Jakarta dan Nasib Megapolitan Terbesar Nantinya

 

Oleh Purjono Agus Suhendro

CEO PAS CORP dan Editor in Chief TechnoBusiness Media

●●●

Saya masih menikmati enaknya aneka menu sarapan sambil memandangi kemegahan Menara Kembar Petronas dari restoran premium Thirty8 lantai 38 Grand Hyatt Kuala Lumpur, Malaysia, Selasa (2/10) pagi, saat menerima sebuah e-mail.

Begitu saya lihat, rupanya e-mail itu dari Euromonitor International Limited. Tak terlalu mengagetkan karena saya memang selalu dikirimi ringkasan hasil studi perusahaan riset pasar yang berbasis di London, Inggris, itu.

Jika pertengahan September lalu saya menerima prediksi pertumbuhan ekonomi global kuartal 3/2018, kali ini judulnya “Megacities: Developing Country Domination”. Membaca judulnya saja saya langsung tersenyum. Dalam hati, ini penting karena pasti salah satu yang dibahas adalah Jakarta.

Euromonitor menyatakan bahwa pada tahun itu nanti Jakarta akan menjadi kota megapolitan terbesar di dunia dalam hal jumlah populasi penduduk.

Benar saja, paparan yang ditulis oleh Fransua Vytautas Razvadauskas, Senior City Analyst Euromonitor, itu lumayan banyak mengupas tentang eks Batavia. Pada 2030, kata Razvadauskas, Ibu Kota Indonesia tersebut akan menjadi kota megapolitan terbesar sejagat.

Coba tebak, terbesar dalam hal apa? Euromonitor menyatakan bahwa pada tahun itu nanti Jakarta akan menjadi kota megapolitan terbesar di dunia dalam hal jumlah populasi penduduk. Firma riset tersebut menyebutkan angka populasi Jakarta nantinya diperkirakan mencapai 35,6 juta jiwa.

Saya berpikir, kalau begitu yang dimaksud Jakarta oleh Euromonitor adalah Jakarta Raya atau Jabodetabek—yang tidak terbatas pada wilayah Ibu Kota semata, melainkan juga daerah penyangga. Andaikan Jakarta saja penduduknya hanya 10,4 juta jiwa, sedangkan Jabodetabek 31,5 juta jiwa.

Pada 2030, Jakarta Raya akan tampil beda. Jakarta akan muncul bukan semata sebagai megapolitan, melainkan megapolitan terbesar (terbanyak) penduduknya mengalahkan Tokyo dan New York. Sebab, jumlah populasinya terus bertambah sampai 4,1 juta sejak 2017, sedangkan Tokyo malah mengalami depopulasi.

Jika itu terjadi, Jakarta akan mengantarkan Asia Pasifik sebagai kawasan yang memiliki kota megapolitan semakin banyak di belahan dunia.

Saat ini, 58% atau 19 dari 33 kota megapolitan sejagat, berada di kawasan ini. China, yang memiliki 1,38 miliar penduduk, menyumbang enam kota besar. India yang berpenduduk 1,32 miliar jiwa memiliki empat kota besar.

Menjadi kota besar sekelas megapolitan tentu memunculkan segala konsekuensi, baik positif maupun negatif. Apalagi Jakarta yang sudah megapolitan, terbesar pula. Sekali lagi, posisinya diramalkan bakal menggeser New York dan Tokyo.

Sambil menyeruput kopi di tempat yang sama kemarin pagi, pagi ini saya mencoba menelaahnya secara jernih dan adil. Pertama, saya kian bangga pada Indonesia dan Jakarta yang tampak sekali begitu besar, jauh lebih besar daripada negeri-negeri jiran, termasuk jika dibandingkan dengan Kuala Lumpur, kota tempat saya menuliskan ini.

Kedua, tidak semua kota besar makmur, tapi Jakarta Raya dalam satu dekade mendatang diyakini mampu meraih predikat itu. Sama seperti Indonesia secara keseluruhan, Jakarta akan menerima bonus demografi. Pada 2030, kaum milenialnya akan lebih banyak, sedangkan penduduk berusia di atas 65 tahunnya tinggal 7,3%.

Euromonitor pun memperkirakan Jakarta akan menjadi kota dengan kekuatan ekonomi terbesar ke-23 di dunia. Begitu juga dengan Indonesia, yang menurut Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal 2/2018 ber-PDB per kapita Rp3.683,9 triliun, akan menjadi negara berpendapatan tinggi (high income country) dengan Produk Domestik Bruto (PDB) Rp5-6 triliun dan PDB per kapita Rp12.475 triliun pada 2030.

Apakah Euromonitor asal-asalan membuat prediksi demikian? Jelas tidak. Hampir semua firma riset dan konsultasi internasional meyakini itu, termasuk Word Bank, McKinsey Global Institute, Pricewaterhouse Coopers, dan Boston Consulting Group. Buktinya, tahun lalu Indonesia sudah masuk ke kelompok negara-negara ber-PDB US$1 triliun atau yang sering disebut One Trillion Dollar Club.

