aCommerce Raih Tambahan Investasi US$65 Juta dari Emerald Media

  • aCommerce kembali mendapatkan pendanaan yang kali ini berasal dari Emerald Media.
  • Dana yang diperoleh akan dipakai untuk tiga fokus utama perusahaan.

 

Jakarta, TechnoBusiness ID aCommerce Co. Ltd., e-commerce enabler dan e-distributor terkemuka yang beroperasi di empat pasar Asia Tenggara, yakni Thailand, Indonesia, Singapura, dan Filipina, sejak Juni 2013, baru saja mendapatkan pendanaan tambahan Seri B senilai US$65 juta.

 

Baca Juga: KENDRA SCOTT; DESAINER, PEBISNIS, DAN FILANTROPIS

 

Dalam pengumuman yang diterima TechnoBusiness Indonesia, pendanaan itu dipimpin oleh Emerald Media, sebuah platform pan-Asian yang didirikan firma investasi global KKR & Co. L.P, sebelumnya disebut Kohlberg Kravis Roberts & Co., yang berkantor pusat di New York, Amerika Serikat.

Firma-firma investasi lain yang turut dalam pendanaan itu antara Blue Sky, MDI Ventures, dan DKSH. Firma-firma itu merupakan investor yang sudah lebih dulu mendanai aCommerce. Babak baru investasi ini melibatkan Ridge Partners sebagai penasihat.

 

 

Perusahaan menyatakan investasi itu akan digunakan untuk tiga hal: pertama, menambah platform teknologi yang tersentralisasi untuk merek yang memungkinkan klien menghubungkan dan mendistribusikan produk mereka melalui jaringan terintegrasi Business to Consumer (B2C) seperti Lazada dan Shopee, juga Business to Business (B2B) dengan analisis data yang real-time.

Kedua, memperbesar kemitraan strategis di dalam ekosistem ritel di empat pasar yang dirambah saat ini. Ketiga, sebagai modal ekspansi klien ke pasar baru seperti Malaysia dan Vietnam. Sebagai pemrakarsa di balik pengembangan B2B dan B2E (Business to E-commerce) merek-merek global di Asia Tenggara seperti Samsung dan L’Oreal, aCommerce memiliki pengalaman ekspansi ke pasar baru di kawasan ini.

 

Firma-firma investasi lain yang turut dalam pendanaan itu antara Blue Sky, MDI Ventures, dan DKSH.

 

“Platform kami mencakup keseluruhan perjalanan online pelanggan, mulai dari distribusi produk sample sampai pengumpulan data pelanggan untuk mendorong dan menghubungkan pembelian di semua kanal seperti webstore milik merek dan top marketplace di Asia Tenggara,” ungkap co-founder dan Group CEO aCommerce Paul Srivorakul.

Menurutnya, memiliki mitra yang kuat seperti KKR dan Emerald Media dengan jam terbang investasi yang menahun di wilayah ini memberikan modal dan koneksi yang penting dari sisi konten dan demand generation di seluruh kawasan.

 

 

“Yang membuat kami percaya diri dengan aCommerce adalah karena platform teknologi mereka fokus pada merek dan memungkinkan klien dengan mudah terhubung dan menggunakan semua sistem operasi, metode kanal distribusi, dan aplikasi demand generation,” ujar Paul Aiello, Managing Director dan Co-Founder Emerald Media.

Strategi aCommerce menguntungkan pemain baru karena dapat membantu mempercepat proses pendistribusian barang melalui multichannel tanpa harus membangun operasi lokal secara besar-besaran.

“Hanya dalam empat tahun aCommerce telah menempatkan diri mereka sebagai pemimpin di Asia Tenggara dan bekerja sama dengan berbagai merek kelas dunia,” kata Rajesh Kamat yang juga menduduki posisi Managing Director dan Co-Founder Emerald Media.

—Ivan Darmawan, TechnoBusiness ID Foto-Foto: aCommerce

 

Incar Pasar Online, Zoya Cosmetics Gandeng aCommerce Indonesia

  • Setelah 12 sukses sukses memasarkan Zoya Fashion, Shafira Corporation meluncurkan Zoya Cosmetics.
  • Untuk menggarap pasar online, Shafira menyerahkan pemasaran Zoya Cosmetics kepada aCommerce Indonesia.

