Strategi Jet Commerce Taklukkan Pasar E-commerce

Jakarta, TechnoBusiness ID ● Sama halnya dengan pasar konvensional, pasar e-commerce Tanah Air amat menggiurkan.

Firma konsultasi manajemen global McKinsey Company menyebut nilai pasar di ranah online nasional pada 2017 sudah mencapai US$8 miliar.

Angka itu diyakini bakal melonjak signifikan hingga delapan kali lipat menjadi US$65 miliar pada 2022. Lonjakan itu didorong oleh ekspansi bisnis offline ke online.

Baca Juga: Mengenal Crowde, Platform untuk Permodalan Petani

Itu sebabnya, Jet Commerce, penyedia solusi e-commerce terpadu yang didirikan di Indonesia pada 2017, semakin serius menggarap pasar e-commerce.

Setelah mengawali bisnis dengan menjadi authorized channel partner Alibaba.com, kini perusahaan tersebut menawarkan all in solution bagi pemilik merek.

“Di Jet Commerce, kami terus melakukan inovasi layanan dalam menyediakan berbagai solusi yang dapat mendukung tumbuh kembangnya bisnis e-commerce,” ungkap Oliver Yang, CEO Jet Commerce, di Jakarta, Selasa (23/10).

Firma konsultasi manajemen global McKinsey Company menyebut nilai pasar di ranah online nasional pada 2017 sudah mencapai US$8 miliar.

Sebagai perusahaan all in solution di industri e-commerce, Jet Commerce menawarkan berbagai layanan.

Layanan itu mulai dari pendirian gerai resmi (offline store) di beragam saluran pemasaran digital, online strategy, digital marketing, search optimization, customer service, hingga fulfillment.

Jet Commerce juga membentuk layanan Jet Service untuk membantu pengembangan merek (brand building) pelanggan.

Layanan yang diberikan Jet Service meliputi fotografi produk, branding, produksi video, dan promotional printed media.

Baca Juga: Founda, Wadah Belajar Berbisnis Kaum Milenial

“Seluruh layanan tersebut khusus kami hadirkan untuk melengkapi solusi segmen business to customer dan business to business kami,” jelas Yang.

Setelah kini merambah pasar Asia Tenggara, Jet Commerce berpeluang membantu mengglobalkan produk lokal.

Hingga 2017, menurut Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, nilai ekspor produk usaha mikro, kecil, dan menengah tercatat baru sebesar US$28,21 miliar atau 17% dari total nilai ekspor Indonesia.

Nilai itu masih kalah dari Filipina yang tercatat sudah sekitar 25%, Malaysia 28%, dan Thailand 35%.●

—Ivan Darmawan, TechnoBusiness ID ● Foto: Jet Commerce

 

Model O2O Terbaru Suning.com Dongkrak Penjualan 155%

Nanjing, TechnoBusiness ● Suning.com, perusahaan online to offline (O2O) smart retailer terbesar di China milik Suning Holding Group, berhasil membukukan penjualan dengan peningkatan hingga 155% dibanding tahun lalu dalam ajang tahunan 818 keenam kemarin.

Peningkatan itu diperoleh setelah Suning, perusahaan yang pada 2017 berada di urutan kedua daftar 500 perusahaan swasta terbesar di Tirai Bambu, menggabungkan antara strategi O2O dengan konsep smart retail terbaru.

Baca Juga: Pasar Blockchain Otomotif Bernilai US$1,6 Miliar

Selain itu, Suning juga mendorong aplikasinya menjadi yang paling banyak diunduh selama sembilan hari selama festival. Sementara jumlah pengguna aktif meningkat 97% dibanding tahun lalu, menjadikan festival belanja tersukses sepanjang yang pernah diselenggarakan.

“Festival 818 tahun ini merupakan ajang pertama yang menyoroti manfaat strategi smart retail Suning yang baru,” kata Zhang Jindong, Chairman Suning Holdings Group, di Nanjing, China, Kamis (23/8). “Setiap tahun kami ingin melampaui kesuksesan tahun-tahun sebelumnya, dan tahun ini kami telah mencapai lompatan kuantum.”