Jakarta menjadi kota megapolitan terpadat dengan penduduk usia produktif terbesar, tapi ketika terjadi revolusi industri.

Ketiga, menjadi pasar yang menggiurkan. Megapolitan Jakarta yang berpenduduk sangat banyak menjadi peluang pasar yang besar. Apalagi, daya belinya cukup tinggi. Dalam waktu yang sama, generasi produktif juga berpotensi menjadi produsen produk dan jasa berskala global.

Meski demikian, benefit menjadi kota megapolitan terbesar di dunia itu bukan tanpa masalah. Yang paling kentara adalah masalah tempat tinggal, tempat kerja, dan tempat berkendara. Itu belum termasuk perkara-perkara lain seperti tingkat kriminalitas yang meningkat dan lain sebagainya.

Pertama, tempat tinggal. Saat ini, pertumbuhan jumlah penduduk di Indonesia tidak sebanding dengan pasokan tempat tinggalnya. Kesenjangan (backlog)-nya mencapai 11,3 juta unit, yang terbesar tentu di Jabodetabek. Memangkas kesenjangan itu sangat tidak mudah karena kebutuhannya terus meningkat sementara lahannya semakin terbatas dengan harga yang kian tak terjangkau.

Kedua, tempat kerja atau ketersediaan pekerjaan. Sejatinya Jakarta Raya nantinya memang akan memiliki tenaga-tenaga usia produktif, yang seharusnya menghasilkan banyak produk dan jasa, di tengah statusnya juga sebagai pasar yang menggiurkan. Tapi, kondisi yang dihadapi Jakarta nantinya berbeda dengan yang dialami New York ataupun Tokyo saat mulai menjadi kota megapolitan dulu.

Salah satu proyek properti di pusat bisnis Jakarta

Jakarta menjadi kota megapolitan terpadat dengan penduduk usia produktif terbesar, tapi ketika terjadi revolusi industri. Revolusi Industri 4.0 ini lebih mengandalkan proses pemanfaatan fisik dan sistem siber, Internet of Things, komputasi awan, dan komputasi kognitif, meneruskan proses komputasi dan automasi pada Revolusi Industri 3.0.

Pada era ini, segala sesuatunya akan dilakukan menggunakan robot dan internet berbasis data secara otomatis, dari yang semula semua dikerjakan oleh manusia. McKinsey Global Institute bahkan memprediksi akan ada 400-800 juta orang di seluruh dunia yang kemungkinan kehilangan pekerjaan dalam 11 tahun ke depan.

Jakarta bukan berdiri sendiri dan prediksi itu juga berlaku untuknya. Kalau sudah begitu, bisa jadi bonus demografi yang nyata justru akan berbalik menjadi beban masa depan. Bukankah fenomena “hemat tenaga kerja” di kawasan-kawasan industri Tanah Air sudah mulai terasa saat ini? Tak dimungkiri pabrik-pabrik secara perlahan beralih ke teknologi robotik dalam proses manufakturnya.

Kemudian, ketiga, tempat berkendara atau infrastruktur jalan. Seiring tingkat pertumbuhan penduduk dan urbanisasi di Jabodetabek yang demikian pesat, permintaan alat transportasi tak pelak turut meningkat. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), dari total penjualan mobil nasional pada 2017 yang mencapai 1,08 juta unit, Jawa Barat dan DKI Jakarta menjadi kota dengan penyerapan terbanyak.

Bisa jadi bonus demografi yang nyata justru akan berbalik menjadi beban masa depan.

Jawa Barat, yang sebagian wilayahnya masuk kawasan megapolitan Jakarta, menyerap 207.000 unit, Jakarta 203.000 unit. Masalahnya, pembangunan infrastruktur jalan tidak sebanding dengan pasokan kendaraan itu. Upaya memindahkan pengguna mobil pribadi ke kendaraan umum, walau sudah digalakkan, masih perlu dimaksimalkan.

Jakarta, yang saat ini sudah kompleks dengan segala permasalahannya, sepertinya akan tetap menghadapi kompleksitas permasalahan yang berbeda, meskipun naik tahta menjadi kota megapolitan terbesar, tepatnya terpadat, di dunia. Ingat, megapolitan terpadat dari sisi populasinya.

Jika diukur dari sisi jumlah PDB per kapitanya, tentu Jakarta masih kalah jauh dari kota-kota besar lainnya. Seoul, Ibu Kota Korea Selatan, akan tetap lebih makmur dengan PDB per kapita sebesar US$53.000, Shanghai US$50.000. Walau begitu, Jakarta tak bisa dianggap remeh, yang menurut Euromonitor akan menempati urutan kota ber-PDB per kapita terbesar ke-23 di dunia.

Jadi, baik keuntungan maupun tantangan Jakarta sebagai kota megapolitan terbesar di dunia sudah terang adanya. Oleh karena itu, pemerintah dan sektor swasta semestinya mulai betul-betul memikirkan arah agar Jakarta menjadi megapolitan yang memang terarah. Tidak seperti pembangunan jalan-jalan rayanya yang justru mengikuti permukiman liar yang lebih dulu ada.●