Ungkapan musisi terkenal India Rupam Islam mendorong Priyam Sengupta sukses mengembangkan aplikasi Bloodmates.

Oslo, TechnoBusiness ● Seperti kita ketahui, selama ini begitu banyak masalah dalam mengatasi kebutuhan darah para pasien di rumah sakit. Masalah-masalah itu, seperti cadangan darah yang amat sulit ditemukan dan golongan darah pendonor yang tak sesuai dengan kebutuhan.

Selain itu, pengisian hingga penyimpanan data pendonor secara manual juga melengkapi beragam persoalan dalam upaya membantu menyelamatkan sesama melalui darah.

Baca Juga: Pavel Ilii, Imigran yang Sukses Membangun IPWebMedia dengan US$300

Bloodmates, aplikasi pencocokan darah asal Kolkata, India, didukung platform pengembangan aplikasi Neptune Software dari Oslo, Norwegia, berhasil memecahkan segala persoalan tersebut dengan mempermudah pencarian donor dan recipient (penerima donor) darah melalui aplikasi.

Pengembangan itu tentu saja tak lepas dari cerita “heroik” sang pendirinya, Priyam Sengupta. sebab, satu waktu, Priyam, yang berprofesi sebagai jurnalis, kebingungan memperoleh donor dari golongan darah A untuk ayahnya.

Padahal, kala itu ayahnya telah divonis oleh dokter menderita kanker dan membutuhkan bantuan darah yang sama. Setelah ke sana-kemari tanpa solusi, akhirnya ia menghubungi Press Club yang diikutinya. Meski memiliki kontak, prosesnya pun tidak mudah.

Baca Juga: Mengapa Para Petinggi NATO Pilih Teknologi BlackBerry?

Sejak saat itu, ide untuk menciptakan platform pengorganisasi donor darah muncul. Ide itu kemudian diwujudkannya dalam sebuah grup Facebook pada 5 Oktober 2016. Isinya bahasan soal darah dan orang-orang di seluruh Kolkata yang membutuhkannya.

Bloodmates, seperti dijelaskan dalam The Logical Indian, sangat terinspirasi dari ucapan musisi terkenal dari grup band Fossils, Rupam Islam, “Koordinasi adalah senjata utama”.

Ucapan itu yang mendorong Priyam bergabung dengan Soma Mukherjee, Rajib Chakrabarty, dan lain-lain untuk secara bersama-sama terus mengumpulkan kantong darah hingga ke daerah-daerah tanpa lelah.

Baca Juga: Akhirnya Boeing Setuju Pembekuan Sementara 737 Max

Bloodmates bahkan menjelajah sampai ke pedesaan-pedesaan, daerah yang terkadang belum memiliki akses internet, kesadaran untuk mengetahui golongan darah sendiri—apalagi mendonorkan untuk orang lain—yang masih rendah, dan lain-lain.

Demi meningkatkan kesadaran donasi darah, Bloodmates aktif melakukan kampanye hingga mengeluarkan kartu golongan darah kepada penduduk.

Sampai saat ini, setidaknya Bloodmates telah mempunyai 3.500 donor reguler dan 150 donor di Benggala Barat dan Gujarat. Operasionalnya dibantu oleh 30 sukarelawan yang bekerja tanpa henti. Data-data mereka dikelola oleh Aritra.

Baca Juga: Indonesia Jadi Pendorong Utama Pertumbuhan Industri Otomatisasi

Sekarang Bloodmates lebih dari sekadar impian Priyam. Setelah didukung pengembangannya oleh Neptune Software, Bloodmates tidak lagi hanya sebuah grup Facebook, melainkan aplikasi pencocokan darah terkemuka di dunia.

Manajemen Neptune Software menyatakan dengan aplikasi, Bloodmates menjadi lebih mudah dalam mengumpulkan data pendonoran darah. “Relawan akan dapat mencari dan menambahkan donor dari ponsel pintar mereka tanpa mengandalkan koneksi internet yang stabil,” jelas mereka dalam pernyataan tertulis.

Pencarian yang lebih cepat atas data yang akurat cukup membantu penyediaan kantong darah yang sering kali tiba-tiba dan berpacu dengan waktu. Neptune Software dan Bloodmates mengungkapkan bahwa ini hanya awal dari sebuah perjalanan panjang ke depan—yang mungkin saja lebih meluas.

—William T. Adrian, TechnoBusiness/PRN ● Foto: Bloodmates