Lompatan kuantum yang dimaksud Zhang tidak hanya dari segi skala, tapi juga promosi konsep baru Suning tentang ritel dan gaya hidup masa depan. Perusahaan melakukannya melalui solusi canggih serta keterhubungan antara berbagai skenario konsumsi yang berbeda.

Baca Juga: Strategi AirAsia Dorong Pertumbuhan Lewat Data

Selanjutnya, Suning juga mengedepankan peningkatan keterlibatan pelanggan demi mencapai pengalaman ritel yang lebih baik. Dalam penjelasan perusahaan, Suning menggabungkan aktivitas O2O demi menciptakan pengalaman yang immersive bagi konsumen.

Strategi smart retail Suning fokus pada masa depan ritel yang memanfaatkan kemajuan teknologi baru dan menggabungkan skenario pembelian yang berbeda. “Ini dilakukan demi menghadirkan pengalaman O2O yang inovatif bagi konsumen,” ungkap Zhang.

Tujuan lainnya yaitu demi menghidupkan kembali kawasan pusat bisnis (high street) serta menjadikan aktivitas belanja lebih menarik dan menyenangkan. Pengiriman pesanan pun menggunakan beberapa pilihan, mulai dari menggunakan drone hingga layanan kendaraan swakemudi.

Pemilik gerai dan konsumen dapat memperoleh manfaat dari layanan keuangan canggih milik Suning, yang memungkinkan konsumen berhemat hingga RMB38 juta. Layanan keuangan itu juga memberi dukungan kepada pemilik gerai mitra Suning hingga RMB3 miliar lebih.

Baca Juga: 10 Perusahaan Internet dengan Kapitalisasi Pasar Terbesar 

Sampai saat ini, setidaknya ada 6.753 gerai fisik milik Suning yang berpartisipasi dalam festival, termasuk toko ritel, pusat perbelanjaan, hotel, toko olahraga, bioskop, supermarket SuFresh, dan CVS, selama 25 hari.

Lebih dari 1.000 Suning Retail Cloud Stores memberdayakan pasar konsumen kota dengan pertumbuhan bulanan mencapai 267% selama festival belanja. Pada 18 Agustus, 1.356 layanan ritel “kilometer terakhir” milik Suning CVS melayani lebih dari 20 juta pelanggan dengan penjualan naik hingga 662%.

Selama festival 818 berlangsung, Suning menggelar Spree-topia. Acara itu berhasil menarik minat lebih dari 60.000 pengunjung pop-up store dan ditonton sebanyak 150 juta kali. Suning juga membuat ruang berbagi konten antara influencer dengan pelanggan yang dinamai The Number 1 Buyer.

Menurut data yang diterima TechnoBusiness, selebriti dan influencer lainnya yang telah menjalankan visi baru Suning tentang ritel masa depan mencapai 5.000 orang. Topik yang tercipta mencapai 80 juta lebih.●

—Zhang Ju, TechnoBusiness/PRN ● Foto: Suning.com

 

iPrice Group Panen Investasi Lagi

Kuala Lumpur, TechnoBusiness ID · iPrice Group, platform pembanding harga produk terkemuka di Asia Tenggara, baru saja mengumumkan telah memperpanjang putaran pendanaan terakhirnya. Pendanaan kali ini diperoleh dari Naver Corporation asal Korea Selatan.

Investasi itu didapat langsung dari Naver, pemilik aplikasi pesan instan Line. Investasi itu diperoleh hanya tiga bulan setelah empat pemodal ventura (venture capital) mengucurkan dana Seri B hingga US$4 juta ke iPrice.

Baca Juga: Oakley Capital Akuisisi cPanel Inc

Keempat pemodal ventura itu antara lain Venturra Capital dari Jakarta, Line Corporation dan Naver Corporation asal Korea Selatan, serta Cento Ventures dari Singapura. Sayangnya, pendanaan dari Naver kali ini tidak diketahui seberapa besar nilainya.

“Naver tidak hanya mengoperasikan mesin pencari terkemuka di Korea Selatan, tapi juga mampu membangun mesin belanja dan perbandingan harga yang mengagumkan di pasar domestiknya,” ungkap David Chmelar, CEO dan co-founder iPrice Group.

