Pasar TV Online Bakal Bernilai US$129 Miliar

London, TechnoBusiness Insight · Episode-episode televisi dan film online global diperkirakan bakal meraup pendapatan hingga US$129 miliar pada 2023. Jika tercapai, pendapatan itu berarti meningkat lebih dari dua kali lipat dibanding US$53 miliar pada 2017.

Berdasarkan laporan “Global OTT TV & Video Forecasts” terbaru yang dirilis firma riset Report Buyer belum lama ini, lima besar pemain akan menguasai 69% pendapatan global industri tersebut pada 2023.

Baca Juga: Mengapa Pendapatan Acer 2018 Seret?

Proporsi lima besar itu lebih kecil dibanding pada 2017 yang mencapai 73%. Pendapatan Over the Top (OTT) melebihi US$1 miliar diperkirakan dibukukan oleh 17 negara pada 2023, naik dari 10 negara pada 2017.

Pendapatan Over the Top (OTT) televisi melebihi US$1 miliar diperkirakan dibukukan oleh 17 negara pada 2023.

China akan menyumbangkan kenaikan angka pendapatan industri media streaming yang signifikan selama periode perkiraan, yakni dari US$17 miliar menjadi US$26 miliar.

Angka itu akan mengubah porsi pendapatan OTT China di tingkat global dari 16% menjadi 20%. Pada saat pasar OTT China dan dunia mengalami pertumbuhan, tidak ada jaminan itu juga berlaku bagi Amerika Serikat.

Baca Juga: Tingkat Kepercayaan CEO-CEO Global Menurun

“Tidak ada hadiah yang menebak bahwa Amerika Serikat akan tetap menjadi wilayah yang dominan,” kata Simon Murray, principal analyst at digital TV research di Report Buyers.

Memang, lanjut Murray, pendapatan OTT Negeri Paman Sam pada 2023 akan naik dua kali lipat dibanding 2017, dari US$25 miliar menjadi US$48 miliar.

Namun, Report Buyer memperkirakan, bisa jadi porsi pendapatan global dari negara tersebut turun dari 43% menjadi 37%. Sayangnya, tidak dijelaskan alasan penurunan tersebut.·

Teks:TechnoBusiness Insight

Data:Report Buyer

Grafis:TechnoBusiness ID

 

Pasar Barang Teknik Konsumer Lewati €1 Triliun

Nuremberg, TechnoBusiness Insight ● Nilai penjualan barang-barang teknik konsumer (technical consumer goods) sejagat sepanjang 2018 mencapai €1,01 triliun.

Pasar yang mencakup produk-produk telekomunikasi, peralatan rumah tangga kecil, elektronik konsumen, dan teknologi informasi/peralatan kantor itu, menurut periset pasar global GfK, baru pertama kalinya dalam sejarah melewati angka €1 triliun.

Baca Juga: Belanja Melalui Perangkat “Mobile”Melonjak

Semua subkategori menunjukkan penguatan penjualan. Telekomunikasi naik 7%, peralatan rumah tangga kecil naik 7%, elektronik konsumen/foto tumbuh 6%, dan teknologi informasi meningkat/peralatan kantor meningkat 1%.

Pada 2019, berdasarkan prediksi GfK, pasar tersebut akan meningkat 2% menjadi €1,03 triliun. Kontribusi terbesar sebesar 42% diperoleh dari kawasan Asia Pasifik.

Eropa menjadi pasar terbesar kedua dengan kontribusi 25%, 20% dari Amerika Utara, 7% dari Amerika Latin, dan 6% dari Timur Tengah, Turki, dan Afrika.

Baca Juga: Valuasi Tokopedia Diprediksi Mencapai US$7 Miliar

Markus Kick, pakar barang-barang teknik konsumer GfK, mengatakan terlampauinya nilai pasar €1 triliun menandakan tonggak yang nyata pada perdagangan dan industri tersebut.

