Bitcoin Indonesia Berganti Nama Menjadi Indodax

Jakarta, TechnoBusiness ID ● Bitcoin Indonesia hari ini mengumumkan akan mengganti namanya menjadi Indodax-Indonesia Digital Asset Exchange. Perubahan nama itu bertujuan untuk meningkatkan pelayanan dan dukungan terhadap aset digital yang lebih banyak.

Baca Juga: Bitcoin, Investasi atau Spekulasi? 

Dalam siaran pers yang diterima TechnoBusiness Indonesia, mulai hari ini logo Bitcoin.co.id akan berubah menjadi kombinasi logo Indodax dan Bitcoin.co.id. Pada 26 Maret, alamat website Bitcoin.co.id akan berubah menjadi Indodax.com.

“Tidak ada yang berubah dalam hal struktur perusahaan maupun transaksi dari member Bitcoin.co.id. semua operasional berjalan normal seperti biasa,” demikian pengumumannya.

 —Ivan Darmawan, TechnoBusiness ID ● Foto-Foto: Bitcoin

 

Bitcoin Investment Trust akan Lakukan Stock Split Saham

  • Setiap 1 saham GBTC akan mendapatkan 90 saham tambahan per 26 Januari nanti.
  • Tapi, tidak diketahui apakah berefek positif terhadap harga Bitcoin selama proses pemecahan.

 

New York, TechnoBusiness ● Grayscale Investment LLC, anak perusahaan Digital Currency Group Inc. yang berbasis di New York City, Amerika Serikat, sponsor Bitcoin Invesment Trust (OTCQX: GBTC) (Trust), pada 26 Januari 2018 akan melakukan pemecahan saham (stock split) menjadi 91 per 1 saham yang diterbitkan dan beredar.

 

Baca Juga: Keperkasaan Bitcoin Hari Ini Runtuh. Bisakah Naik Lagi?

 

Untuk itu, pemegang saham yang tercatat pada 22 Januari akan menerima 90 saham tambahan dari setiap saham Trust yang dipegangnya. Setelah dipecah, saham Trust akan dikutip di OTCQX dengan simbol GBTC.

Berdasarkan data per 11 Januari 2018, ada sebanyak 1.916.600 saham Trust yang diterbitkan dan beredar. Jumlah saham tersebut akan bertambah menjadi 174.410.600 saham pasca pemecahannya. Trust bisa saja menerbitkan saham baru di luar jumlah itu setelah proses ini selesai.

“Pemegang saham tidak diharuskan mengambil tindakan apa pun untuk menerima saham sehubungan dengan pemecahan saham dan mereka tidak akan diminta untuk menyerahkan atau menukarkan saham mereka di Trust. Agen transfer akan secara otomatis menerbitkan saham baru dalam stock split,” demikian penjelasan resmi Grayscale.

Agen transfer saham Trust yang dimaksud adalah Continental Stock Transfer & Trust Company yang juga berkantor di New York. Namun, atas aksi korporasi itu, sulit diketahui apakah selama pemecahan saham Trust tersebut berefek positif terhadap harga Bitcoin atau tidak.

Selain mensponsori Bitcoin Investment Trust, Grayscale juga melakukan hal serupa untuk Ethereum Classic Investment dan Zcash Investment Trust. Pada Rabu (17/11) kemarin, harga Bitcoin, Ethereum, dan Zcash turut anjlok hampir separuh dari hari sebelumnya setelah pemerintah China melarang secara keseluruhan transaksi koin digital.●

Philips C. Rubin, TechnoBusiness ● Foto-Foto: Shutterstock, Awesome Penny Stocks, Investor’s   

 

Keperkasaan Bitcoin Hari Ini Runtuh. Bisakah Naik Lagi?

  • Harga Bitcoin yang berjaya pada akhir 2017 dengan nilai hampir Rp300 juta, hari ini jatuh hanya tinggal Rp120 jutaan.
  • Rontoknya nilai koin digital itu dipengaruhi oleh pembatasannya di China.

 

Jakarta, TechnoBusiness ID/Koin.Digital ● Seseorang bisa menjadi kaya dan miskin dalam sekejap itu nyata adanya, bukan cerita di sinetron saja. Buktinya, pada akhir 2017 banyak orang yang menjadi kaya raya karena harga koin digital Bitcoin yang mereka beli dengan harga rendah tiba-tiba melambung tinggi.