DAVID CHMELAR
Co-founder dan CEO iPrice Group

iPrice tidak mau melewatkan tawaran itu mengingat Naver kaya pengalaman. “Kami merasa terhormat menerima kepercayaan dari perusahaan seikonik Naver dalam perjalanan iPrice demi menjadi portal utama untuk belanja online di Asia Tenggara,” lanjut Chmelar.

Peter Minhyung Na dari Naver menyebut pencapaian luar biasa terus ditampilkan iPrice sepanjang putaran pendanaan terakhir. “Itu merupakan bukti kinerja mengesankan dari tim yang kuat dan pertumbuhan eksplosif di pasar e-commerceAsia Tenggara,” katanya.

Sebelum dua pendanaan terakhir, iPrice telah mengumpulkan tiga kali investasi dari beberapa pemodal ventura. Investasi pertama setelah didirikan oleh Chmelar dan Heinrich Wendel pada 2014 diperoleh pada Mei 2015.

Investasi seed round senilai US$550.000 itu diramaikan oleh empat pemodal ventura, antara lain Zalora Group, Rocket Internet, Lazada Group, dan Asia Ventura Ventures. Investasi kedua diperoleh dari lima investor yang dipimpin Asia Venture Group pada pertengahan Desember 2015 senilai US$1,2 juta.

Kemudian pendanaan ketiga disokong oleh enam investor yang dipimpin oleh Venturra Capital dan Asia Venture Group. Pendanaan Seri A kala itu juga bernilai US$4 juta. Sehingga, tanpa menghitung nilai investasi baru dari Naver, iPrice telah mengumpulkan dana hingga US$9,8 juta.

Menurut Jeffrey Bahar, Group Deputy CEO Spire Research and Consulting, investasi-investasi itu penting didatangkan demi memperkuat platform bisnis sebuah perusahaan. “Dengan begitu, perusahaan dapat semakin menguasai pasar dan mempertahankan pangsa pasar mereka,” katanya.

Dalam dunia digital seperti sekarang ini, lanjut Jeffrey, persaingan semakin ketat. Satu bisnis mudah ditiru oleh pihak lain. “Jika berbekal pendanaan yang semakin kuat dan semakin kuat, tentu kompetitor sulit mengejarnya, sekalipun menggunakan dana yang besarnya sama,” ungkapnya.·

—Purjono Agus Suhendro,TechnoBusiness ID · Foto: iPrice

 

Siap-Siap, Besok Ada “Flash Sale” Harga Tergila Rp888, Lho!

 Jakarta, TechnoBusiness ID ● Seperti biasa, tanggal cantik selalu menjadi alasan bagi e-commerce untuk mengadakan promo. Untuk itu, sama halnya dengan 11.11 pada 11 November yang disebut Festival Belanja Online dan 12.12 pada 12 Desember yang dinamakan Hari Belanja Online Nasional, 8.8 atau 8 Oktober yang akan jatuh pada Rabu besok menjadi alasan bagi Lazada Indonesia untuk menggelar Flash Sale Untung 8.8.

Baca Juga: “Right Mindset for Industry 4.0”

Dalam sehari masa Flash Sale Untung 8.8 itu, Lazada, marketplace yang kini mayoritas sahamnya dimiliki oleh Alibaba Inc. asal China, menawarkan promo flash sale sebanyak enam kali. Barang-barang yang dipromosikan dibanderol dengan diskon mulai dari 20-80%.

Merek-merek yang termasuk dalam daftar promo antara lain Cooocaa, Xiaomi, Harman Kardon, Infinix, Mamypoko, Philips, Lock&Lock, Vicenza, Frisian Flag, dan Unilever. “Harga tergila dan termurah akan bisa ditemukan pada berbagai produk, terlebih lagi fashion wanita,” ungkap Achmad Alkatiri, Chief Marketing Officer Lazada Indonesia.

