TechnoBusiness News
Iran, Amerika Serikat, Israel Saling Serang, Harga Bitcoin Justru Naik
Harga Bitcoin kembali naik setelah turun beberapa bulan terakhir.
● Harga Bitcoin yang akhir-akhir ini merosot justru kembali merangkak di saat Iran, Amerika Serikat, dan Israel saling serang,
● “Pergerakan Bitcoin yang cepat pulih setelah sempat terkoreksi menunjukkan minat beli investor masih aktif.”
Jakarta, TechnoBusiness ID ● Beberapa hari ini, Iran, Amerika Serikat, dan Israel saling serang. Anehnya, harga Bitcoin (BTC) yang akhir-akhir ini merosot justru kembali merangkak naik: dari sekitar US$67.000 menjadi US$72.000. Padahal, jika terjadi konflik geopolitik, biasanya harga aset kripto langsung anjlok.
Melihat fenomena itu, analis Tokocrypto Fyqich Fachrur mengatakan itu cermin bahwa pasar memiliki fondasi permintaan yang kuat, terutama dari investor yang memanfaatkan momentum koreksi harga.
“Pergerakan Bitcoin yang cepat pulih setelah sempat terkoreksi menunjukkan minat beli investor masih aktif, khususnya di pasar spot. Koreksi ke area US$66.000-67.000 justru dimanfaatkan oleh sebagian pelaku pasar untuk melakukan akumulasi,” ujar Fyqieh.
Ia menjelaskan bahwa tekanan terhadap Bitcoin sebelumnya terjadi ketika harga minyak mentah melonjak hingga sekitar US$85 per barel, level tertinggi sejak 2024. Lonjakan harga energi tersebut dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang turut memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global.
Namun, menurut Fyqieh, respons pasar aset kripto relatif lebih stabil dibandingkan dengan beberapa aset berisiko lainnya. “Meski sentimen global sedang dipengaruhi ketegangan geopolitik dan kenaikan harga energi, Bitcoin masih mampu mempertahankan area harga yang relatif stabil. Ini menunjukkan adanya daya tahan pasar yang cukup baik,” jelasnya.
Selain dukungan dari investor ritel, arus masuk dana ke produk investasi berbasis Bitcoin seperti ETF juga menunjukkan tren positif. Beberapa laporan mencatat adanya inflow ratusan juta dolar AS dalam beberapa hari terakhir, yang mengindikasikan minat investor institusional terhadap Bitcoin masih cukup kuat.
Menurut Fyqieh, keberadaan investor institusional melalui produk seperti ETF turut membantu menjaga stabilitas pasar. “Arus masuk dana ke ETF Bitcoin menjadi salah satu indikator bahwa minat investor institusional terhadap aset ini masih tinggi. Hal ini membantu menjaga likuiditas pasar dan memberikan dukungan terhadap harga ketika terjadi tekanan jangka pendek,” katanya.
Selain itu, data on-chain juga memperlihatkan adanya tren akumulasi yang masih berlanjut di pasar. Arus keluar Bitcoin dari sejumlah bursa aset kripto (exchange netflow) tercatat negatif dalam beberapa hari terakhir, yang biasanya menunjukkan bahwa investor memindahkan aset mereka ke penyimpanan jangka panjang.
Di salah satu bursa aset kripto terbesar dunia, Binance, tercatat sekitar 13.500 BTC keluar dari platform sejak akhir Februari. Bahkan dalam satu hari saja lebih dari 3.800 BTC ditarik dari bursa. Secara keseluruhan, tren netflow negatif ini terjadi selama tujuh hari berturut-turut di berbagai bursa aset kripto utama.
Fyqieh menilai tren ini sering kali menjadi sinyal bahwa sebagian investor memiliki pandangan jangka panjang terhadap Bitcoin. “Ketika netflow di bursa berubah menjadi negatif, biasanya itu mengindikasikan investor tidak berniat menjual dalam waktu dekat. Mereka memindahkan aset ke wallet pribadi sebagai bagian dari strategi penyimpanan jangka menengah atau panjang,” ungkapnya.
Di tengah dinamika pasar global, Bitcoin saat ini masih bergerak dalam rentang harga tertentu atau range-bound. Level US$70.000 menjadi salah satu area teknikal yang dinilai penting untuk menjaga momentum pergerakan harga.
Fyqieh mengatakan bahwa level tersebut berperan sebagai area support yang perlu dipertahankan agar tren jangka pendek tetap positif. “Selama Bitcoin mampu bertahan di atas area US$70.000, peluang untuk melanjutkan pergerakan menuju kisaran US$72.000 hingga US$74.000 masih terbuka. Level tersebut menjadi area yang cukup penting untuk menjaga momentum pasar,” jelasnya.
Namun demikian, ia juga mengingatkan bahwa volatilitas masih berpotensi terjadi mengingat pasar global masih sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan kebijakan ekonomi. “Pasar aset kripto saat ini sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti geopolitik, harga energi, dan data ekonomi global. Karena itu, investor tetap perlu memperhatikan risiko volatilitas dalam jangka pendek,” kata Fyqieh.
Ke depan, pelaku pasar diperkirakan akan terus memantau perkembangan konflik geopolitik, pergerakan pasar energi, serta arus dana institusional yang dapat memengaruhi pergerakan Bitcoin dalam beberapa waktu mendatang.●
PURJONO AGUS SUHENDRO/TechnoBusiness ID