 

Baca Juga: Mengenal Keunggulan Teknologi Sprint Digital 360

 

Pada Juli 2017, harga satu Bitcoin masih USD2.500, lalu sekonyong-konyong nilainya meroket menjadi USD19.000 pada akhir 2017. Kenaikan itulah yang menyebabkan semakin banyak orang menggelontorkan uangnya ke koin digital itu dan sejenisnya.

Tapi, karena sifatnya masih spekulatif, harga koin digital yang saat ini berjumlah 1.441 macam sangat fluktuatif. Harganya juga sangat rentan dipengaruhi oleh kabar yang beredar.

Hari ini, orang-orang yang kaya mendadak dari koin digital Bitcoin dan lainnya bisa jatuh miskin tiba-tiba. Sebab, harga Bitcoin yang begitu tinggi itu sekonyong-konyong jatuh sementara ke titik terendah tahun ini di angka Rp120 jutaan.

Pergerakan harga koin digital Bitcoin sejak Juli 2013 hingga Januari 2018

Penurunan itu disebabkan munculnya larangan secara menyeluruh transaksi koin digital di China. Bank Indonesia pada Sabtu (13/1) lalu juga telah menerbitkan surat edaran yang menyatakan tidak mengakui mata uang selain rupiah.

Itu membuktikan bahwa prediksi para analis yang mengatakan koin digital akan bubble mendekati benar dan membantah perkiraan Kay Van-Petersen, analis Saxo Bank, akan semakin naik setelah sedikit menurun.

Seperti diberitakan CNBC dan CCN, Petersen beranggapan nilai Bitcoin akan kembali naik lebih tinggi karena banyak investor kelembagaan yang menawar harga Bitcoin hingga USD100.000.

 

“Ia bisa naik tiba-tiba dan turun drastis secara tiba-tiba pula. Trading koin digital itu tak ubahnya bermain game atau naik roaller coaster, kalau tidak kuat jantungnya bisa copot.”

—Purjono Agus Suhendro, CEO TechnoBusiness Indonesia

 

 

Apakah Petersen sepenuhnya salah? Tidak bisa dibilang begitu juga. Sebab, pergerakan harga koin digital Bitcoin dan sejenisnya sangat sulit diprediksi. Petersen mengatakan mungkin saja harganya bergerak antara USD50.000-100.000 atau meningkat 300-700% sampai akhir tahun diukur dari Selasa (16/1) kemarin.

Keyakinan Petersen itu tidak bisa dibantah, tapi juga tidak bisa dianggap mendekati benar. Alasannya, menurut CEO TechnoBusiness Indonesia Purjono Agus Suhendro, koin digital itu tidak memiliki fundamental yang kuat sehingga nilainya bergerak liar.

“Ia bisa naik tiba-tiba dan turun drastis secara tiba-tiba pula. Trading koin digital itu tak ubahnya bermain game atau naik roaller coaster, kalau tidak kuat jantungnya bisa copot,” ungkapnya kepada Koin.Digital di Jakarta, Rabu (17/1).

Ia mengatakan orang yang baru saja merasa senang karena meraih keuntungan tidak bisa sepenuhnya menikmati karena bisa saja mendadak menjadi rugi. Begitu juga sebaliknya. Jika saham ada batas atas dan bawahnya, sedangkan koin digital tidak.

“Oleh sebab itu, kalau tidak kuat dengan risikonya, jangan memikirkan keuntungannya,” ujarnya. “Ke depan, koin digital masih rentan mengantarkan siapa pun kepada kerugian karena isu negatif lebih banyak daripada positifnya.●

Irvan Maulana, TechnoBusiness ID/Koin.Digital ● Foto-Foto: TechnoBusiness

 

Bitcoin, Investasi atau Spekulasi?

  • Mata uang digital Bitcoin mendadak menjadi perbincangan di berbagai belahan dunia, tanpa kecuali Indonesia.
  • Saat ini banyak orang memburunya sekalipun bergelimang risiko.

 

Jakarta, TechnoBusiness ID ● Dunia sedang dihebohkan dengan yang namanya Bitcoin, salah satu mata uang digital (cryptocurrency). Selain Bitcoin, ada Bitcoin Cash, Bitcoin Gold, Ethereum, Litecoin, Ripple, dan lain sebagainya.

