Carousell Tunjuk Andrius Baranaukas Sebagai Direktur Produk

  • Carousell ingin memperkuat sistem keamanannya dengan meng-acquihire tim WatchOverMe.
  • “Orang merupakan pusat dari produk kami, dan kami mencari keragaman, nilai, dan karyawan yang tepat.”

 

image001Sepertinya sepak terjang Carousell di dunia e-commerce global tidak bisa dipandang sebelah mata. Baru beberapa hari lalu membuat pengumuman telah memperbarui fitur pencarian dan penemuan barang dengan menghadirkan 80 sub-categories, kini Carousell lagi-lagi membuat gebrakan. Kali ini, tepat 1 September, mobile classifieds app asal Singapura itu menyatakan telah meng-acquihire produk WatchOverMe beserta tim teknisinya.

Tidak hanya itu, Carousell juga merekrut veteran teknologi Andrius Baranaukas, head of product marketplace untuk preloved Vinted, menjadi direktur produk. Langkah itu, seperti dikatakan oleh Siu Rui Quek, salah satu pendiri sekaligus Chief Executive Officer Carousell, untuk memperbarui kepercayaan dan sistem keamanan serta kemampuan berbasis lokasi Carousell.

Sebagai salah satu perusahaan rintisan (startup) berbasis teknologi di Asia Pasifik yang berkembang cukup cepat, saat ini Carousell mempekerjakan tim teknisi dari delapan kewarganegaraan, di antaranya Singapura, Malaysia, Indonesia, Ukraina, Lituania, India, dan Taiwan. Akuisisi tim tersebut juga menjadi wujud persiapan dalam membangun tim berkelas dunia yang akan segera mempercepat pertumbuhannya ke pasar-pasar baru.

“Orang merupakan pusat dari produk kami,” kata Quek. “Dan, kami mencari keragaman, nilai, dan karyawan yang tepat untuk membawa kami lebih dekat demi melayani komunitas global. Produk dan tim teknisi menjadi dua kali lipat sejak awal tahun, dan kami sangat fokus untuk memberikan pembaruan produk yang akan membantu kami tumbuh ke tahap berikutnya.”

ANDRIANUS BARANAUKAS Director of Product Carousell
ANDRIANUS BARANAUKAS, Director of Product Carousell

Apa yang dikatakan Quek dibenarkan oleh Abraham Krisnanda. Abraham, alumnus Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung, yang kini menjadi software engineer, mengatakan senang bisa bergabung dengan Carousell. “Tim di sini sangatlah beragam dan setiap orang senang dengan apa yang mereka lakukan,” katanya.

Dengan bertumbuhnya perusahaan, tim Carousell mengaku berhasil memecahkan tantangan-tantangan baru yang menarik. Masuknya Baranaukas ke Carousell akan memperkuat pemecahan-pemecahan baru itu. Sebab, Baranaukas merupakan orang yang memelopori transformasi Vinted dari semula hanya dapat diakses melalui desktop menjadi mobilefirst.

Selain itu, Baranaukas juga berperan menjadikan merek Vinted sebagai marketplace mode terbesar di dunia dengan lebih dari 11 juta anggota di delapan negara. Pengalamannya dalam membangun layanan komunitas seperti chat, penemuan dan logistik, dinilai cocok untuk meningkatkan kemampuan Carousell. Ditambah kemampuan para teknisi WatchOverMe, tim acquihire pertama Carousell.

“Kami sangat beruntung orang-orang berbakat ini dapat bergabung dengan kami di saat kami melihat bagaimana Carousell dapat memperbaiki hidup setiap orang. Memperbarui kepercayaan dan keamanan, pembayaran dan logistik, juga penting untuk mendorong pertumbuhan Carousell selanjutnya. Dan, kami secara senantiasa mencari tim lainnya dengan nilai dan minat yang sama,” jelas Quek.● –Philip C. Rubin; TechnoBusiness


Data TechnoBusiness

carousellCarousell merupakan mobile classifieds app yang menjual semudah mengambil foto dan membeli segampang chatting. Aplikasi yang berbasis di 71 Ayer Rajah Crescent, Queenstown, Singapura, ini diluncurkan pada 1 Mei 2012 di Singapura, kemudian di Taiwan pada 4 Desember 2014, Malaysia pada 9 Desember 2014, dan Indonesia pada 16 Desember 2014. Kini, aplikasi ini telah memiliki 35 juta listing dari 13 negara. Semula pada Maret 2012 Carousell memenangi ajang Startup Weekend Singapore 2012. Lalu, sebulan kemudian kembali memenangi Venture Ideation Grant senilai S$7.000 dari NUS Enterprise. Selanjutnya, berbagai pendanaan terus diraih, termasuk mendapatkan pendanaan awal S$1 juta dari Rakuten Ventures, Golden Gate Ventures, 500 Startups, Danny Oei Wirianto, dan serial entrepreneur Darius Cheung. Pada Agustus 2016, Carousell mengumumkan telah memperoleh tambahan pendanaan Seri B sebesar US$35 juta dari Rakuten Ventures dan Sequoia India, Golden Ventures, dan 500 Startups.


