Harbolnas 12.12 2017 Bukukan Transaksi Rp4,7 Triliun

  • Nilai transaksi Harbolnas tahun ini naik Rp1,4 triliun dari tahun lalu.
  • Sebanyak 27% konsumen baru pertama kali berbelanja di Harbolnas.

 

Jakarta, TechnoBusiness Insight  Pesta diskon akhir tahun di toko-toko online Tanah Air yang dikemas dalam kampanye Hari Belanja Online (Harbolnas) rupanya semakin diburu masyarakat dari tahun ke tahun. Buktinya, nilai transaksi yang dibukukan terus meningkat.

 

Baca Juga:

Mengenal Keunggulan Teknologi Sprint Digital 360

 

 

Jika tahun lalu transaksi yang dicatatkan sekitar Rp3,3 triliun, Harbolnas tahun ini mencetak angka Rp4,7 triliun. Itu berarti naik Rp1,4 triliun. Kenaikan itu karena semakin banyak masyarakat yang turut ambil bagian, baik sebagai penjual maupun pembeli, dalam promo selama tiga hari 11-13 Desember tersebut.

“Tidak ketinggalan berbagai pihak yang menjadi bagian dari ekosistem digital juga turut merasakan euforia ajang belanja online nasional terbesar ini,” ungkap Achmad Alkatiri, Ketua Panitia Harbolnas 2017, di Jakarta, Selasa (19/12) malam.

Angka transaksi sehari itu juga naik 4,2 kali lipat dibanding hari biasa. Kenaikan itu juga didorong oleh meningkatnya kontribusi transaksi dari luar Pulau Jawa yang melonjak 82%.

 

“Saya sendiri merasakan kenaikan order yang sangat tinggi di berbagai platform penjualan online saya.”

—JOHANES LIE, pemilik toko Tomindo Toys

 

Menurut Rusdy Sumantri, Director of Consumer Insight Nielsen Indonesia, perusahaan riset yang digandeng panitia Harbolnas, menyatakan 68% konsumen yang bertransaksi sudah terbiasa berbelanja online, 27% baru pertama kali berbelanja di Harbolnas, dan 5% baru pertama kali berbelanja online.

Tentu saja sebanyak 254 e-commerce yang andil dalam gelaran tahunan ini amat gembira atas angka penjualan yang mereka raih. Mereka bisa memanfaatkan ajang promo ini untuk meningkatkan penjualan, meskipun diskonnya bisa sampai 95%.

“Saya sendiri merasakan kenaikan order yang sangat tinggi di berbagai platform penjualan online saya. Bahkan, melalui salah satu marketplace, saya mendapatkan 3.000 order hanya dalam satu hari,” ungkap Johanes Lie, pemilik toko Tomindo Toys, yang berjualan di berbagai platform e-commerce.

Sebanyak 77% konsumen berbelanja menggunakan perangkat mobile, baik ponsel pintar (smartphone) maupun komputer tablet. Produk-produk yang paling banyak diburu adalah fashion, travel, kosmetika, elektronik, dan top up pulsa atau pembayaran.●

 

● Teks: TechnoBusiness Insight/TechnoBusiness ID 

Foto-Foto: Harbolnas 

● Grafis: Nielsen Indonesia

 

Pasar E-commerce B2C Global pada 2025 Bernilai US$7,7 Triliun

  • Meningkatnya jumlah kelas menengah dan meluasnya penetrasi internet mendongkrak nilai pasar e-commerce B2C.
  • China sedang mengalami revolusi konsumen.

 

San Francisco, TechnoBusiness Meningkatnya penetrasi internet telah memacu laju transaksi e-commerce global, terutama di segmen business to customer (B2C). Berdasarkan data perusahaan riset Grand View Research, Inc. yang berbasis di San Francisco, Amerika Serikat, pasar e-commerce B2C di seluruh dunia bakal mencapai US$7.724,8 miliar pada 2025.

 

Baca Juga: Intel Capital Kucurkan US$8,5 Juta ke EchoPixel

 

Laju pertumbuhan pasar e-commerce B2C itu juga didorong oleh meningkatnya jumlah kelas menengah di berbagai negara. Wilayah Timur Tengah, misalnya, memiliki populasi muda yang dinamis dengan pendapatan per kapita global tertinggi. Kecepatan internet di kawasan itu juga cukup bagus.

China, pasar raksasa dunia, sedang mengalami revolusi konsumen. Kesadaran merek semakin penting dalam menarik konsumen asal Negeri Tirai Bambu itu. Begitu juga dengan permintaan barang mewah di China yang terus meningkat. E-commerce-e-commerce pun sudah mulai memanfaatkan teknologi augmented reality (AR) untuk meningkatkan pengalaman berbelanja. Teknologi itu menarik karena memungkinkan pelanggan mencoba produk secara virtual.

 

Catatan TechnoBusiness:

1. Yang disampaikan kepada media, termasuk TechnoBusiness, tidak ada data nilai pasar e-commerce B2C-nya saat ini.

2. Data yang disampaikan perusahaan-perusahaan riset bisa saja berbeda.

—Philips C. Rubin, TechnoBusiness Foto-Foto: Seeking Alpha