Presiden Bukalapak Teddy Oetomo saat wawancara eksklusif dengan TechnoBusiness Indonesia dalam program TechnoBusiness Talks belum lama ini.

Bukalapak optimistis mampu mencetak transaksi hingga US$6,5 miliar tahun ini. Bagaimana strateginya?

TechnoBusiness Talks • Bukalapak, marketplace terbesar kedua asli Indonesia setelah Tokopedia, optimistis mampu meningkatkan nilai transaksinya menjadi US$6,5 miliar tahun ini setelah pandemi COVID-19 menjadi pendorong akselerasi belanja online lebih cepat.

Baca Juga: TikTok Indonesia: “3 Tahun, 30 Miliar Views per Bulan”

Logo Bukalapak

Dalam sebuah program wawancara TechnoBusiness Talks yang dipandu oleh M. Yunus pada Senin (21/9), Presiden Bukalapak Teddy Oetomo mengatakan pandemi telah mengakselerasi digital di Indonesia jauh lebih cepat.

“Jika waktu normal dilakukan dalam dua tahun, karena pandemi hanya membutuhkan waktu enam bulan,” ungkap Teddy. Untuk itu, akselerasi digital yang cepat tersebut ditangkap oleh Bukalapak dengan berbagai strategi.

Baca Juga: Bhinneka.com: “Semoga Target Tetap Tercapai”

Lalu, strategi apa yang diterapkan Bukalapak dalam menghadapi pandemi COVID-19? Simak kutipan wawancara kami dengan Teddy Oetomo berikut ini.


Bagaimana perkembangan bisnis Bukalapak setelah pandemi COVID-19 terjadi?

Selama pandemi, manajemen Bukalapak melakukan work from home. Tapi, kami tetap beroperasi penuh sekalipun manajemen tidak bekerja di kantor. Untuk diketahui, pandemi telah mengakselerasi digital di Indonesia jauh lebih cepat. Jika waktu normal bisa dilakukan dalam dua tahun, karena pandemi hanya membutuhkan waktu enam bulan.

Dalam menghadapinya, kami sudah mempersiapkan stock keeping unit bahan-bahan kebutuhan masyarakat secara lengkap. Pada saat yang sama, Bukalapak menjadi wadah yang tepat bagi pengusaha yang terkena imbas di offline store mereka. Itu bisa menjadi solusi dalam meningkatkan penjualan mereka.

Penetrasi bisnis digital yang normalnya 2 tahun bisa dilakukan dalam 6 bulan karena Corona?

Memang sulit untuk mengatakan angka pastinya.

Berapa jumlah pengunjung Bukalapak sebelum dan setelah adanya pandemi?

Kalau dilihat dari angkanya, secara persentase pengunjung Bukalapak pada Maret naik 20% dibanding pada Februari. Pada Agustus, naik lagi 20-30%. Kenaikan itu bukan saja dari sisi jumlah pengguna, tapi juga jumlah transaksinya.

Jumlah transaksinya juga meningkat?

Mereka bertransaksi lebih sering. Kalau dilihat dari jumlah orang bertransaksi selama pandemi, memang meningkat dibanding sebelumnya.

Ibaratnya, orang datang ke mal tapi parkiran penuh, nongkrong di dalam tidak belanja, itu bahaya.

Kalau begitu, strategi apa yang dilakukan Bukalapak dalam menghadapi pandemi ini sehingga bisa menaikkan jumlah pengunjung dan transaksi?

Sebelum pandemi, kami fokus pada pengembangan ke kota-kota besar yang ada di luar daerah. Bukalapak juga sedang serius mengembangkan jangkauan ke seluruh peer one city yang kami terjemahkan dengan kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Semarang, dan lainnya. Sebelum pandemi, kami banyak fokus ke sana.

Apakah permintaan dari kota-kota kecil juga masih kecil?

