TechnoBusiness News
Ternyata 60% Perusahaan di Amerika Belum Adopsi AI Lebih Jauh
The Conference Board melaporkan sebagian besar perusahaan masih dalam tahap awal adopsi AI.
● Penelitian terbaru menemukan bahwa 60% perusahaan sedang mengeksperimennya, tetapi belum mengadopsinya dalam skala besar.
● “Penggunaan teknologi ini terjadi sangat cepat dan ada investasi besar di baliknya, namun dampak terukurnya belum terwujud.”
New York, TechnoBusiness Insights US ● Perbincangan seputar kecerdasan buatan (AI) sangat ramai, tetapi dampaknya di tempat kerja masih terbatas. Penelitian terbaru menemukan bahwa 60% perusahaan sedang mengeksperimennya, tetapi belum mengadopsinya dalam skala besar.
Laporan The Conference Board, yang mensurvei lebih dari 250 pemimpin SDM, menemukan bahwa sebagian besar perusahaan masih dalam tahap awal adopsi AI, dengan kurang dari setengahnya mengintegrasikan ke dalam alur kerja, mengukur dampaknya, atau menerapkannya di seluruh lini perusahaan.
Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa AI belum memberikan dampak yang berarti pada peningkatan karier di perusahaan: Lebih dari setengah pekerja yang disurvei percaya bahwa keterampilan AI dapat meningkatkan peluang promosi mereka, tetapi 56% pemimpin sumber daya manusia (SDM) mengatakan kemampuan AI masih memainkan peran kecil atau tidak sama sekali dalam kemajuan karier.
Terlepas dari kekhawatiran yang meluas tentang hilangnya pekerjaan akibat AI, hanya 6% perusahaan yang menyebut AI sebagai alasan utama pemutusan hubungan kerja (PHK).
“Kita berada di titik balik adopsi AI. Penggunaan teknologi ini terjadi sangat cepat dan ada investasi besar di baliknya, namun dampak terukurnya belum terwujud,” kata Robin Erickson, PhD, Kepala Riset SDM The Conference Board.
Ia menambahkan, para pemimpin sekarang memiliki kesempatan untuk menyelaraskan strategi talenta, pengembangan kepemimpinan, dan perencanaan tenaga kerja dengan kemampuan AI yang sedang berkembang—bukan hanya kasus penggunaan saat ini.
Temuan utama mengenai penggunaan AI tersebut meliputi:
- Adopsi AI semakin meningkat, tetapi sebagian besar perusahaan masih berada di tahap awal.
- 60% perusahaan berada di tahap awal kematangan AI, terutama berfokus pada eksperimen.
- Hanya 11% yang melaporkan integrasi AI yang lebih maju.
- Para pekerja melihat keterampilan AI sebagai kunci kemajuan, tetapi belum menjadi faktor penentu dalam promosi.
- Sedikit lebih dari setengah (52%) pekerja mengatakan bahwa peningkatan keterampilan AI mereka akan memengaruhi peluang promosi mereka setidaknya sampai tingkat moderat.
- Namun, kemampuan AI belum menjadi persyaratan standar untuk promosi, dengan 56% pemimpin SDM mengatakan bahwa hal itu memainkan peran kecil atau tidak sama sekali dalam kemajuan saat ini.
- Perusahaan dengan tingkat kematangan AI yang lebih tinggi cenderung mempertimbangkan kemampuan AI dalam pengambilan keputusan pengembangan, sementara perusahaan pada tahap awal cenderung kurang mempertimbangkannya.
- Pengurangan biaya terus berlanjut—tetapi AI bukanlah pendorong utama.
- PHK tetap umum terjadi, dengan 37% perusahaan melaporkan pengurangan tenaga kerja dalam enam bulan terakhir.
- Hanya 6% yang menyebut AI sebagai alasan utama PHK; restrukturisasi dan tekanan keuangan mendominasi.
- Kerja hibrida tetap menjadi model dominan dan yang paling diinginkan oleh pekerja.
- 51% perusahaan menggunakan pengaturan kerja hibrida.
- Kerja jarak jauh sepenuhnya terus menurun (6%), sementara kerja di kantor sepenuhnya meningkat (43%).
- 83% pekerja menempatkan fleksibilitas tempat kerja sebagai salah satu manfaat terpenting mereka, di luar gaji yang kompetitif.
- Tantangan talenta sangat berbeda di berbagai segmen tenaga kerja.
- 83% perusahaan dengan pekerja industri dan jasa manual melaporkan kesulitan menemukan talenta, dibandingkan dengan 63% untuk pekerja kantor.
- Tantangan retensi lebih dari dua kali lipat lebih tinggi untuk pekerja manual (63%) daripada untuk pekerja kantor (27%).
- Para pemimpin dan pekerja tetap tidak selaras dalam hal pengalaman karyawan.
- Para pekerja secara konsisten menilai kesejahteraan dan keterlibatan mereka lebih tinggi daripada yang dirasakan para pemimpin.
- Kesenjangan terbesar tetap ada dalam kesehatan mental dan kesejahteraan—area yang paling sulit diukur oleh para pemimpin.
“Kerja hibrida, fleksibilitas, dan tekanan talenta bukanlah tren sementara—itu ciri khas tempat kerja modern,” kata Diana Scott, Pemimpin Pusat SDM AS di The Conference Board. “Pada saat yang sama, AI memperkenalkan lapisan transformasi baru yang harus dipersiapkan perusahaan sekarang, meskipun dampak penuhnya belum terwujud.”
Untuk tetap kompetitif dan tangguh, CHRO dan pemimpin bisnis harus:
- Mendefinisikan dan menanamkan kemampuan AI ke dalam pengembangan kepemimpinan dan strategi tenaga kerja, memastikan harapan keterampilan AI dipahami oleh para pekerja.
- Menyeimbangkan disiplin biaya dengan investasi dalam keterampilan masa depan.
- Merancang kerja hibrida dengan tujuan, berfokus pada kolaborasi, pengembangan, dan kesejahteraan.
- Mengatasi kekurangan talenta dengan strategi yang berbeda di seluruh segmen tenaga kerja.
- Meningkatkan pengukuran kesejahteraan dan pengalaman karyawan untuk menutup kesenjangan persepsi.●
Teks: TechnoBusiness Insights US
Data: The Conference Board, Maret 2026
Foto: Pixabay
