Oleh Sudarisman | Konsultan Spire Research and Consulting

Spire Insight ● Inovasi disruptif (disruptive innovation) adalah inovasi yang membantu menciptakan pasar baru, mengganggu atau merusak pasar yang sudah ada, dan pada akhirnya menggantikan teknologi terdahulu tersebut.

Baca Juga: Spire Research and Consulting Memiliki Empat Divisi Riset 

Inovasi disruptif mengembangkan suatu produk atau layanan dengan cara yang tak diduga pasar, umumnya dengan menciptakan jenis konsumen berbeda pada pasar yang baru dan menurunkan harga pada pasar yang lama.

Ide ini dicetuskan oleh motivator Clayton M. Christensen dan Joseph Bower pada artikel “Disruptive Technologies: Catching the Wave” di jurnal Harvard Business Review

Di awal kemunculannya, telepon masih menggunakan kabel, sekarang sudah memakai seluler, nonkabel dengan BTS plus satelit. Dengan berbagai keunggulannya, jangankan voice, video conference dengan beberapa member sekaligus pun bisa dilakukan dengan telepon genggam.

Baca Juga: Spire Insight: The New Normal


Lebih dari itu, berbagai macam platform aplikasi gratis, di mana saja, kapan saja, jauh lebih praktis, efisien, efektif, dan ekonomis ketimbang telepon engkol ataupun telepon rumah. Dampaknya, bisnis wartel, warnet, telepon umum, dan telepon koin sampai ke tukang servisnya pun ikut terdisrupsi.

Saat ini, kabel telepon pun sudah bisa diturunkan sehingga langit lebih nyaman dilihat. Dulu gas masih menggunakan jaringan pipa gas. Dengan adanya teknologi kompor listrik, sekarang mulai beralih ke listrik. Suatu waktu, jaringan pipa gas dan tabung gas akan terdisrupsi, karena teknologi masak-memasak terkoneksi dengan teknologi listrik; kompor, panci, oven, penggorengan, dispenser saat ini sudah menggunakan listrik.

Suatu saat, tiang dan kabel-kabel listrik yang menjuntai itu diyakini bakal menghilang karena teknologi solar cell, pemanfaatan matahari, energi panas bumi, ombak laut, angin, bioenergi, bahkan energi dari sampah, mereduksi itu semua. Sehingga, semua teknologi tersebut bisa diimplementasikan ke rumah-rumah, pertanian, peternakan, perkantoran dan lain-lain.

Spire Insight: Beriklan Saat Pandemi

Indonesia memiliki anugerah yang luar biasa karena dapat menikmati sinar matahari secara melimpah. Berbeda dengan negara lain yang memiliki tiga musim atau lebih. Akan tetapi, penerapan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Indonesia masih sangat minim dari potensi yang ada.

Saat ini, PLTS merupakan pembangkit energi terbarukan yang sudah menjadi primadona di negara-negara maju.

Pemerintah Indonesia telah berkomitmen untuk mengembangkan energi berbasis Energi Baru dan Terbarukan (EBT) sesuai dengan roadmap Kebijakan Energi Nasional (KEN) yang menyebutkan target persentase EBT pada 2025, yaitu 25%.

Baca Juga: Efektivitas Iklan Menggunakan Media Lift 

Target ini naik menjadi 36% pada 2050. Hal ini tidak lain dilatarbelakangi oleh keterbatasan energi fosil seperti batubara dan minyak yang menjadi bahan bakar utama PLTU. Selain itu, EBT khususnya energi surya merupakan energi yang bersih dan ramah lingkungan karena tidak menghasilkan emisi karbon. Hal ini sangat membantu mengurangi polusi udara di sekitar kita menjadikan lingkungan yang lebih sehat.

I. Peluang

  1. Berkembangnya implementasi PLTS di dunia

Kapasitas pembangkit listrik tenaga surya yang terinstal di seluruh dunia sebesar 15 GW pada 2008 dan mencapai 505 GW pada 2018, meningkat 33,6 kali lipat dalam kurun waktu 10 tahun (gambar 1).

