Memahami Lima Elemen Penting “Personal Branding” di Era Digital

Seseorang bisa terkenal, kaya raya, atau malah terpuruk, dalam waktu singkat berkat perkembangan teknologi yang demikian pesat. Berikut ini lima elemen penting yang harus dipahami seseorang dalam membangun citra diri (personal branding) di era digital. 

 

Tidak bisa dimungkiri bahwa dunia digital mampu mengubah semua hal dalam waktu singkat. Orang yang hanya modal pengetahuan bisa tiba-tiba kaya raya dan terkenal karenanya. Sebaliknya, orang yang telah lama populer mendadak disingkirkan pengagumnya juga karenanya.

Begitulah kekuatan teknologi di era digital. Di Indonesia,   kekuatan itu kini dibangun oleh 132,7 juta pengguna internet, 51% dari total penduduk sebanyak 262 juta jiwa. Kekuatan tersebut diyakini akan semakin berlipat jumlahnya dalam waktu singkat.

Pada 2025, misalnya, jumlah populasi penduduk negeri ini diperkirakan akan bertambah menjadi 294 juta jiwa. Jika penetrasi internet semakin besar, kesempatan orang untuk sukses dan terpuruk dalam waktu yang sama semakin besar pula. Untuk urusan personal, kuncinya ada pada bagaimana seseorang membangun citra diri (personal branding) di era digital ini.

Dalam seminar bertema “Personal Branding in Digital Era” yang diselenggarakan John Robert Powers (JRP) Indonesia dan DigitalMarketer.id di Jakarta, Kamis (2/3), Andrew Ardianto, Presiden Direktur JRP Indonesia, mengungkapkan ada lima elemen penting yang harus dipahami seseorang dalam membangun personal branding saat ini.

  1. Values; Nilai-nilai yang kita pegang teguh sebagai integritas kita dalam berperilaku.
  1. Attitude; Sikap kita dalam menyikapi sesuatu hal atau permasalahan dan empati kita terhadap orang lain.
  1. Passion; Hal-hal yang membuat kita bersemangat saat melakukannya.
  1. Goal; Tujuan atau visi pribadi.
  1. Perspectives; Bagaimana sudut pandang kita terhadap sesuatu dan bagaimana kita menyesuaikannya dengan sudut pandang orang lain terhadap hal tersebut.   

“Kelima elemen tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain karena pada akhirnya hal tersebut akan menunjukkan bagaimana level of respect atau seberapa besar kita menghargai diri-sendiri dan orang lain,” jelas Andrew.

Level of respect itu kemudian terpancar dari bagaimana kita berkomunikasi dengan baik secara verbal maupun non-verbal di ranah digital. Jika kita sering mencaci maki orang lain, personal brand kita akan terbentuk seperti itu. Begitu pun sebaliknya.

Sama halnya di dunia nyata, yang harus kita dipahami dalam berkomunikasi di dunia maya adalah perlunya menjunjung tinggi etika. Sopan santun, pemilihan kata, dan pola pikir dalam berinteraksi juga dibutuhkan. “Apalagi sebagian besar teman kita di dunia maya bukan benar-benar mengenal kita,” katanya.**

—Purjono Agus Suhendro, TechnoBusiness Indonesia ● Foto-Foto: TechnoBusiness