Oleh Ria Riska Topurmera, Konsultan Spire Research and Consulting

Spire Insights Siaran televisi (TV) digital akan menggantikan siaran TV analog sepenuhnya mulai 2 November 2022. TV digital tetap menjadi siaran TV teresterial free-to-air atau gratis seperti yang masyarakat Indonesia tonton sehari-hari, tapi menggunakan modulasi sinyal digital dengan sistem kompresi, sehingga TV Digital mampu mengirimkan kualitas gambar yang lebih bersih, suara lebih jernih, dengan teknologinya yang lebih canggih.

Baca Juga: Spire Research and Consulting Memiliki Empat Divisi Riset 

Untuk menerima siaran TV digital, produk TV harus mampu menerima sinyal DVB-T2. Smart TV yang beredar di pasaran sekarang umumnya sudah mampu menerima sinyal ini, sedangkan untuk masyarakat yang masih menggunakan jenis TV analog dapat menambahkan Set Top Box (STB) bersertifikasi DVB-T2 dengan merek yang telah tersertifikasi Kominfo. Perangkat tersebut menangkap lalu menterjemahkan sinyal digital yang diterima menjadi signal analog untuk dapat dibaca oleh TV analog biasa.

Solusi Perubahan dari Analog ke Digital

Keputusan pemerintah untuk segera ASO (Analog Switch Off) ke TV digital didasarkan pada tujuan efisiensi pemanfaatan Alokasi Spektrum Frekuensi Radio Indonesia. Berdasarkan data dari Kemkominfo, pita frekuensi sekarang banyak terpakai untuk TV analog yaitu memakan pita frekuensi 700 MHz sebanyak 328 MHz, yang mana 700 MHz ini dapat digunakan untuk penerapan 5G.

Baca Juga: The Next Big Thing: Indonesia’s Digital Payment



Sementara untuk TV digital bisa menggunakan rentang frekuensi radio 478-694 MHz (sebanyak 216 MHz) dibagi menjadi beberapa Kanal Frekuensi Radio dengan bandwidth 8 MHz (Permen Kominfo No. 6 Tahun 2019). Sehingga, Indonesia dapat mengalokasikan 112 MHz untuk keperluan lain dengan sisa cadangan 40 MHz untuk dipergunakan dalam perkembangan teknologi di masa depan.

Upaya Pemerintah dalam Persiapan ASO

Dalam mengejar target ASO, pemerintah telah melakukan berbagai persiapan dari segi perumusan regulasi, persiapan bagi industri pertelevisian, hingga sosialisasi kepada masyarakat luas.

Kemkominfo telah memperkenalkan “Modi”, yaitu maskot dari proses ASO (Analog Switch Off). Upaya sosialisasi ASO kepada masyarakat umum juga dilakukan melalui webinar di 0fficial Youtube channel Kemkominfo TV dan Siaran Digital Indonesia, iklan yang ditayangkan pada berbagai channel TV, di website, dan media sosial resmi Kominfo.

Selain itu, untuk menangkap siaran TV Digital, masyarakat perlu menyiapkan perangkat STB tambahan. Bagi masyarakat/keluarga miskin yang tidak mampu membeli perangkat tambahan, pemerintah akan melakukan pembagian STB gratis sehingga mereka dapat menyaksikan siaran digital.

Baca Juga: Spire Insights: Memprioritaskan Kembali Layanan Air Minum

Berdasarkan pasal 85 PP Postelsiar, STB digital gratis hanya diberikan kepada rumah tangga miskin yang masih menggunakan TV analog. Berdasarkan sumber dari Kemenkominfo, pemerintah menargetkan dapat menyelesaikan pembagian STB tahun depan (2022) melalui beberapa tahap pembagian. Tapi, teknis dan finalisasi perhitungan masih dalam proses kajian dengan pihak televisi swasta yang ikut berkontribusi.

Dari segi teknis di industri pertelevisian, penyelenggaraan siaran TV digital ini menggunakan sistem siaran terestrial digital. Tentu cara pengiriman signal berbeda dengan cara analog. Singkatnya, terdapat stasiun TV yang sebagai penyelenggara TV digital maupun sebagai penyelenggara multiplexer seperti TVRI dan beberapa TV swasta besar.

Penyelenggara multiplexer bertindak sebagai penanggung jawab dalam proses pengiriman konten siaran suatu stasiun TV hingga dapat diterima oleh masyarakat di seluruh Indonesia.

