Mola TV gandeng HBO Go

Mola TV menggabungkan layanannya dengan HBO Go demi menghadirkan layanan hiburan terlengkap di Indonesia.

Jakarta, TechnoBusiness ID • Guna memperkaya layanan hiburan premiumnya, Mola TV, penyedia saluran hiburan multiplatform milik GMV Networks, anak perusahaan Djarum, kini menggandeng Home Box Office, Inc. (HBO).

Baca Juga: Pengiriman Ponsel Pintar Global 2020 Turun 9,5%

HBO merupakan penyedia layanan streaming video on demand HBO Go asal New York, Amerika Serikat, anak perusahaan WarnerMedia. Layanan HBO Go dikenal sebagai rumah bagi sejumlah film Hollywood blockbuster.

Film-film dokumenter, drama, dan tayangan-tayangan ramah anak, termasuk konten favorit Cartoon Network, juga dapat ditemukan di HBO Go.

Dengan menggandeng HBO, maka pelanggan layanan hiburan premium (premium entertainment) Mola TV dapat menikmati aneka hiburan gabungan antara keduanya.

Baca Juga: Penjualan Ponsel Pintar Global Kuartal 2/2020 Anjlok 20%


Pelanggan dapat menonton semua siaran langsung pertandingan olahraga seperti Liga Inggris yang menjadi andalan Mola TV dan ribuan jam hiburan nonstop berkualitas milik HBO Go.

Untuk menikmati semua itu tidak mahal, karena Mola TV hanya membanderol biaya berlangganan sebesar Rp65.000 per bulan atau Rp500.000 setahun.

“Kami melihat semakin banyak pengguna layanan hiburan streaming di Indonesia yang memiliki wawasan internasional,” ujar Mirwan Suwarso, perwakilan dari Mola TV dalam siaran persnya, Sabtu (5/9).

Baca Juga: Nilai Pasar Kecerdasan Buatan Global Tumbuh 12,3%

Karena itu, tuntutan untuk mendapatkan layanan hiburan yang mudah, lengkap, dan berkualitas juga meningkat.

Kata Mirwan, itulah yang menjadi alasan mengapa Mola TV perlu menggandeng HBO untuk menyatukan kontennya dengan konten HBO Go.

Meski demikian, kerja sama dengan HBO seperti yang dilakukan Mola TV bukanlah yang pertama di Indonesia.

Simak berita-berita kami dalam bentuk video di kanal TechnoBusiness TVJangan lupa berikan atensi Anda dengan “like, comment, share, dan subscribe”.

IndiHome, saluran video on demand serupa Mola TV milik Telkom Group, sudah sejak Desember 2018 telah menggandeng HBO untuk menambahkan konten-konten HBO Go di layanannya.

“Ini merupakan kabar gembira bagi penggemar film karena sekarang bisa menikmati konten-konten dari kanal HBO yang terkenal dengan film-film blockbuster-nya secara mobile melalui IndiHome,” kata Siti Choiriana, Direktur Consumer Service Telkom saat itu.

Telkomsel, operator telekomunikasi seluler terbesar di Indonesia yang 65% sahamnya dimiliki oleh Telkom dan 35% Singapore Telecommunications (SingTel), juga menawarkan aplikasi video Maxstream-nya dengan memasukkan HBO Go.

Baca Juga: Spire Insight: Industri Kreatif di Indonesia Langka Talenta Kreatif

Tumbuh Signifikan

Sumber: Statista

Pasar streaming video on demand (SVoD) di Indonesia memang sedang “ranum-ranumnya”. Berdasarkan data dari Statista, penetrasi penggunanya diperkirakan naik dari 4,7% pada 2020 menjadi 9,0% pada 2025.

Demikian juga dengan pendapatannya, diproyeksikan naik dengan tingkat pertumbuhan tahunan (CAGR) antara 2020-2025 sebesar 23,4% dari US$140 juta menjadi US$400 juta.

Nilai pendapatan itu tentu masih amat jauh jika dibandingkan dengan pendapatan yang tercetak di basis HBO, Amerika Serikat, yang tahun ini diprediksi bernilai US$24 miliar.

Baca Juga: Spire Insight: Membaca Industri Logistik E-commerce India

Tapi, menurut Jeffrey Bahar, Group Deputy CEO Spire Research and Consulting, Indonesia merupakan pasar yang besar bagi industri streaming video on demand seperti yang digarap oleh Mola TV, IndiHome, Maxstream, dan lain-lain.

“Indonesia baru beranjak dari urusan ketersediaan jaringan internet ke layanan video on demand. Karena itu, potensinya masih sangat besar,” ungkapnya.

Saat ini saja, lanjut Jeffrey, nilai pendapatan pasar streaming video on demand di Tanah Air dengan 13 juta pelanggan sudah mengalahkan Singapura, Malaysia, dan lain sebagainya.

Baca Juga: HiPajak Juarai Alibaba GET Global Challenge 2020

Merujuk pada data Statista, pelanggan streaming video on demand di Singapura pada 2020 hanya 1,2 juta dengan nilai pendapatan sebesar US$61 juta.

Sementara itu, Malaysia terdapat 2,6 juta pelanggan dengan nilai pendapatan sebesar US$59 juta.-

Vino Darmawan, TechnoBusiness ID • Foto: Mola TV

 

Simak berita-berita kami dalam bentuk video di kanal TechnoBusiness TVJangan lupa berikan atensi Anda dengan “like, comment, share, dan subscribe”.


LEAVE A REPLY

Masukkan komentar Anda di sini!
Please enter your name here