 

Lyke Mendapatkan Pendanaan Seri A Senilai US$4 Juta

  • Lyke memperoleh investasi seri A dengan besaran mendekati US$4 juta dari sejumlah modal ventura yang dipimpin Holtzbrinck Ventures asal Jerman.
  • “Pengguna kami menyukai Lyke yang mengakibatkan angka retention rate dan engagement rate jauh melebihi target.”

 

Lyke, aplikasi mobile untuk produk fashion dan kecantikan yang dikembangkan di Indonesia sejak 2015, mengaku telah berhasil menarik 1 juta pengunduh hanya dalam waktu enam bulan sejak peluncurannya. Pada Senin (29/8), Lyke menyatakan mendapatkan investasi baru senilai hampir US$4 juta atau sekitar Rp53 miliar dari beberapa perusahaan modal ventura yang dipimpin Holtzbrinck asal Jerman. Bersama-sama dalam investasi Seri A itu ada APACIG dari Singapura.

EXCLUSIVE MEDIA SESSION with LYKE_1 okeBukan sekadar jumlah unduhannya yang besar, Lyke diincar investor karena kini aplikasi ini telah memiliki lebih dari 150.000 item produk dalam satu platform. Padahal, platform yang digunakan ada dua, yakni Android dan iOS. Selain itu, Lyke juga berhasil meraup 30.000 order dalam satu bulan.

Jika melihat formatnya, Lyke menargetkan pasar anak muda yang sudah terbiasa menggunakan ponsel pintar (smartphone) dan penggila fashion. Sama seperti aplikasi sejenis atau marketplace di bidang fashion, aplikasi ini menawarkan kemudahan berbelanja bagi pengguna. Dengan aplikasi ini, pengguna bisa menemukan produk fashion terbaru favorit mereka.

Seperti kita ketahui, keunggulan dari teknologi digital adalah penyedia aplikasi dapat mendeteksi kebiasaan pengguna. Dengan demikian, data yang terekam itu kemudian dapat dimanfaatkan oleh penyedia aplikasi untuk melayani pengguna secara lebih personal. Misalnya, pengguna akan mendapatkan informasi produk baru atau produk diskon yang disampaikan antarpelanggan bisa jadi berbeda.

Menurut pengamat e-commerce Purjono Agus Suhendro, aplikasi Lyke bagus karena mempermudah pengguna dalam mencari produk-produk fashion terbaru. “Akan tetapi, bagusnya itu masih biasa saja sebab tidak ada hal unik jika dibandingkan dengan kompetitornya seperti Carousell dan Sale Stock yang berkantor pusat di Singapura atau aplikasi Lazada, marketplace untuk produk-produk gadget dan lain sebagainya,” katanya.

Walau begitu, Purjono melanjutkan, karena dunia e-commerce di Indonesia masih tergolong baru, ceruk pasarnya masih sangat besar. Jadi, apa pun yang ditawarkan akan diterima pasar dengan baik. “Soal teknologi sebenarnya sama saja. “Masalah utamanya sekarang adalah seberapa pintar dan tepat penyedia aplikasi itu menyusun strategi pemasarannya serta mendapatkan investor-investor baru untuk memperkuat layanannya,” tuturnya kepada TechnoBusiness di Jakarta, Selasa (30/8).

Sebab, dengan campur tangan para pemodal ventura, terutama dari luar negeri, penyedia aplikasi akan mendapatkan pembaruan teknologi sekaligus pendanaan yang kuat. “Sekarang ini kan perangnya sudah perang kuat-kuatan pendanaan yang berimbas pada siapa bertahan dan siapa yang mati. Yang kecil sudah pasti mati atau sekadar hidup saja,” ungkapnya.

Pendanaan dari Holtzbrinck asal Jerman dan Asia Pacific Internet Group (APACIG) asal Singapura ke Lyke diprediksi baru sebuah awal. Baru seri A. Pendanaan seri B, C, dan seterusnya bisa saja diperoleh dalam waktu yang tidak terlalu lama. Yang pasti, “Kami akan terus berusaha lebih keras dalam memberikan pengalaman berbelanja yang terbaik untuk konsumen Indonesia. A onestop shop memudahkan pengguna untuk menemukan toko-toko, produk, dan promosi terbaru tanpa harus memeriksa puluhan website, buletin, ataupun akun instagram,” ucap Bastian Purrer, Chief Executive Officer Lyke.

