mengatasi Kemiskinan Petani dengan Skema Value Chain Financing

Beberapa promo signature seperti Flash Sale, Brand Offers, dan Coupon Deals juga tetap hadir dengan penawaran yang lebih menarik. Misalnya, promo harga spesial bertajuk ‘Sale Anti Ngantuk” selama jam 4.30-6.00 pagi.

Head of Corporate Communications & Public Affairs JD.ID Teddy Arifianto menyatakan Ramadhan itu merupakan puncak promo bagi e-commerce di Indonesia. “Karena itu, kami mengusung kampanye khusus untuk Bulan Suci bagi umat muslim ini. Dibanding tahun lalu, jumlah transaksi per hari ini sudah naik 120%,” katanya.

Sebagai e-commerce terbesar di Indonesia, Tokopedia lebih gila lagi. Pada malam sebelumnya, Tokopedia meluncurkan Festival Belanja Online Ramadhan Ekstra untuk pertama kalinya. Tak tanggung-tanggung, peluncuran itu disiarkan secara langsung oleh tiga televisi nasional, yakni Net TV, MNC TV, dan Trans 7.

Menurut CEO Tokopedia William Tanuwijaya lewat laman Facebook-nya, Festival Belanja Online Ramadan Ekstra itu bertujuan untuk memudahkan konsumen dalam memperoleh segala keperluan selama Ramadhan dan Lebaran.

Tokopedia mengerahkan lebih dari 2.200 Nakama, sebutan bagi stafnya, untuk bekerja sama dengan para penjual, baik kecil maupun merek nasional dan merek multinasional.

Lazada Indonesia tak mau ketinggalan. Momen puncak belanja itu dimanfaatkan oleh Lazada untuk menggelar PuaSale, promo diskon harga barang-barang keperluan harian hingga perlengkapan kendaraan bermotor.

Baca Juga: Simalungun, Surga Arabika di Tepi Danau Toba

Harus diakui bahwa Indonesia memang memiliki karakteristik pasar yang berbeda. Jeffrey Bahar, Deputy CEO Spire Research and Consulting, perusahaan riset dan konsultasi bisnis yang berkantor pusat di Tokyo, Jepang, menyatakan e-commerce Indonesia telah memiliki Festival Belanja Online pada 11/11 dan Hari Belanja Online pada 12/12 selayaknya Black Friday di Amerika, Boxing Day di Eropa, Single Day di China, dan Big Billion Day di Indonesia.

JEFFREY BAHAR, Group Deputy CEO Spire Research and Consulting

“Tapi, kini para pemain e-commerce menyadari bahwa ada momen puncak belanja masyarakat yang tak kalah menarik untuk digarap, yakni Bulan Ramadhan,” kata Jeffrey.

Karena mayoritas masyarakat Indonesia adalah muslim, jelas Jeffrey, maka belanja untuk keperluan Ramadhan dan perayaan Hari Raya Idul Fitri melonjak. Di situlah e-commerce-e-commerce menjadikan momen tersebut sebagai ajang promosi yang bahkan lebih lama ketimbang Festival Belanja Online dan Harbolnas,” jelas Jeffrey.

Ke depan, promo-promo pada Bulan Ramadhan dan Lebaran diyakini bakal lebih seru. Sebab, di samping kebutuhan masyarakat yang meningkat pesat daripada hari biasanya, pasarnya juga besar. Masa-masa seperti itu bisa menjadi momen bagi e-commerce mendongkrak penjualan.●

Spire Research and Consulting merupakan perusahaan riset pasar dan konsultasi bisnis global, terutama di negara-negara berkembang, yang didirikan di Singapura pada 2000. Kini, perusahaan ini memiliki kantor perwakilan di semua negara Asia Pasifik dengan kantor pusat di Tokyo, Jepang.

AADC, Strategi Memenangkan Pasar Online

Spire Insight ● Nilai belanja teknologi informasi dan komunikasi (ICT spending) Indonesia diperkirakan naik 20% dari US$23,7 miliar pada 2017 menjadi US$28,4 miliar pada 2020. Dalam masa yang sama, anggaran industri komunikasi (Communication Spending) naik dari US$14,8 miliar menjadi US$16,1 miliar.

Baca Juga: Mengatasi Kemiskinan Petani Melalui Skema Value Chain Financing

Belanja di bidang teknologi informasi (IT Spending) melonjak 38,2% dari US$8,9 miliar pada 2017 menjadi US$12,3 miliar pada 2020. Sementara itu, nilai bisnis layanan teknologi informasi (IT Services) dari US$1,7 miliar menjadi US$3,8 miliar. Belanja perangkat (Devices Spending) juga naik dari US$7,2 miliar menjadi US$8,5 miliar.

