5 Tren Teknologi Kesehatan Global 2017

  • Teknologi telah membuat semua industri semakin efektif dan efisien, tak terkecuali di industri kesehatan.
  • Ada lima teknologi yang menjadi tren dalam memengaruhi industri kesehatan tahun ini.

 

Dublin, Irlandia, TechnoBusiness ● Semester pertama 2017 telah terlewati dan bulan pertama semester kedua sudah hampir habis. Seiring berkembangnya waktu, kita harus mengakui bahwa tidak ada industri yang bisa bebas tanpa teknologi. Itu sebabnya, TechnoBusiness Media pun mengusung slogan “No Business Without Technology”.

 

Baca Juga: Mengapa Jumlah Pengguna Twitter Naik, tapi Pendapatannya Justru Turun?

 

Demikian juga dengan industri kesehatan. Justru karena semakin canggihnya teknologi yang ditemukan, semakin mudah dan efisien pula para dokter, pusat kesehatan, dan rumah sakit dalam menyembuhkan penyakit pasien.

Menurut perusahaan riset Research and Markets asal Dublin, Irlandia, ada lima teknologi kunci dalam industri kesehatan pada 2017. Kelima teknologi itu antara lain telemedika (telemedicine), realitas virtual (virtual reality), komputasi awan (cloud computing), chatbot, dan keamanan siber (cyber security).

Berikut ini penjelasannya:

 

  1. Telemedika (Telemedicine)

Telemedika dan pemantauan pasien jarak jauh sudah memiliki dampak besar terhadap industri kesehatan. Proliferasi perangkat mobile telah memungkinkan banyak dokter untuk menyediakan layanan telemedika dan pemantauan jarak jauh ke banyak pasien tanpa harus melihatnya secara langsung.

Perangkat mobile dan wearable dapat digunakan untuk memeriksa berat badan, denyut nadi, dan oksigen pasien, lalu mengirimkan hasilnya kepada dokter secara real time. Menurut perkiraan, pasar telemedika global akan terus meningkat dari tahun ke tahun hingga mencapai US$113,1 miliar pada 2025.

 

  1. Realitas Virtual (Virtual Reality)

Realitas virtual berpotensi merevolusi pendidikan dan pelatihan medis. Augmented reality (AR) dan virtual reality (VR) global di pasar perawatan kesehatan diperkirakan bakal bernilai US$5,1 miliar pada 2025. Adopsi AR dan VR di bidang medis terus meningkat, meningkatkan investasi pada teknologi baru, dan perkembangan konstan di bidang teknologi informasi kesehatan.

 

Ada beberapa faktor kunci yang mendorong pertumbuhan pasar itu. Faktor-faktor itu, di antaranya rumah sakit yang telah beralih ke dunia maya untuk melatih tenaga kesehatan; simulasi ruang operasi tiga dimensi (3D) yang dapat digunakan untuk melatih siswa; dan bisa juga penggunaan penyiaran operasi yang memungkinkan siswa menonton operasi secara real time tanpa hadir.

 

  1. Komputasi Awan (Cloud Computing)

Komputasi awan telah menyederhanakan berbagi data dan menyediakan cara yang lebih mudah dan fleksibel dalam mengakses data layanan kesehatan. Laporan pasar menyebutkan bahwa komputasi awan di ranah kesehatan global telah membantu penyedia layanan kesehatan mengurangi biaya modal dan operasional mereka.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4. Chatbots

Pasar chatbot global diperkirakan tumbuh CAGR sebesar 37,11% selama periode 2017-2021. Popularitas mereka semakin meningkat, dan mereka dapat dilihat di berbagai industri. Situs media sosial tidak hanya mengadopsi mereka, namun chatbots digunakan untuk perbankan, perjalanan, restoran, layanan pelanggan, dan memberikan rekomendasi untuk sejumlah layanan lainnya.

 

Ada juga sejumlah chatbots di pasar kesehatan. Anda bisa menemukan HealthTap, Florence Bot, dan Your.MD di Facebook Messenger. Selain itu, ada Melody, diluncurkan oleh perusahaan web Baidu berbasis di China yang memberikan saran kepada dokter tentang kemungkinan pilihan pengobatan untuk pasien mereka berdasarkan informasi yang telah disampaikan ke chatbot.

Barangkali pertanyaan yang muncul bagi Anda: apakah Anda percaya dengan rekomendasi yang diberikan chatbhot?

 

  1. Keamanan Siber (Cyber Security)

Pada 2016, berdasarkan laporan yang diserahkan ke Dinas Kesehatan dan Pelayanan Sipil Departemen Kesehatan Amerika Serikat, lebih dari 16 juta catatan kesehatan di Amerika terpapar. Itu menunjukkan bahwa sektor kesehatan perlu belajar dari industri lain, seperti layanan keuangan, yang menginvestasikan cukup banyak waktu dan sumber daya ke dalam perlindungan siber.

Anil Taba, TechnoBusiness ● Foto-Foto: Intimewa