Pendanaan baru itu akan dipergunakan untuk memperkuat tim operasional Mbiz ke depan.

Jakarta, TechnoBusiness ID Mbiz, total e-procurement solutions di Indonesia yang didirikan di Jakarta pada Juli 2015, menargetkan meraih pendanaan baru sebesar US$20-30 juta pada pertengahan atau selambat-lambatnya akhir tahun ini.

Menurut Rizal Paramarta, Presiden Direktur Mbiz, hampir semua dana tambahan baru yang diperoleh nantinya akan dipergunakan untuk memperkuat tim operasional perusahaan.

“Pemasaran kami enggak besar-besaran, enggak jor-joran, subsidi ke pembeli enggak ada, pengiriman gratis juga enggak ada,” kata Rizal kepada TechnoBusiness Indonesia di sela-sela acara Mbiz Meet Hub 2019 di Jakarta, Kamis (21/2).

Baca Juga: Menghitung Ekonomi Seluler Kini dan Nanti

Rizal Paramarta, Presiden Direktur Mbiz

Sebab, target pasar Mbiz bukan konsumen perorangan (customer to customer/C2C) melainkan korporasi (business to business/B2B). Sekali transaksi, korporasi-korporasi itu bisa membeli dalam jumlah banyak dengan nilai yang besar.

“Jadi, pendanaan baru itu akan lebih difokuskan untuk memperkuat tim pemasaran, tim teknis, dan investasi server,” jelas Rizal. Saat ini, Mbiz memiliki 220 karyawan. Setelah pendanaan, “Jumlah tepatnya enggak ada, tapi pasti akan signifikan.”

Penambahan tim operasional itu juga sejalan dengan target Mbiz yang akan meningkatkan jumlah vendor (penyuplai barang) dan pembeli dua atau tiga kali lipat dibanding tahun lalu.

Baca Juga: Penjualan Ponsel Pintar Global 2018 Bernilai US$522 Miliar

Untuk diketahui, per Desember 2018, Mbiz telah mempunyai 3.500 vendor. Vendor-vendor itu dipastikan lengkap dokumen legalnya, termasuk perpajakannya.

Sementara itu, ada 400 perusahaan yang tercatat sebagai pembeli melalui Mbiz. Setidaknya 70 pembeli di antaranya berupa perusahaan multinasional, 50 perusahaan terbuka, 70 konglomerasi, dan 20 badan usaha milik negara.

“Kalau dari sisi pengguna lebih banyak lagi. Karena, misalnya, satu korporasi multinasional bisa membeli barang untuk 2.000 pengguna,” ungkap Rizal seraya menyebutkan dua pembeli terbesarnya adalah perusahaan ritel konsumer multinasional.

Baca Juga: Greensill: Dibutuhkan US$2,7 Triliun untuk Implementasi 5G

Yang menarik, 70% dari jumlah transaksi tahun lalu justru disumbangkan oleh layanan jasa dan solusi. Itu berbeda dari 2017 yang 90% berupa barang seperti alat tulis kantor, produk-produk teknologi informasi, dan elektronik.

“Itu terjadi karena business to business butuh solusi,” ungkap Rizal. “Perusahaan [pembeli] enggak mau suku cadang genset semata, tapi mereka juga mau genset itu diperbaiki sekalian.”

Tidak heran jika belakangan Mbiz mendapatkan order pengadaan manpower outsourcing, security, dan cleaning service. Bahkan, da pula yang meminta jasa pengelolaan elevator untuk mal atau kantornya.

Baca Juga: Spire Research: LinkAja Harus Manfaatkan Ekosistem BUMN

Rizal optimistis Mbiz akan tumbuh dengan baik karena penggunaan jasa dan solusi untuk perusahaan akan menjadi tren. Maka dari itu, dibutuhkan pendanaan baru untuk memperkuat tim operasionalnya.

Jika pendanaan baru berhasil diperoleh sesuai target, itu berarti Mbiz, yang sampai saat ini kepemilikan terbesarnya masih dipegang oleh Lippo Group, sukses mengumpulkan total pendanaan sebesar US$50 juta.

Melihat model bisnis yang diusung ke pasar, Jeffrey Bahar, Group CEO Spire Research and Consulting, perusahaan riset dan konsultan bisnis yang berpusat di Tokyo, Jepang, menilai Mbiz pintar membaca peluang.

Baca Juga: India Melawan Tren Penurunan Permintaan Ponsel Global

Menurut Jeffrey, pertama, pada era transparansi anggaran seperti sekarang ini dibutuhkan sistem pengadaan barang yang terbuka. “Sehingga praktik penggelembungan harga tidak akan terjadi lagi,” kata Jeffrey kepada TechnoBusiness Indonesia di Jakarta, Rabu (27/2) pagi.

Kedua, proses pengadaan barang menjadi lebih mudah berkat teknologi. Ketiga, peluang pasarnya besar dan lebih jelas. “Jika merasa diuntungkan, perusahaan akan dengan mudah pindah ke sistem pengadaan barang atau jasa secara online,” lanjutnya.

Keempat, sesuai tren. Tidak seperti masa lalu yang semua peralatan kantor dibeli, kata Jeffrey, tren ke depan perusahaan lebih suka menyewa atau membayar sesuai keperluan. Dengan begitu, perusahaan bisa melakukan efisiensi belanja modal dan operasional.

Baca Juga: Mengenal Istilah dan Asal Usul “Unicorn” dalam “Startup”

Apa yang dikatakan Jeffrey dibenarkan oleh Direktur PT Bank QNB Indonesia Tbk. (IDX: BKSW) R. Andi Kartiko Utomo. Andi mengatakan transparansi, akuntabilitas, dan kepatuhan terhadap seluruh prosedur yang disyaratkan bagi perusahaan menjadi kunci terbangunnya reputasi bisnis yang tepercaya dan berintegritas.

Oleh karena itu, “Digitalisasi, termasuk melalui e-procurement, menjadikan nilai-nilai tersebut mampu direalisasikan dengan lebih cepat dan efisien. Alhasil, berimbas positif pada peningkatan produktivitas dan akselerasi bisnis dengan risiko bisnis yang minimal,” kata Andi.

Sehingga, Jeffrey meyakini, ke depan Mbiz akan berkembang dengan baik. Kalau pun ingin mendatangkan investor atau pendanaan baru, kata dia, rasanya tidaklah sulit.●

—Purjono Agus Suhendro, TechnoBusiness ID ● Foto: TechnoBusiness ID