Indah Muliana, Senior Manager PT Spire Indonesia, sedang menyampaikan presentasinya di acara “ICT Reseller Channel Summit 2018” di Bali, 1-3 Mei 2018.

Nilai belanja yang besar itu telah mendorong naiknya penetrasi penggunaan internet yang pada 2017 sudah mencapai 143,26 juta orang, 58,08%-nya berada di Pulau Jawa. Lalu, penetrasi internet yang semakin meluas memengaruhi peralihan pola belanja masyarakat dari offline ke online. Contoh produk fashion, saat ini 35,3%-nya terjual via online.

Peralihan dari offline ke online itu membawa dampak positif banyak hal. Dalam SMB Channel Partner Trends Study yang dirilis Techaisle, ada 10 isu utama dalam peralihan tersebut. Ke-10 itu antara lain (1) meningkatkan produktivitas tenaga kerja; (2) meningkatkan kualitas produk dan proses; (3) mengurangi biaya operasional.

Baca Juga: Enam Strategi Penyedia Layanan TIK di Indonesia

(4) mengelola ketidakpastian; (5) meningkatkan kecepatan ke pasar; (6) menciptakan produk inovatif; (7) meningkatkan pertumbuhan bisnis; (8) mengelola investaris secara efektif; (9) menarik dan mempertahankan pelanggan baru; (10) meningkatkan profitabilitas.

 

Karena itu, Jeffrey Bahar, Group Deputy CEO Spire Research and Consulting, dalam “Indonesia ICT Reseller Channel Summit 2018” yang diselenggarakan oleh Gates Apac Pte Ltd di Bali, 1-3 Mei 2018, mengatakan mau tidak mau perusahaan-perusahaan harus mulai segera merambah ke pasar online.

“Caranya, AADC,” kata Jeffrey. Yang dimaksud dengan AADC yaitu Acquisition, Affiliation, Diversification, dan Collaboration. Pertama, Acquisition (Akuisisi) merupakan salah satu langkah perusahaan memasuki bisnis teknologi. PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. (IDX: TLKM), misalnya, pada 2017 mengakuisisi PT Bosnet Distribution Indonesia melalui anak perusahaannya, PT Sigma Cipta Caraka (Telkom Sigma).

Webinar: Cross Border E-commerce Logistics Trends and Solutions in Asia

Pada 2018, lanjut Jeffrey, Telkom mengalokasikan belanja modal (capital expenditure) untuk mengakuisisi 10 perusahaan baru, termasuk untuk memperluas dan memperkuat portofolio Telkom Sigma di bidang e-logistics dan ekosistem bisnis e-commerce.

Contoh lainnya adalah Microsoft mengakuisisi PlayFab. PlayFab merupakan penyedia layanan game yang terhubung dengan cloud. Akuisisi tersebut akan memperkuat investasi Microsoft di Azure untuk segmen game global.

Kedua, Affiliation (afiliasi). Ada pula yang menggunakan strategi afiliasi untuk memperluas penetrasi dan menghemat biaya pemasaran produk atau layanan. “Metrodata memiliki program SAM [Saya Afiliasi Metrodataonline.com], program rujukan yang diarahkan kepada metrodataonline.com dengan pembagian komisi hingga 10%,” ungkap pria yang juga menjabat sebagai CEO Spire Indonesia itu.

Menurut Indah Muliana, Senior Manager Spire Indonesia, apa yang dilakukan penyedia pusat data (data center) Indonet dan DCI Equinix bisa menjadi contoh penerapan strategi afiliasi dalam mempercepat penetrasi pasar. “DCI Equinix memanfaatkan Indonet dalam memaksimalkan penetrasi layanannya di pasar domestik Indonesia,” ujarnya.

Ketiga, Diversification (diversifikasi). Diversifikasi produk atau layanan akan “memaksa” perusahaan untuk melakukan inovasi secara out of the box. Strategi diferensiasi juga bisa dilakukan dengan menargetkan loyalitas pelanggan melalui program untuk VIP pelanggan atau melakukan bundling dengan multilayanan.

“SNC Technology, misalnya, mengembangkan pesawat tak berawak sebagai pemantauan armada dan menangkap solusi dengan rencana yang menargetkan perkebunan dan kehutanan menjadi salah satu contoh bagaimana perusahaan melakukan diversifikasi layanan,” kata Indah yang juga menjadi narasumber dalam pertemuan tersebut.

