6 Strategi Bertahan Perusahaan dari Krisis Corona

Oleh Andy Juniarso

CEO Quantum Leap

•••

Strategi bertahan perusahaan dari krisis ekonomi akibat mewabahnya pandemi virus Corona ini amat penting dipahami oleh setiap pemilik bisnis.

•••

Kita tahu bahwa virus Corona mulai menyebar dan membuat Kota Wuhan di-lockdown oleh Pemerintah China. Sejak itu, China harus menggelontorkan dana hingga Rp158 triliun untuk memerangi virus mematikan tersebut.


Saat Wuhan perlahan mulai menurun penderitanya dan bertahap mulai recovery, sedikit demi sedikit “gembok” kota dibuka. Namun, jangan salah, ternyata saat ini ada gelombang serangan kedua, yaitu bagi “herd community”, yang belum kena Corona sekarang terserang tanpa gejala.

Baca Juga: Economic Downturn

Itu menandakan virus Corona masih “beranak-pinak” sehingga lama berakhirnya. Di Indonesia, sampai hari ini jumlah kasusnya masih terus bertambah—yang mengharuskan banyak daerah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Dampaknya transaksi perdagangan anjlok, ekspor-impor seret, pasar tidak normal, yang sudah jelas diikuti dengan pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran.

Masyarakat pun harus mengambil mode safeguarding alias bertahan dengan bekal uang yang dimilikinya, baik yang berupa tunai, tabungan, deposito, dan lainnya—itu pun jika ada.

Dunia usaha juga tak berbeda: produksi merosot, pendapatan tersendat, tapi harus tetap menggaji karyawannya. Itu sebabnya, dalam kondisi apapun, dunia usaha mesti memiliki dana tanggap darurat.

Dengan dana saja tidaklah cukup karena lama-lama akan habis pula. Nah, inilah enam strategi bertahan perusahaan dalam menghadapi krisis ekonomi akibat pandemi:

Strategi Bertahan Perusahaan #1: Back to the Core

Apabila perusahaan Anda memiliki banyak cabang, yang kinerjanya turun tutup saja untuk jangka waktu lama. Buatlah pengumuman force  majeure yang memungkinkan perusahaan merumahkan karyawan tanpa gaji untuk sementara waktu.

Baca Juga: Misleading Advertisement

Apabila perusahaan Anda memproduksi berbagai jenis produk, hentikan produksinya untuk produk yang penjualannya paling terimbas krisis sampai ekonomi kembali pulih.

Strategi Bertahan Perusahaan #2: Cost Efficiency 60%

Perusahaan mesti mengevaluasi semua pengeluaran (cost), baik terkait raw material, labour, factory overhead, expenses, interest/bunga, dan lain sebagainya. Pangkaslah hingga 60% dari sebelumnya. Pilihlah dengan strategis.

Di dalam ilmu manajemen produksi, sebenarnya ada cara mengevaluasi bagaimana menurunkan cost ini untuk melakukan efisiensi secara menyeluruh.

Karena pengurangan satu mesin akan berpengaruh pada kapasitas produksi, maka mesin-mesin atau fasilitas-fasilitas yang mau dikurangi harus diperhitungkan secara detail.

Buatlah skenario efisiensi pertama hingga 60% dan lakukanlah pemotongan tersebut secepatnya. Juga, siapkan skenario kedua, yaitu tambahan efisiensi 20% lagi apabila kondisi ekonomi semakin memburuk.

Yang itu berarti Anda juga harus memastikan bahwa Anda hanya bekerja dengan cost yang tinggal 40% selama skenario pertama, dan tinggal 20% jika sampai melaksanakan skenario kedua.

Strategi Bertahan Perusahaan #3: Adjusting Your Product

Selain dua strategi di atas, yaitu penurunan cost dan pemilihan produk yang masih prospektif, strategi bertahan perusahaan ketiga yang dapat Anda lakukan adalah mengubah (switching) jenis produksi ke kebutuhan yang lebih primer.

Sebab, di saat krisis ekonomi, pasar hanya akan membeli barang-barang yang dibutuhkan demi bertahan hidup. (a) Makanan dan minuman: sembako; (b) Kesehatan: masker, hand sanitizer, alat pelindung diri; (c) Obat-obatan: herbal, vitamin C, dan sejenisnya.

(d) Suplemen kesehatan: madu, kurma; (e) Jasa pendukung kerja di rumah: penjualan online, pelatihan online, konsultasi online, dan lain sebagainya.

 

Strategi Bertahan Perusahaan #4: Sell Some Your Asset

Strategi bertahan perusahaan sebelumnya disarankan untuk kembali ke bisnis inti dan efisiensi sehingga ada cabang atau mesin-mesin dan fasilitas produksi serta lainnya yang tidak produktif lagi sementara ini.

Maka, ada baiknya Anda jual dengan harga miring daripada kondisi ekonomi yang terus menurun nilai aset Anda ikut menurun lalu sulit dijual. Tapi, memang tindakan ini sulit diukur karena tidak diketahui pasti kapan ekonomi akan kembali tumbuh.

Yang jelas, dalam situasi sulit, Anda lebih aman memegang cash daripada aset—apalagi saham. Namun, jangan salahkan saya ya kalau ternyata dua bulan lagi virus Corona ini sudah berakhir. Kalau ya lebih baik, tapi peneliti Harvard memperkirakan akan berlangsung sekitar satu tahunan.

Jika strategi bertahan perusahaan dengan melepas aset dan nyatanya krisis berlangsung lama, setidaknya Anda sudah memegang uang tunai hingga—mungkin—enam bulan atau lebih.

Strategi Bertahan Perusahaan #5: Production at Home as Possible

Ada sebagian produksi yang bisa dibawa ke rumah, baik rumah masing-masing atau ke home industry. Tapi, itu bisa dilakukan untuk produksi barang-barang primer, apalagi yang bisa membantu penanganan virus Corona.

 

Strategi Bertahan Perusahaan #6: Prepare for the Worst

Siapkan dana cadangan untuk hal-hal yang paling buruk. Pikirkan skenario untuk melepas semua aset Anda, mem-PHK semua pegawai Anda, menjual semua stok produk Anda, dan lain sebagainya.

Mohon maaf, saya tidak menyarankan Anda menumpuk cadangan makanan dan minuman. Cukuplah untuk hidup seminggu saja. Tetapi, untuk usaha Anda, mulai pikirkanlah skenario exit terakhir jika ekonomi terus memburuk.

Skenario exit itu perlu dipikirkan agar, jika kondisi kian parah, Anda sudah siap. Sebaliknya, jika tidak menyiapkan skenario terakhir, Anda akan kelabakan.


Itulah enam strategi bertahan perusahaan yang menurut saya bisa digunakan untuk menghadapi krisis ekonomi akibat pandemi virus Corona saat ini. Tapi, kita semua mesti berdoa, semoga krisis ini segera berakhir ya.●

 

LEAVE A REPLY

Masukkan komentar Anda di sini!
Please enter your name here