“Bidang telekomunikasi, peralatan kecil, dan elektronik konsumen terbukti menjadi pendorong penjualan terbesar,” ungkap Kick. “Konsumen juga semakin menghargai konektivitas dan kenyamana.”●

Teks: TechnoBusiness Insight

Data: GfK

Grafis: TechnoBusiness, GfK

 

Euromonitor: Waspadai Gejolak Ekonomi Global 2019

London, TechnoBusiness Insight ● Firma riset pasar independen global Euromonitor International yang berbasis di London, Inggris, hari ini merilis “Global Economic Forecast Q4 2018”.

Dalam laporan itu, Euromonitor menyatakan bahwa momentum pertumbuhan ekonomi dunia telah mencapai puncaknya pada 2018. Tahun depan, ekonomi dunia diproyeksikan kembali melandai.

Baca Juga: Akibat Perang Dagang, GoPro Tinggalkan China

Selama 2018, produk domestik bruto global hanya tercatat 3,8%. Namun, tahun depan justru akan lebih rendah menjadi 3,5%. Proyeksi-proyeksi pertumbuhan ekonomi negara-negara maju pun telah dikoreksi sejak Agustus lalu.

Sumber: Euromonitor International

Kinerja ekonomi negara-negara berkembang yang tahun ini sekitar 5%, tahun depan kemungkinan juga akan lebih rendah lagi menjadi 4,8%.

Tahun ini, negara-negara maju diyakini bakal mencatatkan pertumbuhan sebesar 2,3%, dan tahun depan lebih rendah lagi.

Harus diakui bahwa ketegangan perdagangan dunia telah memperburuk perekonomian tahun depan. Negara-negara berkembang seperti Argentina dan Turki paling merasakan dampaknya.

Baca Juga: DIVA dan Tetra X Change Luncurkan Pesan Singkat AI

Isu perang dagang antara Amerika Serikat dan China akan terus membayang-bayangi ekonomi global. Sebab, kedua negara kemungkinan akan habis-habisan untuk saling serang.

Zona Euro diprediksi tetap bergejolak. Geopolitik di kawasan Barat itu semakin meningkatkan ketidakpastian.

Tahun depan, ekonomi China pun diperkirakan tak mampu bertahan dari hembasan sehingga akan menurun drastis, bahkan Euromonitor menggambarkannya dengan “China hard landing”.

Kredit macet di Negeri Panda kemungkinan meningkat, diikuti kepercayaan sektor swasta. Hal itu tentu akan berpengaruh pada perekonomian negara berkembang lainnya.

Baca Juga: Ekonomi Digital Asia Tenggara Menuju US$240 Miliar

Zona Euro diprediksi tetap bergejolak. Geopolitik di kawasan Barat itu semakin meningkatkan ketidakpastian. Negosiasi antara Inggris dan Zona Euro terkait Brexit tak menutup kemungkinan menemukan jalan buntu.

Kondisi perekonomian di Eropa akan semakin tegang jika pasar kreditnya kian memburuk dan tingkat kepercayaan di sektor keuangan runtuh.

Itu belum lagi ditambah dengan apabila benar langkah Inggris yang keluar dari Zona Euro akan diikuti oleh Italia dan Yunani. Karena itu, waspadalah, gejolak ekonomi tahun depan akan lebih dahsyat.●

Teks: TechnoBusiness Insight

Data: Euromonitor International

Grafis: TechnoBusiness, Euromonitor International

 

Jakarta Bukan Tujuan Utama Wisata Dunia

Jakarta, TechnoBusiness Insight ● Jakarta, Ibu Kota Indonesia, bukan menjadi kota tujuan utama bagi para wisatawan mancanegara. Hal itu terungkap dalam laporan hasil studi “Top 100 City Destination 2018” yang dirilis Euromonitor International, Selasa (4/12).

Dalam studi itu, jumlah pengunjung internasional yang menggunakan akomodasi setidaknya dalam 24 jam hingga 12 bulan ke Jakarta setiap tahun memang terus naik. Akan tetapi, kota-kota lain juga mengalami kenaikan yang jauh lebih signifikan.