 

JAKARTA – Setelah 12 tahun membesarkan merek fashion muslimah Zoya Fashion, Shafira Corporation akhirnya merambah ke pasar kosmetik dengan mengembangkan Zoya Cosmetics.

Adapun produk yang ditawarkan mulai dari perlengkapan make up seperti lipstick, powder, make up base, eyebrow, eyeshadow, eyeliner, blush on, mascara, dan make up removal, hingga perawatan wajah dan tubuh semacam body mist, natural white, acne & facial series, dan sunscreen.

 

Baca Juga: Cara Baru aCommerce Menggarap Pasar Baru E-Commerce

 

Sebagai merek kosmetik halal, produk-produk Zoya Cosmetics diproduksi tanpa paraben dan mengandung bahan alami grape seed oil dengan kadar antioksidan tinggi.

Shafira masuk ke bisnis kosmetik halal karena tergiur pasar yang cukup besar. Jumlah umat Muslim dunia saja, menurut Reuters, mencapai 1,5 miliar atau seperempat dari total populasi. Di Indonesia, jumlahnya mencapai 90% dari 250 juta penduduk.

Pasar itu terus berkembang. Deloitte Tohmatsu Consulting pada 2015 menyatakan pasar kosmetik halal meraih 11% dari total produk halal global atau senilai US$1 triliun. Pada 2019, firma riset TechNavio memprediksi akan naik menjadi 14%, melebihi pertumbuhan produk yang lebih umum.

Di samping mendistribusikan produk secara offline via outlet-outlet Zoya Fashion, Zoya Cosmetics juga menyasar konsumen secara online. Khusus untuk ranah online, Shafira menyerahkan pemasaran Zoya Cosmetics kepada aCommerce Indonesia.

Menurut CEO aCommerce Indonesia Hadi Kuncoro, sebagai strategic partner e-commerce bagi Zoya Cosmetics, aCommerce Indonesia akan mengurusi secara end-to-end, mulai dari konsultasi, webstore development, channel management, digital marketing, fulfillment, hingga delivery.

Artinya, aCommerce Indonesia berperan sebagai distributor Zoya Cosmetics untuk pasar online yang pemasarannya menggandeng Lazada, Tokopedia, dan Shopee. Selain itu, Zoya Cosmetics juga telah memiliki web commerce sendiri, yaitu zoyacosmetics.com yang mulai dioperasikan pada 8 Juni lalu.

aCommerce Indonesia dipilih karena telah berpengalaman dalam mengelola demand generation sampai demand fulfillment berbagai merek multinasional. Dalam dua tahun ke depan, kata Hadi, aCommerce akan mengoptimalkan penjualan dengan pendekatan online to offline (O2O), mengintegrasikan online marketplace, corporate e-commerce, webstore, dan media sosial.

“Kerja sama antara Zoya Cosmetics dan aCommerce Indonesia diharapkan akan menjadi percontohan dan success story multi-channel menuju omnichannel ecommerce model dengan ketersediaan produk dan kemudahan berbelanja yang sama, baik di platform online maupun offline. Lebih dari itu, kerja sama ini juga merupakan bagian dari misi aCommerce Indonesia untuk membawa merk-merk dalam negeri ke pasar global,” lanjut Hadi.●

—Vino Darmawan, TechnoBusiness ID ●Foto-Foto: aCommerce  

Cara Baru aCommerce Menggarap Pasar Baru E-Commerce

  • aCommerce menawarkan best practice industri e-commerce yang telah terbukti sukses di Amerika, Eropa, dan China.
  • “Motor penggeraknya, yakni pemilik merek dan perusahaan besar, juga harus mengerti ‘know how’ dari channel ini secara mendalam.”

 

HADI KUNCORO, CEO ACOMMERCE INDONESIA

JAKARTA – Indonesia memang pasar yang besar, tapi belum berarti bagi e-commerce. Mengapa demikian? Saat ini, dari 262 juta penduduk, pengguna internetnya baru sekitar 132,7 juta atau 51%. Dari jumlah itu, penetrasi e-commerce-nya masih 9% atau senilai US$5,6 miliar.

