Incar US$46 Miliar Pasar CRM, SAP Akuisisi Callidus Software Inc.

California dan Walldorf, TechnoBusiness ● SAP SE (NYSE: SAP), perusahaan perangkat lunak (software) global yang berbasis di Walldorf, Baden-Wurttemberg, Jerman, akhirnya menyelesaikan proses akuisisi terhadap Callidus Software Inc. (Nasdaq: CALD), perusahaan penyedia aplikasi finansial asal Dublin, California, Amerika Serikat.

 

Baca Juga: Tak Puas dengan Jawaban Facebook, Kemkominfo Beri Peringatan Kedua

 

Akuisisi senilai US$2,4 miliar itu akan memperkuat SAP dalam menyediakan solusi-solusi layanan pengalaman pelanggan (intelligence customer experience suite). Sebab, CallidusCloud, layanan yang dipasarkan Callidus Software, telah kokoh di pasar manajemen kinerja penjualan (sales performance management) dan configure-price-quote (CPQ).

Pascaakuisisi yang diumumkan pada 5 April 2018, Callidus akan menyediakan solusi customer relationship management (CRM) berbasis cloud untuk SAP dan pelanggannya. Sehingga SAP berpotensi meraih posisi terdepan di pasar CRM global yang bernilai US$46 miliar.

Strategi yang akan diambil SAP yaitu mengonsolidasikan layanan CallidusCloud ke dalam portofolio SAP Hybris, bagian dari SAP Cloud Business Group. “Dengan meningkatkan solusi CRM kami dengan CallidusCloud, kami berbagi strategi untuk menyediakan pengalaman pelanggan secara lengkap,” ungkap Rob Enslin, anggota dewan direksi SAP SE dan Presiden SAP Cloud Business Group.

Pada tahun fiskal 2017, CallidusCloud membukukan pendapatan sebesar US$253,1 juta—dengan pendapatan berlangganan senilai US$198,2 juta. Untuk itu, SAP berani mengambil alih Callidus Software dengan konversi US$36 per saham secara tunai. Kedua perusahaan telah melaporkan kepada Bursa Saham Nasdaq atas aksi korporasi tersebut dan meminta penghentian perdagangan untuk kemudian di-delisting.

Akuisisi SAP terhadap Callidus Software itu dinilai positif oleh berbagai analis. Paul Greenberg, pendiri sekaligus Managing Principal The 56 Group, menyatakan dua akuisisi terakhir yang dilakukan SAP, yakni terhadap Gigya Inc.—perusahaan teknologi yang didirikan di Tel Aviv, Israel, tapi berkantor pusat di Mountain View, California, pada akhir 2017—dan Callidus Software merupakan akuisisi terbaik yang dibuat siapa pun dan di mana pun dalam beberapa tahun terakhir.

“Kini, pasar siap menggantikan penerapan legacy karena legacy dapat menjadi rumit untuk digunakan karena ketergantungan mereka pada aturan yang telah dikonfigurasi sebelumnya yang sulit dan mahal untuk dikelola,” tambah Sheryl Kingstone, Research, Customer Experience, dan Commerce Director 451 Research.

—Philips C. Rubin, TechnoBusiness ● Foto-Foto: SAP

 

Manfaatkan Equinix Cloud Exchange, DCI Hadirkan DCI CloudConnect

  • DCI CloudConnect menghadirkan layanan interkoneksi yang lebih privat, tapi tetap dapat mengendalikan infrastruktur on-promise.
  • Produk tersebut akan memperbaiki interkoneksi ke penyedia layanan cloud dengan keamanan maksimal.

 

Jakarta, TechnoBusiness ID ● DCI Indonesia, pusat data (data center) pertama yang meraih Uptime Institute Design Certified Tier IV di Asia Tenggara, meluncurkan layanan terbarunya, yaitu DCI CloudConnect. Peluncuran layanan baru itu merupakan hasil kerja sama dengan Equinix, Inc. ((Nasdaq: EQIC), perusahaan interkoneksi dan pusat data global.

 

Baca Juga: Lajang Malaysia Lebih Aktif Berkencan Online daripada Negara Lain

 

CEO DCI Indonesia Toto Sugiri menjelaskan bahwa DCI memanfaatkan Equinix Cloud Exchange yang ada di Singapura untuk menghadirkan DCI CloudConnect di Tanah Air. Dengan layanan melalui jaringan yang lebih privat itu, perusahaan-perusahaan akan mendapatkan akses langsung ke penyedia layanan cloud global seperti Microsoft.

“DCI CloudConnect akan memperbaiki koneksi ke penyedia layanan cloud dengan keamanan maksimal, latency lebih rendah, dan lebih andal,” kata Toto di Jakarta, Senin (7/8). “Produk DCI CloudConnect mendorong solusi Hybrid Multi-Cloud, di mana penyimpanan dan pengolahan data akan tetap berada di Indonesia.”

 

 

Berdasarkan penelitian perusahaan riset global berbasis di San Antonio, Texas, Amerika Serikat, Frost & Sullivan, nilai belanja layanan cloud di Indonesia diperkirakan akan tumbuh rata-rata (CAGR) 38,6% selama 2016-2022. Itu berarti akan menjadi pasar dengan pertumbuhan cloud tercepat di Asia Tenggara.

“Indonesia diperkirakan menjadi salah satu negara yang memiliki pertumbuhan cloud tercepat di Asia Tenggara dan kami senang Equinix dapat mendukung DCI untuk memenuhi permintaan akan interkoneksi dan layanan pusat data premium di pasar ini dan menghadirkan produk DCI CloudCOnnect,” ungkap Managing Director Equinix South Asia Clement Goh.●

 —Anwar Ibrahim, TechnoBusiness ID ● Foto-Foto: DCI Indonesia