Baca Juga: 10 Restoran Fine Dining Terbaik di Amerika 2018

Pada 2016, pelancong internasional yang datang ke Jakarta mencapai 2,41 juta. Tahun lalu, jumlahnya naik menjadi 3,58 juta. Tahun ini, diperkirakan kembali naik menjadi 4,03 juta. Jumlah pengunjung sebanyak itu hanya menempatkan Jakarta di urutan ke-60.

Peringkat Kota-Kota Destinasi Wisata Dunia 2018

Bandingkan dengan kota-kota di Asia Tenggara lainnya, Jakarta masih kalah jauh. Bangkok, Thailand, pada 2016 mampu menarik wisatawan mancanegara sebanyak 20,69 juta orang; pada 2017: 22,45 juta; pada 2018: 23,68 juta.

Bangkok bahkan berhasil menjadi kota destinasi teratas kedua di dunia di bawah Hong Kong. Singapura, kota yang paling maju di Asia Tenggara, justru menempati urutan keempat di bawah London. Tahun ini, Singapura diperkirakan menyedot 18,55 juta wisatawan mancanegara.

 

Jumlah pengunjung Singapura naik, tapi amat tipis. Pada 2016, pelancong yang mendarat di Negeri Merlion tercatat sebanyak 16,60 juta, sedangkan tahun lalu 17,61 juta. Perlambatan itu membuat Singapura turun satu peringkat dibanding tahun lalu.

Kuala Lumpur, kota jiran yang sama dekatnya dengan Jakarta, berada di urutan ke-9. Kota dengan ikon Petronas Twin Tower itu mampu mendatangkan 13,43 juta wisatawan asing, empat kali lipatnya dari Jakarta.

Jakarta bahkan kalah dari Phuket (Thailand/11), Pattaya (Thailand/25), Johor Bahru (Malaysia/37), Ho Chi Minh City (Vietnam/39), Ha Noi (Vietnam/51), Ha Long (Vietnam/53). Indonesia hanya mempunyai Denpasar yang peringkatnya lebih baik daripada Jakarta dengan posisi ke-33.

Melihat data-data itu, kita menjadi tahu bahwa masih banyak pekerjaan yang mesti dilakukan oleh pemerintah dan perusahaan privat serta masyarakat agar Jakarta, apalagi kota-kota lain di Indonesia, mampu bersaing dalam menarik wisatawan asing.●

Teks: TechnoBusiness Insight

Data: Euromonitor International

Grafis: TechnoBusiness Media Network

 

Indeks Kepercayaan Diri Orang Indonesia Tertinggi

Jakarta, TechnoBusiness Insight ● Orang Indonesia diketahui paling percaya diri dalam menatap peluang hidup yang lebih baik pada masa depan dibanding mereka yang tinggal di negara-negara Asia Pasifik lainnya.

Kenyataan itu diungkapkan oleh pengelola situs jejaring sosial profesional LinkedIn Corporation asal Mountain View, California, Amerika Serikat, dalam studi perdananya berjudul “LinkedIn Opportunity Index” yang dirilis hari ini.

Baca Juga: Membaca Strategi “Rebranding” MatahariMall.com

Dalam studi yang melibatkan 11.000 responden dari 9 negara di Asia Pasifik, antara lain Indonesia, Australia, China, Hong Kong, India, Jepang, Malaysia, Filipina, dan Singapura, yang mewakili 153 juta pengguna, menyebut indeks kepercayaan diri orang Indonesia dalam menatap masa depan mencapai 116.

Kepercayaan yang tinggi itu didorong oleh potensi pertumbuhan ekonomi negara dan kemungkinan peluang yang dapat diraih.

Indeks Indonesia itu mengalahkan India (111), China (106), Filipina (106), Malaysia (101), Singapura (91), Australia (90), Hong Kong (85), dan Jepang (79).

Kepercayaan yang tinggi itu didorong oleh potensi pertumbuhan ekonomi negara dan kemungkinan peluang yang dapat diraih.