Dari grafik pada gambar 2 terlihat bahwa pada 2018 China menjadi negara dengan kapasitas PLTS terbesar di dunia dengan menginstal PLTS sebesar 45 GW, sehingga kapasitas total PLTS China mencapai 176,1 GW pada 2018. Jumlah tersebut jauh melampaui dari target nasional mereka sebesar 105 GW pada 2020.

Gambar 1. Grafik pertumbuhan kapasitas PLTS global pada tahun 2008-2018
(Sumber: REN21, Renewables 2019, Global Status report)

 

 

 

 

 

Gambar 2. Grafik jumlah kapasitas dan penambahan PLTS pada negara 10 besar
(Sumber: REN21, Renewables 2019, Global Status report)

  1. Perkembangan Teknologi PLTS Rooftop

Salah satu teknologi energi surya Photovoltaik (PV) yang saat ini sedang berkembang adalah teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Surya di atap bangunan atau PLTS Rooftop.

Sistem PLTS Rooftop adalah sistem PV yang lebih kecil dibandingkan dengan sistem PV yang dipasang di tanah, PLTS Rooftop dipasang di atap perumahan, bangunan komersial atau kompleks industri. Listrik yang dihasilkan dari sistem tersebut dapat seluruhnya dimasukkan ke dalam jaringan yang diatur dengan Feed-in-Tarif (Fit), atau digunakan untuk konsumsi sendiri dengan mengunakan perangkat net metering.

Baca Juga: Spire Insight: Dampak Corona terhadap Industri Penerbangan

Melalui sistem net metering tersebut, produksi listrik oleh pelanggan akan mengimbangi energi listrik dari sistem jaringan (PLN) sehingga dapat meghemat tagihan PLN.

Mengenal PLTS Rooftop (Panel Surya Atap)

Pembangkit listrik tenaga matahari atau dengan istilah lainnya disebut dengan solar cell atau panel surya merupakan salah satu pemanfaatan energi terbarukan yang berfungsi untuk mengubah energi surya berupa panas matahari menjadi energi listrik untuk kebutuhan sehari-hari.

Selain disebut dengan panel surya atau solar cell, panel surya juga sering disebut dengan sel photovoltaic. Sel photovoltaic dapat diartikan sebagai “cahaya listrik”. Di mana, sel surya atau panel surya ini bergantung ada efek photovoltaic untuk menyerap energi panas matahari dan mengonversi menjadi energi listrik.

Baca Juga: Spire Insight: Menilik Implementasi Teknologi 5G di Korea Selatan

Panel surya atap atau bisa juga disebut PLTS roof top atau SHS (solar home system) merupakan salah satu metode dalam aplikasi sistem panel surya. Panel surya dipasang pada atap rumah agar dapat menyerap cahaya matahari secara optimal.

Panel surya atap dapat digunakan sebagai sumber listrik untuk konsumsi ritel atau perumahan. Panel surya atap diprediksi dapat menghemat penggunaan listrik PLN hingga 30%.

Tipe PLTS Rooftop (Panel Surya Atap)

Sistem instalasi panel surya atap terdiri dari tiga jenis, yaitu off-grid (terhubung jaringan PLN), on-grid (mandiri) dan hybrid (Pararel dengan PLN dan Genset).

Off Grid System merupakan sistem PLTS yang umum digunakan untuk daerah-daerah terpencil/pedesaan yang tidak terjangkau oleh jaringan PLN. Off Grid System disebut juga Stand-Alone PV system, yaitu sistem pembangkit listrik yang hanya mengandalkan energi matahari sebagai satu-satunya sumber energi utama dengan menggunakan rangkaian photovoltaic modul (Solar PV) untuk menghasilkan energi listrik sesuai dengan kebutuhan.

Baca Juga: Spire Insight: Mencari Harapan Pasca Gempa Palu

Adapun On Grid System (juga disebut Grid Tie System/Grid Interactive) menggunakan solar panel (panel photovoltaic) untuk menghasilkan listrik yang ramah lingkungan dan bebas emisi.

