Cara Makernesia Memopulerkan Teknologi 3D Printing di Indonesia

  • Dengan teknologi pencetakan 3D (3D printer), segala macam bentuk desain bisa dicetak sesuai bentuk aslinya.
  • “Kami melihat banyak yang belum tahu adanya teknologi mesin cetak tiga dimensi, apalagi memanfaatkannya.”

 

JAKARTA – Meski futurolog Jeremy Rifkin mengatakan pencetakan tiga dimensi (3D printing) telah menjadi sinyal awal dari revolusi industri ketiga sejak akhir abad ke-19, nyatanya teknologi itu belum terlalu merangsek ke semua lini proses manufaktur. Di banyak negara, apalagi negara berkembang seperti Indonesia, 3D printing baru masuk pada tahap mulai dikenal.

Padahal, teknologi 3D printing banyak sekali manfaatnya, di antaranya bisa digunakan untuk membuat prototipe produk baru, elemen robot, hiasan rumah, atau mainan anak. Itu sebabnya, Makernesia, perusahaan rintisan (start-up) yang mewadahi para pembuat inovasi teknologi, giat memperkenalkan teknologi 3D printing.

 

“Kami melihat banyak yang belum tahu adanya teknologi mesin cetak tiga dimensi, apalagi memanfaatkannya.” 

 

Dalam waktu dekat, tepatnya pada Sabtu (18/2), misalnya, Makernesia bekerja sama dengan Autodesk, produsen perangkat lunak komputer, termasuk desain 3D (3D design), akan menggelar “3D Printing Festival” di @america, Pacific Place, Jakarta. Cara itu, kata CEO Makernesia Adiatmo Rahardi, diharapkan dapat memopulerkan penggunaan teknologi 3D printing di Indonesia.

“Kami melihat banyak yang belum tahu adanya teknologi mesin cetak tiga dimensi, apalagi memanfaatkannya, sehingga kami akan menampilkan beberapa 3D printer hasil rakitan anak bangsa,” jelas Adiatmo. “Kami juga akan menghadirkan pakar-pakar 3D printing agar lebih mudah dalam mengedukasi masyarakat.”

Guna memperluas pasar, rencananya mulai tahun ini Makernesia akan lebih aktif menyosialisasikan manfaat teknologi 3D printer kepada masyarakat. Langkah awalnya difokuskan kepada kalangan pelajar dan mahasiswa. “Mereka pasar potensial. Banyak di antara mereka juga belum pernah melihat bentuk 3D printing dan tidak tahu pemanfaatannya untuk apa saja. Lewat festival ini, kami ingin semakin memopulerkan kecanggihan teknologi 3D printer,” lanjut Adiatmo.

 

Di kancah global, beberapa perusahaan telah memanfaatkan 3D printer untuk mencetak kembali berbagai ikon-ikon wisata.

 

Untuk diketahui, 3D printer merupakan mesin cetak tiga dimensi yang memanfaatkan plastik sebagai bahan dasar pencetakannya. Plastik yang dimaksud bisa berjenis acrylonitrile butadiene styrene (ABS) ataupun polylactic acid (PLA), bahan dari biji jagung yang lebih mudah terurai. Teknologi tersebut memungkinkan desain 3D di komputer pengguna dapat langsung dicetak ke wujud sebenarnya.

“Ini cocok juga bagi komunitas-komunitas yang akan mengembangkan berbagai karya seperti komunitas pembuat boneka untuk menghasilkan karya yang bernilai tinggi,” ungkap Adiatmo. “Itu juga pasar potensial yang akan kami garap.”

Di kancah global, beberapa perusahaan telah memanfaatkan 3D printer untuk mencetak kembali berbagai ikon-ikon wisata sebuah kota, umpamanya Menara Eiffel di Prancis, sebuah apartemen premium di China, atau mobil bertenaga surya di Singapura. Catatan: TechnoBusiness Indonesia menjadi salah satu media partner “3D Printing Festival” yang diselenggarakan Makernesia.**

 Vinsensius Segu, TechnoBusiness IndonesiaFoto-Foto: Makernesia, 3Dprint, Istimewa