Nyaris Tak Tumbuh

Berdasarkan data Bank Indonesia, jumlah kartu kredit yang beredar di Indonesia pada 2018 tercatat sebanyak 17,28 juta, hanya naik 0,2% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Perlambatan pertumbuhan itu bukan tak mungkin akan terus terjadi pada tahun ini dan tahun-tahun mendatang.

Melonjaknya bisnis fintech dan melambatnya pertumbuhan kartu kredit yang beredar di Tanah Air menjadi perhatian serius lembaga-lembaga perbankan dan keuangan. Sebab, saat angka pembayaran, pinjaman, dan investasi naik signifikan, mereka justru tak menikmati.

Visa, Inc. (NYSE: V), raksasa veteran pembayaran digital global asal Foster City, California, Amerika Serikat, yang berdiri pada 1958, menyadari hal itu. Karena itu, sejak 2015 Visa mengemas strategi baru demi menghadapi gempuran perusahaan-perusahaan fintech yang boleh dibilang “ajaib”.

Peluncuran Program Visa Everywhere Initiative di Jakarta, Rabu (3/7).

Alih-alih melawan fintech, Visa malah merangkulnya dengan meluncurkan program Visa Everywhere Initiative. Dimulai dari kantor pusatnya di California, Visa Everywhere Initiative kini telah diluncurkan di 75 negara di Amerika Utara, Amerika Latin, Eropa, Asia, Timur Tengah, dan Afrika.

PT Visa Worldwide Indonesia, perwakilan Visa di Indonesia, meluncurkannya di Jakarta pada Rabu (3/7) pekan lalu. Riko Abdurrahman, Presiden Direktur Visa Worldwide Indonesia, saat peluncuran menjelaskan bahwa Visa Everywhere Initiative merupakan program inovasi global yang merangkul startup untuk mengatasi tantangan perdagangan, mengembangkan produk, dan menawarkan solusi yang mendukung jaringan mitra Visa yang luas.

Di dunia, sudah ada 4.000 startup yang terlibat dalam program tersebut dengan total pendanaan kolektif sebesar US$2,5 miliar. Dan, “Kami meyakini saat ini waktu yang tepat untuk meluncurkan Visa Everywhere Initiative di Indonesia,” lanjut Riko. Startup-startup, bahkan baru berbentuk konsep sekalipun, dipersilakan mengikutinya. Visa menawarkan hadiah utama senilai Rp350 juta dan hadiah favorit Rp75 juta.