Harga tergila dan termurah yang dimaksud Achmad yaitu dengan Rp888 konsumen sudah bisa memperoleh dress cantik. Lazada mengakui bahwa promo semacam itu memang menjadi salah satu strateginya untuk mengakuisisi pelanggan dan memberikan pengalaman berbelanja online kepada mereka.

Sejak diluncurkan pada 2012, Lazada telah berkembang menjadi destinasi belanja terkemuka di Asia Tenggara, termasuk di Indonesia. Sebagai e-commerce berkonsep marketplace, sampai saat ini berhasil membantu 350.000 penjual lokal dan internasional dengan 3.000 merek, juga 560 juta konsumen di Asia Tenggara.●

—Anwar Ibrahim, TechnoBusiness ID ● Foto: Lazada Indonesia  

JD.ID Buka Toko Berbasis AI Pertama di Indonesia

Jakarta, TechnoBusiness ID • JD.ID, anak perusahaan e-commerce JD.com asal China di Indonesia, membuka toko ritel berbasis teknologi Artificial Intelligence (AI) di lantai tiga PIK Avenue, Jakarta.

Toko ritel yang mengedepankan pengalaman berbelanja (shopping experience) yang dibuka pada Kamis (2/8) itu bagi JD.com merupakan yang pertama bukan hanya di Indonesia, melainkan juga di kawasan Asia Tenggara.

Baca Juga: Gerak Cepat JD.ID Menaklukkan Pasar E-commerce Indonesia

Toko yang futuristik itu diberi nama JD.ID X. Konsumen akan mendapatkan pengalaman berbelanja yang berbeda dari biasanya. Sebab, ritel seluas 270 meter persegi itu sarat teknologi.

Teknologi yang digunakan antara lain pemindai wajah, radio-frequency identification (RFID), dan metode pembayaran non-tunai (cashless).

Dari kiri ke kanan: Santoso Kartono (Direktur Merchandiser JD.ID), David Hilman (COO Agung Sedayu Retail Indonesia), Zhang Li (Presiden dan CEO JD.ID) saat pembukaan JD.ID X di PIK Avenue, Jakarta, Kamis (2/8).

Presiden Direktur JD.ID Zhang Li mengungkapkan rasa bangganya telah menghadirkan JD.ID X yang menjadi pusat pengalaman berbelanja berbasis AI pertama sekawasan regional Asia Tenggara.

“Ini merupakan langkah pertama dalam pemanfaatan teknologi kami untuk memperkuat Indonesia dengan sebuah pengalaman berbelanja yang baru,” ungkap Li saat acara pembukaan.

Pengenalan ritel berteknologi AI itu hanyalah awal dari komitmen jangka pajang JD.ID dan JD.com di Tanah Air.

“Dengan mewujudkan konsep AI ke dalam bisnis yang sebenarnya untuk pertama kali di Indonesia, kami terus berkomitmen untuk meningkatkan fitur dan utilitasnya. Sehingga, selain sebagai pusat pengalaman berbelanja yang modern dan nyaman, JD.ID X juga akan kami jadikan sebagai pusat pembelajaran pengembangan teknologi yang berkelanjutan,” jelas Li.

Langkah itu diambil JD.ID karena meyakini bahwa teknologi AI memiliki banyak potensi yang dapat digunakan di semua lini bisnis, termasuk e-commerce yang menjadi bisnis inti JD.ID.

“Ke depan, masyarakat akan sangat terbiasa melakukan aktivitas berbelanja harian secara non-tunai,” kata Project Manager JD.ID X Eyvette Tung.

Tung menjelaskan bahwa JD.ID telah mengembangkan teknologi pemindai wajah yang sangat personal sehingga pelanggan merasa lebih nyaman.

Berbagai produk yang dibeli di JD.ID X terhubung langsung dengang akun pelanggan di JD.ID yang memungkinkan proses pembayaran lebih mudah.

Produk-produk yang ditawarkan di JD.ID X antara lain busana, kosmetik, aksesori dan produk kecantikan, alat-alat rumah tangga non-elektronik, dan kebutuhan sehari-hari.

Selain itu, ada juga produk-produk private label yang eksklusif untuk toko tanpa kasir tersebut.