Orang-orang di negara-negara maju seperti Jepang, Hong Kong, dan Australia memiliki indeks kepercayaan terhadap masa depan yang rendah karena cemas terhadap kondisi perekonomian negara mereka masing-masing.

Baca Juga: Belanja Melalui Perangkat “Mobile”Melonjak

Managing Director LinkedIn Asia Pasifik Olivier Legrand mengatakan studi perdana LinkedIn Opportunity Index menjadi jembatan untuk memahami aspirasi masyarakat di Asia Pasifik tentang kesempatan dalam meraih berbagai peluang dan hambatannya pada masa mendatang.

“Pertumbuhan jumlah tenaga kerja di kawasan sejatinya bisa menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi regional jika dikelola secara efektif,” ungkap Legrand. “… Kami berharap dapat memfasilitasi penawaran dan permintaan peluang yang lebih seimbang di pasar.”●

—–

Definisi dari peluang jika dikaitkan dengan hal edukasi, karier, pekerjaan, dan hal lainnya yang berhubungan dengan hidup. 

Asia Pasifik Indonesia
Pekerjaan yang menawarkan keseimbangan antara kehidupan karier dan personal 40% Merintis bisnis milik sendiri 50%
Dapat menggunakan kemampuan saya 36% Dapat menggunakan kemampuan saya 38%
Memiliki pilihan dalam hidup 35% Pekerjaan yang menawarkan keseimbangan antara kehidupan karier dan personal 34%
Kesempatan untuk mendapat karier dengan penghasilan menjanjikan 32% Kehidupan yang lebih baik dibanding orang tua saya 34%
Mempelajari kemampuan baru 30% Membantu orang lain mendapatkan peluang 32%

 Hal yang paling penting untuk bisa maju di masa depan

Asia Pasifik Indonesia
Tekun bekerja keras 90% Tekun bekerja keras 94%
Mengenal orang yang tepat dan memiliki koneksi yang luas 85% Mengenal orang yang tepat dan memiliki koneksi yang luas 93%
Kesetaraan akses ke peluang 83% Kesediaan untuk menerima perubahan 89%
Kesediaan untuk menerima perubahan 81% Kesetaraan akses ke peluang 84%

 Peluang utama yang paling diminat / dikejar saat ini

Asia Pasifik Indonesia
Pengembangan karier 15% Merintis dan mengembangkan bisnis milik sendiri 34%
Merintis dan mengembangkan bisnis milik sendiri 15% Pengembangan karier 12%
Mempelajari kemampuan baru 14% Mencari peluang bisnis lainnya 12%
Pekerjaan yang mapan dan menghasilkan 13% Mempelajari kemampuan baru 10%

 Hambatan utama dalam meraih peluang utama tersebut

Asia Pasifik Indonesia
Kondisi finansial saya 30% Kondisi finansial saya 35%
Kurangnya luasnya koneksi dan jaringan relasi 22% Kurangnya luasnya koneksi dan jaringan relasi 29%
Kesulitan mendapatkan pekerjaan 19% Rasa takut akan kegagalan 22%
Kurangnya keahlian yang dibutuhkan untuk meraih peluang 18% Kesulitan mendapatkan pekerjaan 19%
Kurangnya arahan dan bimbingan 18% Kecepatan perubahan yang didorong oleh kemajuan teknologi 17%

 

Teks: TechnoBusiness Insight

Data: LinkedIn dan GfK

Grafis: TechnoBusiness Media Network (Cover), LinkedIn

Belanja Melalui Perangkat “Mobile” Melonjak

Singapura, TechnoBusiness Insight ● Belanja menggunakan perangkat mobile di Asia Pasifik terus melonjak. Dalam laporan FutureBuy terbaru yang dirilis GfK, periset pasar yang berpusat di Nurnberg, Jerman, 63% konsumen e-commerce di kawasan ini mengakui perangkat seluler menjadi alat belanja paling penting bagi mereka.

