Perilaku konsumen di dunia berubah lebih cepat karena pandemi.

Perilaku konsumen secara global telah mengarah ke belanja online dan mulai meninggalkan cara-cara lama, menurut EY. 

London, TechnoBusiness Insights • Perilaku konsumen di banyak negara berubah setelah mewabahnya pandemi COVID-19. Perubahan perilaku konsumen itu diyakini bakal berlangsung lama.

Baca Juga: Pasar Data Center Asia Tenggara Tumbuh Tercepat

Dalam survei terbaru EY yang melibatkan 14.467 konsumen di seluruh dunia dan dilaporkan dalam “EY Future Consumer Index” pada Selasa (27/10) diketahui 37% konsumen mengatakan pandemi akan memengaruhi kehidupan mereka setidaknya dalam satu tahun ke depan.

Kemungkinan yang sama diakui oleh 43% konsumen di Eropa dan 66% konsumen di Jepang. Sementara konsumen di India dan China lebih optimistis dengan hanya 19% dan 18% konsumen yang merasa kemungkinan akan mengalami hal serupa.

Perubahan perilaku konsumen yang paling kentara terjadi pada media belanjanya. Sebab, secara global sebanyak 39% konsumen mengatakan akan berbelanja secara online atas barang-barang yang biasa mereka beli di toko.

Baca Juga: Inilah Daftar Lengkap 100 Best Global Brands 2020


Persentase konsumen di China dan Inggris yang mungkin beralih ke belanja online lebih besar daripada di negara lain. “Mereka yang berada di Jerman dan Prancis, misalnya, kurang terbuka terhadap gagasan tersebut,” kata EY.

“Dengan pergeseran yang begitu cepat ke belanja online, para pemimpin bisnis harus menantang asumsi mereka tentang apa yang diinginkan konsumen digital.”

Secara keseluruhan, konsumen telah mengidentifikasi peralatan dan teknologi (53%) sebagai kategori produk yang mereka beli melalui ranah online, sedangkan makanan dan minuman segar tetap dibeli di toko offline.

Perilaku konsumen juga tampak dalam memperoleh produk bahan makanan. Sebanyak 55% konsumen telah membeli bahan makanan secara online setidaknya sekali selama pandemi. Dari jumlah itu, 42% di antaranya akan melakukannya lebih sering.

Baca Juga: Pasar Vending Machine Global Bernilai US$7,63 Miliar


Lalu, 19% konsumen akan berbelanja makanan segar dan 16% minuman non-alkohol secara online, naik dari 3,4% dan 1,6% pada 2019. Tren ini menunjukkan bahwa belanja online, bahkan untuk kategori dengan penetrasi terendah pun, tidak hanya meningkat, tapi trennya akan bertahan pasca-pandemi.

Karena itu, “Dengan pergeseran yang begitu cepat ke belanja online, para pemimpin bisnis harus menantang asumsi mereka tentang apa yang diinginkan konsumen digital,” kata Global Consumer Leader EY Kristina Rogers.

Baca Juga: Penjualan Ritel Online di Asia Pasifik Bernilai US$2,5 Triliun

Peluang multi-miliar dolar muncul datang dari pandemi, dan “Sekaranglah waktunya untuk mengembangkan strategi online yang khas,” lanjutnya.•

Teks: TechnoBusiness Insights

Data: EY, Oktober 2020

Foto: EY

 

Simak berita-berita kami dalam bentuk video di kanal TechnoBusiness TVJangan lupa berikan atensi Anda dengan “like, comment, share, dan subscribe”.

LEAVE A REPLY

Masukkan komentar Anda di sini!
Please enter your name here