Lyke, lanjut Purrer, telah berkembang dengan mendengarkan pengguna dan berinvestasi dalam produk secara konsisten dan berencana akan terus melakukannya. Para pengguna menyukai Lyke sehingga angka retention rate dan engagement rate jauh melebihi target. Nilai conversion rate-nya sebanyak e-commerce, namun dengan user engagement rate sebanyak aplikasi media sosial.● Susan Shandow; TechnoBusiness


Data TechnoBusiness

Logo LykeLyke merupakan aplikasi marketplace mobile berplatform Android dan iOS yang menawarkan produk-produk fashion dan kecantikan asal Indonesia yang didirikan pada 2015. Di dalamnya terdapat 150 toko dengan lebih dari 150.000 item produk yang ditawarkan. Dalam enam bulan pertama, aplikasi ini sudah diunduh oleh 1 juta pengguna ponsel pintar. Belum lama ini, Lyke memperoleh pendanaan Seri A dari Holtzbrinck Venture asal Jerman dan Asia Pacific Internet Group asal Singapura.


 

Carousell Permudah Carousellers dengan Fitur Baru

  • Dengan 35 juta lebih listing yang ada, penemuan sub-categories secara manual dinilai sudah tidak efektif lagi.
  • “Sekarang Carousellers dapat memilih lebih dari 80 sub-categories saat mereka mendaftarkan sebuah produk untuk dijual.”

 

Carousell, mobile classifieds app asal Singapura, memperkenalkan sub-categories sebagai bagian dari pembaruan fitur pencarian dan penemuan barang untuk mempermudah pengguna. Dengan fitur baru tersebut, Carousellers, sebutan para penjual di Carousell, semakin mudah menemukan “rumah baru” bagi barang-barang yang ditawarkannya.

LUcas NGOO Co-Founder dan CTO Carousell
LUCAS NGOO
Co-Founder dan CTO Carousell

Ada 80 sub-categories yang dapat dipilih Carousellers saat mendaftarkan produk untuk dijual atau saat mencari barang. Beberapa sub-categories yang dimaksud adalah fashion, elektronik, gadget, serta kebutuhan orang tua dan anak. Sementara itu, Carousellers dari Indonesia diketahui telah mendaftarkan ribuan barang fashion preloved seperti tas, dompet, aksesori, pakaian, sepatu, jam tangan, perhiasan, dan pakaian muslim.

Menurut Lucas Ngoo, salah satu pendiri sekaligus Chief Technology Officer Carousell, Carousellers menyukai sensasi menjual barang atau menemukan barang bagus dengan cepat. “Dengan lebih dari 70 listing baru yang ditambahkan setiap menit, kami perlu terus memperbarui penemuan bagi pengguna untuk mendapatkan pengalaman menyenangkan di Carousell,” katanya.

Cathy Wulandari Bharata, ibu rumah tangga yang aktif membeli di Carousell, mengakui bahwa ia suka berbelanja di mobile classified app ini karena dapat menemukan hampir semua barang yang ia cari. Barang yang ia cari biasanya berupa produk kecantikan, gadget, hingga barang mewah. “Sebelumnya saya butuh lebih banyak waktu untuk memilih barang yang saya inginkan,” ungkapnya.

Pembaruan fitur ini termasuk gawean besar bagi tim Carousell yang dikerjakan selama berbulan-bulan. Tim tersebut menyisir ribuan kata kunci untuk memilih kata-kata yang paling sering dipakai di setiap pasar demi menemukan sub-categories yang sesuai dengan para pengguna. Daftar sub-categories-nya pun telah disesuaikan dengan pasar lokal setempat yang berarti berbeda antara di Indonesia dan Singapura.● —Matthew Hoffman; TechnoBusiness 

 


Data TechnoBusiness

carousellCarousell merupakan mobile classifieds app yang menjual semudah mengambil foto dan membeli segampang chatting. Aplikasi yang berbasis di 71 Ayer Rajah Crescent, Queenstown, Singapura, ini diluncurkan pada 1 Mei 2012 di Singapura, kemudian di Taiwan pada 4 Desember 2014, Malaysia pada 9 Desember 2014, dan Indonesia pada 16 Desember 2014. Kini, aplikasi ini telah memiliki 35 juta listing dari 13 negara. Semula pada Maret 2012 Carousell memenangi ajang Startup Weekend Singapore 2012. Lalu, sebulan kemudian kembali memenangi Venture Ideation Grant senilai S$7.000 dari NUS Enterprise. Selanjutnya, berbagai pendanaan terus diraih, termasuk mendapatkan pendanaan awal S$1 juta dari Rakuten Ventures, Golden Gate Ventures, 500 Startups, Danny Oei Wirianto, dan serial entrepreneur Darius Cheung. Pada Agustus 2016, Carousell mengumumkan telah memperoleh tambahan pendanaan Seri B sebesar US$35 juta dari Rakuten Ventures dan Sequoia India, Golden Ventures, dan 500 Startups.