Contoh lain, GTN menyediakan fasilitas helikopter ke lokasi pusat data (data center) mereka bagi pelanggannya, Microsoft menawarkan skema pengalaman desktop modern dengan membundel lisensi Microsoft Office dan layanan Azzure-nya, Citrix menyediakan layanan BYOD melalui pendekatan sederhana dan aman berdasarkan manajemen mobilitas perusahaan.

Baca Juga: Menakar Pertumbuhan Penduduk dan Produksi Pangan Nasional

Keempat, Collaboration (kolaborasi). Strategi kolaborasi mempermudah dan mempercepat penetrasi pasar sebuah produk dan layanan. Kolaborasi bisa dilakukan dengan mitra di satu pasar tertentu, kategori produk atau layanan tertentu, dan lain sebagainya.

Indah mencontohkan, Go-Jek dan BlueBird memilih berkolaborasi daripada bersaing dalam melayani kebutuhan transportasi masyarakat perkotaan di Tanah Air. “Untuk kolaborasi soal harga, Evercoss, XL Axiata, dan YouTube secara bersama-sama menawarkan paket bundling yang lebih murah daripada harga terpisah,” ujarnya.

Itulah strategi AADC yang dimaksud Jeffrey Bahar dan Indah Muliana dari perusahaan riset dan konsultasi pasar Spire Research and Consulting dalam presentasinya di hadapan para peserta “Indonesia ICT Reseller Channel Summit 2018” di Bali, 1-3 Mei 2018 lalu.●

 

Spire Research and Consulting merupakan perusahaan riset pasar dan konsultasi bisnis global, terutama di negara-negara berkembang, yang didirikan di Singapura pada 2000. Kini, perusahaan ini memiliki kantor perwakilan di semua negara Asia Pasifik dengan kantor pusat di Tokyo, Jepang.

 

Mengatasi Kemiskinan Petani dengan Skema Value Chain Financing

Spire InsightPara petani kecil yang jumlahnya lebih dari 40 juta orang di Indonesia sulit maju dan sejahtera lantaran terkendala permodalan. Institusi pembiayaan formal seperti bank enggan menyasar mereka karena takut risiko.

 

Baca Juga: Simalungun, Surga Arabika di Tepian Danau Toba

 

Melihat kenyataan itu, Spire Indonesia, perusahaan riset dan konsultasi bisnis global di bawah Spire Research and Consulting yang berbasis di Tokyo, Jepang, menawarkan skema value chain financing.

Value Chain Financing merupakan model pembiayaan mikro bagi petani yang melibatkan semua aktor dalam satu siklus pertanian.

Pada prinsipnya, kata Jeffrey Bahar, CEO Spire Indonesia, bank takut terhadap risiko pengucuran kredit. Namun, dengan Value Chain Financing, para petani dimungkinkan mendapatkan akses pembiayaan dengan agunan alternatif sehingga risikonya dapat ditekan.

Sebenarnya seperti apa skema Value Chain Financing yang dimaksud Spire Indonesia? Simak hasil wawancara TechnoBusiness TV dengan CEO Spire Indonesia Jeffrey Bahar di Jakarta belum lama ini.

#TechnoBusinessTV #TechnoBusiness #TechnoBusinessID #Spire #Research #TBMedia #SpireIndonesia

Enam Strategi Penyedia Layanan TIK di Indonesia

Spire Insight ● Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di Indonesia berkembang sangat pesat. Keberadaannya tidak hanya memberi kemudahan, tapi juga membawa perubahan dalam tatanan kehidupan masyarakat.

 

Baca Juga: Simalungun, Surga Arabika di Tepi Danau Toba

 

Sektor bisnis pun tidak bisa lepas dari yang namanya platform teknologi. Itu sebabnya, dalam lima tahun terakhir, industri TIK nasional tumbuh stabil antara 9-10% per tahun.

Perusahaan-perusahaan penyedia layanan TIK pun bersaing memperoleh pangsa pasar yang besar. Seperti apa strategi mereka?

