Mengapa Xiaomi Memilih Batam Sebagai Lokasi Pabriknya?

  • Xiaomi bersama Erajaya, Sat Nusapersada, dan TSM Technologies memilih Batam, Kepulauan Riau, sebagai lokasi pabrik barunya di Indonesia.
  • “Kami berkomitmen untuk mendayagunakan kemampuan produksi lokal dalam pembuatan ponsel pintar kami.”

 

JAKARTA – Xiaomi Inc., vendor ponsel pintar yang berbasis di Beijing, China, memilih Batam, Kepulauan Riau, sebagai lokasi pabrik barunya di Indonesia. Produsen teknologi perangkat bergerak yang didirikan Lei Jun, mantan chairman dan CEO perusahaan publik Hong Kong, King Soft, pada 6 April 2010 itu membuka pabrik tersebut bersama mitra lokalnya, seperti PT Erajaya Swasembada Tbk., PT Sat Nusapersada Tbk., dan TSM Technologies.

Xiaomi menyatakan pembukaan pabrik di Indonesia itu merupakan bukti komitmen perusahaan dalam menggarap pasar lokal. Selain itu, juga sebagai langkah untuk mengikuti aturan terkait Tingkat Kandungan Dalam Negeri yang diterbitkan pemerintah. “Memulai produksi lokal di Indonesia merupakan sebuah bukti akan pentingnya pasar ini bagi Xiaomi,” kata Senior Vice President Xiaomi Wang Xiang. “Ini sekaligus menandai komitmen kami untuk terus tumbuh di Indonesia.”

 

Baca Juga: Vivo V5 Plus, Ponsel Pintar Berkamera Ganda 20 MP

 

Batam dipilih sebagai basis produksi lantaran kepulauan tersebut merupakan wilayah strategis di antara tiga negara, yakni Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Karena letaknya yang strategis, Batam juga menjadi kota industri dan pusat transportasi sekaligus zona perdagangan bebas. Pabrik tersebut dibangun setelah Xiaomi masuk ke Indonesia pertama kalinya pada Agustus 2014 dengan mengusung ponsel pintar Redmi 1S.

Sementara itu, pabrik barunya di Batam memproduksi ponsel pintar perdana, Redmi 4A. Redmi 4A yang memiliki berat 131,5 gram itu didukung prosesor Qualcomm Snapdragon 425. Untuk koneksinya menggunakan dua slot SIM hingga memungkinkan layanan jaringan 4G. Ponsel tersebut dibekali baterai 3120 mAh, kapasitas daya yang umum ditawarkan vendor ponsel pintar saat ini. Melihat harganya yang hanya Rp1,49 juta, sepertinya Xiaomi memilih menyasar pasar menengah bawah yang besar.

Redmi 4A akan didistribusikan oleh PT Teletama Artha Mandiri, anak perusahaan Erajaya, dan disebarkan melalui jaringan toko-toko ponsel Erafone mulai akhir Februari. “Kami sangat gembira melihat kemajuan Xiaomi yang signifikan di Indonesia dan kami akan menantikan lebih banyak produk lokal,” ungkap CEO Erajaya Hasan Aula ketika pengumuman pabrik baru Xiaomi di Jakarta, Jumat (10/2). Erajaya telah bekerja sama dengan Erafone sejak produk-produk Xiaomi pertama kali dipasarkan di Indonesia.

Apa yang diharapkan Hasan pun direspons Xiaomi. Head of Southeast Asia sekaligus Country Head of Indonesia Steven Shi menyatakan Xiaomi dapat berperan penting membangun kemampuan negara ini dalam memproduksi, baik berupa perangkat keras maupun lunak, ponsel pintar melalui pabrik lokal. “Melalui produksi lokal, kami dapat membawa lebih banyak lagi produk menarik untuk masyarakat Indonesia,” katanya.

 

Baca Juga: Huawei Tawarkan Ponsel Pintar P9 Lite ke Pasar Indonesia

 

Xiaomi merupakan salah satu vendor perangkat bergerak yang fenomenal. Tidak lama setelah didirikan oleh Lei Jun pada Agustus 2011, Xiaomi langsung mendapat posisi pasar yang cukup besar di China daratan usai mengalahkan Samsung, merek asal Korea Selatan. Begitu berhasil di dalam negerinya, Xiaomi langsung melaju bahkan melonjak ke posisi tiga sebagai merek ponsel pintar terbesar di dunia pada 2014 berdasarkan data dari lembaga riset IDC. Posisinya di bawah Samsung dan Apple asal Paman Sam.