Di China, JD.ID dan Alibaba.com, rival kuatnya, telah bersaing mengembangkan jaringan ritel termutakhir tersebut.•

—Intan Wulandari, TechnoBusiness ID • Foto-Foto: JD.ID

 

Situs Properti UrbanIndo Berubah Jadi 99.co

Jakarta, TechnoBusiness ID ● Setelah resmi diakuisisi oleh 99.co pada Januari lalu, mulai Selasa (30/7) situs properti asal Indonesia, UrbanIndo berubah nama (rebranding) mengikuti induknya.

Menurut manajemen 99.co, situs properti yang didirikan Conor McLaughlin, Darius Cheeung, Dominic Ee, Ruiwen Chua, Saurabh Mandar, dan Yan Phun di Singapura pada Januari 2014, perubahan nama itu dilakukan setelah seluruh proses akuisisi selesai.

Baca Juga: Laba Bisnis Teknologi Astra Kalahkan Properti

“Kami baru saja berada pada tahap awal meski semua kemajuan telah dicapai, sehingga rebranding ini akan menjadi fondasi yang tepat untuk pertumbuhan,” ungkap CEO 99.co Darius Cheung.

Target utama pertumbuhan yang dimaksud Darius yaitu menjadi situs jual beli, sewa, urusan keuangan, dan segala layanan terkait properti nomor satu di Indonesia dan Singapura dalam waktu 3-5 tahun mendatang.

Untuk mencapai itu, salah satu strategi yang dilakukan 99.co adalah mengakuisisi UrbanIndo, situs properti yang didirikan Arip Tirta dan Deepak Gupta di Bandung, Jawa Barat, pada Mei 2011, dan meleburnya menjadi satu.

Untuk menjadi nomor satu di indonesia, salah satu strategi yang dilakukan 99.co adalah mengakuisisi UrbanIndo.

Darius mengatakan, selain melakukan pembaruan teknologi, sejumlah strategi telah disiapkan pascaperubahan nama. Salah satunya, menggabungkan kekuatan jaringan agen properti milik 99.co dengan basis konsumen UrbanIndo yang cukup banyak.

Sejak didirikan, Crunchbase mencatat UrbanIndo telah mendapatkan kucuran dana sebanyak dua kali. Semula dari pemodal ventura (venture capital) East Ventures pada Mei 2012, kemudian dari empat investor—antara lain Spiral Venture Ltd., Gree Ventures, Fenox Ventures Capital, dan East Ventures—senilai US$2 juta pada Juni 2013.

99.co, meski berusia lebih muda, berhasil menarik dana investor jauh lebih banyak, yakni mencapai US$10,1 juta. Pendanaan itu dikumpulkan sebanyak tiga kali. Tahap pertama berupa seed funding dari enam investor senilai US$560.000.

Tahap kedua, investasi datang dari Sequioa Capital dan Eduardo Saverin—pendiri dan mitra di B Capital Group yang juga merupakan investor pertama Facebook Inc.—senilai US$1,6 juta. Ketiga, pada April 2017 senilai US$7,9 juta dari dua investor tahap kedua plus East Ventures dan 500 Startups.

Dengan dana yang begitu besar, 99.co mempunyai modal untuk berekspansi ke pasar Asia Tenggara. Perusahaan tersebut mulai masuk ke pasar Indonesia pada 2016 dengan membuka kantor di dua kota besar, yakni Jakarta dan Surabaya.

Semakin kuatnya jejak langkah 99.co di Indonesia membuat pasar properti di ranah online Tanah Air semakin menarik sekaligus sengit. Keberadaannya akan menjadi penantang baru situs jual-beli properti terkemuka yang telah ada, yaitu Rumah123.com milik REA Group (ASX: REA) asal Australia dan Rumah.com di bawah naungan Property Guru Group, Singapura.●

—Intan Wulandari, TechnoBusiness ID ● Foto: 99.co

 

Sirclo Bantu Catatkan Transaksi E-commerce Rp100 Miliar

Jakarta, TechnoBusiness ID ● Selama enam bulan pertama 2018, Sirclo, perusahaan teknologi di bidang e-commerce, membantu menciptakan transaksi kliennya senilai US$7 juta (kurs Rp14.300 = Rp100 miliar).

