Gaji karyawan di Indonesia diperkirakan naik 8,7% tahun depan.

Gaji karyawan lintas industri utama di Indonesia tahun depan diprediksi naik, tapi perekrutan melambat.

Jakarta, TechnoBusiness ID ● Rata-rata gaji karyawan lintas industri utama di Indonesia pada 2020 diprediksi naik 8,7%. Persentase itu lebih besar dibanding tingkat inflasi yang diperkirakan sebesar 3,3%.

Baca Juga: Dapat Dana US$150 Juta, Ruangguru Perkuat Pasar di Vietnam

Prediksi itu dikeluarkan oleh Mercer, anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh Marsh & McLennan Companies (NYSE: MMC), perusahaan jasa profesional di bidang risiko, strategi, dan sumber daya manusia, Jumat (27/12).

Dalam laporan berjudul “Total Remuneration Survey 2019” itu disebutkan bahwa kenaikan gaji karyawan di Indonesia tahun depan kemungkinan lebih tinggi dibanding tahun ini yang hanya 8,3% dengan tingkat inflasi 2,9%.

Bagi karyawan itu merupakan kabar baik, tapi bagi calon karyawan ternyata tidak. Sebab, hasil riset terhadap 569 perusahaan tersebut juga menyebutkan bahwa tren perekrutan karyawan di Tanah Air pada 2020 bakal melambat.

Baca Juga: 3 Kategori Wearable Teratas Global 2019-2023



Dengan mempertimbangkan tingkat turnover dan ekspansi, Mercer memperkirakan akan ada 52.000 karyawan yang masuk dan keluar perusahaan. Jasa keuangan dan teknologi merupakan industri yang paling banyak menambah tenaga kerja.

“Indonesia memiliki sekitar 180 juta tenaga kerja pada 2019 dengan 63 juta di antaranya berusia antara 20-35 tahun,” ungkap Astrid Suryapranata, Career Business Leader Mercer Indonesia, di Jakarta hari ini.

 

Simak berita-berita kami dalam bentuk video di kanal TechnoBusiness TVJangan lupa berikan atensi Anda dengan “like, comment, share, dan subscribe.

[nextpage]

Pada saat yang sama, ekonomi digital berkembang pesat di negara-negara Asia Tenggara, dan Indonesia memimpin pasar. “Tren-tren ini akan membentuk ekonomi kita di masa depan,” ujar Astrid.

Baca Juga: 7 Faktor Pendorong Menjamurnya Kedai Kopi Kekinian


Beberapa pekerjaan baru pun muncul, seperti pemasaran digital/internet, pemasaran e-commerce, analisis data dan intelijen bisnis, infrastruktur cloud, teknik konfigurasi otomasi proses robot dan pemrograman, dan sains (analisis penelitian dan pengembangan serta bio informatika).

Akan tetapi, ada pula karyawan yang memilih mengundurkan diri dari pekerjaan. Selama 2019, karyawan yang mengundurkan diri secara sukarela sekitar 7%, dan industri jasa keuangan menghadapi tingkat pengunduran diri karyawan terbesar, yakni 14%.

Setidaknya ada tiga alasan utama karyawan mengundurkan diri, antara lain terkait gaji yang kompetitif, hubungan dengan atasan, dan tidak adanya jenjang karier dan jaminan yang jelas.

Baca Juga: 5 Pemimpin Pasar Printer Format Besar Global 2019

Harus diakui bahwa pergeseran tenaga kerja akibat otomatisasi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di era teknologi saat ini kian membuat persoalan penggajian karyawan kian kompleks.

“Seiring perubahan yang semakin cepat, kita memasuki dunia baru dalam bekerja, perusahaan-perusahaan harus berpikir ulang bagaimana mereka bisa menyesuaikan di masa depan dengan menaruh orang-orangnya dalam inti perubahan,” kata Puneet Swani, Senior Partner and Career Business Leader for the International Regional Mercer.

—Intan Wulandari, TechnoBusiness ID ● Foto: Pixabay

 

Simak berita-berita kami dalam bentuk video di kanal TechnoBusiness TVJangan lupa berikan atensi Anda dengan “like, comment, share, dan subscribe.

LEAVE A REPLY

Masukkan komentar Anda di sini!
Please enter your name here