Berikut ini enam strategi yang diterapkan para penyedia layanan TIK di pasar Indonesia:

  1. Beberapa perusahaan terus meningkatkan porsi recurring revenue. Sebab, pertumbuhan penjualan perusahaan yang memiliki porsi recurring revenue besar cenderung lebih stabil. Kontribusi itu biasanya diperoleh dari layanan data center, managed service, atau pembayaran elektronik.
  2. Perusahaan meningkatkan nilai tambah, mengevaluasi layanan yang ada, dan menciptakan layanan VIP kepada High Value Customer. Contohnya, membuat perjalanan bisnis menggunakan helikopter.
  3. Perluasan pasar dengan menerapkan strategi penetrasi, kolaborasi, dan akuisisi, baik dengan perusahaan lokal maupun regional. Misalnya, perusahaan penyedia layanan on-demand yang berbasis aplikasi mengakuisisi perusahaan teknologi keuangan (fintech) dalam rangka merambah bisnis pembayaran. Akuisisi ini dilakukan agar pertumbuhan bisnis lebih cepat.
  4. Pergeseran mindset bisnis dari pendekatan tradisional menjadi pendekatan khusus. Saat ini, perusahaan berlomba menciptakan momen kebenaran dan konsep unik, yaitu dengan mengadakan seminar untuk para pelanggan, menawarkan bisnis end-to-end, hingga inovasi bisnis out of the box seperti mengembangkan drone sebagai solusi fleet monitoring dan capturing.
  5. Perusahaan juga menyediakan product mixing, multi-consumer segment, dan pengadopsian skema revenue dengan konsep freemium (multiproduk, multisegmen, dan multikonsep). Salah satu contoh mutiservice bundling yang disediakan perusahaan penyedia layanan TIK adalah pengembangan internet broadband dengan koneksi internet di-bundle dengan IPTV dan layanan internet rumah akan dilengkapi dengan konten TV.
  6. Beberapa perusahaan juga memosisikan diri sebagai penyedia ecosystem enabler dengan penggabungan solusi digital. Contoh, pengembangan layanan IoT untuk perumahan dan gedung, smart city sebagai generator pendapatan baru, e-commerce, logistics enablement, dan bigdata analytics.

Untuk mencapai keunggulan yang kompetitif dalam kerasnya persaingan bisnis TIK tentu bukanlah tugas yang mudah bagi perusahaan.

Akan tetapi, perusahaan harus peka seiring tuntutan pelanggan yang memiliki ide-ide baru, kebutuhan TIK yang semakin dinamis, dan dorongan untuk melakukan transformasi digital terkait teknologi.●

Naskah:

Nesya Yulia Ramadhani

nesya@technobusiness.id

Grafis:

Prizzy Natacia

prizzy.natacia@technobusiness.id

——-

Spire Research and Consulting merupakan perusahaan riset pasar dan konsultasi bisnis global, terutama di negara-negara berkembang, yang didirikan di Singapura pada 2000. Kini, perusahaan ini memiliki kantor perwakilan di semua negara Asia Pasifik dengan kantor pusat di Tokyo, Jepang.

 

Simalungun, Surga Arabika di Tepi Danau Toba

Spire Insight ● Berjarak sekitar 160 kilometer dari Medan, Simalungun merupakan salah satu kabupaten penghasil kopi di Provinsi Sumatera Utara. Berlokasi di sepanjang pinggiran Danau Toba dengan ketinggian mencapai 1.400 meter di atas permukaan laut (mdpl) membuat Simalungun menjadi daerah yang berpotensi tinggi untuk ditanami kopi dengan varietas utamanya Arabika.

Baca Juga: Mencari Solusi Pendanaan Petani

Dalam publikasi “Outlook Kopi 2017” yang dikeluarkan Kementerian Pertanian, Sumatera Utara tercatat sebagai provinsi penghasil kopi Arabika terbesar di Indonesia, dengan rata-rata produksi sebesar 49.546 ton setiap tahunnya. Sumatera Utara berkontribusi sebanyak 29,99% dari produksi kopi Arabika nasional.

Bagaimana dengan Simalungun? Simalungun merupakan salah satu kabupaten penyumbang kopi Arabika terbesar ketiga di Sumatera Utara setelah Tapanuli Utara dan Dairi, dengan kapasitas produksi mencapai hampir 9.000 ton per tahun atau berkontribusi sebanyak 17%.

Namun, bukan berarti Simalungun tidak memproduksi kopi jenis lain. Simalungun pun memproduksi kopi Robusta dengan nilai produksi mencapai 2.718 ton per tahun. Nilai yang sangat tinggi dan memiliki potensi yang besar untuk menaikkan roda perekonomian masyarakat, khususnya bagi petani kopi di Simalungun.

Hal itu tentu terjadi seiring makin meningkatnya budaya minum kopi yang menjamur di semua kalangan, khususnya di kalangan generasi milenial. Bahkan, Presiden Joko Widodo dalam salah satu vlog-nya memperlihatkan dirinya bersama beberapa menteri begitu menikmati ngopi di salah satu kedai kopi kekinian di Bandung, Jakarta, dan kota-kota lainnya.