Angka itu disumbangkan oleh hampir 1.000 pengguna berbayar Sirclo Store, satu dari dua solusi e-commerce yang ditawarkan Sirclo. Sirclo Store merupakan platform berbasis template siap pakai untuk merek lokal berskala kecil-menengah yang ingin memiliki e-commerce.

Baca Juga: 63% UKM Kesulitan Mengelola Keamanan Aplikasi Bisnis

Brian Marshall, pendiri dan CEO Sirclo

“Rata-rata transaksi per hari yang direkam dari seluruh pengguna berbayar Sirclo Store mencapai Rp550 juta selama periode Januari hingga Juni 2018. Angka itu lebih dari dua kali jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2017,” ungkap pendiri dan CEO Sirclo Brian Marshal di Jakarta, Senin (9/7).

Merek-merek lokal yang telah menggunakan solusi Sirclo, di antaranya Luna Habit milik artis Luna Maya dan This Is April yang memiliki 40 toko fisik. Ada pula merek Ittaherl dan Wearing Klamby yang berjualan dengan metode webhunt atau hunting produk secara online.

Untuk menggunakan layanan tersebut, Sirclo menawarkan beberapa paket: Paket Starter Rp0/tahun; Paket Basic Rp2,59 juta/tahun; Paket Professional Rp6,59 juta/tahun; dan Paket Entreprise Rp17,59 juta/tahun. Namun, jika ingin benar-benar terlihat profesional tanpa embel-embel Sirclo, pilihannya hanya Paket Enterprise.

Jika ingin memanfaatkan template e-commerce yang ada, Sirclo menawarkan biaya mulai dari gratis, Rp199.000, hingga Rp499.000 hanya sekali bayar (one time payment). Menurut Brian, sampai saat ini setidaknya ada 50.000-an pengguna yang menikmati layanan gratis.

Selain membantu merek-merek lokal yang sedang tumbuh, Sirclo juga bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan besar. “Sirclo Commerce saat ini telah bekerja sama dengan setidaknya 20 perusahaan yang mewakili lebih dari 20 merek besar,” jelas Brian.●

—Intan Wulandari, TechnoBusiness ID ● Foto-Foto: Sirclo

 

Ramadhan, Bulan Gempita E-commerce Indonesia

Spire InsightJD.ID, perusahaan e-commerce di bawah naungan JD.com asal China, memperkenalkan kampanye promo menyambut Bulan Ramadhan kepada para wartawan di JW Marriot, Jakarta, Jumat (25/5).

Baca Juga: AADC, Strategi Memenangkan Pasar Online

Dalam acara yang dikemas sekaligus dengan berbuka puasa bersama itu, selama Ramadhan dan Idul Fitri, JD.ID menyampaikan tengah menggelar kampanye #AsliTulus. Artinya, konsep yang mengedepankan niat tulus untuk berubah ke arah yang lebih baik.

Teddy Arifianto dan Demmy Indronugroho dalam peluncuran kampanye Ramadan JD.ID #AsliTulus di Jakarta, Jumat (25/5).

Head of Marketing JD.ID Demmy Indranugroho mengatakan Ramadhan menjadi momentum yang baik untuk merefleksikan diri, menebarkan niat tulus. “Sehingga kampanye ini kami namakan #AsliTulus,” ungkapnya. “Ini seakan menjiwai seluruh kegiatan promo sebulan penuh.”

Adapun promo yang tawarkan JD.ID selama Ramadhan, antara lain produk-produk khas Bulan Puasa dalam Paket Must Need Ramadhan Items, parsel seharga Rp99.000 dalam Paket Ramadhan Hampers, produk-produk di bawah Rp100.000 dalam Paket Ramadhan Below 99K yang diiringi dengan The Last Reman TVC.

Baca Juga: Mengatasi Kemiskinan Petani dengan Skema Value Chain Financing

Beberapa promo signature seperti Flash Sale, Brand Offers, dan Coupon Deals juga tetap hadir dengan penawaran yang lebih menarik. Misalnya, promo harga spesial bertajuk ‘Sale Anti Ngantuk” selama jam 4.30-6.00 pagi.