Akan tetapi, industri e-commerce akan segera berperan penting di Tanah Air. Transaksi perdagangan berbasis online itu diyakini bakal tumbuh pesat hingga mengalahkan negeri-negeri jiran seperti Singapura dan Thailand. Pada 2025, berdasarkan prediksi periset pasar eMarketer, nilainya menjadi US$46 miliar dari populasi 294 juta jiwa.

Angka itu jauh meninggalkan Singapura yang kemungkinan hanya mencatatkan transaksi e-commerce senilai US$5,4 miliar dan Thailand US$11,1 miliar. Walau secara per kapita transaksi e-commerce Singapura lebih besar, yakni US$789, karena hanya memiliki penduduk sebanyak 6,8 juta jiwa; sementara Thailand US$155 dengan 72 juta jiwa.

Karena masih dalam masa awal pertumbuhan—yang sekarang didominasi oleh website, mobile apps, dan marketplace, para pebisnis membutuhkan edukasi sekaligus “jembatan penghubung” dari sistem offline ke online. “Masa pertumbuhan” itulah yang kemudian ditangkap oleh aCommerce, perusahaan jasa layanan penuh (full service) bagi e-commerce di Indonesia, Thailand, dan Filipina, untuk meluncurkan platform untuk semua (Business to All/B2All).

Dalam seminar bertajuk “Brand Commerce: Integrating Brand’s Multichannel Presence” di Hotel Intercontinental, Mid Plaza, Jakarta, Kamis (2/3), CEO aCommerce Indonesia Hadi Kuncoro mengatakan saat ini merupakan waktu yang tepat bagi merek untuk mengoptimalkan dan mengintegrasikan kemampuannya untuk mendapatkan ceruk pasar, baik offline maupun online, di Asia Tenggara.

 

Baca Juga: Setelah 11.11, Kini aCommerce Fokus Harbolnas

 

Oleh sebab itu, kata dia, aCommerce membagikan best practice-nya. Best practice itu penting, terutama di Indonesia, pasar e-commerce dengan pertumbuhan tercepat di Asia Tenggara. Apalagi, “Dengan kontribusi e-commerce yang belum sampai 1% dari total penjualan ritel, masih sangat besar bagi merek dan peritel tradisional untuk mendapatkan bagian dari 99% sisanya,” kata Hadi.

aCommerce menawarkan platform B2All untuk membantu merek dan peritel tradisional dalam meraih potensi pasar tersebut yang terbagi menjadi lapisan-lapisan yang berbeda. Lapisan-lapisan itu dipetakan menjadi B2Customer (B2C), B2Business (B2B), B2Employee (B2E), B2Government (B2G), B2Distributorship (B2D), dan B2Retailer (B2R). Semua itu hadir di berbagai tipe e-commerce, yakni socio commerce, chat commerce, dan media commerce.

“Saat ini, untuk ekosistem e-commerce di Indonesia, sebenarnya edukasi di level usaha kecil menengah sudah cukup besar. Namun, motor penggeraknya, yakni pemilik merek dan perusahaan besar, juga harus mengerti ‘know how’ dari channel ini secara mendalam,” ungkap Hadi.

“Know how” yang harus dikuasai merek yang dimaksud Hadi termasuk well-informed serta mengerti tantangan dan teknikalitasnya. Sebagai perusahaan layanan end-to-end e-commerce, meliputi performance marketing, channel management, platform design dan developement, content production, order fulfillment dan pergudangan, pengiriman dan logistik, serta customer service dan call center sejak Juni 2013, aCommerce memahami best practice yang telah terbukti sukses di Amerika, Eropa, dan China.

Beberapa perusahaan yang menjadi klien aCommerce sepakat dengan konsep semacam itu. Loreal Indonesia, misalnya, tetap akan menggarap secara serius pasar e-commerce meski ceruknya masih kecil. “Walaupun kontribusi online terhadap keseluruhan penjualan kami masih single digit dan belum sebanding dengan penjualan offline, LOreal memiliki belief dan ambisi untuk mencapai pertumbuhan bisnis yang signifikan dari online,” ujar E-Commerce Manager LOreal Indonesia Ashley Amanna.