Rangkaian sistem ini akan tetap berhubungan dengan jaringan PLN dengan mengoptimalkan pemanfaatan energi dari panel surya untuk menghasilkan energi listrik semaksimal mungkin. Dengan adanya sistem ini akan mengurangi tagihan listrik dan memberikan nilai tambah pada pemiliknya.

Hybrid system adalah penggunaan dua sistem atau lebih pembangkit listrik dengan sumber energi yang berbeda. Umumnya sistem pembangkit yang banyak digunakan untuk hybrid dengan PLTS adalah genset, mikrohidro dan tenaga angin (kincir angin).

Baca Juga: Industri Sepatu Indonesia Potensi Besar Produk Dalam Negeri

Sistem ini merupakan salah satu alternatif sistem pembangkit yang tepat diaplikasikan pada daerah-daerah yang tidak terjangkau oleh sistem pembangkit besar seperti jaringan PLN. Sistem hybrid ini memanfaatkan PLTS sebagai sumber utama (primer) yang dikombinasikan dengan genset atau lainnya sebagai sumber energi cadangan (sekunder).

II. Tantangan

Belum adanya industri sel surya di Indonesia

Ketiadaan industri sel surya sebagai salah satu bahan baku pembuatan modul surya menyebabkan industri perakitan modul surya di Indonesia bergantung pada produk sel surya dari luar negeri. Hingga kini, rencana pembangunan industri sel surya di Indonesia belum terealisasi dan masih dalam masa kajian.

Mahalnya biaya PLTS Rooftop

Belum adanya industri sel surya di Indonesia juga menjadi salah satu penyebab sangat mahalnya investasi PLTS. Hal ini disebabkan karena komponen utama panel surya atau sel surya masih mengandalkan produk impor. Semoga hal ini dapat semakin murah seiring perkembangan teknologi panel surya.

Belum adanya proyek percontohan PLTS Rooftop

Keberadaan teknologi baru akan mudah diterima oleh masyarakat jika ada suatu proyek percontohan. Begitu juga dengan PLTS Rooftop, harus dikenalkan kepada masyarakat melalui percontohan. Oleh karena itu, sebaiknya pemerintah membuat proyek percontohan PLTS Rooftop di gedung-gedung yang sudah menerapkan Go Green ataupun Gedung pemerintahan dan perumahan-perumahan baru yang menerapkan Smart living dalam upaya pengenalan dan menarik minat masyarakat luas.

Baca Juga: Tantangan Industri Advertising PayTV

Siap atau tidak sebenarnya kita tahu ke depannya pembangkit listrik dengan menggunakan bahan bakar akan terbatas dan akan segera habis. Maka dari itu, sudah saatnya Indonesia beralih dari energi fosil ke energi baru terbarukan (EBT).

Semoga PLN mulai memikirkan bisnis di bidang panel surya, jangan kalah dengan swasta. Bukan hanya karena kue keuntungan yang sangat besar, tapi kita memang mampu untuk teknologi ini dan jangka panjangnya akan dapat menghemat APBN.

Mudah mudahan perusahaan BUMN bidang energi dapat berkolaborasi atau merger, saling mendukung dalam ikatan simbiosis mutualisme sehingga mampu mendukung gerakan #GoGreen di Indonesia salah satunya dengan implementasi Inovasi Disruptif Bidang Energi Terbarukan ini.● SPONSORED CONTENT

Catatan: Artikel ini dibuat dan menjadi tanggung jawab sepenuhnya oleh Spire Research and Consulting. 

 

Spire Research and Consulting merupakan perusahaan riset pasar dan konsultasi bisnis global, terutama di negara-negara berkembang. Perusahaan yang didirikan pada 2000 di Singapura ini kini memiliki kantor perwakilan di semua negara Asia Pasifik dan berkantor pusat di Tokyo, Jepang.

PT Spire Indonesia | Wisma BNI Lt. 25 Unit 8-10, Jalan Jend. Sudirman Kav. 1, Jakarta 10220, Telp/Faks: (021) 57945800 www.spireresearch.com


LEAVE A REPLY

Masukkan komentar Anda di sini!
Please enter your name here