Dari 11.000 responden di 11 pasar Asia Pasifik, termasuk Indonesia, yang diwawancarai secara online pada Juli 2018 menyatakan pakaian, mainan, dan perangkat yang dapat dikenakan tetap menjadi tiga kategori terpopuler yang mereka beli.

Baca Juga: Malaysia-Indonesia Berbagi Peluang Pasar Waralaba

Sebanyak 50% responden membeli tiga kategori tersebut dalam enam bulan terakhir. Kategori lain yang turut menunjukkan tren kenaikan yaitu produk kecantikan dan perawatan personal, mainan, dan perawatan bayi.

Meningkatnya jumlah konsumen e-commerce didorong oleh banyaknya keuntungan yang ditawarkan. Sebagian besar dipicu oleh tingkat penetrasi internet yang mendalam di berbagai negara.

Ternyata produk yang dibeli konsumen melalui perangkat seluler dan komputer personal cenderung berbeda.

Sebagian lain, kata Karthik Venkatakrishnan, Consumer Insight Lead GfK Asia Pasifik, “Disebabkan karena harga yang lebih rendah, kenyamanan yang meningkat, dan ketersediaan opsi yang lebih banyak.”

Di Indonesia, 39% konsumen e-commerce melakukan pembelian menggunakan perangkat seluler. Itu masih kalah dibanding 45% konsumen di China dan 42% konsumen India. Tapi, lebih banyak dibanding 33% konsumen Singapura.

Baca Juga: Tiga “Senjata” HP Pasarkan PC Premium

Namun, ternyata produk yang dibeli konsumen melalui perangkat seluler dan komputer personal cenderung berbeda. Produk-produk yang berukuran besar lebih banyak dibeli lewat komputer dan sebaliknya.

Meningkatnya pembelian melalui perangkat seluler diikuti juga dengan melonjaknya pembayaran hingga 30% via perangkat yang sama di seluruh kawasan. Generasi milenial cukup memengaruhi kenaikan pembayaran via ponsel tersebut.

Memang pembayaran online masih mendominasi, yakni menguasai 41%-nya, tapi sudah turun 5% dibanding tahun lalu. Penurunan pembayaran menggunakan uang tunai dipastikan akan terus terjadi.●

Teks: TechnoBusiness Insight

Data: GfK

Grafis: TechnoBusiness Media Network

 

Ekonomi Digital Asia Tenggara Menuju US$240 Miliar

TechnoBusiness Insight ● Ekonomi digital di Asia Tenggara, yang dihimpun dari perjalanan online, e-commerce, media online, ride hailing, lain sebagainya, tahun ini tumbuh 37% dari US$53 miliar tahun lalu menjadi US$72 miliar.

Nilai barang kotor (Gross Merchandise Value) itu diperkirakan akan melaju pesat menjadi US$240 miliar pada 2025. Demikian dikemukakan oleh Google Temasek dalam riset terbarunya yang dirilis belum lama ini.

Baca Juga: Membaca Strategi “Rebranding” MatahariMall.com

Menurut Google Temasek, pesatnya pertumbuhan ekonomi digital itu didorong oleh besarnya pengguna internet di kawasan ini. Pada 2015, jumlahnya baru 90 juta, per Juni 2018 telah mencapai 350 juta pengguna.

Pesatnya pertumbuhan ekonomi digital di Asia Tenggara didorong oleh besarnya pengguna internet di kawasan ini.

Bahkan, Asia Tenggara disebut sebagai kawasan paling mobile di seluruh dunia karena para pengguna cukup aktif menggunakan internet melalui ponsel pintar mereka.

Merujuk pada hasil survei GlobalWebIndex 2018, pengguna internet di kawasan berusia antara 16-64 tahun. Di Thailand, pengguna internet bisa menghabiskan 4 jam 56 menit per hari menggunakan telepon seluler.

Di Indonesia, Filipina, dan Malaysia rata-rata menghabiskan waktu berinternet hingga 4 jam per hari. Mereka mengakses internet untuk mencari informasi, membuka media sosial, mengirimkan pesan instan, menikmati hiburan dan video.