 

Baca Juga: Mengenal Keunggulan Teknologi Sprint Digital 360

 

Mata uang digital, terutama Bitcoin, menjadi heboh lantaran belakangan nilainya naik berkali lipat. Bahkan, per Jumat (22/12) pukul 6.30 pagi WIB, satu Bitcoin sudah seharga Rp244,5 juta atau setara dengan satu unit apartemen dua kamar tidur di Meikarta buatan Lippo Group yang juga sedang jadi bahan pembicaraan di Tanah Air.

Pertanyaannya, apa itu Bitcoin? Bagaimana kok harganya bisa tiba-tiba melonjak tajam? Jawaban yang sebenarnya memang masih misterius, semisterius siapa pencipta dan akan ke mana arahnya.

Lukman El Hakiem Syamlan, CEO Teman Trader (kiri) dan Yonathan Dinata, chrypto trader (kanan) menjadi narasumber PowerTalks.ID di Jakarta, Rabu (20/12).

Dalam acara PowerTalks.ID yang digelar TechnoBusiness Indonesia, IDX Incubator, dan Tripal.co di Jakarta, Rabu (20/12) malam, Lukman El Hakim Syamlan, pendiri sekaligus Chief Executive Officer PT Tetra Impressa Investama (Teman Trader), berpendapat bahwa Bitcoin dan sejenisnya masih tergolong spekulasi.

“Harganya naik karena banyak yang membeli, dan itu sifatnya ikut-ikutan,” ungkap Lukman yang menjadi narasumber acara rutin bulanan itu. “Bitcoin juga rentan risiko seperti risiko pasar, risiko likuiditas, risiko teknologi, dan risiko regulasi.”

Lukman membandingkan, untuk mencapai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) seharga Rp6.000, pasar modal di Indonesia membutuhkan waktu 40 tahunan. Sebab, nilai saham setiap emiten dibatasi kenaikan dan penurunannya. Regulasinya pun jelas.

Sementara Bitcoin tidak. “Orang-orang yang membeli dengan harga rendah lalu sekarang harganya tinggi, satu saat pasti akan merealisasikan keuntungannya. Kalau tiba-tiba banyak yang menjual?”

Peserta acara PowerTalks.ID yang diselenggarakan TechnoBusiness Indonesia, IDX Incubator, dan Tripal.co membeludak.

Berbeda dengan Lukman, seorang professional crypto trader Yonathan Dinata mengatakan bahwa Bitcoin merupakan media investasi. “Ini adalah produk teknologi yang menjadi alat pembayaran tanpa batas negara seperti mata uang konvensional. Kita bisa bertransaksi dengan mata uang digital ke berbagai negara tanpa batas dan dalam waktu singkat,” katanya yang juga menjadi narasumber dalam talk show tersebut.

Yonathan juga yakin harga Bitcoin tidak mungkin turun karena jumlahnya terbatas dan peminatnya semakin banyak. Tidak hanya itu, merchant-merchant di berbagai negara pun semakin banyak yang menerima Bitcoin sebagai alat pembayaran.

Sekarang ini asal beli saja bisa untung karena harganya terus naik. Tapi, jika takut uangnya hilang, kata dia, sebaiknya melakukan diversifikasi dengan produk investasi yang lain. Kalau perkara risiko regulasi, “Itu seperti kehadiran taksi online yang regulasinya selalu menyusul,” ujarnya.

Li Merlina, founding member Indonesian Blockchain Network, yang juga hadir dalam acara yang dipandu oleh Kevin Wu, pendiri Tripal.co, itu menyatakan jumlah Bitcoin yang diterbitkan di seluruh dunia sudah dibatasi sebanyak 21 juta koin. Kini, yang sudah “ditambang” sekitar 18 juta koin.

Namun, seperti tema yang diangkat “Bitcoin: Investasi atau Spekulasi?”, menurut Lukman, sekarang ini masih spekulasi. “Untuk bisa disebut sebagai alat investasi, harus dibuktikan oleh waktu, setidak-tidaknya tiga tahun ke depan,” ungkapnya.●

Purjono Agus Suhendro, TechnoBusiness ID ● Foto-Foto: TechnoBusiness ID