Head of Corporate Communications & Public Affairs JD.ID Teddy Arifianto menyatakan Ramadhan itu merupakan puncak promo bagi e-commerce di Indonesia. “Karena itu, kami mengusung kampanye khusus untuk Bulan Suci bagi umat muslim ini. Dibanding tahun lalu, jumlah transaksi per hari ini sudah naik 120%,” katanya.

Sebagai e-commerce terbesar di Indonesia, Tokopedia lebih gila lagi. Pada malam sebelumnya, Tokopedia meluncurkan Festival Belanja Online Ramadhan Ekstra untuk pertama kalinya. Tak tanggung-tanggung, peluncuran itu disiarkan secara langsung oleh tiga televisi nasional, yakni Net TV, MNC TV, dan Trans 7.

Menurut CEO Tokopedia William Tanuwijaya lewat laman Facebook-nya, Festival Belanja Online Ramadan Ekstra itu bertujuan untuk memudahkan konsumen dalam memperoleh segala keperluan selama Ramadhan dan Lebaran.

Tokopedia mengerahkan lebih dari 2.200 Nakama, sebutan bagi stafnya, untuk bekerja sama dengan para penjual, baik kecil maupun merek nasional dan merek multinasional.

Lazada Indonesia tak mau ketinggalan. Momen puncak belanja itu dimanfaatkan oleh Lazada untuk menggelar PuaSale, promo diskon harga barang-barang keperluan harian hingga perlengkapan kendaraan bermotor.

Baca Juga: Simalungun, Surga Arabika di Tepi Danau Toba

Harus diakui bahwa Indonesia memang memiliki karakteristik pasar yang berbeda. Jeffrey Bahar, Deputy CEO Spire Research and Consulting, perusahaan riset dan konsultasi bisnis yang berkantor pusat di Tokyo, Jepang, menyatakan e-commerce Indonesia telah memiliki Festival Belanja Online pada 11/11 dan Hari Belanja Online pada 12/12 selayaknya Black Friday di Amerika, Boxing Day di Eropa, Single Day di China, dan Big Billion Day di Indonesia.

JEFFREY BAHAR, Group Deputy CEO Spire Research and Consulting

“Tapi, kini para pemain e-commerce menyadari bahwa ada momen puncak belanja masyarakat yang tak kalah menarik untuk digarap, yakni Bulan Ramadhan,” kata Jeffrey.

Karena mayoritas masyarakat Indonesia adalah muslim, jelas Jeffrey, maka belanja untuk keperluan Ramadhan dan perayaan Hari Raya Idul Fitri melonjak. Di situlah e-commerce-e-commerce menjadikan momen tersebut sebagai ajang promosi yang bahkan lebih lama ketimbang Festival Belanja Online dan Harbolnas,” jelas Jeffrey.

Ke depan, promo-promo pada Bulan Ramadhan dan Lebaran diyakini bakal lebih seru. Sebab, di samping kebutuhan masyarakat yang meningkat pesat daripada hari biasanya, pasarnya juga besar. Masa-masa seperti itu bisa menjadi momen bagi e-commerce mendongkrak penjualan.●

Spire Research and Consulting merupakan perusahaan riset pasar dan konsultasi bisnis global, terutama di negara-negara berkembang, yang didirikan di Singapura pada 2000. Kini, perusahaan ini memiliki kantor perwakilan di semua negara Asia Pasifik dengan kantor pusat di Tokyo, Jepang.

Nilai Penjualan Amazon Melonjak. Ini Penyebabnya

Tokyo dan Seattle, TechnoBusiness ● Penjualan bersih (net sales) Amazon, Inc. (Nasdaq: AMZN), raja e-commerce yang juga berbisnis komputasi awan (cloud computing) dan lain sebagainya yang berbasis di Seattle, Washington, Amerika Serikat, pada kuartal 1/2018 mencapai US$51 miliar.

 

Baca Juga: Bagaimana Kinerja Keuangan Facebook Pascaskandal Data?