Berdasarkan pengalaman LOreal, dengan penetrasi online, mulai dari tahap pengembangan merek (brand building), bahkan produknya belum diluncurkan, merek bisa melibatkan pelanggan, mendapatkan data, memahami behaviour dan kebutuhan pelanggan.

“Untuk menghindari kanibalisme harga (price canibalism) antara online dan offline, serta online yang membutuhkan delivery cost, maka salah satu taktiknya adalah dengan mem-bundle produk,” kata CEO Alfacart Catherine Hindra. “HP Indonesia merambah dunia online tidak hanya untuk menambah channel baru, tapi juga bagian dari upaya mengedukasi pasar menuju shopping behaviour yang baru,” ujar Country Sales Manager HP Indonesia Firmansyah Is Nursal.

Akankah best practice dan platform B2All yang diusung aCommerce sesuai dengan karakteristik pasar Indonesia, raksasa baru e-commerce global yang terletak di Asia Tenggara, dan mampu mendorong merek-merek yang menjadi kliennya tumbuh pesat di berbagai channel tersebut? Hadi optimistis akan sukses karena, kata dia, ini sudah seharusnya menjadi fokus mereka.**

Intan Wulandari, TechnoBusiness Indonesia ● Foto-Foto: aCommerce

Setelah 11.11, Kini aCommerce Fokus Harbolnas

  • Sebagai penyedia layanan end-to-end solution bagi para pemain e-commerce di Asia Tenggara, aCommerce merayakan Harbolnas dengan menjadi mitra beberapa marketplace
  • Visi aCommerce telah berubah menjadi B2All Operating System untuk commerce, baik online maupun offline.

 

JAKARTA – Setelah mendukung penyelenggaraan pesta diskon e-commerce 11.11 (11 November), kini aCommerce bertekad turut menyukseskan Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) 2016 yang dilaksanakan selama tiga hari sejak 12.12 (12 Desember).

Sebagai penyedia layanan end-to-end solution bagi para pemain e-commerce di Asia Tenggara, aCommerce merayakan Harbolnas dengan menjadi mitra beberapa marketplace seperti Lazada, Matahari Mall, dan Blibli.

 

Baca Juga: Peserta Hari Belanja Online Melonjak Drastis 

Peserta Hari Belanja Online Melonjak Drastis

 

aCommerce juga bekerja sama dengan merek-merek ternama, di antaranya L’Oreal, NYX, Eiger, Hewlett-Packard, Rayban, Oakley, dan Hush Puppies. “Untuk kesekian kalinya aCommerce terlibat aktif dalam mendukung berbagai event ecommerce dan kali ini kami siap membantu menyukseskan perayaan Harbolnas,” ungkap Chief Executive Officer aCommerce Hadi Kuncoro.

Apalagi, saat ini aCommerce tidak sekadar fokus pada klien-klien business to customer (B2C), tetapi juga business to business (B2B). Sebab, kata Hadi seperti ditulis dalam blog perusahaan, visi aCommerce telah berubah menjadi B2All Operating System untuk commerce, baik online maupun offline.

 

Baca Juga: Tips Menghindari Diskon Abal-Abal Harbolnas 

Tips Menghindari Diskon Abal-Abal Harbolnas

 

aCommerce juga akan terus berupaya meningkatkan kualitas layanan bagi mitra dan konsumennya. Sebagai contoh, dalam rangka Harbolnas, aCommerce menambah 20 karyawan di bagian Front End yang siap mengunggah konten 24 jam, baik sebelum maupun selama Harbolnas berlangsung.

“Begitu pun dari sisi Back-End, bagian Operation-Logistic, aCommerce beroperasi selama 24 jam 7 hari dan menambah ratusan karyawan yang dibagi dalam tiga shift,” tambah Frankhie, Senior Brand Commerce Manager aCommerce.**

Anwar Ibrahim, TechnoBusiness IndonesiaFoto-Foto: aCommerce

 

[blockquote style=”4″]Data TechnoBusiness

aCommerce merupakan penyedia layanan end-to-end solution bagi pelaku commerce, baik online maupun offline, di Asia Tenggara yang berdiri pada Mei 2013. Saat ini, perusahaan yang berkantor pusat di Bangkok ini telah memiliki kantor perwakilan dan pusat distribusi di empat negara, yakni Thailand, Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Filipina.[/blockquote]