Baca Juga: Valuasi Tokopedia Diprediksi Mencapai US$7 Miliar

Itu berarti mengalahkan para pengguna internet di negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Inggris yang rata-rata hanya 2 jam. Pengguna di Prancis, Jerman, dan Jepang menghabiskan waktu berinternet ria dalam 1 jam 30 menit per hari.

Sumbangsih Ekonomi Digital dari Empat Jenis Bisnis Terbesar di Asia Tenggara

Sumber: Google Temasek 2018

Jika dilihat dari produk domestik bruto (PDB), ekonomi internet pada 2015 menyumbang 1,3%, pada 2018 2,8%, dan pada 2025 diperkirakan akan mencapai 8,0%.

Dari enam negara Asia Tenggara utama yang disurvei Google Temasek, ekonomi internet di Vietnam yang paling besar menyumbangkan porsi atas PDB dalam negeri (4%) tahun ini, disusul Singapura (3,2%), Indonesia (2,9%), Malaysia (2,7%), Thailand (2,7%), dan Filipina (1,6%).●

Teks: TechnoBusiness Insight

Data: Google Temasek

Grafis: Google Temasek, TechnoBusiness Media

 

Ternyata Pria Lebih Gila Belanja

TechnoBusiness Insight ● Anda masih berpikir bahwa wanita merupakan sosok yang “doyan belanja”? Anggapan itu mulai sekarang sebaiknya dibuang jauh-jauh.

Data yang dirilis iPrice Group, agregator belanja online milik pribadi yang berbasis di Kuala Lumpur, Malaysia, selama festival belanja online Single Day di Indonesia pada 11 November lalu menunjukkan kaum prialah yang justru lebih gila belanja.

Baca Juga: Jangan Terbujuk “Setan Diskon” 11.11

Dari 500.000 pengunjung website iPrice dan pencari melalui Google Search di Indonesia selama 10-11 November 2018 diketahui 55% konsumen Single Day merupakan laki-laki, 45%-nya wanita.

Persentase Pencari Promo Single Day 2018

iPrice menduga hal itu didorong oleh banyaknya promo barang-barang elektronik dan gadget seperti laptop, perlengkapan komputer, ponsel pintar, dan lain-lain.

Selain barang-barang elektronik dan gadget, yang paling banyak dicari adalah promo tiket.

 

Promo yang Paling Dicari

Untuk pencarian tiket, sepertinya maskapai penerbangan murah AirAsia ketiban berkah.

iPrice menyebut “promo AirAsia’, “AirAsia 11.11”, dan “AirAsia” menjadi kata kunci (keyword) yang paling banyak dicari selama Single Day. Itu bisa jadi dipicu oleh promo kursi gratis maskapai asal Malaysia tersebut.

Untuk diketahui, AirAsia menawarkan 5 juta kursi gratis kepada pelanggan dalam pemesanan selama satu minggu sejak 11.11.

Trafik pengunjung e-commerce mulai naik sejak jam 10 malam pada 10 November. Padahal, kala hari biasa trafik antara jam 9 malam sampai 4 pagi justru menurun.●

Teks: TechnoBusiness Insight

Data: iPrice Group

Grafis: TechnoBusiness (Cover), iPrice Group (Dalam)

 

Jumlah Pengunjung Lazada Anjlok Amat Dalam

TechnoBusiness Insight ● Ada yang menarik dari peta persaingan industri e-commerce di Tanah Air.

Setelah satu dekade terakhir saling bersaing menjadi yang terbaik, baik melalui pelibatan pemodal ventura maupun akuisisi, posisi-posisi puncak industri semakin mengerucut ke beberapa nama.

 

 

 

Kuartal 3/2017

Tokopedia, Bukalapak, Shopee, Lazada, dan Blibli merupakan lima e-commerce yang per kuartal 3/2018 menduduki peringkat teratas, setidaknya dari sisi jumlah pengunjung.