Lonjakan penjualan itu mengalahkan merek global asal China yang lebih dulu eksis, yakni Lenovo, dan merek LG asal Korea Selatan, dan mengantarkannya menjadi perusahaan bernilai US$10 miliar. Namun demikian, Xiaomi belum kokoh di Indonesia. Dari 8,3 juta ponsel pintar yang dikapalkan ke Indonesia pada kuartal empat 2015, penjualan Xiaomi masih kalah jauh dibanding vendor-vendor lainnya. Menurut IDC, pasar ponsel pintar Indonesia kini dikuasai oleh Asus asal Taiwan, Samsung, Smartfren asal Indonesia, Lenovo, dan Advan dari Indonesia.**

Alvito Makki, TechnoBusiness IndonesiaFoto-Foto: Xiaomi

Inilah Nama Keluarga Paling Populer di Amerika

  • Meski ras dan etnis bangsa Amerika semakin beragam, nama keluarga paling populer pada 2010 masih sama dengan 2000.
  • Smith, Johnson, Williams, Brown, dan Jones adalah deretan nama terakhir yang paling umum.

 

WASHINGTON – Biro  Sensus Amerika Serikat (United States Census Bureau) baru saja merilis 1.000 nama keluarga yang paling umum di negara itu. Meski ras dan etnisnya semakin beragam, lima nama keluarga yang paling populer pada 2010 masih sama dengan 2000.

“Smith, Johnson, Williams, Brown, dan Jones merupakan nama-nama terakhir yang paling populer,” sebut biro sensus tersebut. Selain itu, populasi yang berkembang telah mendorong nama keluarga Hispanik naik peringkat sejak 2000.

Garcia, misalnya, menempati urutan keenam yang paling biasa digunakan, naik dari posisi delapan pada 2000. Dua nama keluarga Hispanik lain yang masuk 10 besar daftar terkait yaitu Rodriguez dan Martinez.

Biro Sensus AS mendapatkan data itu dari sensus kepada 6,3 juta respondens. Dari jumlah itu, 11 nama disebutkan sampai lebih dari 1 juta kali, sedangkan 62%-nya hanya sekali. “Beberapa variasi unik atau nama unik lebih sering,” kata Joshua Comenetz, Asisten Kepala Staf Divisi Populasi Biro Sensus AS.

Frekuensi nama keluarga dari Latino dan dari Asia menunjukkan bahwa pertumbuhan populasi di Amerika Serikat memang terjadi. Tiga dari 15 yang paling cepat berkembang dari kaum Hispanik antara lain Vazquez (naik 63%), Bautista (59%), dan Velazquez (59%). Nama-nama dari Asia juga amat cepat menyebar, seperti Zhang (naik 111%), Li (93%), dan Khan (63%).**

—Philips C. Rubin, TechnoBusinessGrafis: US Census Bureau  

Menggaet Ide Gila Inovasi Energi Baru ala Pertamina

  • Dalam upaya mendukung pengembangan dan pemanfaatan energi baru dan terbarukan, Pertamina menyelenggarakan kompetisi Pertamina d’Gill atau ide gila terkait hal itu.
  • Kompetisi yang diperuntukkan bagi pelajar, profesional, dan perusahaan ini berhadiah total Rp500 juta.

 

JAKARTA – Perusahaan minyak dalam negeri, PT Pertamina, mengadakan kompetisi inovasi bisnis teknologi seputar energi baru dan terbarukan. Kompetisi yang dinamakan Pertamina d’Gil (ide gila) itu berlangsung mulai 7 Desember 2016 hingga 5 Maret 2017.

Menurut Vice President Corporate Communications Pertamina Wianda Pusponegoro, kompetisi itu bertujuan untuk menggalang partisipasi masyarakat dalam diversifikasi dan konservasi energi sesuai komitmen perseroan.

“Ini salah satu cara dan wadah untuk mengeksplorasi ide inovatif terkait bisnis energi baru dan terbarukan melalui sarana mentoring hingga pendanaan,” kata Wianda. “Sehingga dapat ditransformasikan menjadi sebuah bisnis yang memungkinkan untuk dikembangkan dan diimplementasikan sebagai pengganti energi konvensional.”

Ini juga selaras dengan langkah Pertamina yang sedang mempertimbangkan untuk masuk ke semua lini bisnis energi baru dan terbarukan. Bukan sekadar offtaker, melainkan juga menjadi produsennya. “Dan, Pertamina d’Gil ini merupakan ajang kompetisi yang diperuntukkan bagi pelajar, profesional, dan perusahaan yang mampu membuat konsep tentang energi baru dan terbarukan,” terangnya.

Ada dua kategori tema yang disayembarakan dalam Pertamina d’Gil, yakni Ide Bisnis Inovatif serta Terobosan Produk dan Teknologi. Kompetisi ini akan dinilai oleh pakar manajemen Rhenald Kasali dan creative entrepreneur Yoris Sebastian dan memperebutkan hadiah senilai total Rp500 juta.

Selain itu, pemenang akan diajak creative trip, mengikuti coaching clinic, experiential learning, mentoring, dan kolaborasi mentoring. Ide-ide terbaik akan dikembangkan sehingga bermanfaat bagi masyarakat. Untuk menyukseskan kompetisi ini, Yoris mengatakan, akan diadakan roadshow ke berbagai kota seperti Depok, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, dan Makassar.**

Intan Wulandari, TechnoBusiness Indonesia ● Foto-Foto: Pertamina