E-commerce itu jangkauannya selalu lebih besar di kota-kota besar. Tetapi, saat pandemi ini, semua (permintaannya) cenderung stabil. Nah, kebutuhan terhadap e-commerce itu justru lebih besar di kota kecil. Sebab, kalau di kota besar ada mal. Apa yang tidak ada di mal?

Untuk memasuki kota-kota di luar kota besar dalam kurun empat tahun terakhir, kami fokus membangun jaringan Mitra Bukalapak. Dengan warung-warung Mitra Bukalapak itu, kami bisa membantu mempercepat inklusi keuangan.

Apakah tren kebutuhan barangnya tidak berubah selama pandemi?

Kami memang harus jeli betul melihat apa yang dibutuhkan masyarakat. Pada Maret lalu, kebutuhan terhadap hand sanitizer sangat tinggi, itu harus dipersiapkan. Di bulan-bulan berikutnya trennya berubah.

Kalau dilihat dari angkanya, secara persentase pengunjung Bukalapak pada Maret naik 20% dibanding pada Februari.

Misalnya, fashion. Saat ini, orang cenderung memilih contemporary homeware fashion karena banyak orang tidak keluar rumah. Orang tidak butuh kosmetik, tapi kebutuhan terhadap baju piyama atau baju santai lainnya meningkat.

Bahan-bahan kebutuhan pokok juga kami persiapkan jauh-jauh hari. Karena memang yang dibutuhkan masyarakat saat pandemi ini adalah bisa mendapatkan kebutuhan pokok tanpa harus keluar rumah.

Kebutuhan terhadap barang-barang elektronik rumah tangga seperti rice cooker, alat-alat olahraga seperti sepeda, juga kami siapkan. Perubahan yang cepat sekali ini harus kami sikapi dengan cepat pula.

Kami pun mendekati para pelapak agar barang-barang tersebut cepat tersedia di platform kami, Bukalapak.

Berapa jumlah pelapak di Bukalapak saat ini?

Jumlah pelapak saat ini di angka 5 juta, sedangkan jumlah Mitra kami mencapai 6 juta. Jadi, kalau ditotal sudah 11 juta. Kami melihat sejak pandemi ini (jumlah pelapak) naik sekitar 3 juta dan 3 juta untuk UKM/Mitra dalam enam bulan terakhir.

Lalu, berapa nilai transaksi yang dibukukan Bukalapak?


Kami perkirakan sekitar US$6,5 miliar tahun ini.

Luar biasa. Naik dari berapa?

Kami tak sampaikan dulu pak, tapi angkanya cukup banyak naiknya.

Kenaikan jumlah pengunjuk dan pelapak tentu harus diikuti dengan peningkatan belanja infrastruktur teknologi informasinya, terutama kebutuhan data center atau cloud. Bagaimana dengan Bukalapak?

Mayoritas, yaitu 98% dari operasional Bukalapak, sudah ada di cloud, yang 2%, sesuai regulasi, disimpan di server milik sendiri. Kapasitasnya sudah cukup memandai. Kami menggunakan cloud pihak ketiga.

Yang kami fokuskan sekarang adalah bagaimana meningkatkan konversi dari jumlah trafik pengunjung dengan nilai transaksi yang tercipta. Ibaratnya, orang datang ke mal tapi parkiran penuh, nongkrong di dalam tidak belanja, itu bahaya.

Yang kami lakukan dalam delapan bulan terakhir memang meningkatkan konversi transaksi. Trafik Bukalapak tidak tinggi-tinggi amat, tapi setiap trafik yang ada kami maksimalkan nilai transaksinya sehingga kami bisa melakukan efisiensi pada biaya cloud dari penggunaan infrastruktur kami.

 

Simak berita-berita kami dalam bentuk video di kanal TechnoBusiness TVJangan lupa berikan atensi Anda dengan “like, comment, share, dan subscribe”.

LEAVE A REPLY

Masukkan komentar Anda di sini!
Please enter your name here