Selain itu, kita juga dengan mudah menemukan kedai kopi di semua pelosok negeri, mulai dari kedai kopi dengan berlabel internasional hingga kedai kopi besutan anak negeri. Ini membuktikan ngopi sudah menjadi bagian dari gaya hidup dan menjadi potensi pasar yang sangat besar.

Pertumbuhan konsumsi kopi lokal diproyeksikan terus meningkat, bahkan mencapai angka 8% setiap tahunnya. Ini nilai yang fantastis. Namun, yang menjadi pekerjaan rumah besar adalah tingginya pertumbuhan konsumsi kopi tidak dibarengi dengan produksi kopi yang meningkat.

Saat ini, produksi kopi dinilai stagnan bahkan berkurang dibandingkan dengan produksi kopi Indonesia di era 1990-an. Walaupun dilabeli sebagai eksportir kopi terbesar keempat di dunia setelah Brazil, Vietnam, dan Kolumbia, Indonesia masih mengimpor kopi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Sangat ironis bukan?

Lalu, bagaimana dengan kopi di Simalungun? Memang kopi Simalungun tidak terkenal seperti saudaranya, Kopi Gayo atau bahkan Kopi Lintong. Hal itu terjadi karena kebanyakan kopi Simalungun masih diproduksi dalam bentuk gabah. Sedikit sekali petani yang memproduksi hingga ke kopi siap saji.

Produk gabah kopi Simalungun banyak dilarikan ke daerah lain oleh pengepul. Dibawa ke Lintong jadi kopi Lintong, dibawa ke Sumbul jadi kopi Sidikalang, dibawa ke Medan jadi kopi Mandhailing. Padahal, kopi Simalungun sudah tidak diragukan lagi kualitasnya, di atas kategori specialty dan sudah mengantongi sertifikat Indikasi Geografis (IG) kopi Arabika Simalungun.

Kopi Simalungun pun sudah diekspor ke berbagai negara, termasuk Australia, Swiss, Timur Tengah, dan Amerika Serikat. Terdapat kelompok tani di Simalungun, tepatnya di Kecamatan Sidamanik, yang telah menerapkan pertanian kopi organik, tanpa bahan kimia yang ramah lingkungan. Kopi yang dihasilkan telah dilirik oleh Starbucks.

Kelompok tani yang digawangi Ludiantoni Damanik itu dipercaya memasok green bean dan roast been. Saat ini, Bang Toni, sapaan akrabnya, sedang giat memasarkan produk kopinya sendiri dengan label Saabas Kopi. Awal 2018, Toni pun diundang untuk mengikuti pameran produk kopi di Swiss.

Di samping itu, pertanian kopi di Simalungun menemui satu barrier yang besar, di mana harga yang dibayarkan ke petani untuk hasil panen kopi masih tergolong rendah. Perbedaan harga jual pengepul dengan yang diterima petani mencapai lebih dari Rp10,000 per kilogram. Ini yang menyebabkan banyak petani mulai pindah ke komoditas lain yang dirasa lebih menguntungkan bagi mereka seperti jeruk, kentang, dan lainnya.

Menurut petani, pemerintah daerah masih menganggap kopi bukan sebagai komoditas yang menguntungkan seperti halnya kelapa sawit. Sangat disayangkan, mengingat saat ini peluang untuk membesarkan komoditas kopi terbuka lebar.

Pemerintah daerah perlu memberikan perhatian penuh kepada petani kopi dalam bentuk pendampingan, mulai dari proses persiapan hingga pemasaran produk hasil panen berupa kopi siap saji. Program pendampingan pascapanen menjadi sangat krusial mengingat saat ini kopi Simalungun masih banyak dijual dalam bentuk gabah, bukan dalam bentuk kopi siap saji.

Jika petani kopi di Simalungun, pemerintah daerah, dan pelaku bisnis mampu bersinergi, tidak menutup kemungkinan kopi menjadi komoditas unggulan dari daerah itu, sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan para petaninya.●

Muhammad Rizki Faisal

rizki.faisal@technobusiness.id

————–

Spire Research and Consulting merupakan perusahaan riset pasar dan konsultasi bisnis global, terutama di negara-negara berkembang, yang didirikan di Singapura pada 2000. Kini, perusahaan ini memiliki kantor perwakilan di semua negara Asia Pasifik dengan kantor pusat di Tokyo, Jepang.