 

Perolehan penjualan sebesar itu cukup mengejutkan karena berarti melompat 43% dibanding periode yang sama tahun lalu. Laba bersihnya pun naik tiga kali lipat. Akibatnya, sahamnya pun terdongkrak ke angka US$1.599 per Maret 2018 dari US$1.208 pada awal tahun.

Banyak yang terkejut atas keberhasilan Amazon tersebut, termasuk Wall Street. Terkait hal itu, Kepala Perdagangan Korporat Saga Nagoya Securities Jonathan Richards berpendapat bahwa Amazon diposisikan untuk kesuksesan jangka panjang.

Kenaikan kinerja keuangan itu didorong oleh “Gelombang peluncuran produk baru yang potensial dan perluasan lini produk yang secara tradisional telah menjadi strategi sukses bagi perusahaan dalam beberapa tahun terakhir,” ungkap Jonathan.

Pendapatan Amazon di bidang e-commerce naik 18% menjadi US$26,9 miliar. Pendapatan Amazon Web Services juga menyumbangkan kontribusi cukup berarti selama kuartal 1/2018 sebesar US$5,4 miliar, naik 49% dibanding periode yang sama tahun lalu.

“Meskipun ada pemotongan harga, Amazon memberikan hasil yang kuat di semua lini,” ungkap Jonathan. “Namun, investasi yang mengejutkan dapat membebani keuntungan pada paruh kedua 2018.”

“Layanan ini memungkinkan pengembang melakukan lebih banyak hal secara lebih lincah, dan tentu menjadi lebih baik setiap harinya.”

—JEFF BEZOS, CEO AMAZON INC.

 

Di Seattle, jauh dari kantor Saga Nagoya di Tokyo, pendiri dan CEO Amazon Jeff Bezos pada April lalu mengatakan Amazon Web Services memiliki keuntungan yang tidak biasa dari awal kemunculannya, sebelum menghadapi kompetisi yang berpikiran serupa. “Itu artinya tim tidak pernah melambat,” katanya.

Seperti dapat dilihat, lanjut Bezos, “Layanan Amazon Web Services sejauh ini merupakan layanan yang paling berkembang dan kaya fungsionalitas. Layanan ini memungkinkan pengembang melakukan lebih banyak hal secara lebih lincah, dan tentu menjadi lebih baik setiap harinya.”

Menurut Jonathan, kenaikan pendapatan itu disebabkan oleh perubahan biaya pendaftaran bisnis cloud dari semula hanya US$99 menjadi US$119. Walau peminatnya berkurang, tetapi nilainya lebih besar.

Saga Nagoya Securities didirikan di Tokyo pada 2009 dengan departemen riset di Shanghai, China. Sebagai perusahaan sekuritas, Saga Nagoya aktif mengeluarkan pandangannya mengenai kinerja keuangan perusahaan-perusahaan global, termasuk Amazon.●

—Akihira Arata (Tokyo), Philips C. Rubin (Seattle), TechnoBusiness/PRN ● Foto-Foto: Amazon

Facebook Marketplace Diramaikan oleh 700 Juta Orang per Bulan

California, TechnoBusiness Tidak sekadar berbagi cerita atau kejadian, kita bisa melakukan jual beli di Facebook.

Baca Juga: Mengenal Keunggulan Teknologi Sprint Digital 360

Pada Musim Semi kali ini, dalam siaran publiknya kemarin, Facebook Inc. (NASDAQ: FB) mengatakan lebih dari 700 juta orang telah memanfaatkan Facebook Marketplace untuk menjual dan membeli.

Sepanjang 2017, jejaring sosial yang berkantor pusat di Menlo Park, California, Amerika Serikat, itu berhasil mengeruk pendapatan sebesar US$40,65 miliar, naik 47% dibanding tahun sebelumnya.

Laporan keuangan yang dirilis pada 31 Januari 2018 itu menyebutkan Facebook memperoleh laba bersih yang ditujukan untuk pemegang saham senilai US$4,27 miliar (US$1,44 per saham), naik dari US$3,56 miliar (US$1,21 per saham).

—Philips C. Rubin, TechnoBusiness ID ● Foto-Foto: Facebook