Budget Gaming Behaviour

Oleh Agustine Dwianika

Dosen Universitas Pembangunan Jaya

Sekretaris Ikatan Akuntan Indonesia-Kompartemen Akuntansi Pendidik DKI Jakarta

 

●●●

Mungkin istilah budget gaming behaviour masih dianggap asing bagi masyarakat banyak. Tapi, jika disebut “perilaku permainan anggaran” rasanya semua orang sudah tahu.

Sudah menjadi kebiasaan yang disengaja atau tidak bahwa manajer perusahaan, terutama di Indonesia, misalnya, buru-buru menghabiskan anggaran yang tak terpakai di akhir tahun. Itulah praktik budget gaming behaviour.

Baca Juga: Efek Kelahiran Fintech terhadap Perbankan

Budget gaming behaviour sering kali dikaitkan dengan perilaku disfungsional anggaran dalam bentuk budgetary slack, yang tidak lepas dari strategi perkiraan biaya.

Jika memperkirakan biaya terlalu tinggi akan menimbulkan overstated costs atau memperkirakan pendapatan terlalu rendah akan mengalami understated revenues.

Sehingga, dalam praktik budget gaming behaviour, sumber daya perusahaan dalam kendali manajer—yang sering kali melebihi kapasitas optimalnya dalam mencapai tujuan.

Baca Juga: Pajak dan Tren Teknologi Terkini

Buah Simalakama

Bagi perusahaan, pilihan untuk melakukan budget gaming behaviour seperti memakan buah simalakama. Meski sadar ada potensi ketidaksesuaian antara kondisi aktual dan standar, tapi tetap harus menggunakannya sebagai bentuk kontrol.

Dengan catatan, jika menggunakan budget gaming behaviour, perusahaan tetap perlu melakukan perbaikan agar fungsi penganggaran tetap baik dan informasi keuangan tetap akurat.

Dewasa ini, bahkan perusahaan memanfaatkan budget gaming behaviour untuk perencanaan dan evaluasi kinerja. Namun demikian, muncul permasalahan lain yang timbul saat adanya evaluasi dan penghargaan kepada manajer, termasuk terhadap target anggaran yang ditetapkan pada awal tahun.

 

LEAVE A REPLY

Masukkan komentar Anda di sini!
Please enter your name here