Dari segi konten pertelevisian, pemerintah mendorong diversity of content dan diversity of ownership agar tercipta iklim persaingan yang sehat karena akan semakin banyak pemain TV yang hadir di industri TV digital.

Menurut analisis Spire Research and Consulting, dengan hadirnya TV digital, masyarakat memiliki lebih banyak pilihan channel. TV lokal memiliki kesempatan yang sama besarnya dengan TV nasional untuk menarik lebih banyak penonton.

Baca Juga: Spire Insights: Potensi Industri Konstruksi di Indonesia

Apabila pertumbuhan industri televisi menjadi lemah, kurang diferensiasi, dan tingginya cost, maka kompetisi yang terjadi akan semakin berat. Hal ini berkaitan dengan rating dan rate periklanan yang menjadi sumber utama pemasukan di industri televisi. Walau penyelenggara siaran TV optimis terhadap pasarnya, tapi keadaan ini tetap harus diantisipasi demi tidak terjadinya penyusutan jumlah penonton. Tontonan dengan konten yang layak dan baik akan menciptakan generasi masyarakat yang berkualitas.

Tren Masyarakat terhadap Penyiaran dan Tontonan Saat Ini

Selain menonton siaranfree-to-air, masyarakat Indonesia juga memilih jenis tontonan lain yang berbayar seperti TV kabel berlangganan. Terdapat beberapa pemain besar di dalamnya dari Indihome, Indovision, Transvision, Transmedia, First Media, dan lain-lain, juga jenis layanan over-the-top (OTT) seperti Netflix, Iflix, Viu, dan lain sebagainya.

Menurut data Spire Research and Consulting, di Era Pandemi terdapat perbandingan penonton free-to-air dan berlangganan masih sekitaran 50:50. Hal ini dipengaruhi oleh segmentasi pasar Indonesia yang memiliki karakteristik beragam. Didukung eskalasi tren pengguna internet yang naik setiap tahunnya.

Oleh karena itu, lembaga penyiaran swasta pun sebenarnya telah mengantisipasi dan memanfaatkan peluang ini dengan turut hadir di pasar non-FTA dengan menghadirkan produk TV berlangganan dan platform OTT.


Baca Juga: Spire Insights: Perkembangan Industri Data Center di Indonesia

Berdasarkan data Statista Advertising & Media Outlook 2020 mengenai Prediksi Pertumbuhan Pendapatan Media Penjualan, belanja iklan di TV konvensional Indonesia diprediksi menurun 0,3%, sedangkan penjualan penyedia layanan streaming dan sejumlah perusahaan video meningkat 18% pada 2020.

Meskipun komposisi iklan banyak beralih ke media streaming dan digital, dengan hadirnya siaran TV digital, Spire Research and Consulting menilai terdapat potensi dari hadirnya TV digital yang akan cukup mempengaruhi bisnis TV berbayar, terutama bagi pelanggan yang berlangganan karena mengincar kualitas gambar dan konten yang lebih baik.

Pengaruh pandemi COVID-19 telah memperlemah segala lini ekonomi bangsa hingga mempengaruhi proses implementasi dan penetrasi TV digital. Dari halnya daya beli masyarakat yang kian menurun, kesiapan dari sisi industri pertelevisian yang saat ini sedang survive, namun juga dituntut oleh urgensi dari pembangunan infrastruktur siaran digital, hingga pada penundaan tahap 1 ASO di 17 Agustus 2021.

Oleh karena itu, diperlukan usaha lebih besar dari seluruh pihak terkait, baik itu pemerintah maupun industri pertelevisian Tanah Air, untuk mengimplementasikan ASO dan menjangkau masyarakat.


Diharapkan semakin banyak strategi bisnis dan promosi yang perlu dilakukan mempertimbangkan level urgensi migrasi ASO 2022 ini. Juga, berefek pada peningkatan kemampuan teknologi dan sumber daya yang berdampak positif pada pelaksanaan TV digital maupun implementasi 5G di Indonesia.

Spire Research and Consulting merupakan perusahaan riset pasar dan konsultasi bisnis global, terutama di negara-negara berkembang. Perusahaan yang didirikan pada 2000 di Singapura ini kini memiliki kantor perwakilan di semua negara Asia Pasifik dan berkantor pusat di Tokyo, Jepang.

PT Spire Indonesia | Wisma BNI Lt. 25 Unit 8-10, Jalan Jend. Sudirman Kav. 1, Jakarta 10220, Telp/Faks: (021) 57945800 www.spireresearch.com

LEAVE A REPLY

Masukkan komentar Anda di sini!
Please enter your name here