Berdasarkan data dari SimilarWeb yang dipublikasikan kembali oleh iPrice Group, sejak kuartal 2/2018 jumlah pengunjung bulanan e-commerce Tokopedia asli Indonesia berhasil menyalip Lazada yang selama ini memegang rekor pengunjung terbanyak.

Kuartal 4/2017

Pada kuartal 3/2017, jumlah pengunjung bulanan Lazada, e-commerce yang menjangkau seluruh wilayah Asia Tenggara, tercatat sebanyak 96.343.000, sedangkan Tokopedia baru 93.783.000.

Pada kuartal 4/2018, jumlah pengunjung bulanan Tokopedia bertambah cukup banyak, yakni sebanyak 115.270.000, tapi jumlah pengunjung bulanan Lazada juga naik lebih tinggi, yaitu 131.848.000.

Kuartal 1/2018

 Catatan menarik mulai terjadi pada kuartal 1/2018. Kala jumlah pengunjung Tokopedia bertambah menjadi 117.297.000, jumlah pengunjung Lazada justru anjlok ke angka yang nyaris sama dengan yang dicatatkan sang rival, yaitu 117.527.100.

Yang mengherankan, bukannya kembali naik, jumlah pengunjung bulanan Lazada per kuartal 2/2018 terus merosot amat dalam ke angka 49.990.700, hampir separuh dari kuartal sebelumnya. Perolehan itu menjadikan posisi Lazada terlempar ke posisi tiga.

Kuartal 2/2018

Tokopedia yang mencatatkan jumlah pengunjung bulanan sebanyak 111.484.000 menempati posisi teratas, sedangkan posisi kedua diduduki oleh Bukalapak, e-commerce yang juga asli Indonesia, dengan jumlah pengunjung sebanyak 85.138.900.

Rupanya “kejatuhan” Lazada dari besaran jumlah pengunjung belum berhenti pada kuartal 2/2018. Per kuartal 3/2018, Lazada hanya membukukan 36.405.200 pengunjung sekaligus menurunkan peringkatnya ke posisi empat.

Kuartal 3/2018

Posisi ketiga ditempati oleh Shopee, e-commerce asal Singapura, yang memperoleh 38.882.000 pengunjung per bulan. Bukalapak dan Tokopedia semakin kokoh di posisi kedua dan pertama karena jumlah pengunjungnya melonjak.

Per kuartal 3/2018, jumlah pengunjung bulanan Tokopedia naik 37% dibanding kuartal sebelumnya menjadi 153.639.700, sementara pengunjung Bukalapak tumbuh 13% menjadi 95.932.100.

Dapat dipahami bahwa besaran pendanaan telah mempengaruhi, tapi tak dimungkiri bahwa yang paling berperan dalam mendongkrak jumlah pengunjung bulanan adalah program-program promosi e-commerce itu sendiri.●

Teks: TechnoBusiness Insight

Data: SimilarWeb, iPrice Group

Grafis: TechnoBusiness ID, iPrice Group

 

Inilah 13 Penyebab Utama Kegagalan Startup

Jakarta, TechnoBusiness ID Tokopedia, Bukalapak, Traveloka, dan Go-Jek menjadi contoh perusahaan rintisan (startup) teknologi asli Indonesia yang sukses menapaki tangga unicorn, yakni perusahaan dengan valuasi di atas US$1 miliar.

 

 

Tentu saja, untuk mencapai kesuksesan itu tidak mudah. Dibutuhkan ide dan strategi yang tepat demi diterima pasar—juga investor. Masalahnya, tidak banyak yang bisa menjalankan ide bisnis hingga mengantarkannya ke posisi teratas tangga investasi tersebut.

CB Information Services Inc., firma riset teknologi yang berbasis di New York, Amerika Serikat, dalam CB Insights—dulunya bernama Chubby Brain—memetakan setidaknya ada 20 penyebab utama startup mengalami kegagalan di pasar.

Namun, TechnoBusiness ID merangkumnya dan hanya menyebutkan 13 teratas penyebab kegagalan startup menurut CB Insights tersebut. Berikut faktor-faktor penyebab kegagalan itu.●